YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Kemarahan Clarissa



Mukti pamit untuk pulang duluan. Sejujurnya semakin lama ia melihat perhatian yang di tunjukan Indra pada Clarissa membuatnya semakin tak bisa mempertahankan mimik mukanya. Entah sudah berapa kali ia menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya atau berusaha tersenyum.


"Wah, Bro. Padahal masih banyak yang mau aku bicarakan. Kapan-kapan kalau aku sudah selesai pendidikan kita nongkrong bareng anak-anak gimana?" Indra menepuk bahu Mukti yang berjalan di sampingnya menuju pintu pagar kosan Clarissa.


Clarissa hanya melihat kedua pria di depannya ini dengan pandangan yang tak menentu. Tadi, saat ia berjalan kembali dari warung ia bisa melihat keakraban antara Indra dan Mukti. Ia tahu bahwa mereka berdua teman satu SMA tapi Clarissa tak pernah menyangka kalau mereka berdua sangat dekat. Clarissa menepuk kepalanya tanpa suara merasa ia benar-benar harus menggali lubang bersiap-siap untuk yang terburuk ke depannya jika Mukti masih saja mendekatinya.


"Sa, pulang dulu. Salam buat, Ria." Clarissa salah tingkah saat Mukti dan Indra menatap ke arahnya yang sedang memukul kepalanya sendiri.


Clarissa tersenyum canggung dan mengangguk. Tidak menjawab kata-kata Mukti. Ia hanya ingin Mukti cepat pulang.


"Hati-hati, Bro" ucap Indra saat Mukti sudah menyalakan mesin mobilnya. Dari dalam Mukti menatap Clarissa yang berdiri selangkah di belakang Indra. Wanita itu hanya menunduk dan mengetuk-ngetuk kakinya di tanah. Hal itu membuat Mukti tersenyum tipis tapi ia segera tersadar dan menekan klakson mobilnya berpamitan.


Clarissa terperanjat kaget mendengar klakson mobil Mukti dan memalingkan pandangannya pada Mukti yang sudah melambaikan tangan padanya dan Indra.


Mobil Mukti sudah hilang dari mulut gang. Tiba-tiba pukulan keras mendarat di bahu Indra. Indra hanya bisa mengaduh dan melihat ke arah Clarissa yang berdiri di belakangnya.


Mata Clarissa sudah menunjukkan bahwa ia sedang marah pada pria di hadapannya ini. Indra hanya bisa tersenyum menyembunyikan rasa bersalahnya. Ia sadar ada hal yang ia langgar.


"Rissa.. " Indra berkata pelan memeriksa seberapa marah kekasihnya itu.


"Apa tadi kamu memanggilku, yang!!!" suara Clarissa meninggi tapi ia mencoba menahannya, Indra sudah mempersiapkan diri dari amukan Clarissa.


"Apa itu tadi, dra??!! Ngapain sih kamu pake peluk aku trus cium-cium segala!!" Clarissa meledak meskipun ia berusaha mengontrol suaranya, ia tak ingin menjadi tontonan orang.


"Maaf, Sa" Indra mengiba


"Kamu kan tau, dra. Aku nggak suka!" Indra mencoba meraih tangan Clarissa berusaha membawa gadis itu kembali ke teras kosan.


Clarissa menarik tangannya dari genggaman Indra. Matanya masih menyorotkan kemarahan. Indra tahu ia sudah melanggar janjinya pada Clarissa. Harusnya ia bersyukur, Clarissa masih mengizinkannya memegang tangannya.


"Sa, duduk dulu yok" Indra menarik tangan Clarissa lagi mengajaknya duduk di kursi "kita bicarakan baik-baik. oke?" Indra berbicara selembut mungkin.


Clarissa memejamkan matanya, meredam emosinya. Saat ia merasa sudah bisa menguasai dirinya. Ia menatap Indra lekat.


"Indra" Clarissa sudah berbicara seperti biasa tidak ada emosi di dalamnya "Aku pakai jilbab, dra. Aku kan sudah bilang, nggak enak di lihat orang kalau kita kontak fisik kayak gitu" Clarissa mengingatkan alasan mengapa ia membatasi kontak fisik dengan kekasihnya.


Indra hanya mendengarkan apa yang ingin dikatakan Clarissa saat ini. Ia tak ingin membantah sampai ia di persilahkan untuk bicara.


"Maaf, dra" ucap Clarissa lirih, ia menahan tangisnya. Ia merasa bersalah pada Indra karena sudah marah.


Indra meraih tangan Clarissa. Menepuk-nepuk punggung tangannya. Ia ingin menyampaikan bahwa ia tak marah pada Clarissa dengan tindakannya saat ini.


"Rissa, aku minta maaf. Aku tahu kamu bakal marah seperti ini. Tapi.. " Indra ragu melanjutkan kalimatnya. Clarissa menatap Indra menunggu apa yang ingin disampaikan Indra.


"Jangan potong kata-kataku yaa? Biarkan aku selesai bicara" Clarissa mengernyit, bingung.


'Sejak kapan aku menyela pembicaraanmu? dari dulu aku selalu menjadi pendengar mu' pikir Clarissa tapi ia melakukan kata-kata Indra ia hanya mengangguk.


"Aku dulu.. dulu banget waktu kita belum pacaran. Saat aku main ke rumah mu.. " Indra menggantung kalimatnya lagi membuat Clarissa mulai frustasi menunggu "Aku pernah bilang kan kalau aku mau ngajak Mukti juga main ke rumahmu?" Clarissa mencoba mengingat dengan keras, ketika ia mengingat kejadian itu ia pun mengangguk.


"Aku dekat dengan Mukti karena aku tahu kalian teman masa kecil. Aku yang duluan mendekatinya untuk berteman. Jadi, selama SMA aku sering cerita soal kamu sama dia. Dia juga yang menyuruhku buat serius ngejar kamu." Clarissa merasa terkejut mengetahui hubungan seperti apa yang di miliki Indra dan Mukti.


"Jangan bicara dulu!" Indra mencegah Clarissa yang sudah ingin bicara membuat wanita itu kembali menutup mulutnya "Aku sering ngajakin dia main ke rumah mu. Aku juga nggak ngerti kenapa aku begitu. Saat aku memutuskan serius ngejar kamu, main ke rumah mu buat aku gugup." Indra menundukkan kepalanya menyembunyikan rasa malu yang muncul.


Suara gelak tawa bertahan dari Clarissa membuat Indra mengangkat kepalanya menatap Clarissa yang sudah menutup mulutnya dengan satu tangan.


Setelah ia bisa mengendalikan dirinya untuk tidak tertawa. Clarissa mengisyaratkan agar Indra melanjutkan pembicaraannya.


"Tapi, saat aku bilang padanya aku akan menyatakan perasaanku padamu. Aku bisa melihat perubahan di wajah Mukti, Sa. Saat itu sebagai laki-laki yang menyukaimu aku tahu bahwa Mukti juga suka padamu" Clarissa terkejut mendengar hal itu. Bahkan wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Eeee... jangan bercanda, dra" akhirnya Clarissa tak tahan untuk bicara.


"Aku serius, Sa. Gimana ya? ada feeling yang yang nggak bisa aku jelaskan, Sa. Ada perasaan terancam saat aku tadi melihatnya ketika datang. Mungkin kami terlihat bicara dengan akrab tadi tapi aku bisa merasakan kalau dia sedang mengibarkan bendera perang denganku. Aku tidak suka, Sa. Makanya aku ambil resiko kamu marahin asal aku bisa menunjukkan bagaimana hubungan kita padanya." terdengar nada penuh emosi dari kata-kata Indra. Tangannya bahkan sudah mengepal.


"Aku nggak akan buat kamu khawatir, dra. Aku akan jauhin Mukti. Aku janji. hm" Indra menatap mata Clarissa yang menatapnya lembut membuat Indra menjadi tenang.


"Makasih, Sa. Ini berarti buat aku." Indra membalas genggaman tangan Clarissa.


"Tapi, Sa. Ada yang aku penasaran" Indra menghadap Clarissa. Clarissa menatap Indra penuh tanya seolah berkata apa lagi yang buat kamu penasaran.


"Jangan marah ya kalau aku tanya ini? " Indra menggenggam kedua tangan Clarissa erat. Jaga-jaga jika nanti tangan ini akan memukulnya lagi maka ia bisa menahannya.


"Apa?!" Clarissa merasa pertanyaan Indra bukan pertanyaan yang bagus .


"Alasan kamu nggak pernah mau ketemu Dito saat kalian pacaran dulu karena kamu menghindari kontak fisik? " Mata Clarissa mulai terlihat kesal mendapat pertanyaan tak terduga dari Indra. Ia sudah mau menarik tangannya dari genggaman Indra tapi pria itu menahannya.


"Ngapain bawa-bawa Dito sih, dra. Aku pacaran sama dia itu masih aku labil tau. Aku takut ketemu sama dia. soalnya bapak sama mamaku nggak tau" Clarissa kesal, melihatnya Indra malah tergelak ia gemas melihat wajah Clarissa yang memerah karena malu.


"Kan kamu tau. Lingkungan kita dulu ya itu-itu aja. Waktu aku ketemu kenalannya Dito pas lagi latihan basket gabungan, mereka pada kaget waktu tau aku deket sama kamu. Mereka nanya macam-macam. Katanya kamu mau nggak ketemu sama aku atau kamu mau nggak di ajak jalan gitu."


"Udah ah... aku nggak mau bahas itu" Clarissa menarik tangannya, wajahnya sudah cemberut. Tidak suka dengan pembicaraannya dengan Indra.


"Kenapa sih, Sa, kamu sepertinya membatasi diri akrab dengan laki-laki? " Indra akhirnya menanyakan hal yang membuatnya penasaran selama ini tapi tak berani ia tanyakan. Sekarang karena sudah kepalang tanggung ya mending ia tuntaskan saja rasa penasarannya.


"Mau aku akrab dengan laki-laki? " ancam Clarissa membuat Indra jadi gelagapan.


"Eh, bu..bukan gitu Sa" Indra merasa ada yang salah


Clarissa tertawa melihat tingkah Indra sekarang. Ia memukul lengan Indra pelan. Masih tertawa.


"Aku nggak begitu nyaman dekat dengan sembarang laki-laki, dra. Udah ah.. nggak usah di bahas-bahas lagi" Indra setuju. Ia juga memilih menghentikan pembicaraan ini. Sebelum ia kena batunya karena mendengar hal-hal yang tidak ingin ia dengar.


Sebentar lagi sudah masuk jam malam kos. Indra memilih untuk balik ke hotelnya sebelum ia di usir pemilik kosan Clarissa. Clarissa mengantar Indra menuju mobilnya.


"Besok kamu ada kuliah pagi? " tanya Indra sebelum ia masuk ke mobilnya.


"Iya, ada satu mata kuliah. Kenapa?"


"Pulang jam berapa?" bukannya menjawab, Indra justru bertanya lagi.


"Jam 9 paling sudah kelar" Clarissa bingung maksud pertanyaan Indra


"Oke. Aku jemput besok ya. Kita jalan-jalan dulu sebelum aku balik sore."


"Eh, kamu nggak mau istirahat aja? " Indra menggeleng


"Oh, aku antar kamu aja besok ke kampus. Nanti aku tungguin jadi kamu kelar kuliah kita bisa langsung jalan. Oke! aku nggak terima penolakan, Sa" Indra menghentikan Clarissa yang sudah ingin menolak. Akhirnya Clarissa pasrah mengikuti keinginan Indra.


"Hati-hati ya" Clarissa melambai pada Indra yang sudah duduk di belakang kemudi dan menyalakan mesin mobil. Indra tersenyum manis dan membalas lambaian tangan Clarissa.


"Istirahat sana. Assalamu'alaikum" Indra pamitan masih dengan senyum menghiasi wajahnya


"Wa'alaikumussalam" Mobil Indra sudah melaju hingga hilang di mulut gang. Clarissa kembali ke kamarnya. Di lihatnya Izria masih asyik dengan laptopnya.


Clarissa mengganti bajunya dengan baju tidur. Bersiap untuk tidur. Ia merasa sangat lelah apalagi setelah kejadian barusan. Indra dan Mukti ada di satu tempat yang sama. Helaan napas panjang lolos dari mulut Clarissa.


"Indra datang ya, Sa? " Izria sudah menatap Clarissa. Clarissa merasa ada yang berbeda dengan nada bicara Izria.


"Iya, Ra." Clarissa sudah duduk di tempat tidurnya duduk berhadapan dengan Izria.


Izria mengangguk lalu kembali dengan laptopnya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari Izria setelah itu.


'Perasaan apa ini? kenapa Izria sepertinya tidak suka. Bukannya urusannya dengan Indra sudah lama selesai' Clarissa menatap Izria yang sibuk mengerjakan tugasnya. Ia tidak ingin mengganggu Izria jadi ia memutuskan untuk tidur.


Izria menatap Clarissa yang sudah tertidur pulas. Lalu melihat boneka panda besar yang sedang duduk di samping tempat tidur Clarissa. Izria tersenyum karena sebuah ide muncul di kepalanya.