
Belum sempat alarm dari Hp Clarissa berbunyi dengan cepat Clarissa mematikannya. Seperti biasa alarm berbunyi pukul 04.45 subuh. Clarissa mengerjap menatap dinding kamarnya yang berwarna abu lilac polos. Semalaman ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Banyak hal tidak penting yang mengusik pikirannya.
Hingga suara ketukan di pintu kamarnya membuatnya tersadar. Pintu sudah terbuka sedikit, Bella menjulurkan kepalanya.
"Mbak, ayo sholat subuh." ucap Bella lembut, Clarissa sudah merubah posisinya, duduk. Ia mengangguk lalu Bella menutup kembali pintu kamar Clarissa.
Setelah selesai sholat subuh, Clarissa kembali ke kamarnya begitu juga Bella. Sementara mamanya masih membaca al-qur'an. Clarissa merapikan tempat tidurnya dan mengambil handuk bersiap untuk mandi.
Keluar dari kamarnya bersamaan dengan Bella yang juga keluar dari kamar dengan handuk yang dikalungkan dilehernya.
"Mandi duluan saja, Bel." ucap Clarissa
"Oke, mbak!" Bella berlari kecil menuju kamar mandi sedangkan Clarissa memilih duduk di meja makan.
Ia meletakkan handuk yang dia lipat asal di depannya lalu meletakkan kepalanya diatasnya. Ia memejamkan matanya sembari menunggu Bella yang sedang mandi. Bella biasanya mandi cukup lama jadi Clarissa akan memanfaatkan untuk mengistirahatkan matanya sebentar. Entah kenapa sehabis sholat subuh adalah waktu yang paling ampuh untuk tidur. Apalagi detik-detik menuju sholat subuh.
Clarissa terbangun karena sentuhan dingin di tengkuknya. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Bella baru selesai mandi. Ia menahan tawanya melihat Clarissa yang terkejut.
"Mandi sana, mbak. Biar seger." perintah Bella yang langsung berlari ke kamarnya takut diomelin Clarissa yang sudah menunjukkan wajah kesalnya.
Selesai mandi Clarissa merasa semua kantuk yang ia rasakan terbang entah kemana. Dinginnya air membuat matanya menjadi segar. Keluar dari kamar mandi ia melihat mamanya yang sedang menggoreng telur dadar untuk sarapan.
"Mama, makanan jadi dipesan?" tanya Clarissa mendekati mamanya yang sedang membalikkan telur dadar.
"Iya, mama jadinya pesan sama bu Ulam. Mama nggak sanggup masak banyak." Clarissa menganggukkan kepalanya, mengerti. Ia pamit ke kamarnya untuk siap-siap. Arisan keluarga seperti biasa dimulai jam 10 pagi tapi tetap saja namanya acara keluarga yang datangnya bisa lebih cepat dan pulangnya bisa sore atau malam.
Clarissa membantu mamanya menyiapkan es melon dan sop buah di atas meja makan. Sedangkan Bella sedang sibuk menelepon Rico untuk minta diambilkan pesanan kue sebelum kerumahnya. Seharusnya kue di pesan di tempat yang sama dengan bu Ulam tapi Bella ingin memesan di langganan ibunya Rico. Karena kebetulan Rico hari ini datang. Sebenarnya Rico sudah beberapa kali ikut kumpul keluarga Clarissa dan Bella. Tapi, entah kenapa kali ini seperti keharusan karena Bella dan Rico sudah bertunangan.
Kalau kata Rika kemarin ospek sebelum jadi anggota keluarga. Padahal alasan saja pasti mau di interograsi. Karena sebelumnya mereka sengaja tidak terlalu membahas latar belakang Rico karena katanya masih pacaran kemungkinan gagalnya besar. Padahal menurut Clarissa sudah bertunangan juga tidak menjamin. Bahkan yang menikah pun punya potensi gagal.
Bella sudah selesai menelepon Rico, ia melangkah mendekati Clarissa untuk membantu. Sekitar pukul 8 lebih 20 menit bu Ulam sudah datang mengantar makanan pesanan mamanya. Setelah meletakkan semuanya di dapur dan berbincang-bincang sebentar dengan mamanya, bu Ulam pamit pulang.
Clarissa dengan cekatan menata makanan di atas meja makan dibantu Bella. Saat tidak lama terdengar suara tante Ita dari luar yang menyapa bapaknya yang sedang sibuk dengan mobil. Kemudian terdengar suara riuh anak kecil berlari sampai di ruang tengah.
Clarissa melambai pada Andri anak bungsu tante Ita yang baru berumur 4 tahun. Bima dan Lusi menyusul di belakang Andri. Bima anak sulung tante Ita kini sudah berusia 14 tahun sedangkan Lusi satu-satunya anak perempuan tante Ita berusia 11 tahun. Bima langsung duduk bersandar di tembok tanpa menyapa Clarissa maupun Bella dan mengeluarkan Hpnya dari saku celananya.
Bella menyenggol lengan Clarissa membuat Clarissa menatap Bella.
"Pasti game lagi!" ucap Bella setengah berbisik. Clarissa hanya menyuruh Bella diam.
Sementara Lusi langsung mendekati Clarissa dan Bella lalu menyapa kedua kakak sepupunya tersebut.
"Ada yang mau dibantu, mbak?" tanya Lusi, Bella langsung memberi perintah pada Lusi untuk ikut dengannya ke dapur. Terdengar mamanya yang langsung menyambut Lusi.
Untungnya Lusi anak yang manis dan baik. Ia cenderung pendiam tapi selalu tahu apa yang harus ia lakukan jika acara kumpul keluarga.
Tante Ita masuk keruang tengah dan menuju meja makan dimana Clarissa masih menata makanan. Clarissa langsung menyapa tantenya tersebut yang disambut dengan pelukan hangat dari tantenya.
"Eh, Ita kok cepat banget kamu datang?" sapa mamanya saat keluar dari dapur.
"Biar bisa bantu-bantu, mbak Diyah." ucap tante Ita. Mamanya dan tante Ita adalah saudara sepupu karena neneknya alias ibu dari mama Clarissa bersaudara kandung dengan ibu dari tante Ita. Ditambah lagi mama Clarissa adalah anak tunggal. Tapi, karena saat masih kecil tante Ita dirawat oleh neneknya Clarissa hal itu menyebabkan mamanya dan tante Ita seperti saudara kandung.
"Nggak perlu, Ta. Ini loh sudah beres. Mana Wisnu?" tanya mamanya sambil mengajak tante Ita duduk di ruang tengah.
"Itu di depan sama mas Ahmad. Biasa ngobrolin mobil. Nggak paham aku." mereka berdua lalu tertawa dan melanjutkan pembicaraan ala ibu-ibu yang Clarissa tidak paham sebagai anak gadis.
Rico pun baru saja sampai yang langsung di sambut Bella. Mereka sama-sama ke depan rumah menuju mobil Rico untuk membawa pesanan kue dari mobil Rico. Clarissa langsung membantu membongkar box kue dan meletakkannya di atas meja makan, ia sengaja tadi menyediakan ruangan diujung meja untuk kue-kue yang di pesan Bella.
"Aduh, senengnya aku lihat anak-anak gadisnya mbak Diyah ini." ucap tante Ita yang melihat Clarissa dan Bella tengah menyusun kue di meja makan.
"Alhamdulillah, Ta. Punya dua anak gadis yang rajin-rajin." jawab mamanya sambil tersenyum.
"Sebentar lagi satu hilang. Dibawa suaminya." canda tante Maya adik kandung tante Ita, semua langsung tertawa menyetujui perkataan tante Maya.
"Rico..." panggil tante Ita, Rico yang tengah memegang box kue yang sudah kosong langsung menjawab sopan panggilan tante Ita.
"Bellanya dijagain yaa. Dia itu perlu benar-benar dijaga, kamu tahukan kalau Bella punya penyakit jantung bawaan. Nggak kayak mbaknya yang tangguh." ucap tante Ita sementara Rico hanya tersenyum malu yang malah di goda oleh tante-tante Clarissa yang lain.
Mendengar perkataan tante Ita membuat Clarissa hanya menghela napas pelan. Sementara Bella yang berdiri di samping Clarissa mulai menunjukkan wajah jengah. Ia paling tidak suka saat kondisi fisiknya dibawa-bawa. Menurut Bella. ia merasa seperti orang lemah. Ia juga lebih benci lagi saat orang-orang menganggap Clarissa seperti tidak punya beban hidup. Karena mereka tidak pernah tahu bagaimana kerasnya Clarissa berjuang untuk dirinya.
Setelah semua keluarga datang akhirnya waktu untuk memulai acara utama yaitu mencari tahu siapa yang mendapatkan arisan. Seperti biasa tante Ita yang memimpin, ia mengguncang gelas plastik yang ditutup kertas dengan bolongan di tengahnya. Dimana didalamnya sudah berisi beberapa gulungan kertas kecil.
"Mbak Murni!!!" ucap tante Ita saat membuka gulungan kertas kecil yang keluar dari bolongan kertas.
"Alhamdulillah." ucap tante Murni dengan senyum sumringah.
"Nanti uangnya ditransfer ke mbak Murni ya semua. Jangan lupa loh!" ucap tante Ita mengingatkan. Arisan keluarga Clarissa memang seperti ini, mereka memilih mentransfer uangnya daripada dikumpulkan dan diberikan secara cash alasannya biar tidak khilaf dibelanjakan. Padahal sama saja apalagi di jaman sekarang ini. Apa-apa sudah dijual online.
Mamanya Clarissa langsung mempersilahkan menyantap hidangan utama. Clarissa membantu mengambilkan kue dan buah untuk bapaknya, om-omnya dan saudara sepupu laki-lakinya yang memilih berkumpul di ruang tamu.
"Terima kasih ya, Rissa." ucap om Hamzah saat Clarissa meletakkan piring kue dan buah di meja.
"Iya, om. Sudah bisa makan, pak, om, kalau sudah pada lapar." ucap Clarissa "Mas Faris, makan mas." Clarissa menepuk pundak Faris, kakak sepupunya, yang tengah asyik bermain game bersama Bima.
"Iya, Sa. Nanti saja." ucap Faris fokus dengan gamenya. Clarissa hanya menggeleng melihat tingkah Faris yang sudah memiliki istri tapi masih saja senang main game. Walaupun Clarissa tidak menyalahkan juga.
Clarissa kembali keruang tengah lalu ikut duduk di samping April, adik sepupu Clarissa yang sedang hamil besar. April adalah adik kandung dari Rika. Sifatnya tidak jauh dari Rika sebenarnya tapi masih lebih baik, sedikit. Karena pada dasarnya April ini polos. Ia terbiasa melihat Rika bersikap jadi dia mencontoh.
"Gimana nih mbak Rissa? mau di duluin sama Bella." tanya April polos.
"Hmm, biasa saja sebenarnya. Cuma kayaknya orang-orang yang lebih repot dan sewot." jawab Clarissa sama polosnya, sedikit sarkas sebenarnya .
"Hahaha.. emang gitu orang-orang mbak." Clarissa melihat April yang benar-benar tertawa mendengar jawaban Clarissa.
'Kamu emang dasarnya polos ya, pril.' batin Clarissa.
Bella dan Rico terlihat sedang diajak berbicara dengan tante-tantenya. Tampak wajah canggung dari Rico dan wajah tak enak dari Bella. Saat itu Nandar, adik sepupu Clarissa yang juga saudara Faris baru saja datang dan masuk keruang tengah.
Clarissa menarik tangan Nandar yang tampak terkejut. Lalu Clarissa membisikkan sesuatu pada Nandar yang disambut anggukan oleh Nandar. Selanjutnya Nandar sudah berhasil mengajak Rico ke ruang tamu. Bella juga langsung pamit dan melangkah mendekati Clarissa.
"Mbak ya yang minta Nandar bilang kalau Rico di panggil bapak." Clarissa mengangguk menahan senyum. Bella langsung menggandeng lengan Clarissa merasa sangat bersyukur karena Clarissa sudah membantu dia dan Rico keluar dari keadaan canggung.
"Rissa, ya ampun. Kamu ditinggal nikah?" ucap Rika cukup kencang membuat Clarissa dan Bella mengalihkan pandangannya kearah Rika yang sedang duduk bersama tante Laila. Rika terlihat menunjukkan layar Hpnya. Ada sebuah postingan dari salah seorang fotografer wedding yang cukup terkenal di kotanya.
Clarissa melihat Rika yang tampak menahan senyum diwajahnya. Ia tahu ini balasan Rika karena perkataannya kemarin. Itu postingan sekitar sebulan yang lalu. Clarissa sempat melihatnya. Padahal ia sudah dengan sengaja menyembunyikan postingan pria tersebut. Tapi, ia lupa ia mengikuti beberapa akun fotografer dan MUA di kotanya. Bella melirik Clarissa yang tidak menjawab. Mamanya pun juga sampai berhenti menyendok sop buah ke gelas yang diberikan keponakan, Eka.
"Ya ampun ini nikahnya sudah enam bulan yang lalu loh!" lanjut Rika sambil menutup mulutnya dengan tangan kirinya, seolah terkejut. Rika tahu tentang pria tersebut juga karena Clarissa saat itu tidak sengaja bertemu Rika disebuah cafe saat ia makan bersama pria tersebut. Sebenarnya ada dua temannya lagi tapi sudah pulang duluan saat Rika bertemu dengannya. Mau tidak mau Clarissa menceritakan kedekatannya dengan pria tersebut.
Clarissa sudah mengutuk dirinya sendiri dan juga kebodohannya menceritakan kedekatannya dengan pria tersebut kepada Rika. Ternyata saat ini itu justru dijadikan senjata oleh Rika untuk balas dendam padanya.