
"Om" pekik Rain tertahan saat melihat orang yang hampir menabrak dirinya dan Ikoh, tak lain adalah Davian, cowo yang tadi nelpon sambil ngomel-ngomel ngga jelas.
Davian tanpa bersuara menyuruh Rain untuk ikut dengannya, dia menunjuk ke arah mobilnya agar Rain masuk, kemudian ia kembali duduk dibalik kemudi.
Rain menatap jengah ke arah Davian, kemudian ia dan sahabatnya memunguti barang belanjaan mereka yang berserakan.
Tanpa mempedulikan Davian yang masih menunggu dan menatap tajam ke arahnya, hingga suara klakson mobil terdengar begitu nyaring, yang membuat keduanya terperanjat.
"Sue banget nih om-om!" gumam Rain sambil beranjak menghampiri mobil Davian dan mengetuk kacanya.
"Berisiiik wooi!" omel Rain dengan kesal. Davian membuka kaca mobilnya, kemudian ia berucap, "Ayo cepetan naik!" dengan tegas tanpa bantahan. Rain pun menghampiri Ikoh dan meminta maaf sebelumnya kemudian menyuruhnya untuk menunggu di kedai. Ikoh pun mengangguk dan membawa semua barang belanjaan mereka.
Rain pun masuk ke mobil Davian dan duduk disamping kemudi, ia baru selesai memasang seatbelt, tiba-tiba saja Davian langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Rain menahan nafas dan berpegangan erat.
"Om kenapa si? Aku masih mau idup ya!" omel Rain saat Davian terus melajukan mobilnya dengan kencang. Tapi pria dewasa di sampingnya tak sedikit pun menoleh, ia terus melajukan mobilnya. Akhirnya Rain hanya memejamkan matanya dan merapalkan doa yang ia tahu.
Sekitar 20 menitan akhirnya mobil berhenti. Rain perlahan membuka matanya, jantungnya masih berdegup kencang. Kemudian akhirnya ia menghela nafas setelah tahu mobil yang ia tumpangi berhenti, namun saat melirik ke samping sudah tidak ada Om Rese di sampingnya.
"Lo kok, kemana si Om?" gumamnya, sambil membuka seatbeltnya. Saat ia membuka pintu mobil hendak keluar, nampak pria tinggi itu sedang menunggunya sambil bersedekap dan matanya menatap tajam ke arah Rain.
"Ayo ikut!" ucapnya dengan dingin. Rain hanya mengikuti Davian dari belakang sambil memperhatikan sekitar. Suasananya adem, pemandangan tamannya juga indah.
"Mau ngapain ke sini si, Om?" tanya Rain sambil terus berjalan tanpa menatap ke depan. Sampai akhirnya...
Duuuuuk....
Rain menabrak punggung Davian cukup keras.
"Aaaaw... Ngapain berhenti mendadak si Om?" entah kenapa hari ini Rain jadi sering banget ngomel, sambil mengusap dahinya yang terantuk punggung Davian yang terasa begitu keras.
Davian berbalik, kemudian terkekeh saat melihat gadis mungil itu mengomel dengan mulut cemberut, sementara tangannya mengusap dahinya.
"Lagian kamu tadi jalan liat kemana?" tanya Davian dengan menahan tawanya.
"Sakit tau, lagian pake apaan si keras banget punggungnya?" gerutu Rain sambil berjalan maju dan sekarang berdiri di samping Davian.
Nampak pemandangan danau dengan air yang sedikit berwana kebiruan terhampar di depan mereka. Semilir angin menyambut mereka, sejuk pun menghampiri keduanya, rambut Rain berayun indah, hingga menambah kecantikan gadis mungil itu.
Keheningan membentang diantara mereka, karena dimanjakan oleh pemandangan di depannya. Rain tanpa sadar merentangkan kedua tangannya dan memejamkan matanya kemudian menghirup udara segar di sana. Davian tak bisa lagi menahan kecantikan gadis di sampingnya.
Dia mendekati gadis yang masih memejamkan matanya itu, kemudian tangan besarnya langsung memeluk perut rata gadis itu dari belakang.
"Kamu menyukainya?" ucap Davian serak, sambil melabuhkan kepalanya di bahu Rain. Rain benar-benar kaget, kemudian ia berontak untuk bisa lepas dari pelukan Davian.
"Lepasin Om, jangan kaya gini!" pekiknya sambil memukul lengan kekar Davian.
"Sebentar saja Rain, aku mohon! Aku lelah!" bisiknya sambil memejamkan matanya. Rain melirik ke samping tampak raut muka yang lelah, dan entah kenapa terlihat begitu sedih.
Rain pun akhirnya terdiam, rengkuhan Davian membuatnya terasa nyaman, ntah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya. Lama Davian memejamkan matanya, bahkan pelukannya semakin erat membuat Rain mulai merasa risih.
"Om hey,,, jangan tidur berat tau!" ucap Rain saat tidak ada pergerakan dari Davian, hanya hembusan nafas teratur dan tenang dari wajahnya.
"Bentar lagi!" jawabnya parau. Namun tiba-tiba ponsel Rain berbunyi.
"Awas dulu, Om, takut ibu yang nelpon!" ucap Rain sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Davian, kemudian mengambil ponselnya dari saku. Tertera nama kekasihnya di sana.
Ada rona di pipi gadis itu saat menerima panggilan telpon. Hal itu tak luput dari perhatian Davian.
"Siapa si, sampe tuh bocah seneng banget?" gumam Davian sambil terus menatap ke arah Rain. Terlihat Rain cekikikan saat berbicara dengan orang yang menelpon, sampai akhirnya sambungannya terputus.
"Om, kita pulang aku harus pergi hari ini!" ajak Rain sambil berbalik menuju mobil Davian.
"Diih kepo, cepetan lah Om!" rajuk Rain, karena ia ingin segera bersiap untuk jalan bersama sang kekasih.
"Kalo mau pulang, sendiri sana, aku masih mau di sini!" ucap Davian datar sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, punggungnya bersandar pada pagar yang membatasi danau.
"Iih ko gitu si, ngapain tadi maksa aku buat ikut kesini, ayo dong Om, please!" jawab Rain dengan sedikit memelas, ia ngga tau harus gimana lagi.
"Udah bilang aja besok perginya, sekarang temenin aku dulu!" jawab Davian enteng.
Rain mengerucutkan bibirnya, ia kesel banget, kalo saja ia tak memejamkan matanya saat perjalanan mungkin ia akan tau jalan pulang. "Sue bener nasib gue!" gumamnya sambil menghentakan kakinya.
Ternyata tingkahnya tak luput dari perhatian Davian, yang membuat pria tinggi itu terkekeh.
Rain melanjutkan jalannya ia terus berjalan tanpa tau arahnya kemana, kemudian ia kembali menelpon sang kekasih, kalo hari ini ia ngga bisa jalan bareng dia.
Davian menyeringai puas, saat mengetahui kalo Rain membatalkan kencannya. Ia ternyata mengikuti ke mana Rain pergi. Sampai akhirnya Rain menemukan stand tempat jualan cemilan. Rain pun masuk ke salah satu stand di sana ia memilih cemilan pedas untuk menghilangkan rasa kesalnya.
Davian mengikutinya dan ikut duduk di sampingnya.
"Ngapain ke sini, sana cari tempat lain!" gerutu Rain dengan kesal. Davian hanya menoleh kemudian tersenyum ke arah gadis di sampingnya.
"Bang pesen 2 ya yang pedesnya spesial!" ucap Rain, ia berencana mengerjai Om Rese itu. Davian menoleh ke arah gadis mungil yang nampak menahan tawa.
"Kenapa?" tanyanya, tapi gadis itu hanya menggeleng dan menjawab tidak apa-apa.
Pesanan mereka pun datang, dengan warna merah yang menyala membuat Rain segera ingin melahapnya, tapi tidak dengan Davian. Ia mengernyit ngeri melihat makanan di hadapannya.
"Makan Om, sayang udah dipesan juga, kan mau ikut makan di sini!" sindir Rain sambil terkekeh.
"Kalo ngga mau makan, kita pulang sekarang!" lanjut Rain. Davian pun menelan salivanya kemudian mencoba menyuapkan satu sendok makanan pedas yang ada di hadapannya.
Mulutnya terasa terbakar, telinganya terasa mampet, hidungnya mulai memerah, keringat bercucuran.
"Air,, air,,,!" ucapnya sambil mengipas-ngipas mulutnya yang kepedesan.
"Ini makanan apaan si?" omelnya sambil terus meminum beberapa gelas air.
"Rasain!" gumam Rain sambil menahan tawanya.
Davian benar-benar akan membalas bocah di hadapannya, padahal gadis itu tau kalo dirinya ngga suka pedes. Rasa rapuh akan kehilangan sang gadis, mendadak sirna karena kejahilan gadis mungil yang membuat dirinya uring-uringan seharian.
"Awas kamu Rain!" gumamnya dalam hati.
Sementara Rain tampak asyik menikmati makanan pedas di depannya, yang membuat Davian menatap ngeri ke arah gadis cantik itu.
Hampir magrib mereka baru pulang, itu juga kalo saja Bu Ratna tidak menelpon Davian tidak akan buru-buru mengantar gadis itu pulang.
Bersambung....
Happy Reading ya😘😘
Makasih untuk selalu setia baca novel ini,, moga bisa selalu menghibur kalian semua.
Banyakin komen ama like nya ya😂😂😂
Banyak maunya ya gue....
Tetap jaga kesehatan and di rumah aja