
"Hah?"ucap Rain sambil refleks membalikan tubuhnya, yang otomatis langsung berhadapan dengan wajah Davian yang begitu dekat. Davian mengangkat satu alisnya sambil tersenyum miring, sementara kedua tangannya tetap memeluk pinggang ramping gadisnya.
Rain yang baru menyadari bahwa ia begitu dekat dengan tunangannya, pipinya mulai terasa panas dan ia yakin rona merah di pipinya sudah nampak.
"Maaf,"lirih gadis mungil itu sambil memundurkan tubuhnya, tapi Davian dengan sengaja menarik tubuh gadis itu agar merapat ke tubuhnya yang kekar.
"Maaf untuk apa sayang?"bisiknya tepat di telinga Rain. Gadis itu hanya menunduk malu, apalagi saat ini jantungnya berpacu lebih cepat.
Davian menatap intens gadisnya dengan rona merah di pipinya yang membuatnya terlihat lebih menggemaskan. Dengan lembut ia pun menarik tengkuk gadisnya dan menyatukan bibir mereka. Davian yang memang sudah berpengalaman melakukannya dengan sangat lembut agar tak menyakiti gadis yang ia cintai, sementara Rain walau bukan ciuman pertamanya tapi ini kali pertama ia menerima ciuman pria tanpa penolakan. Tangannya menggenggam erat kerah kemeja Davian.
Davian menikmati setiap inci bibir ranum Rain, hingga ia lupa dan terbuai sampai pukulan di dadanya menyadarkan dirinya.
"Engap,, Bang!"celoteh Rain saat pagutannya sudah terlepas bahkan nafasnya pun masih terengah. Tangannya masih berpegangan erat pada kemeja pria tinggi tersebut.
Davian hanya terkekeh geli mendengar ocehan gadisnya.
"Ya udah nafas dulu, ntar lanjut lagi!"jawab Davian asal namun sebuah pukulan di dada bidangnya langsung ia dapatkan.
"Dih, ogah!"omel Rain sambil berusaha melepaskan pelukan pria dewasa itu. Davian juga kemudian melepas pelukannya namun tangannya menggandeng tangan mungil Rain untuk berkeliling melihat lahan yang akan ia bangun.
"Kamu serius mau bikin resto aja di sini, nggak mau bikin rumah gitu?"tanya Davian sambil berjalan menunjukan lahan yang sudah ia beli beberapa hari lalu.
"Lah kenapa nanya ke aku, ini kan lahan punya kamu?"jawab Rain sambil melihat ke sekekeliling.
"Aku beli lahan ini buat hadiah pertunangan kita sayang, jadi terserah kamu mau dibikin apa?"jelas Davian sambil memandang ke arah gadisnya.
"Serius, terserah aku?"jawab Rain sambil berhenti berjalan dan memandang ke arah pria jangkung di sampingnya. Davian mengangguk mengiyakan.
"Oke, tapi nanti tabunganku belum cukup untuk bisa bangun resto yang aku inginkan, Bang!"ucap Rain dengan wajah sumringah.
Davian berdecak saat mendengar penuturan gadisnya.
"Kenapa?"tanya Rain.
"Kamu lupa? Kalau kamu itu tunangan aku, DAVIAN BRATASUKMA."ucap Davian sambil menekankan namanya sendiri, "aku tahu kamu gadis yang mandiri, tapi untuk yang ini biar aku yang urus, kamu bilang aja mau model resto kayak gimana?"lanjutnya.
Rain hanya terpaku memdengar penjelasan kekasihnya.
"Malah bengong!"ucap Davi sambil menjawil hidung mancung gadisnya. Rain hanya terkekeh tanpa berucap sepatah kata pun.
Waktu beranjak siang, perut mereka sudah berontak minta diisi. Akhirnya Davian pun mengajak Rain untuk makan siang. Sekarang mereka sudah berada di mobil, Davian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Hari ini kamu mau makan apa, Yang?"tanya Davian sambil tetap fokus pada jalanan di depan. Rain malah asyik dengan ponselnya, sampai akhirnya Davian menoleh karena tak ada jawaban dari gadis di sebelahnya.
"Lagi chat sama siapa sih sampai senyum-senyum gitu?"ucap Davian sedikit menggerutu. Rain menoleh ke arah Davian sambil terkekeh.
"Ini chat sama Ikoh, kenapa cemburu?"jawab Rain. Davian hanya menajawab oh tanpa suara kemudian kembali fokus menyetir. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah restoran dengan gaya modern. Davian mengajak Rain untuk turun.
Dengan posesif ia merangkul pinggang ramping Rain seolah mengumumkan tentang kepemilikan gadisnya.
"Ih,,, jangan kayak gini ngapa risih banget, Bang!"bisik Rain saat beberapa mata menatap ke arahnya. Davian hanya melihat sekilas ke arah gadisnya kemudian malah makin mengeratkan pelukannya. Kemudian mereka memillih meja kosong untuk mereka duduki.
Davian memillih makanan yang ia inginkan di daftar menu, begitu juga Rain.
"Makasih ya bang,"ucap Rain saat sedang menunggu pesanannya datang.
"Semuanya!"ucap Rain.
Davian menarik tangan mungil Rain ke genggamannya, kemudian mencium punggung tangan gadis itu dengan lembut.
"Aku seharusnya aku yang berterimakasih sama kamu, karena kamu udah mau nerima aku apa adanya dengan masa lalu aku yang buruk."lanjutnya sampai akhirnya pesanan makan siang mereka datang. Mereka melahap makan siang mereka dengan lahap tanpa ada percakapan sedikitpun.
Setelah Davian membayar bill nya, ia kembali menarik pinggang ramping Rain ke pelukannya. Namun, sekarang gadis itu hanya bergeming dan mengikuti Davian.
Saat mereka akan keluar dari resto tersebut, tiba-tiba seseorang menabrak mereka hingga Rain hampir terjatuh.
"Kalau jalan yang bener dong!"bentak Davian sambil memeluk erat gadisnya. Namun Rain menarik kemeja Davian saat pria itu hendak melakukan sesuatu pada pria yang menabraknya tadi, lalu ia menggelengkan kepalanya bahwa ia baik-baik saja.
Saat pria berkemeja hitam itu menghampiri Rain dan Davian untuk meminta maaf, tiba-tiba ia memekik tertahan, "Rain,,, apa kabar?"sambil menarik tangan mungil gadis itu.
Rain sempat mematung sebentar sambil mengingat siapa pria di depannya. Sementara Davian menatap tidak suka pada pria berkacamata tersebut, apalagi dia terus menggenggam tangan gadisnya. Karena tak dilepaskan juga akhirnya Davian menarik tangan gadisnya agar lepas, "Udah jangan sok kenal!" ketusnya.
"Bang Iky ya, Rain baik, kabar abang gimana?"pekik Rain setelah mengingat pria berkacamata itu. Davian berdecak kesal saat melihat gadisnya yang tersenyum bahagia ke arah pria lain.
"Siapa sih, Yang?"ucap Davian sambil menarik gadisnya yang malah asyik berbincang dengan pria tak dikenal di hadapannya.
"Eh, iya lupa kenalin Bang, dia tunangan aku Bang Davian!"ucap Rain sambil mengenalkan Davian. Mereka pun berjabat tangan namun tatapan mereka masih tidak bersahabat.
"Ya Allah, adek abang udah gede ternyata,"ucap Bang Iky sambil mengusak rambut Rain dan hal itu membuat Davian mengepalkan tangannya kesal.
"Bang Iky ini temennya Bang Refal, dulu dia sering maen ke rumah, Bang!"jelas Rain pada Davian yang terlihat menekuk wajahnya kesal. Rain akhirnya pamit pada sahabat abangnya itu dan menarik tangan Davian untuk keluar dari resto tersebut.
Saat ini Davian dan Rain sudah berada di dalam mobil, Davian masih memperlihatkan muka datarnya, semenjak keluar dari resto tadi.
"Kenapa sih?"tanya Rain saat pria di sampingnya tak juga bersuara sejak tadi.
"Bang, kamu marah?"lanjutnya sambil mengguncang lengan kekar Davian.
Davian tetap fokus pada jalanan di depan tanpa menghiraukan gadisnya yang terus menarik lengan bajunya. Pria itu melajukan mobilnya ke arah berlawanan jalan pulang, entah kemana ia akan membawa gadis muungilnya.
Rain yang merasa dicuekin akhirnya kembali duduk menghadap ke depan, kemudian ia membuka ponselnya, dan akhirnya ia asyik dengan ponselnya sendiri sampai ia tak menyadari kalau mobilnya sudah berhenti. Bahkan pria tampan itu pun sudah tak ada di sampingnya.
"Eh, kemana tuh si Om?"gumamnya sambil membuka sabuk pengaman dan pergi keluar mobil. Nampak pria tinggi itu berdiri menghadap pantai dengan ombak yang tidak terlalu besar, di sampingnya juga berdiri seorang wanita dengan tubuh tinggi bak seorang model, kalau diperhatikan mereka sangat serasi.
Rain yang hendak menghampiri tunangannya tersebut, akhirnya mengurungkan niatnya dan berbalik kembali masuk ke mobil.
"Apa-apaan gue dicuekin kayak gini? Ternyata udah ada cewek lain,"gerutunya sambil membanting pintu mobil.
Bersambung.....
Hai,,, hai,,,, aku datangπππ
Happy Reading ya,,, buat kalian yang selalu setia dengan novel aku.
Aku usahain up disela-selangurusib baby boy akoh...
Jan lupa tinggalin jejak ya sayππππ