
Raindan Davian sedang makan malam di sebuah resto, setelah ia memesan kartu undangan pernikahan mereka.
"Yank, kamu kenapa si, dari tadi cemberut terus?" tanya Davian di sela makan malamnya.
Rain mendongak sebentar kemudian menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan makannya.
Davian masih belum bisa menemukan jawaban atas sikap Rain setelah ia menerima telpon tadi siang. Saat mereka selesai makan malam, Rain langsung mengajak pulang calon suaminya.
"Ayo, Bang pulang, aku cape mau istirahat." ucapnya sambil beranjak dari duduknya. Davian tanpa membantah langsung mengikuti gadisnya beranjak, kemudian menarik tangan mungil gadisnya untuk ia genggam, namun tiba-tiba Rain menepisnya dan berlalu begitu saja.
"Kenapa si tuh bocah?" gumam Davian sambil mengusak rambutnya kesal. Kemudian ia berjalan keluar dengan tergesa karena Rain sudah jauh meninggalkannya. Saat sampai di luar, nampak gadis itu sedang bersandar pada mobil Davian yang terkunci sambil memainkan ponselnya.
Davian menghampirinya, kemudian membukakan pintu mobil untuknya, tanpa sepatah kata pun Rain langsung masuk dan duduk di samping kemudi.
Davian berdecak,saat ia masuk ke balik kemudi, Rain masih tetap fokus pada ponselnya.
Dengan tiba-tiba Davian merebut ponsel Rain dan menyimpannya ke saku jaketnya.
"Abaaang,, iih ngapain sih, jahil banget!" omel Rain sambil berusaha mengambil kembali ponselnya.
Davian dengan sengaja mencondongkan tubuhnya ke arah Rain, saat gadis itu hendak merebut kembali ponselnya.
"Abaaaang!!!" kesal Rain saat tubuhnya tersudut ke pintu mobil, tangannya menahan dada bidang Davian agar tak menghimpitnya.
"Sekarang kamu jawab, abis dapat telpon dari siapa tadi siang?" tanya Davian dengan menatap intens ke arah gadisnya.
"Bukan siapa-siapa?" jawab Rain sambil mencoba mendorong tubuh tegap Davian.
"Bohong!"
"Nggak!"
"Nggak mungkin kamu cuekin aku, kalau nggak ada apa-apa," jelas Davian dengan berbisik tepat di telinga Rain, sehingga membuat gadis itu meremang.
"Aku itu sebentar lagi jadi suami kamu, kenapa mesti ditutupin kalau ada masalah, Yank?" lanjutnya, kemudian memundurkan wajahnya dan sekarang bertatapan langsung dengan wajah gadisnya yang tampak lebih cantik, dengan rona merah di pipinya yang putih mulus, membuatnya semakin menggemaskan. Namun Rain hanya diam, ia malah menggigit bawah bibirnya hingga Davian tak bisa lagi menahan dirinya untuk menikmati bibir mungil gadisnya.
Setelah melepas pagutannya, Davian pun berucap, "baiklah, kita pulang sekarang, besok kita harus pergi lagi untuk foto prewed," sambil kembali duduk di kursi dengan benar, dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Oya, besok sore aku jemput kamu buat foto prewed, kamu jangan main kemana-mana ya dari pagi!" ucap Davian saat mobil mereka sudah jauh meninggalkan resto tadi.
"Iya, bang, tapi aku mau ke taman baca sebentar besok siang nggak apa-apa kan?" jawab Rain ragu.
"Sendirian?"
"Iyalah, masa iya se RT, Bang?" gerutu Rain.
Davian hanya terkekeh, kemudian mengusap lembut rambut kekasihnya, "iya, sayang, kan biasanya kamu sama Ikoh."
"Nggak,aku sendirian, Ikoh nya lagi ada perlu lain katanya."
" Oya, udah hati-hati ya, maaf aku nggak bisa nganter, besok ada meeting dulu sampai siang, sore baru aku jemput." jelas Davian yang diangguki oleh Rain.
Sekitar jam sembilan malam akhirnya mereka sampai rumah. Rain pun langsung turun dari mobilnya, dan diikuti oleh Davian.
"Ngapain ikut si, Bang?" gerutu Rain saat Davian berjalan di sampingnya.
"Ih, kamu mah beneran nganggap supir ke aku?" gerutu Davian sambil merangkulkan tangannya ke pinggang ramping Rain.
Rain pun terkekeh sambil berucap, "abis kamu kalau sudah mampir suka lupa pulang, aku kan ngantuk."
Davian pun tergelak mendengar ucapan gadisnya," iya, sekarang nggak deh, aku cuma mau pamit ke ibu, abis itu pulang."
Rain pun mengangguk sambil membentuk huruf O dengan jari jempol dan telunjuknya.
Saat mereka masuk rumah, tampak wanita paruh baya sedang memegang remot TV.
"Ini kok, tayangannya kayak gini semua, ngeselin." omelnya sambil memindahkan chanel TV dari satu ke lainnya.
"Malam, Bu, maaf Rain pulang malam." ucap Rain sambil duduk di samping sang ibu dan memeluknya.
"Iya, Bu tadi habis makan malam dulu," lanjut Davian sambil ikut duduk dan menyalami tangan calon mertuanya yang hanya tinggal menghitung hari sah jadi mertuanya.
"Iya, nggak apa-apa, kalian pasti cape ya udah sekarang istirahat aja gih!" jawab Bu Ratna sambil tetap fokus pada layar datar si depannya.
"Ih, ibu Bang Davi masa nginep di sini?" omel Rain yang membuat Davian terkekeh.
"Nggak apa-apa kali, Yank, bentar lagi juga halal." goda Davian saat melihat gadisnya yang tampak cemberut.
"Nggak boleh, harusnya kita tuh dipingit, Bang nggak boleh ketemu empat puluh hari." tutur Rain sambil beranjak dan berlalu ke kamar.
Sementara Bu Ratna hanya terkekeh, kemudian ia menepuk bahu Davian.
"Sudah kamu pulang, istirahat, maafin anak ibu ya, nanti kalau sudah jadi istri kamu, jaga dan bimbing dia, ibu percaya sama kamu, Dav!" pungkas Bu Ratna. Davian pun mencium punggung tangan Bu Ratna dan pamit pulang.
****
Keesokan harinya
Terlihat pria putih dengan mata sipitnya sedang membaca sebuah buku di taman baca, ia tampak sedang menunggu seseorang.
"Hari ini aku akan menggagalkan rencana pernikahan kamu, Rain Almahera, karena kamu hanya bisa nikah sama aku!" gumamnya saat ia melihat notif di ponselnya. Rain yang memberi pesan bahwa ia sebentar lagi akan sampai.
Vino : aku tunggu kamu di taman baca besok siang
Rain : siapa kamu?
Vino : aku orang yang mencintai kamu
Rain : jangan halu deh
Vino : aku akan membongkar siapa Davian sebenarnya dan anak kecil itu
Rain : baiklah, bagaimana aku bisa mengenali kamu
Vino : aku akan duduk di bangku taman baca dengan jaket hitam dengan inisial R. A
Tiba-tiba sebuah tepukan di bahu membubarkan lamunannya.
"Vino?"
"Rain, kamu sudah datang?"
Rain memutar bola matanya jengah saat tahu orang yang menelponnya kemarin adalah Vino, orang yang pernah ia tolak cintanya beberapa kali.
Saat gadis itu hendak berbalik untuk meninggalkan tempat itu, Vino langsung menarik pergelangan tangan Rain.
"Lepasin gue!" bentak Rain kesal.
"Dengerin aku dulu, Rain, aku tahu tentang Davian." ucapnya cepat.
"Aku nggak peduli!" jawab Rain jutek.
"Diandra itu sepupu aku, dia mantan Davian bahkan mereka mempunyai seorang anak laki-laki." jelas Vino hingga membuat Rain mematung.
Tiba-tiba datang seorang perempuan dengan dress biru dan rambutnya dibiarkan terurai.
"Iya, aku dan Davian memiliki seorang anak, apa kamu tega memisahkan seorang anak dari ayahnya?" ucapnya sambil berjalan menghampiri Rain dan Vino.
Saat Rain berbalik, ia tahu kalau perempuan itu orang yang sama yang memeluk Davian di kantornya waktu itu. Gadis dengan rambut dicepol itu memejamkan matanya sebentar, sebelum ia mengeluarkan pendapatnya.
"Kalau memang itu anaknya Davian kenapa kamu nggak nikah sama dia?" akhirnya pertanyaan itu yang keluar daei bibir mungil Rain. Ia menahan rasa sesak di dadanya karena menahan air mata yang siap meluncur kapan saja.
"Semua karena Davian pergi ke luar negri, aku dijodohkan orangtua ku, makanya saat ini waktu yang tepat untuk memgambil apa yang sudah menjadi milikku." tegasnya.
"Jadi kamu masih mau nikah sama Davian? Dia bahkan memiliki anak dari cewek lain?" sela Vino memprovokasi.
Rain masih diam,dia tak mungkin mengambil keputusan dengan tergesa.
"Itu bukan urusan lo, Vin!" sarkas Rain dengan mengeratkan rahangnya.
"Aku siap nikahin kamu, Rain, aku nggak mungkin hianatin kamu, aku_"
"Stop!!! Cukup aku nggak mau berurusan sama kalian berdua, yang jelas minggu ini aku akan tetap menikah dengan Davian Bratasukma." ucap Rain tegas, kemudian berbalik hendak meninggalkan taman baca itu, namun saat ia berbalik tampak Davian dan seorang pria dengan map coklat di tangannya.
"Bang Davi?" lirih Rain pelan. Davian langsung menghampiri Rain dan memeluknya erat, "makasih sayang"
Sementara pria tadi menghampiri Diandra dengan memberikan map coklat itu padanya. Terdengar pembicaraan mereka tentang status anak mereka.
"Di, Revan itu anak aku, dia darah dagingku, ini buktinya!" pria itu berkata sambil memberikan map tadi.
"Aku nggak mau cerai sama kamu,sayang!" lanjutnya.
Davian dan Rain juga Vino masih berada di posisinya masing-masing. Sampai akhirnya Davian mengajak Rain meninggalkan tempat itu, namun tak disangka Vino nekad menarik tangan Rain hingga gadis itu sedikit terhuyung, untung Davian memeganginya dengan erat.
"Hei, jangan sentuh calon istri gue!!" sambil menarik tangan Rain dari genggaman Vino, kemudian membawa gadisnya pergi.
Setelah mereka masuk ke mobil Davian, pria itu pun langsung melajukan mobilnya menuju tempat foto prewed mereka.
"Kenapa kamu nggak bilang si, Yank?" ucap Davian memecahkan keheningan.
"Maaf" cuma satu kata itu yang keluar dari bibir mungil Rain.
"Iya, aku hanya khawatir, gimana kalau mereka ngelakuin hal buruk ke kamu, Yank?" jelas Davian sambil menggenggam erat tangan mungil Rain yang terasa dingin.
Rain bukan menjawab ia malah meluruhkan seluruh air matanya yang ia tahan sejak tadi, hingga Davian menepikan mobilnya dan menarik gadis itu ke pelukannya.
"Udah, jangan nangis entar cantiknya ilang lo!" goda Davian saat gadisnya mulai berhenti menangis dan Davian menangkup kedua pipinya sambil menghapus air matanya.
"Iih, abang!"
"Udah baikan, kan? Yuk keburu telat!" ajaknya kemudian melajukan kembali mobilnya menuju tempat foto prewed.
Bersambung....
Hai im kambek😂😂
Ada yang kangen nggak sama bang Davi?
Oya udah dapet udangannya belum,, kalo udah datang ya jan lupa bawa kado😂
Happy Reading