
Hari ini hari ke tiga pernikahan Davian dan Rain, mami dan papi Davian akan pulang hari ini, begitu pun Bu Ratna, Refal dan Ikoh. Namun ternyata Rain dan Davian juga ikut pulang.
"Lo, kok kalian ikut pulang juga?" tanya Mami Sherly yang heran melihat anak dan menantunya berada di belakang dengan koper masing-masing.
"Aku pulang ke apartemen aja mi," jawab Davian dengan lemas. Sementara Rain berusaha menahan tawanya.
"Pi, Davi cutinya sebulan aja ya?" saat mereka berjalan menuju mobil masing-masing.
"Lama banget, Dav." jawab sang papi sambil mengerutkan dahinya heran.
"Davi belum dapat jatah malam pertama, Pi," bisiknya tepat di telinga sang papi yang refleks membuatnya tertawa.
"Kenapa si, Pi? Ngagetin banget sampai ketawa gitu?" tanya sang mami yang langsung menepuk bahu suaminya saat ia sedang fokus pada ponselnya.
Sementara Davian mengisyaratkan untuk tidak memberitahukan sang mami dengan menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa, Mi. Ayo pulang!" ajak sang papi sambil membuka pintu mobil untuk istrinya.
Namun tiba-tiba Rain datang dan mencium tangan mami Sherly dan papi Rangga, setelah sebelumnya ia pamit pada sang ibu dan abangnya juga Ikoh sahabatnya.
"Maaf ya, Pi, Mi, Rain belum bisa ikut ke rumah mami sama papi, abis Bang Davi nya kekeh mau ke apartemen." sambil melirik ke arah suaminya yang malah memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Udah, nggak apa-apa kami ngerti kok," jawab sang mami sambil memeluk menantu kesayangannya itu.
Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan hotel dengan tujuan masing-masing.
Davian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia menikmati perjalanan pulang ke apartemennya dengan kekasih hatinya yang sudah sah menjadi istrinya.
Tangan kirinya menggenggam erat tangan mungil istrinya, bahkan sesekali ia menarik tangan sang istri menuju bibirnya lalu menciuminya dengan lembut.
"Yank, kamu bahagia kan bisa nikah sama aku?" tanya Davian saat mobil mereka berhenti karena lampu merah.
Rain yang fokus ke depan melihat jajaran kendaraan di depannya langsung menoleh ke arah suaminya yang saat ini menatapnya dengan intens.
"Hmm, iya aku bahagia, Bang." ucapnya singkat kemudian berbalik lagi menatap ke depan, bukan apa-apa entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdetak tak beraturan saat tatapan Davian yang sekarang sah jadi suaminya itu terasa berbeda.
"Kok jawabannya kaya kepaksa gitu si, Yank?" sambil menarik dagu istrinya untuk kembali menatapnya.
"Ng-nggak, kata siapa?" jawab Rain sedikit tergagap, karena sekarang jarak mereka begitu dekat hingga jantung gadis itu kembali berdetak kencang. Namun saat bibir suaminya itu menempel di bibir mungilnya, bunyi klakson dari kendaraan di belakang mereka saling bersahutan, hingga dengan refleks Rain mendorong dada suaminya dan kembali duduk dengan posisi yang benar.
"Ish,,, ganggu aja, iya, iya jalan nih!" gerutu Davian sambil mulai melajukan mobilnya lagi.
"Udah, Bang jangan ngomel kenapa si? Lagian emang kita lagi di jalan juga kan?" ucap Rain sambil mengusap lengan kekar suaminya.
Akhirnya perjalanan yang mereka tempuh pun hanya ditemani suara deru mobil saja, apalagi tanpa Rain sadari, ia malah ketiduran.
Davian fokus menyetir dan sesekali mengusap pipi mulus istrinya yang tertidur lelap.
Tak berapa lama akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Davian tak tega jika harus membangunkan istrinya yang tidur dengan nyenyak, akhirnya ia pun memutuskan untuk menggendong sang istri.
Ia berjalan menuju lift dan menekan tombol dengan susah payah, karena ada sang istri dalam gendongannya.
"Abaang?"
"Iya sayang!"
Saat mereka tepat berada di depan pintu apartemen Davian. Setelah sang istri bangun dan memanggilnya, ia pun menurunkan tubuh mungil itu karena ia kesulitan untuk menekan pin agar pintunya terbuka.
"Maaf ya, aku malah ketiduran." ucap Rain saat mereka masuk ke dalam apartemen yang dulu pernah ia singgahi juga.
"Nggak apa-apa, aku malah seneng, kamu malah keburu bangun." jawab Davian santai.
****
Di rumah Brata
"Beneran, Pi?" sambil terkekeh geli.
"Iya, mi ngapain papi bohong coba?" sambil terus terbahak.
"Makanya papi izinin lah buat dia cuti sebulan, kasian mi," lanjut sang papi.
"Iya, pi kasian anak mami, malam pertamanya gagal total." sambil terus tertawa.
Sementara di rumah Bu Ratna
Sambil memeluk sang ibu, Refal mengusap bahunya dan berkata, "iya, Refal juga ngerti, tapi nanti juga mereka bakal sering berkunjung ke sini, Bu."
Bu Ratna pun mengangguk dan mengusap air mata yang sudah jatuh ke pipinya.
" Oya, hubungan kamu sama Ikoh gimana?" ucap Bu Ratna mengalihkan pembicaraan.
Refal mengusap tengkuknya sambil tersenyum malu-malu.
"Hmm,,, ya gitu aja si, Bu," jawabnya singkat.
"Alfaikoh itu gadis yang baik, dia udah ibu anggap kaya anak sendiri, ya memang dia lebih bawel si dibanding Rain. Kamu jaga dia baik-baik, atau kamu mau nikah sekarang juga?" ucap Bu Ratna panjang lebar.
"Kalau soal nikah, nanti dulu deh, Bu, biar Ikoh wisuda dulu," jawab Refal.
****
Di Apartemen
"Abang siang ini mau dimasakin apa?"sambil membereskan pakaian mereka.
"Delivery aja deh, biar kamu nggak cape, Yank." sambil ikut membantu sang istri memindahkan pakaian ke dalam lemari.
"Oh, ya udah kalau gitu aku bisa main handphone dong," ucapnya sambil terkekeh.
"Ish, mana boleh, hp nya aku sita, seharian ini kamu temenin aku aja, Yank!" sangkal Davian dan mulai memindahkan ponsel milik sang istri ke atas lemari yang tinggi.
"Iih, abang ngapain disimpen di atas gitu si?" gerutu Rain.
Namun Davian tak menghiraukan gerutuan istrinya, setelah mereka membereskan pakaiannya, Davian langsung menggendong sang istri dan menjatuhkannya di ranjang king sizenya.
"Abaaaaaaaaaang!!!"
"Udah diem di sini aja!" sambil memeluk erat tubuh mungil sang istri.
"Aku masih 'dapat' lo abang, masa lupa?" ucap Rain dengan sedikit menggoda suaminya.
"Nggak apa-apa, peluk doang kan boleh!"
"Ish,,, haredang atuhlah, Bang," sambil mencoba melepas pelukan suaminya.
Namun tentu saja Davian tak mendengarkan itu, ia tetap memeluk sang istri dan sesekali memberikan ciuman di wajah cantik istrinya.
"Oya, kamu mau honeymoon ke mana, Yank?"
"Hmmm, aku nggak tahu, Bang,belum kepikiran," jawab Rain dengan cueknya.
"Oh, iya abang cuti berapa hari?"
"Sebulan"
"Hah?lama amat si Bang, emang boleh?"
"Boleh lah, aku bosnya juga," ucapnya sambil menjawil hidung mancung istrinya dengan gemas.
"Ini juga gara-gara kamu, Yank."
"Kok, aku?"
"Iya, kenapa coba mesti datang tamu di hari pernikahan kita, kenapa nggak nanti-nanti aja gitu? Mana lama lagi. " jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kasian abang sayang!"sambil terus tertawa melihat suaminya yang merajuk.
"Pokoknya, ntar aku minta dobel atau nggak tripel deh sekalian," ucap Davian dengan menaikturunkan alisnya.
"Iiih, nggak!!!"
Bersambung....
Happy Reading...
Aku balik lagi... 😘
Jan lupa tinggalin jejak nya ya like, komen kalian selalu aku tunggu,,, makasih banyak udah setia sm aku... 😘 😘 😘