YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Memutuskan Menjadi Single



tuk. tuk. tuk.


Clarissa sibuk menatap layar laptopnya sementara tangan kanannya sibuk mengetuk meja. Sudah hampir satu jam ia bolak-balik merefresh e-mail nya.


'katanya mau dikirim jam 9.' gumamnya dalam hati. Matanya kali ini melirik jam tanganya. mulai frustasi.


"Rissa, gimana revisinya dari pak Lukman udah ada?" suara lembut atasannya Clarissa yang berjalan memasuki ruang kerja mereka.


"Eh, iya bu. Belum bu" Clarissa menghentikan ketukan tangannya dan matanya beralih memandang atasannya yang kini sudah duduk di depan meja kerjanya.


"Oh, gitu. Coba telpon lagi, Sa" perintahnya ramah


"Oke bu" Clarissa meraih Hpnya yang tepat tergeletak disamping laptopnya. Mencari nama pak Lukman lalu menelponnya.


"Beliau akan segera mengirimnya bu. Katanya baru selesai rapat" Clarissa meletakkan kembali Hpnya.


"Hmm, baiklah. Kalau revisinya sudah dikirim tolong print untuk saya ya, Sa" Kini atasan Clarissa sudah berjalan menuju ruangannya.


"Oke bu" Clarissa kembali dengan laptopnya.


Derrtt. Derrtt.


Tanpa memandang Hpnya Clarissa langsung mengambilnya dan mengangkat panggilan telepon yang entah dari siapa.


"Hallo. Assalamu'alaikum." jawabnya


"Wa'alaikumussalam. Ingat Sa, assalamu'alaikum dulu baru hallo" mata Clarissa membulat sempurna mendengar suara orang di seberang sana.


"Kak Sukma? " ucapnya ragu


"Hehehe, apa kabar Sa? " tawa khas yang sangat dikenal Clarissa terdengar sangat ramah. Clarissa mengulum bibirnya tidak tahu harus berekspresi seperti apa.


"Hei, Rissa" panggil Sukma lagi karena tak mendengar jawaban dari lawan bicaranya cukup lama.


"Eh, iya... Baik kak. Kak Sukma apa kabar?" Clarissa berdiri dari duduknya lalu menepuk pundak Citra dan menunjuk Hpnya memberi tahu bahwa dia akan keluar untuk menerima telpon. Citra hanya mengangguk sambil tersenyum mengerti.


Clarissa berjalan agak cepat menuju halaman samping kantornya. Tempat biasa yang digunakan teman-teman kantornya bersantai.


"Alhamdulillah, Sa. Baik. Kaget ya? Hehe" lagi-lagi suara tawa yang pernah menemani malam-malamnya dulu kembali terngiang di telinga dan otaknya.


Clarissa hanya tertawa hambar. Ingatannya kembali pada kejadian 6 tahun lalu. Saat usianya masih 20 tahun.


_ Flashback _


oktober 2014


Tiga minggu setelah Clarissa operasi amandel. Clarissa sedang asyik dengan Hpnya. Membalas pesan dari teman-temannya yang menanyakan keadaan pasca operasi.


*Ya ampun. Aku cuma operasi amandel loh. kenapa heboh banget. hahaha* Clarissa membalas pesan dari Riana sahabatnya dari SMP


*hahahaa, namanya juga sudah kelewat parah* Clarissa merasa senang mendapat perhatiaan dari sahabatnya.


Menunggu balasan dari Riana, Clarissa meraih komik yang tadi dibacanya. Cukup lama menunggu sampai sebuah pesan masuk. Clarissa segera meraih Hpnya. Ternyata bukan dari Riana tapi dari pacarnya, Sukma.


*Gimana keadaanmu sekarang, Sa?* Clarissa tersenyum senang membaca pesan dari Sukma.


*Alhamdulillah kak sudah baikkan. sudah bisa makan nasi tapi belum bisa banyak :(* Clarissa mengirim pesan dengan bahagia. Sudah hampir satu tahun ia pacaran dengan Sukma. Kakak tingkat yang beda jurusan di kampusnya.


Clarissa selalu merasa takjub selama ini saat dia pacaran belum pernah ia merasa seperti ini. Hampir satu tahun tapi ia selalu merasakan ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.


Ia bahkan bergulung-gulung di atas tempat tidurnya menahan tawa menunggu jawaban Sukma.


Suara pesan masuk ke Hp Clarissa, dengan cepat ia meraih Hpnya dan membuka pesan dari Sukma.


*Sa, kakak mau ngomong.* Wajah Clarissa berubah dari yang tadinya cerah menjadi bingung. Ia merasa ada yang tidak beres. Clarissa kini sudah duduk sempurna di atas tempat tidurnya.


'apa ini? mau ngomong apa? kok kayaknya serius' Clarissa menggigit bibir bawahnya membalas pesan dari Sukma.


*mau ngomong apa kak?* pesan terkirim. Clarissa menghela nafasnya berat. Kini ia berjalan duduk didepan meja riasnya. Menunggu dengan khawatir.


'kok lama banget balasnya' gumam Clarissa pelan. Matanya menatap layar Hp.


Pesan masuk. Clarissa menahan napasnya saat meraih Hpnya. Ia kembali menghela napas panjang. Ragu untuk membuka pesan dari Sukma.


'Tenang, Sa. Bisa jadi bukan hal serius' Clarissa memantapkan diri dan membuka pesan dari Sukma.


*D*eg!


Mata Clarissa mulai berair. Saat membaca pesan dari Sukma.


*Sa, kayaknya rasa nyaman yang kita rasakan selama ini sudah salah kita artikan.* Pesan ambigu dari Sukma membuat dada Clarissa menjadi sesak.


'apa ini? apa maksudnya? ' Clarissa mencoba mencerna pesan dari Sukma.


*Kak, maaf ya. Aku nggak tahu maksud kakak ini apa. Tapi, yang pasti aku tahu kak. Aku nggak pernah salah kalau aku sudah sayang sama seseorang dan nyaman dengan seseorang. Aku pun pacaran sama kakak ya karna aku tahu aku suka dan sayang sama kakak. Aku nyaman sama kakak.* Ketik Clarissa emosi. Ia mencoba menahan air matanya. Ia teringat saat berbicara dengan sahabatnya di kampus.


"Aku nggak bakal pernah mutusin kak Sukma duluan. Karena aku tahu aku nggak punya alasan buat putus sama kak Sukma. Kalau suatu saat harus putus biar kak Sukma yang putusin aku." ucapan Clarissa pada Rena saat mereka pergi makan siang sehabis pulang dari kuliah. Sukma memang bukan pacar pertama Clarissa, sebelum Sukma Clarissa sudah tiga kali pacaran. Ketiga mantan pacarnya sebelumnya, Clarissa yang memutuskan. Tapi, entah kenapa dengan Sukma ia yakin dia tak akan mengucapkan kata putus duluan.


- Flashback selesai -


"Hei, Sa. Kenapa diam lagi? " Clarissa tersadar kini rasa sesak di dadanya kembali lagi.


"Iya, kak. Kaget." Jawab Clarissa jujur.


Putus dari Sukma membuat Clarissa memilih untuk tidak pacaran lagi. Meskipun setelahnya ia tetap punya hubungan yang rumit dengan salah satu mantannya, Mukti.