YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Reunian Dadakan Teman Sekelas



Bella membuka pintu kamar Clarissa karena tak mendapat jawaban setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar Clarissa.


"Mbak!!" panggil Bella agak keras saat melihat Clarissa sedang asyik memakai riasan di depan meja riasnya dengan earphone di telinga.


Clarissa melihat pantulan bayangan Bella dari cermin di depannya yang sedang berkacak pinggang dengan wajah cemberut. Clarissa langsung melepaskan earphone di telinganya dan menoleh ke arah Bella.


"Kenapa, Bel?" tanya Clarissa saat Bella sudah duduk di tempat tidurnya.


"Mbak mau pergi?" bukannya menjawab Bella malah balik bertanya.


"Iya, kenapa?" Clarissa kembali melanjutkan mengenakan bedak padat di wajahnya.


"Sama siapa?" tanya Bella lagi, membuat Clarissa kesal karena pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan lagi oleh Bella.


"Sama Riana." jawab Clarissa ketus.


"Oooohh!!" wajah Bella sudah kembali ceria. Clarissa yang melihat perubahan ekspresi Bella hanya bisa mengernyit.


Clarissa sudah selesai mengenakan jilbabnya. Ia beranjak menuju meja riasnya lagi meraih Hpnya untuk memeriksa pesan masuk. Bella masih asyik berbaring di tempat tidur Clarissa, sibuk dengan Hpnya.


"Kamu mau disini terus, Bel?" tanya Clarissa yang sudah memasukkan Hpnya ke dalam tas selempang yang akan di pakainya. Bella mengubah posisinya menjadi duduk bersila di atas tempat tidur Clarissa tapi mata dan tangannya masih sibuk dengan Hpnya.


"Bella!!" panggil Clarissa lagi karena tak mendapatkan respon dari Bella.


"Mbak, beneran jalan sama mbak Riana kan?" tanya Bella lagi, nada suaranya terdengar curiga.


"Iya!! kamu kenapa sih dari tadi?" Clarissa mulai kehilangan kesabarannya.


Bella hanya nyengir kuda. Lalu dengan cepat melengos keluar kamar Clarissa sebelum mendapatkan omelan dari Clarissa yang sudah menatapnya tajam.


Clarissa sudah siap dengan helm di tangannya menunggu Riana yang akan datang menjemputnya. Hari ini mereka ada janji bertemu beberapa teman SMA yang juga sedang pulang liburan kuliah dan beberapa temannya yang memilih melanjutkan bekerja di kota yang sama.


Begitu Riana sampai, Clarissa langsung berpamitan dengan orang tuanya yang sedang duduk-duduk santai di ruang tamu. Riana pun menyempatkan menyapa kedua orang tua Clarissa sebelum mereka berangkat.


Tempat janjian mereka adalah di salah satu cafe milik kakak kelas mereka saat masih SMA dulu. Karena lebih mudah untuk booking tempat yang lumayan banyak dan waktu yang dadakan.


Saat sampai di tempat janjian seperti biasa baru ada tiga orang teman mereka yang juga merupakan orang-orang yang punya ide dalam 'acara reunian kelas dadakan' kata mereka.


"Naah, datang nih dua sejoli." sambut Gina dengan nada bercanda. Clarissa dan Riana hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala saat mendapat tepukan tangan dari teman-temannya.


"Apaan sih, Gin?" Riana mencubit pelan pinggang Gina saat sampai di samping Gina.


"Aduh, sakit Na!" pekik Gina yang di sambut tawa yang lain.


"Kalian berdua kan emang kayak orang pacaran. Selalu bersama." sahut Dila yang menyuruh Clarissa duduk di sampingnya.


"Biasa. Jam karet." jawab Gina sambil menunjukkan jam tangannya.


"Tapi, kalian ini benar-benar ya. Nggak terpisahkan." ucap Rahma tiba-tiba. Membuat Clarissa dan Riana sama-sama memandang Rahma bingung.


"Iya, waktu SMA harusnya kalian pisah kelas tapi gara-gara banyak yang minta pindah jurusan jadi kelasnya dirombak. Akhirnya kalian sekelas. Kuliah juga gitu. Padahal nggak ada janjian tahunya satu fakultas cuma beda jurusan." Rahma mencoba mengingat-ingat kembali yang ia ketahui.


"Aku juga nggak nyangka. Mungkin ini yang namanya jodoh." jawab Clarissa yang membuat teman-temannya heboh "Karena bagiku jodoh itu bukan hanya soal siapa yang jadi pasangan kita kelak tapi juga sahabat." lanjut Clarissa yang di respon terharu oleh teman-temannya.


"Jadi jodohnya cuma Riana nih?" goda Gina sambil menyenggol lengan Riana yang duduk di sampingnya.


"Ya, kalian jugalah." jawab Clarissa tegas membuat teman-temannya memasang wajah terharu bahkan Dila sampai mengaitkan lengannya di lengan Clarissa.


Mereka pun akhirnya larut dalam pembicaraan tentang mengenang masa-masa sekolah. Padahal belum setahun mereka lulus dari SMA tapi ternyata sudah sangat menarik mengenang cerita-cerita saat mereka masih sekolah dulu. Teman-teman yang lain pun satu per satu berdatangan begitu juga dengan makanan yang mereka pesan sudah hampir memenuhi meja.


"Eh, maaf telat teman-teman." ucap seorang pria yang baru saja datang. Ia langsung duduk dan menyeruput es melon di hadapannya.


Dila yang melihat langsung memukul tangan pria tersebut yang duduk tepat di sampingnya. Pria itu menatap Dila tanpa rasa bersalah dan masih terus meminum es melon di hadapannya.


"Itu punyaku, Dikta." Dila memukul lengan Dikta lagi, sementara Dikta hanya nyengir dan memegang lengannya yang terkena pukulan Dila yang cukup kuat. Semua yang melihat hanya bisa tertawa. Melihat tingkah Dila dan Dikta yang tak pernah berubah sejak SMA.


"Sudah, minum punyaku saja nanti." Dikta tersenyum manis berharap bisa menenangkan amarah Dila.


"Nggak mau. Kamu pesan kopi." ucap Dila sinis.


"Sudah, sudah, kamu minum punyaku saja, Dil. Biar aku yang minum kopinya." Riana menyerahkan es melon miliknya yang belum sempat ia minum kepada Dila yang terlihat memandang sinis Dikta.


Clarissa mendorong es milo miliknya ke hadapan Riana. Yang membuat Riana menatapnya bingung begitu juga teman-temannya yang lain.


"Yakin mau minum kopi. Biasa juga kamu minum milo." ucap Clarissa yang di sambut senyuman cerah Riana, kenal dengan Riana dari SMP membuat Clarissa sudah banyak tahu tentang Riana.


"Dikta, bayarin es milo yang mau ku pesan." Clarissa menatap Dikta yang sudah mengacungkan jempolnya setuju "Nanti kopinya kamu minum saja. Kan kamu juga yang bayar." sekarang semuanya tertawa mendengar ucapan Clarissa yang acuh.


"Siap. Nanti es melonnya Dila dan Riana sama es milo yang kamu kasih ke Riana aku yang bayarin." ucap Dikta percaya diri membuat teman-temannya yang lain heboh meminta di bayarkan juga. Terutama teman-teman cowok yang sudah menggoda Dikta karena hanya membayarkan teman-teman yang cewek saja. Meskipun Dikta sudah beralasan itu untuk ganti rugi tapi tetap saja semuanya heboh menggodanya hingga Dikta akhirnya menyerah dan memilih membayarkan semua minuman yang di pesan teman-temannya hari ini.


Suara riuh dan tepuk tangan membuat suasana cafe menjadi ikutan meriah. Bahkan beberapa pengunjung yang datang sampai menoleh ke arah meja mereka entah karena penasaran atau terganggu. Tapi tidak ada yang peduli.


Pertemuan mereka penuh dengan canda tawa dan keseruan. Beberapa bulan tidak bertemu membuat mereka banyak bernostalgia. Clarissa tersenyum. melihat semua teman-temannya yang sibuk bercengkrama satu sama lain. Ia membayangkan pasti akan lebih seru lagi saat mereka semua sudah bekerja atau menikah nanti lalu melakukan reunian seperti ini lagi. Pasti lebih banyak hal yang mereka ceritakan saat itu.


Dila menyenggol lengan Clarissa yang terlihat melamun, membuat Clarissa tersadar dan ikut nimbrung mendengar cerita-cerita teman-temannya saat pertama kali masuk kuliah.


'Ah, aku sangat merindukan hal ini' ucap Clarissa dalam hati saat melihat tawa teman-temannya.