"DR"

"DR"
Dilema



"Raiiin,,, Daviii!!" teriak sang papi sambil berjalan ke arah taman belakang.


Rain refleks mendorong dada Davian dan beranjak berdiri, kemudian menjawab panggilannya, "iya, Pi."


"Kalian di sini, ayo masuk dulu ada yang mau diomongin!" sambil berlalu kembali masuk.


"Dih, papi ganggu banget si,"gerutunya yang ternyata dapat dedengar oleh gadisnya. Rain memutar bola matanya jengah, lalu meninggalkan Davian yang masih nampak kesal.


"Eeh, Yang, bentar dulu kenapa si?"sambil menarik tangan mungil gadis itu sampai Rain jatuh ke pelukan Davian. "Apa si?"


Davian bukan menjawab ia malah menarik pinggang ramping gadisnya untuk lebih dekat kepadanya. Rain menahan dada Davian dengan kedua tangannya agar jarak mereka tidak terlalu dekat.


"Mau ngapain si? Buruan mami, papi sama ibu udah nungguin!"ucap Rain curiga dengan tingkah Davian. Pria dewasa itu hanya tersenyum sambil mencondongkan wajahnya ke arah Rain yang langsung terpundur.


Saat Davi makin mendekatkan wajahnya dengan refleks Rain menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya, kemudian berucap, "awas, bang aku kebelet!" sambil mendorong dada Davian dengan satu tangannya.


"Ih ngerusak suasana aja si, Yank,"gerutu Davian namun tak juga melepaskan pelukannya.


"Yee, emang beneran kebelet ini!"sambil melepaskan tangan Davian yang memeluk erat tubuhnya.


Rain pun langsung berlari masuk saat sudah lepas dari pelukan cowok tinggi itu. Dengan santai Davian mengikuti gadisnya masuk sambil memasukan kedua tangannya ke saku celana.


Papi Rangga, Mami Sherly dan Bu Ratna tampak berbincang serius di ruang keluarga, sampai akhirnya Rain datang menghampiri mereka, diikuti oleh Davian di belakangnya.


"Duduk sini!"ajak mami Sherly pada Rain sambil menepuk sofa kosong di sampingnya. Rain pun menurut dan duduk di samping wanita yang tetap terlihat cantik diusianya yang tidak muda lagi. Sementara Davian duduk di samping Bu Ratna.


"Gini lo, kita udah ngobrol tadi, kayanya pernikahan kalian dipercepat aja deh, gimana?"ucap Mami Sherly yang langsung memfokuskan pertanyaannya ke Rain, karena ia tahu putranya sudah siap kapanpun. Rain sedikit tersentak dan hampir tersedak lagi, kemudian ia melirik ke arah sang ibu yang nampak tenang dan tersenyum padanya.


"Rain kan masih kuliah, Mi."lirihnya sambil menunduk.


"Iya, mami tahu kan banyak tuh yang masih kuliah udah pada nikah, nggak apa-apa, kayak anaknya temen mami juga mantunya masih kuliah dulu pas nikah."ucap Mami Sherly panjang lebar.


"Siapa, Mi?"


"Itu lo, Pi anaknya jeng Desi yang punya butik, langganan mami."


"Oh,iy Alfan sama Marsha kan,"jelas sang papi yang diangguki istrinya. Sementara Davian hanya tersenyum santai menanggapi percakapan di depannya.


"Ibu sih terserah kamu, Rain, tapi biar ibu tenang lebih cepat lebih baik."timpal Bu Ratna yang sedari tadi hanya menyimak.


"Ya Allah, kok ibu bilang gitu sih, gue kan belum siap,"gumam Rain dalam hati.


"Ya udahlah, Mi, Rain pasti butuh waktu buat ngambil keputusan, nggak mesti dijawab sekarang juga kan."bela Davian saat melihat gadisnya makin salah tingkah.


Semua orang pun setuju dengan penuturan Davian, kemudian tak berapa lama Rain dan Bu Ratna pun pamit indur diri. Dengan segera Davian beranjak dan hendak mengantar calon istri dan calon mertuanya itu.


Di perjalanan pulang, Davian memecah keheningan yang sedari tadi membentang.


"Kamu udah siap belum nikah sama aku, yank?"tanya Davian tiba-tiba sambil melirik ke arah gadisnya yang duduk di samping kemudi.


"Emang, kamu udah siap nikah sekarang? "tanya balik Rain yang membuat pria di sampingnya berdecak. "Kenapa malah balik tanya si?"


Sementara Bu Ratna yang duduk di belakang nampak terlelap, sehingga ia tak mendengar perdebatan yang terjadi di depannya.


"Ya, abis kan dulu pas kita tunangan, bilangnya nikahnya nanti setelah aku wisuda,"omel Rain mengungkapkan isi hatinya sambil berbalik menatap pria di sampingnya.


Davian tersenyum sambil menatap ke arah gadisnya yang nampak mengerucutkan bibir mungilnya, dengan satu tangannya ia membelai rambut panjang Rain yang tergerai begitu saja.


Lampu merah terasa amat lama pindah le warna hijau, saat Davian terus menatapnya, kemudian berucap, "iya, sayang semua itu keinginan orangtua kita, kalau bagi aku kapan pun itu aku tetap bakal nunggu kamu, walau mungkin juga kamu tahu umur aku teeus bertambah."


"Iya, sayang iya." sambil kembali berbalik ke kemudi untuk melajukan mobilnya yang ternyata sudah lampu hijau.


Hingga akhirnya mereka sampai di rumah Bu Ratna. Davian juga setelah percakapan terakhir di mobil tadi lebih banyak diam, hingga membuat Rain menjadi salah tingkah.


"Kok, jadi pendiem kaya gitu ya, apa perkataan gue tadi menyinggung perasaannya? Tapi gue nggak mau nikah sekarang."gumam Rain yang hanya didengar oleh dirinya.


Davian duduk di sofa ruang tamu, sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Sementara Rain dan Bu Ratna masuk ke dalam, sambil membuatkan minum untuk Davian.


Di dapur


Rain yang sedang membuat minuman untuk Davian, menoleh ke arah sang ibu yang juga sedang mengambil minum untuk dirinya sendiri.


"Bu, kok ibu berubah pikiran untuk nikahin Rain sama Bang Davi sekarang?"tanya Rain to the point.


"Kamu udah dewasa, apalagi Davian, selain itu ibu pengen cepet gendong cucu."ucapnya kemudian berlalu.


"iih, ibu!"


"Udah sana temenin calon kamu, ibu mau ke kedai dulu, kamu nggak usah ikut!"


Rain dan ibu pun pergi ke depan, kemudian sang ibu pamit ke kedai, sementara Rain menyimpan minuman tadi di atas meja.


"Kalau Davi ajak Rain jalan boleh nggak, Bu?"tanya Davian saat Bu Ratna hendak keluar untuk pergi ke kedai.


"Boleh, tapi inget jangan pulang terlalu malam!"


"Siap, Bu!"


Bu Ratna pun berlalu, sementara Rain dan Davian tinggal berdua di rumah, karena Bang Refal juga kebetulan tidak ada di rumah.


"Ayo, Yank, kita jalan!"


"Mau ke mana, aku cape ah,"jawab Rain malas dan malah mengambil bantal sofa kemudian memeluknya. Davian mendekati gadisnya kemudian dengan lembut mengusap pucuk kepalanya.


"Aku tahu kamu masih mikirin omongan mami, kan?"ucapnya lembut. Rain hanya menatap ke arah kekasihnya tanpa menjawab pertanyaannya. Lalu gadis itu menegakan tubuhnya dan sekarang bersandar ke sandaran sofa sambil menghembuskan nafasnya pelan.


"Aku_mmmph"tiba-tiba saja Davian menyambar bibir Rain tanpa ampun, hingga gadis itu kepayahan dan berusaha mendorong tubuh Davian, tapi sedikit pun tak bergerak.


Setelah Davian melepas pagutannya, ia berbisik, "candu, Yang."


"Abaaang!!" sambil mendorong tubuh Davian dan ia menutup mulutnya sendiri.


Bersambung...


Happy Reading 😘😘😘


Akhirnya bisa up juga,,,


Eh sekarang bertepatan sama hari kemerdekaan ni...


Boleh dong komen yang banyak menurut kalian apa sih kemerdekaan buat kalian?


Yang komen, ntar aku balas atu-atu dah diusahainπŸ˜‚


Liat like dan komen banyak dari kalian bikin aku terhura dan bahagia😘😘😍😍😍