"DR"

"DR"
Biang Rusuh



"Kamu" ucap Davian sambil mengerjap.


"Banguuuun wooooi!" teriak gadis cantik di depannya, dia bukan salah satu cewe Davian tapi Isma Brata, salah atu sepupu Davian yang bawel, rusuh, pokoknya ngeribetin bagi Davian.


"Ngapain sih lo di mari? Berisik!" omel Davian kemudian menarik kembali selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Sementara Isma gadis jahil itu, ngga semudah itu menyerah untuk membangunkan sepupunya itu.


Dia membuka tirai jendela yang otomatis matahari yang sudah mulai tinggi menerobos masuk, dan menyapa Davian dengan silaunya.


"Aduuuh, Is, gue baru bisa tidur pagi ini, please deh!" gumam Davian dengan serak.


"Ngga, pokoknya harus bangun, emang lo ngga kangen sama gue, udah jauh-jauh dateng juga,ayo banguuuun!" sambil menarik selimut Davian sekaligus.


Davian berdecak kesal, ia selalu ngga bisa tidur nyenyak jika sepupu yang satu ini datang.


"Ngapain si?" omel pria bertubuh tinggi itu, sambil beringsut duduk menyandar pada kepala ranjang, walau matanya masih tetap terpejam.


"Sebulan ke depan gue bakal tinggal di sini ngabisin liburan gue, dan lo sebagai sepupu yang baik mesti ajak gue jalan-jalan!" celotehnya sambil melipat selimut di tangannya. Kemudian menarik tangan besar Davian untuk masuk ke kamar mandi.


"Dasar Biang Rusuh!!!" gerutu Davian saat ia sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Gue denger, cepetan mandi! Awas kalo tidur! Gue udah nyiapin sarapan di bawah!" teriak Isma kemudian keluar dari kamar Davian dan bergegas k bawah.


Davian menatap dirinya di cermin besar, ada lingkaran hitam di bawah matanya. Dia menghela nafas berat, saat mengingat kejadian semalam, ia ingin memberitahu gadis mungilnya, tapi mana mungkin gadis itu langsung percaya.


Akhirnya ia pun memulai ritual mandinya untuk menghilangkan kantuk yang masih menderanya. Sekitar 20 menitan, akhirnya Davian keluar dengan handuk melilit di pinggangnya dan satu tangannya memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.


Davian sudah siap dengan baju santainya, ia hanya mengenakan kaos putih dan celana jeans. Kemudian ia turun ke bawah. Tampak Dio dan Isma sedang berbincang sambil sesekali diselingi tawa renyah.


"Pantes biang rusuh bisa masuk, ternyata lo yang kasih tau, Yo!" sindir Davian kemudian duduk diantara mereka dan melihat makanan yang tersedia di sana.


"Hai, Bro! Abis sepupu bawel lu nelponin gue, berisik!" jawab Dio enteng, dan mulai menyuapkan sarapannya.


Sementara Isma hanya terkikik disamping mereka. Davian pun ikut manyantap sarapannya tanpa berbicara lagi.


Sekitar jam 10, mereka bertiga pergi ke rumah Davian. Dio yang menyetir, Davian duduk di sampingnya, sementara Isma di belakang.


"Eh, Dav bener lo suka ama bocah?" keponya mulai kumat. Sambil mencondongkan kepalanya ke depan.


"Siapa yang bilang si?" sewot Davian sambil menoyor jidat sepupunya.


"Yah tinggal jawab doang, susah amat si, emang secantik apa si? Penasaran gue?" lanjutnya sambil mengusap jidatnya yang kena toyor.


"Berisik!" jawab Davian sambil memejamkan matanya, ia ingin melanjutkan tidurnya sebentar. Tubuhnya ia sandarkan ke sandaran jok mobil, sementara tangannya bersedekap dan matanya terpejam.


"Dih, malah tidur!" gerutu Isma kemudian ia pun menyandarkan tubuhnya ke belakang, dan mulai memainkan ponselnya. Tak berapa lama akhirnya mereka sampai di rumah besar Davian.


Isma langsung menghambur keluar, ia ingin segera bertemu mami Sherly, sementara Davian masih asyik dengan mimpinya, bahkan dengkuran halus masih terdengar.


"Dav, bangun udah nyampe!" ucap Dio sambil mengguncang bahu sahabatnya.


"Hmm" hanya itu yang keluar dari mulut Davian, bahkan ia kembali terlelap dengan tubuh miring ke samping. Dio sampe kewalahan membangunkan Davian yang tumben nyenyak banget tidurnya.


"Eh, Rain kamu ada apa ke sini?" teriak Dio sengaja. Tiba-tiba Davian mengerjap dan langsung mengucek matanya yang terasa perih.


"Mana Rain, mana?" ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Di rumahnya, buruan turun udah nyampe juga!" omel Dio sambil keluar dari mobil meninggalkan Davian yang terbengong.


Di dalam rumah Davian


Sang mami memeluk erat Isma, dia sudah menganggap gadis periang itu sebagai putrinya.


"Mamiiiii,,, Isma kangen banget sama mami!" teriaknya sambil mengeratkan pelukannya. Isma sudah terbiasa memanggil mami daripada tante, karena selain sudah dekat mami Sherly menganggap Isma sebagai adik dari Davian.


"Huh dasar rusuh, ngapain sih Mi, pake ngundang dia ke sini?" gerutu Davian saat ia masuk sambil meregangkan tubuhnya.


"Kamu tuh kalo ngomong, bagus lah biar mami ada temen, lagian dia kan lagi liburan, jadi sekarang tugas kamu jagain dia!" timpal sang mami, yang membuat Davian jengah, sementara Isma merasa menang, ia pun menjulurkan lidahnya pada Davian.


Davian pun melengos dan berjalan melewati mereka, sementara Dio hanya terkekeh, memang ia juga tahu jika ada Isma, Davian bakalan repot dia juga sih.


Di Kedai


"Lo udah dapet kabar dari Kak Reza?" bisik Ikoh saat mereka membereskan piring. Rain hanya menggelengkan kepalanya.


"Ya udah mungkin ntar sore ataw malem kali, dia ngabarin lo!" jawab Ikoh sambil mengusap punggung sahabatnya menenangkan.


"Udah gue juga ngga apa-apa, Koh!" jawab Rain santai, walau perasaannya masih tidak nyaman semenjak kemarin, entah apa yang terjadi pada kekasihnya.


Para pelanggan mulai berdatangan dan kedai pun mulai sibuk, untung para karyawan Bu Ratna cekatan semua, jadi semua pelanggan terlayani dengan baik.


Sampai akhirnya sebuah pintu terbuka lagi, nampak satu orang perempuan cantik, tubuhnya mungil hampir mirip dengan Rain namun ia lebih tinggi, dan dua orang laki-laki tinggi, tegap, dia adalah Dio dan Davian.


"Dih ngapain sih tuh om Rese kesini?" gumam Rain dengan kesal, kemudian ia pun berbalik ke ruang belakang.


"Eh, Davi, Dio, siapa gadis cantik ini?" teriak Bu Ratna saat melihat ada gadis cantik diantara mereka.


"Kenalin tante, aku Isma, sepupunya Davian!" ucap gadis dengan mata bulat tersebut.


"Panggil ibu saja, jangan tante!" ucap Bu Ratna sambil merangkul dan mempersilahkan duduk.


"Rain, Ikoh sini ada yang mau kenalan!" teriak Bu Ratna, sambil ikut duduk bergabung bersama Davian dan Dio.


Rain menghentakan kakinya kesal.


"Ngapain sih, Ibu malah manggil?" gerutunya namun ia dan Ikoh tetap berjalan juga menghampiri.


"Haai,,, aku Isma sepupunya Davian!" ucap gadis cantik itu dengan riang. Rain dan Ikoh pun memperkenalkan diri mereka masing-masing sambil berjabat tangan.


Mereka pun akhirnya makan siang bersama, bahkan Rain, Ikoh dan Bu Ratna pun ikut serta di sana, karena selain cerewet, Isma ternyata mudah bergaul dan bisa mencairkan suasana canggung.


"Oya,, minggu depan kita mau adain acara liburan, di villa keluarga Brata, kalian ikut ya!" ucap Isma di sela makan siangnya.


"Kamu juga kan lagi libur, Rain yu biar aku ada temen! Bosen kalo sama mereka berdua!" sambil melirik ke arah Davian dan Dio.


"Emm,, tapi kan aku harus bantu ibu di kedai, jadi kayanya_" ucapan Rain terhenti saat Bu Ratna bilang ia juga akan ikut, katanya butuh refreshing.


"Serius, Bu?" sang ibu hanya mengangguk yakin.


"Oya kamu udah punya pacar kan? Sekalian ajakin aja!" lanjut Isma sambil terkekeh.


"Ah ngga usah dia lagi sibuk kayanya!" jawab Rain.


"Iya sibuk sama pacar barunya tuh!" timpal Davian yang membuat Rain menatap jengkel ke arahnya.


"Jangan fitnes deh, Om!" gerutu Rain.


"Fitnah kali" timpal Ikoh sambil menyikut lengan sahabatnya.


"Ngambek sih ngambek jangan typo juga kali!" lanjutnya.


Namun tiba-tiba Isma tertawa lepas.


"Heh rusuh lo ngapa?" tanya Davian sambil menoyor kening sepupunya.


"Lo tua banget dipanggil Om... Hahahahah!" ucapnya sambil terus tertawa dan memegang perutnya.


"Sialan!"


Bersambung....


Happy Reading


Maaf baru bisa kirim hari ini,, kemarin msh puyeng... Moga cepet up ya😍


Oya ngomong-ngomong Davian dipanggil Om berasa jd kang cilok di sinetron salah satu tivi ya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Jan lupa like, komen sm koreksinya ya kl ada typo bantuin


Tetap jaga kesehatan, jaga jarak, and di rumah aja


Sun online buat kalian😘😘😘