"DR"

"DR"
H-1



Pagi ini Davian sudah berangkat untuk menemui setiap wanita yang pernah ia kencani. Perjuangannya untuk mendapatkan hati Rain benar-benar luar biasa, karena tidak semua wanita yang ia temui mau menerima maafnya begitu saja. Justru sebagian dari mereka ingin menikah dengan Davian.


"Itu nggak mungkin aku udah mau nikah sama orang yang benar-benar aku cintai dan sayangi."sanggah Davian pada Tania.


"Jadi, selama ini kamu cuma mnfaatin aku?"geram Tania sambil mengepalkan tangannya erat. Wajahnya memerah menahan amarah yang terpendam di dirinya.


"Maaf"lirih Davian sambil menunduk dalam.


"Dasar baji****n,,,, Plaaak!!"sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Davian. Entah tamparan yang keberapa kali yang ia dapat, hingga kedua pipinya sudah sedikit lebam.


"Keluaaaaar!!!"teriak Tania sambil menunjuk ke arah pintu, bahkan bulir beningnya sudah luruh ke pipi mulusnya.


"Maafkan aku!"ucap Davian sambil berbalik badan menuju pintu keluar. Setelah keluar dari rumah Tania, ia mengumpat sendiri, karena kedua pipinya mulai terasa nyeri.


"Sialan!!"kemudian masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya ke arah rumah Renata, wanita terakhir yang ia kencani.


"Ini yang terakhir, moga nggak ada tamparan lagi, pipi gue udah ngilu, ****!"gumam Davian sambil tetap fokus mengemudi dan sesekali mengusap pipinya yang terasa nyeri.


Hari sudah mulai gelap, saat mobil Davian terparkir di depan rumah Renata.


Sebelum ia mengetuk pintu di depannya, pria itu berdoa dalam hati agar wanita terakhir ini bisa memaafkannya dengan lapang dada.


Setelah menarik nafas dan menghembuskannya, ia pun mengetuk pintu besar di depannya. Tak lama berselang terdengar sahutan dari dalam, "sebentar".


Terlihat Renata sudah berpakaian rapi seperti hendak pergi.


"Da-Davi kamu?"ucap Renata terbata. Namun wanita itu tetap mempersilahkan masuk pria di hadapannya.


Setelah mereka duduk di sofa, Renata bertanya, "ada apa, Dav? Tumben main ke sini"


Sebelum menjawab pertanyaan wanita di hadapannya, Davian berusaha mengatur nafasnya agar rasa paniknya hilang. Renata menatap ke arah Davian dengan kening berkerut.


"Eh bentar deh, itu pipi kamu ko kaya lebam gitu? Kamu abis berantem?"sambil berpindah duduk di samping Davian dan mengusap pipi lebam Davian dengan tangan kanannya, sementara yang disentuh malah mengernyit kesakitan.


"Nggak apa-apa kok, Re, biasa lah!"jawab Davian sambil menurunkan tangan wanita itu dari pipinya. Namun wanita itu malah beranjak ke dapur dan kembali dengan mangkuk berisi air dingin di dalamnya dan sebuah handuk kecil, sementara sang bibi membawa minuman untuk mereka berdua.


"Sebenernya aku ke sini mau minta maaf atas perbuatan aku ke kamu dulu!"ucap Davian saat wanita itu mulai mengompres pipinya.


"Kamu kerasukan apaan si, Dav?"kekeh wanita di sampingnya sambil terus mengompres pipi Davian bergantian.


"Aku serius, Re, besok aku akan tunangan dengan orang yang aku cintai dan memang kami dijodohkan tapi aku udah bener-bener jatuh cinta sama dia."jelas Davian.


"Ooh, akhirnya seorang Davian menemukan cinta sejatinya, baguslah aku turut senang, Dav!"jawab Renata ringan, yang membuat Davian heran.


"Kamu nggak marah, Re?"tanya Davian heran sambil berbalik ke arah wanita yang masih memegang handuk di tangannya.


"Ngapain marah, aku juga udah move on dari kamu, soal kita dulu, udahlah itu masa lalu, kita sama-sama salah dan cowok aku juga udah nerima aku apa adanya."jelas Renata.


"Makasih, Re!"ucap Davian sambil refleks memeluk wanita di hadapannya.


"Iya, iya, tapi nggak usah modus juga kali!"gerutu Renata.


"Eh, iya maaf-maaf, soalnya cewek-cewek yang sebelumnya nggak mau nerima, malah ada yang maksa aku buat nikahin dia, ampe pipi aku kaya gini."jelas Davian sambil melepas pelukannya.


"Oya, kamu udah rapi kaya gini pasti mau kencan ya? Kalau gitu aku pamit dulu ya, Re, sekali lagi makasih banyak."sambil beranjak dari duduknya kemudian pergi menuju pintu keluar.


Setelah Davian berlalu, Renata hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, kemudian pergi ke dapur untuk menyimpan mangkuk bekas kompresan Davian.


Di perjalanan menuju ke rumah Bu Ratna, Davian bernafas lega, ia ingin segera bertemu dengan calonnya.


"Akhirnya beres juga, sialan gue ampe nemuin cewek ampir 30 orang, untung Dio ngasih list nya ke gue."gumamnya sambil sesekali memegang pipinya yang masih sedikit nyeri.


Sekitar satu jam perjalanan akhirnya, ia sampai di rumah Bu Ratna, suasananya sepi, apa mungkin mereka tidak ada di rumah, pikirnya.


"Lah, ngapain si Om di mari si, Bu?"ucap Rain yang dengan cueknya kembali memanggil Om.


"Ih, kamu tuh ayo cepetan bangunin, kasian tuh!"jawab Bu Ratna.


"Ogah, ah malas aku, Bu!"jawab Rain sambil berlalu ke dalam. Refal dan sang Ibu hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap cuek Rain.


"Dav,,,, Dav,,,, banguun!"ucap Bu Ratna sambil mengguncang bahu pria bertubuh tinggi itu.


"Emmm,,, "gumamnya, tapi teris melanjutkan tidurnya. Bu Ratna menatap ke arah Refal sambil bertanya bagaimana tanpa suara. Tak berapa lama akhirnya Refal ingat gimana cara membangunkan Davian.


" Raiiiin nih Davian datang!"teriak Refal sambil menatap ke arah Davian.


"Mana Rain, mana Rain?"ucap Davian sambil mengucek matanya yang agak perih.


"Dih, bener-bener bucin ni orang!"gerutu Refal sambil terkekeh. Davian yang masih setengah sadar, berusaha mengucek matanya lagi, dan melihat ke sekeliling, ternyata ada Bu Ratna dan Refal yang tersenyum padanya.


"Eh, ibu."sambil mencium punggung tangan wanita paruh baya di depannya. Kemudian hal yang sama dilakukan juga pada Refal, namun dengan sigap Refal menarik tangannya agar tak dicium.


"Nggak usah cium tangan gue lah, salaman aja cukup."jawab Refal sambil menarik Davian untuk berdiri, "ayo masuk!" lanjutnya.


"Raiiin,,, bikin minum nih buat Davian!"teriak sang ibu dari ruang tamu.


"Sama abang aja lah, Bu, Rain cape mau bobo!"teriaknya dari dalam, yang membuat Davian terkekeh sekaligus senang mendengar ocehan gadisnya.


"Udah nggak usah, Bu, biar Davi aja, sambil mau ikut ke toilet ya!"jawab Davi kemudian beranjak menuju toilet di belakang.


Ternyata gadisnya masih ada di dapur sedang minum coklat hangat. Ia bahkan tak menyadari keberadaan Davian di belakangnya. Hingga akhirnya pria tinggi itu merebut gelas Rain dan meneguknya hingga habis.


"Iiih,, abaaang kebiasaan, bikin napa?"omel Rain tanpa menoleh ke belakang, sampai gelas itu kembali pada tangannya ia baru sadar kalau bukan tangan sang abang yang mengambilnya.


"Kamu!"


"Iya, sayang, abis kamu nggak mau bikinin aku minuman si?"jawab Davian santai.


"Ngapain ke sini si?"gerutu Rain sambil beranjak dari dapur hendak kembali ke kamarnya.


"Tunggu!"sambil mencekal lengan Rain.


"Lepasin nggak!"pekik Rain sambil menepiskan tangannya kasar dari cengkraman Davian.


"Aku mau laporan kalau persyaratan kamu udah aku penuhi, jadi besok tidak ada alasan lagi bagi kamu buat nolak aku!"jelas Davian tegas.


"Nggak mungkin secepat itu, aku tahu cewek kamu tuh banyak."ledek Rain.


"Serius, sayang, emang kamu nggak liat apa pipi aku ampe lebam gini?"sambil menunjuk kedua pipinya. Rain menatap ke arah yang ditunjuk Davian, emang agak lebam si, namun dengan jahil Rain mencubit pipi Davian.


"Yah segini doang masa sakit!"ucap Rain sambil mencubit keras pipi kanan Davian.


"Aaaaw....!"


Bersambung....


Monmaaf ya telat up nya, authornya lagi sakit,,, makannya hari ini aku usahain up.


Happy Reading 🤗🤗😍


Makasih udah setia sama novel aku,,, jan lupa pake jempolnya buat like, komen, sama vote ya... 😘 😘 😘


Oya atu lagi ramein gc lah biar ga sepi kek hati eh...