
Sebuah bus baru saja datang memasuki terminal dan memasuki area kedatangan. Suasana menjelang siang di terminal tampak cukup ramai. Clarissa sengaja menunggu penumpang yang lainnya turun lebih dulu. Setelah tidak berdesak-desakan ia berdiri dari kursinya mengambil tas ranselnya yang cukup besar dari atas tempat duduknya lalu berjalan turun dari bus.
Begitu turun dari bus mata Clarissa menyapu seluruh area terminal. Seulas senyum muncul di wajahnya. Selama pergi untuk kuliah di kota tetangga, ia tak pernah pulang ke kota kelahirannya ini. Hingga sebuah tepukan di bahunya membuatnya terperanjat kaget dan membalik badannya.
"Loh, Bella kok disini? Ini masih jam sekolahmu kan? " Clarissa mengernyit, melihat yang datang menjemputnya adalah adiknya.
Terlihat Bella cengengesan membuat Clarissa makin curiga.
"Izin tadi, mbak. Nanti habis dzuhur aku balik ke sekolah lagi kok" Bella menggandeng tangan Clarissa lalu menariknya agar mengikutinya ke parkiran motor.
"Ya ampun, kok bisa sih di kasih izin. Bolos ya kamu?" tuduh Clarissa dengan memicingkan matanya tak percaya apa yang di katakan Bella.
"Iiihhh.. apaan sih mbak?! Nggaklah, aku nggak bolos. Mau di bunuh sama bapak aku sampai berani bolos. Aku beneran izin soalnya bapak nggak bisa jemput mbak." Bella ngambek tak terima dengan tuduhan Clarissa.
Clarissa hanya manggut-manggut tapi masih memandang Bella penuh kecurigaan. Tapi, lebih baiklah Bella menjemputnya daripada ia harus naik angkot begitu pikir Clarissa. Bukan karena Clarissa tak ingin naik angkot, tapi dari dulu ia memang takut kalau harus naik angkot sendirian.
"Mau aku yang bawa motor atau mbak Rissa nih?" Bella menyerahkan helm kepada Clarissa
"Mbak ajalah yang bawa." Clarissa meminta kunci motor dan menyerahkan tas ranselnya pada Bella.
"Yes!! aku tadi sudah takut mbak suruh aku yang bawa motornya hahaha" Bella duduk di boncengan motor dengan sangat riang.
"Mbak juga takut kamu bonceng, Bel" ejek Clarissa membuat Bella mencubit pinggang Clarissa hingga Clarissa mengaduh dan menengok ke arah Bella yang sudah cemberut. Clarissa hanya tersenyum lalu mulai mengendarai motornya menembus jalanan kota yang cukup ramai.
Makanan sudah terhidang di meja makan. Semua makanan yang di kangenin oleh Clarissa selama menjadi anak rantau. Matanya bahkan tampak berbinar-binar dan mulutnya sudah terbuka dari tadi tidak sabar untuk makan.
"Eh, mbak!! nanti jatuh itu air liur di makanan" Bella menyadarkan Clarissa dengan cepat Clarissa menutup mulutnya rapat.
Mamanya sudah menaruh nasi panas yang baru saja matang di atas meja makan. Ia senang melihat anak gadisnya yang sudah hampir enam bulan merantau dan hanya bisa didengar suaranya saja sedang terlihat sangat antusias memandangi makanan yang tersaji di atas meja makan.
"Ayo makan! Bella ambilkan piring itu kasih ke mbak mu" dengan bibir manyun Bella menuruti perintah mamanya dan mengambil piring yang di tumpuk di dekatnya lalu memberikan pada Clarissa yang tersenyum mengejek.
"Iissh, mbak ini baru juga enam bulan sudah manja" gerutu Bella saat menyerahkan piring pada Clarissa
"Bilang aja kamu iri, dek" Clarissa tersenyum menang lalu menyendok nasi ke piringnya dan mengambil beberapa lauk dan sayur.
Bella tampak terkejut melihat Clarissa yang tidak pernah suka makan sayur sekarang menambahkan sayur ke piringnya. Ternyata Clarissa meletakkan piringnya di depan mamanya.
"Mama yang harusnya makan dulu." Clarissa tersenyum lembut yang membuat mamanya sangat terharu dengan perlakuan anak gadisnya ini.
"Makasih ya, nak. Sudah kalian juga makan." Clarissa dan Bella sama-sama mengangguk lalu mereka mulai makan siang bersama.
Clarissa baru saja selesai mencuci piring-piring kotor setelah perdebatan kecilnya dengan mamanya yang melarangnya mencuci piring karena mamanya ingin ia istirahat saja tapi berkat sifat keras kepalanya akhirnya mamanya menyerah dan membiarkan Clarissa mencuci piring-piring kotor tersebut.
"Bella sudah kembali ke sekolah, ma?" tanya Clarissa setelah selesai sholat dzuhur dan ikut duduk bersama mamanya di depan televisi.
"Sudah pas kamu sholat tadi." Mama Clarissa mulai sibuk dengan benang sulamnya
"Emang Bella beneran izin, ma?" Clarissa masih penasaran bagaimana Bella bisa menjemputnya di jam sekolah.
"Iya, dia minta dispen tadi. Karena bapakmu juga menelepon ke sekolah makanya dapat izin." Clarissa hanya membulatkan mulutnya setelah mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya.
_Pagi hari_
Mama Clarissa sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Bella membantu menyiapkan bekal untuk bapaknya bawa ke kantor. Bella menatap pintu kamar Clarissa yang tampaknya masih tidur setelah sholat subuh. Ia tampak tidak terima dan berniat membangunkan Clarissa.
Begitu sampai di depan pintu kamar Clarissa dengan senyum jahil Bella bersiap masuk dan mengagetkan Clarissa. Baru saja ia memegang gagang pintu tiba-tiba Clarissa membuka duluan dan membuat Bella yang terkejut. Sedangkan Clarissa hanya tertawa geli.
"Pasti mau jahil ya kamu??" Clarissa keluar dari kamarnya dengan mengalungkan handuknya di leher melewati Bella dengan penuh kemenangan.
Bella hanya cemberut dan beranjak ke meja makan dimana sarapan sudah tersaji. Clarissa menaruh handuknya di sandaran kursi dan segera duduk bersama orang tuanya yang sudah lebih dulu duduk.
"Sudah kalian berdua ini. Giliran jauh aja saling kangen" goda bapak mereka yang membuat Clarissa dan Bella sama-sama membantah.
"Sudah, makan dulu. Biar nggak terlambat ke sekolahnya, Bel. " mamanya sudah menyerahkan piring berisi nasi goreng dan telur mata sapi pada Bella dan Clarissa.
Bella berangkat ke sekolah bersama bapaknya yang juga akan turun kerja. Setelah mengantarkan bapaknya dan Bella, Clarissa menuju kamar mandi untuk segera mandi karena ia ada janji bertemu beberapa teman sekolahnya dulu.
"Hari ini Rissa mau ketemu sama teman-teman sekolah ya, ma." Clarissa sudah berdiri di samping mamanya yang sedang melanjutkan kegiatan menyulamnya.
"Oh, iya hati-hati ya nak" mama Clarissa menyambut tangan anaknya yang ingin salim.
"Wa'alaikumussalam" mamanya ikut mengantarkannya menuju motor yang akan Clarissa pakai dan menunggu sampai anak gadisnya itu hilang dari mulut gang.
Karena waktu Clarissa pulang kampung hanya sekitar tiga hari. Ia sudah menyusun banyak rencana untuk bertemu teman-temannya dan bersantai. Ia bahkan ingin melupakan sejenak ujian akhir semester yang akan ia hadapi setelah kembali ke kota rantauannya serta masalah pindah kosan dan tentunya masalahnya dengan Indra.
Sebenarnya sejak semalam, Bella sudah ribut menanyakan tentang Indra. Tapi, Clarissa masih tak ingin cerita apa-apa. Ia berniat memberitahu keluarganya saat pulang liburan semester nanti saja. Saat ini ia hanya ingin menenangkan diri.
Bertemu bersama teman-teman sekolah dan bersantai di rumah ternyata berlalu dengan cepat. Dan besok hari terakhir sebelum ia balik ke kota tempat ia menuntut ilmu dan menghadapi ujian akhir semester. Membuat Clarissa sedih padahal sekitar dua atau tiga minggu lagi ia akan liburan semester.
Seperti malam-malam sebelumnya mereka akan berkumpul di ruang keluarga dan menonton televisi bersama. Saat nada panggilan masuk di Hp Clarissa membuatnya mengalihkan pandangannya ke Hpnya yang di letakkan di sampingnya.
Clarissa tampak bingung melihat nama yang tertera di layar Hpnya.
"Siapa, Ris?" tanya bapaknya yang menangkap wajah bingung anaknya
"Bapak kos Rissa, pak. Tumben nelpon Rissa" Clarissa berdiri dan mengangkat panggilan telpon dari bapak kosnya.
"Hallo. Assalamu'alaikum, pak. Ada apa ya pak? " tanya Clarissa tanpa basa-basi karena ia masih tidak bisa menebak alasan bapak kosnya menelepon.
"Wa'alaikumussalam, nak Rissa. Begini kamu kapan pindahnya? Ini tinggal kamu saja yang belum angkat barang" Clarissa makin tidak mengerti dengan maksud yang di sampaikan bapak kosnya.
"Maaf pak. Maksudnya gimana ya? Kan saya dan Izria baru pindah hari sabtu" Clarissa tampak pucat ia masih mencoba memahami situasi saat ini tapi juga firasatnya mengatakan ini bukan hal yang baik.
"loh! nak Izrianya sudah angkat barangnya sore tadi." ucap bapak kos ringan
Deg! Clarissa merasakan lututnya mulai lemas. Ia tidak paham yang sedang terjadi. Yang ia ingat Izria bilang akan mulai pindahan hari sabtu bahkan ia mengajak Clarissa balik ke kota rantauan bersama-sama.
"Begini pak. Saya masih di luar kota. Besok saya balik." Clarissa berusaha menahan air matanya, entah kenapa ia merasa dikhianati.
"Oh, baiklah. Saya tunggu sampai besok sore ya. Karena saya sudah mau memulai renovasi" bapak kos mematikan panggilan teleponnya saat itu juga Clarissa merasa kakinya kehilangan tenaga untuk menopang tubuhnya, ia pun terjatuh di lantai membuat keluarganya terkejut.
Bella langsung berlari menghampiri Clarissa yang terlihat menerawang. Melihat hal itu Bella langsung mengguncang bahu Clarissa agar mbaknya itu sadar. Bahkan orang tua mereka juga tampak khawatir dengan keadaan Clarissa saat ini.
"Rissa, kamu kenapa nak?" mama Clarissa langsung meraih tangan anak gadisnya itu dan menepuk pelan punggung tangannya, khawatir.
"Pak, ma, gimana ini? Clarissa harus balik sekarang" Clarissa bangun dari duduknya dan berjalan gontai ke arah kamarnya, melihat keadaan Clarissa yang nampak shock membuat Bella mengejar Clarissa yang sudah masuk ke kamarnya dan mencoba menyadarkan Clarissa lagi.
"Mbak, mbak kenapa sih? kok jadi gini? " Bella menahan Clarissa di bahunya agar Clarissa tetap diam di hadapannya.
Orang tua Clarissa juga ikut masuk ke kamar anaknya itu mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
"Gimana ini, Bel. Mbak harus pindah soalnya.. "
"Hah??!! mau pindah? kenapa pindah mbak?" Bella memotong kalimat Clarissa, karena ia benar-benar tidak paham apa yang sedang di katakan Clarissa "Mbak jangan ngelantur dong?" lanjut Bella sedikit emosi.
Clarissa menatap Bella dan orang tuanya ada rasa bersalah di hatinya. Sejujurnya Clarissa belum memberi tahu keluarganya kalau ia di minta pindah dari kosannya saat ini.
Clarissa akhirnya menjelaskan situasinya pada keluarganya yang membuat mamanya tampak lebih terkejut dari pada yang lain. Dari awal mamanya sudah cukup berat membiarkan anaknya tinggal di kosan itu bersama dengan Izria. Tapi, karena Clarissa tetep teguh pada pendiriannya maka mamanya mengalah.
Sekarang ia merasa menyesal tidak memaksa anak gadisnya ini saat itu untuk mencari tempat lain dan tinggal sendiri saja.
"Ya sudah kamu siap-siap saja sekarang. Beritahu bapak kos mu kamu akan pulang malam ini. Biar kamu bisa masuk ke kosan dan siap-siap untuk pindah. Bapak hubungin pamanmu dulu, mudah-mudahan ia tidak sedang bawa penumpang jadi bisa mengantar kita ke sana" bapak Clarissa langsung menelpon saudara sepupunya yang bekerja sebagai supir travel.
Clarissa dibantu Bella dan mamanya untuk packing barang-barang yang di bawanya ke dalam tas ranselnya.
Tak lama bapaknya masuk ke kamar Clarissa dan mengatakan pamannya akan datang sebentar lagi untuk mengantar mereka.
"Bapak, gimana dengan kerjaan bapak? Rissa bisa sendiri kok" Clarissa merasa tidak enak, karenanya bapaknya harus mendadak mengantarnya ke luar kota.
"Bapak sudah minta cuti tadi. Agak mendadak memang tapi di izinkan. Sudah kamu nggak usah pikirin bapak. Yang penting urusanmu dulu." mata Clarissa berkaca-kaca mendengar kata-kata bapaknya, ia merasa terharu dan juga bersalah.
"Hati-hati ya nak, pak" mama Clarissa dan Bella mengantarkan Clarissa dan bapaknya keluar menuju mobil pamannya yang baru saja sampai.
"Teman kamu yang rumahnya mau kamu tumpangi sudah di hubungi" tanya bapaknya lagi saat akan masuk ke dalam mobil.
"Iya, sudah pak. Nanti saat kita sudah di sana Rena minta dihubungi lagi." jawab Clarissa lemah
"Ma, Bel, kami berangkat dulu ya? sudah sana kalian istirahat. Jangan lupa kunci pintu." bapak Clarissa berpamitan di ikuti Clarissa yang melambaikan tangannya pada mama dan juga Bella.
Setelah siap, pamannya pun memacu mobilnya menuju jalan besar yang sudah tampak sepi karena jam sudah menunjukan pukul 9 lewat. Butuh waktu kurang lebih tiga jam perjalanan untuk sampai. Bapak Clarissa menyuruh anak gadisnya itu untuk tidur dan tidak perlu merasa khawatir. Clarissa hanya menurut dan mencoba memejamkan matanya meskipun pikirannya tetap saja kalut membuatnya tak bisa tidur sama sekali.