YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Mendekati Hari Pernikahan Dikta



Tuk. Tuk. Tuk.


Clarissa mengangkat kepalanya dengan malas menatap Citra yang berdiri di depan meja kerjanya.


"Kenapa, Cit?" tanya Clarissa terdengar tidak bersemangat.


"Nggak ikut makan siang, mbak?" ucap Citra terdengar khawatir karena sejak pagi Clarissa tidak seceria biasanya.


Clarissa nampak berpikir sejenak hingga akhirnya ia menggeleng. Citra yang paham akhirnya memilih membiarkan Clarissa yang kembali meletakkan kepalanya di atas tangannya yang terlipat di atas meja.


Beberapa hari belakangan ini Clarissa merasa moodnya sedang tidak baik. Bukan tanpa alasan hal ini terjadi karena beberapa hari yang lalu Clarissa yang dengan keisengannya dan rasa penasarannya mengecek instastory Dikta yang sudah ia sembunyikan beberapa bulan terakhir ini. Entah beruntung atau sial Clarissa melihat postingan Dikta yang me-repost instastory milik adik kandungnya tentang persiapan pernikahannya dan tulisan empat belas hari sebelum hari pernikahan Dikta. Saat melihat postingan Dikta tersebut Clarissa langsung merasa lemas. Ia sadar hal yang paling ia takutkan sudah semakin dekat di depan matanya.


Ditambah lagi tadi malam sebelum tidur seperti biasa Clarissa memeriksa chat di whatsapp grup terutama grup kantornya untuk melihat apakah ada informasi penting. Saat mengecek aplikasi whatsapp, ternyata grup kelasnya saat SMA sedang rame-ramenya. Clarissa yang biasanya malas membuka grup chat kelasnya itu karena biasanya isinya hanya jokes receh dari teman-teman laki-lakinya entah kenapa tadi malam ia membuka grup tersebut yang ternyata berisi ucapan selamat dan doa untuk Dikta yang sudah mengirimkan undangan virtual ke grup kelasnya. Mood Clarissa yang sudah tidak baik semenjak melihat instastory Dikta semakin buruk saat melihat hal itu.


"Rissa, nggak makan siang?" suara atasannya membuatnya menegakkan posisinya menjadi duduk sempurna.


"Nggak bu, masih kenyang." Jawab Clarissa sekenanya.


"Kayaknya saya nggak ada lihat kamu makan, Sa." atasannya tampak mengerutkan dahinya tampak bingung.


Clarissa hanya tersenyum canggung tidak tahu harus menjawab apa. Sebelum atasannya memaksanya ikut makan siang bersama ibu-ibu di kantornya akhirnya Clarissa berdiri dan pamit ke kantin meskipun ia tak berniat ke sana.


Clarissa memilih duduk disalah satu bangku di taman yang ada di tengah area kantornya. Ia mengeluarkan Hpnya dari kantong bajunya dan mulai iseng membuat instastory lalu mempostingnya. Sekarang Clarissa hanya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi taman menatap langit dari balik rimbunnya daun-daun yang berasal dari pohon di samping kirinya.


Entah berapa kali Clarissa menghela napasnya. Hingga Hpnya bergetar dengan malas Clarissa melihatnya ternyata ada yang mengomentari instastory yang di postingnya tadi. Clarissa tersenyum tipis saat membaca nama orang yang mengomentari instastorynya. Arditya Putra, adik kelasnya dulu saat SMA. Sebelumnya Arditya magang di kantornya sebelum akhirnya di tugaskan oleh kampusnya di salah satu kota di pulau Sulawesi.


*Sendirian saja, mbak? hehe* tanpa Clarissa sadari senyumnya makin merekah saat membaca komentar Arditya.


*Iya nih. Sendirian aja hehe* Jawab Clarissa masih dengan senyum di bibirnya.


*Sini aku yang temanin, mbak wkwk* membaca balasan Arditya membuat Clarissa terkekeh tanpa sadar.


*Boleh loh 😂 aku sih senang aja ada yang nemanin wkwk* balas Clarissa lagi saat itu ia sadar moodnya sudah lebih baik.


*Kembali kerja sana. Nanti di marahi main Hp terus.* setelah mengirim DM tersebut Clarissa bangun dari duduknya dan meregangkan tubuhnya lalu kembali ke kantornya.


"Mbak Rissa, itu dibelikan nasi bungkus sama mbak Risya." Citra menunjuk bungkusan di atas meja kerja Clarissa.


Clarissa merasa terharu karena teman-teman dikantornya sangat peduli padanya. Atasannya yang baru kembali dari istirahat siang menyuruh Clarissa untuk makan saja dulu.


Clarissa mengernyit karena tadi ia pamit ke kantin harusnya atasannya berpikir ia sudah makan. Atasannya tersenyum ramah lalu menepuk bahu Clarissa pelan.


"Saya tahu kok kamu nggak ke kantin." wajah Clarissa merona malu karena ketahuan oleh atasannya "Nggak apa-apa. Makan dulu sana. Saya lihat Tiwi baru makan juga." Clarissa mengangguk lalu mengambil bungkusan di atas mejanya dan pamit untuk makan siang.


Clarissa bersyukur punya atasan yang sangat baik padanya. Ia pergi ke ruang arsip dimana Tiwi sedang makan siang sendirian.


"Mbak Rissa, baru makan juga?" tanya Tiwi saat melihat Clarissa masuk keruangan dan duduk di depannya.


"Iya, Wi. Kamu kok baru makan?" tanya Clarissa sambil mengeluarkan nasi bungkusnya.


"Iya, tadi ikut rapat di ruang pak kepala. Baru selesai ini makanya baru bisa makan." Clarissa mengangguk paham akhirnya mereka maka bersama tentunya sambil diselingi mengobrol.


Hp Clarissa bergetar dan layarnya menyala ternyata balasan DM dari Arditya. Clarissa melirik Tiwi yang sedang sibuk membalas chat. Bagaimana pun Tiwi dan Arditya satu tempat kuliah dimana Arditya adalah adik tingkat dari Tiwi. Selain itu seingat Clarissa orang-orang di kantornya menjodohkan Tiwi dengan Arditya. Meskipun mereka berdua terlihat tidak menanggapi hal tersebut tapi Clarissa ingat Tiwi pernah cerita bahwa ia tidak masalah selama Arditya serius dengannya. Clarissa tak ingin Tiwi salah paham jika mengetahui Clarissa dan Arditya beberapa bulan belakangan ini aktif berkomunikasi meskipun tidak intens dan tidak ada hubungan apapun diantara mereka.


*Iya, mbak. Mbak, makan dulu sana. Pasti lagi galau gini nggak mood makan.* Clarissa tersedak makanan yang ia makan hingga membuatnya terbatuk saat membaca DM dari Arditya.


"Mbak Rissa, ini minum dulu." Tiwi menyerahkan air mineral yang sudah dibuka tutupnya pada Clarissa.


Clarissa langsung menegak air mineral tersebut dan mengucapkan terima kasih pada Tiwi setelah ia baik-baik saja.


"Kenapa mbak? sampai kesedakan gitu." tanya Tiwi khawatir.


"Nggak apa-apa, Wi." Clarissa tertawa canggung.


Clarissa memilih hanya mengirim stiker untuk membalas pesan Arditya agar suasana tidak semakin canggung buat dirinya sendiri. Clarissa melirik Tiwi sekali lagi entah kenapa ia merasa tidak enak dengan Tiwi. Padahal Clarissa tahu Tiwi pun sedang dekat dengan orang lain dan ia pun tidak sedang memiliki hubungan dengan Arditya.