
Clarissa menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Ia merasa lelah menghindari Bella yang sedang penasaran dengan cerita putusnya ia dengan Indra.
"Mbaaak!!!" Bella memanggil dari luar kamar Clarissa. Clarissa kembali frustasi mendengar suara cempreng Bella yang memanggilnya.
tok. tok. tok.
Bella mengetuk pintu kamar Clarissa berkali-kali. Bahkan ia mencoba membukanya tapi karena pintu di kunci oleh Clarissa membuat Bella akhirnya terus-menerus mengetuk pintu Clarissa.
"Mbaak Rissaaa!!" Bella mulai berteriak membuat Clarissa menutup mukanya dengan bantal.
Ia sudah berteriak frustasi di balik bantal. Suasana makin lama makin terasa horor. Suara ketukan pintu dan teriakan Bella yang memanggil namanya berulang kali. Clarissa akhirnya menyerah dengan berat hati ia memaksa kakinya melangkah membuka kunci pintu kamar.
"Mbaaak!!!" Bella sudah membuka pintu dengan senyum sumringah yang membuat Clarissa bergidik ngeri.
"Ayo, ayo, beritahu aku." Bella menggandeng lengan Clarissa dan menggeliat manja. Matanya bahkan terlihat berbinar-binar menantikan cerita dari Clarissa.
"Oke, oke, mbak cerita. Tapi, janji jangan gangguin mbak lagi nanti." Bella mengangguk setuju, ia menarik tangan Clarissa untuk duduk di atas tempat tidur.
Bella sudah memeluk batal dan siap mendengarkan cerita dari Clarissa. Clarissa menghela napas panjang dan mulai menceritakan semuanya pada Bella. Menurutnya percuma menyembunyikan apapun dari Bella.
Ekspresi Bella sempat sangat kesal saat Clarissa menceritakan dugaannya tentang apa yang di lakukan Izria padanya. Tapi, berubah sumringah saat Clarissa menceritakan tentang Mukti yang menyatakan perasaan padanya.
"Jadi, mas Mukti sudah nyatain perasaannya?" Bella benar-benar terlihat antusias.
"Dari semua yang mbak ceritakan yang kamu tangkap cuma itu?" ucap Clarissa sebal.
"Nggak, mbak. Tapi yang paling menarik perhatian ya soal mas Mukti." Clarissa menatap Bella kesal.
"Sudah ah! sana keluar dari kamar mbak." usir Clarissa yang sudah tidak tahan melihat senyum Bella yang menurut Clarissa sangat menyebalkan.
Saat Bella berniat beranjak dari tempat tidur Clarissa, Hp Clarissa berbunyi dan tertera nama Mukti di layarnya. Mata Bella membulat dan senyumnya mengembang. Clarissa dengan cepat meraih Hpnya dan mengusir Bella dengan tangannya. Tapi, bukannya pergi Bella justru duduk kembali di depan Clarissa. Menunggu Clarissa mengangkat panggilan telepon dari Mukti.
Clarissa menatap Bella seolah bertanya apa yang dilakukannya sekarang dan Bella hanya menyuruh Clarissa mengangkat panggilan telepon dari Mukti dengan tangannya.
Clarissa akhirnya menyerah lagi, percuma mengusir Bella yang terlihat sangat antusias di hadapannya saat ini.
"Hallo. Assalamu'alaikum." jawab Clarissa. Bella mendekatkan telinganya ke Hp Clarissa yang membuat Clarissa menjauhkan kepalanya.
"Hallo. Wa'alaikumussalam. Sibuk, Sa?" tanya Mukti dari seberang sana.
"Nggak sibuk mas." ucap Bella sedikit berteriak membuat Clarissa menatapnya sinis.
Terdengar suara tawa dari Mukti mendengar Bella yang menjawab pertanyaannya.
"Maaf, Mukti. Ada Bella di sini." Clarissa menjauh dari Bella.
"Nggak apa-apa, Sa. Malam sibuk nggak?" tanya Mukti lagi.
"Nggak. Kenapa?"
"Mau keluar nggak? makan gitu. Kan katanya kamu mau ganti uangku waktu itu."
"Kalau makannya di rumah ku saja gimana?" tawar Clarissa, ia mencegah dirinya untuk keluar berdua saja dengan Mukti.
"Kamu mau ngenalin aku ke orang rumahmu ya?" goda Mukti terdengar tawa jahilnya dari seberang sana.
"Buat apa ngenalin kamu. Mereka sudah kenal kamu." jawab Clarissa datar tidak ingin menanggapi serius ucapan Mukti.
"Bagus berarti." Mukti terdengar percaya diri sedangkan Clarissa merasa ada yang salah.
"Kamu jangan mikir aneh-aneh." ucap Clarissa sedikit ketus.
Gelak tawa Mukti pecah. Ia merasa sangat senang menggoda Clarissa. Mendengar tawa Mukti membuat Clarissa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengerti apa yang lucu.
"Kalau kamu mau. Nanti malam datang saja sehabis sholat magrib." Clarissa mengakhiri panggilan telepon tanpa mendengar jawaban Mukti.
Saat membalik badannya Clarissa terkejut melihat Bella masih duduk manis di atas tempat tidurnya dengan senyum lebar di wajahnya.
"Nggak usah ngomong apa-apa." cegah Clarissa yang melihat Bella sudah ingin bicara membuat gadis itu menutup mulutnya lagi dan mengangkat bahu masih dengan senyum sumringah.
Bella beranjak dari tempat tidur Clarissa dan berlari keluar. Dari luar Clarissa bisa mendengar suara antusias Bella yang memberitahu mamanya kalau nanti malam Mukti akan datang untuk makan malam. Clarissa menepuk jidatnya mendengar ucapan Bella. Ingin rasanya menutup mulut Bella yang mudah sekali bocor.
Selesai sholat magrib berjama'ah dengan mamanya dan Bella. Mereka bertiga langsung menyiapkan makanan yang sudah di masak dari sore di atas meja makan. Saat suara pintu depan terbuka dan terdengar bapaknya yang tengah berbicara dengan seseorang.
"Eh, makanannya sudah siap." ucap bapaknya saat sampai di ruang tengah yang menjadi satu dengan ruang makan.
Dari belakang bapaknya muncul Mukti yang sudah melambaikan tangannya pada Clarissa yang tampak terkejut. Bella menyenggol lengan Clarissa yang terdiam menatap Mukti yang datang bersama bapaknya.
"Wah, mas Mukti. Kok bisa sama bapak datangnya?" Bella bertanya duluan melihat Clarissa yang masih tidak bereaksi.
"Tadi sholatnya di masjid sini juga. Biar nggak telat ikut makannya hehehe" ucap Mukti dengan senyum lebarnya.
"Ayo, nak Mukti kita makan." ajak bapak Clarissa yang sudah berjalan lebih dulu ke meja makan.
"Iya, pak." jawab Mukti sopan.
Bella sengaja pindah duduk di sebelah mamanya agar Mukti bisa duduk di samping Clarissa. Bella bisa melihat mata Clarissa yang sudah menatapnya tajam tapi Bella sengaja mengabaikannya.
Clarissa menyendok nasi ke piring dan menaruh beberapa lauk pauk dan menyerahkannya pada bapaknya. Sementara Bella mengambilkan untuk mamanya.
"Mbak, mas Mukti nggak di ambilkan sekalian." ucap Bella membuat Clarissa melotot ke arahnya.
"Iya, Sa. Ambilkan nak Mukti juga." perintah mamanya membuat Clarissa akhirnya mengambil piring di depan Mukti dan mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Mukti.
Melihat hal itu membuat Mukti tak bisa menyembunyikan senyumnya begitu juga dengan Bella yang merasa telah menang menjahili Clarissa.
Makan malam berjalan dengan hangat. Setelah makan pun bapak Clarissa mengajak Mukti mengobrol. Clarissa memakai celemek untuk bersiap mencuci piring-piring kotor. Tapi, dicegah Bella.
"Sudah mbak temanin bapak sama mas Mukti saja. Biar aku yang cuci piringnya." Clarissa menolak dan tetap menuju wastafel untuk mencuci piring.
"Benar kata Bella. Sana temani bapak sama nak Mukti." ucap mamanya yang membuat Clarissa berwajah masam.
"Nak Mukti itu tamunya siapa?" tanya mamanya yang menangkap ekspresi wajah Clarissa.
"Iya, ma." Clarissa dengan terpaksa melepas celemek yang sudah di pakainya dan menyerahkan pada Bella.
Ia berjalan ke ruang tamu membawa dua gelas teh hangat dan cemilan. Ia meletakkan di atas meja, bapaknya terlihat sangat antusias bercerita tentang kerjaannya dan Mukti terlihat sama antusiasnya mendengarkan.
"Sudah mau sholat isya. Kita ke masjid dulu nak Mukti habis itu baru ngobrol lagi sama Rissa." ucap bapak Clarissa yang sudah berdiri untuk bersiap-siap berangkat ke masjid.
"Iya pak. Saya wudhu di masjid saja kalau gitu. Bapak bisa siap-siap, saya tungguin." bapak Clarissa mengangguk paham dan masuk ke dalam untuk bersiap-siap pergi ke masjid.
"Makasih, Sa. Sudah ngundang aku makan malam di sini." ucap Mukti terdengar tulus.
Clarissa tersenyum lembut dan mengangguk. Suasana menjadi hening hingga bapaknya muncul dari dalam lengkap dengan baju koko dan sarung serta sajadah di bahunya.
"Ayo, nak Mukti kita berangkat." suara adzan mulai terdengar, Mukti segera berdiri dan mengikuti langkah bapak Clarissa yang telah lebih dulu keluar.
Clarissa mengantarkan sampai depan saat bapaknya dan Mukti sudah keluar dari pagar, ia segera masuk dan menutup pintu bersiap untuk sholat isya bersama mamanya dan Bella.
"Gimana mbak?" tanya Bella yang sudah berdiri di hadapannya setelah ia selesai wudhu.
"Apanya yang gimana." ucap Clarissa acuh dan berlalu meninggalkan Bella yang menahan tawanya.
Clarissa merasa rencananya untuk menjauhi Mukti justru terasa semakin menjauh darinya. Ditambah Bella yang sudah terlihat sangat terang-terangan berada di pihak Mukti. Begitu juga dengan bapaknya yang terlihat sangat nyaman dan cocok berbicara dengan Mukti tadi. Hanya tinggal mamanya, jika mamanya menunjukkan tanda-tanda yang sama maka habislah sudah Clarissa.