YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Cerita Tentang Mukti (4)



Sabtu adalah hari yang paling di tunggu Clarissa. Ia bisa istirahat sejenak dari tugas-tugas kampusnya yang tidak manusiawi. Beginilah nasib mahasiswa semester pertama di jurusan MIPA entah itu pendidikan ataupun murni. Meskipun ia tahu semakin tinggi semesternya pun, tugas-tugas kuliah akan tetap banyak setidaknya ia tidak perlu memaksa tangannya kerja rodi menulis berpuluh-puluh lembar laporan. Sejujurnya ia dan teman-temannya sering mengeluh di zaman yang sudah serba teknologi tapi laporannya masih harus di tulis tangan.


Bahkan karena banyaknya laporan yang harus ia tulis sampai-sampai otak dan tangannya tak lagi sinkron. Otaknya sudah ingin berhenti tapi tangannya malah masih bergerak sendiri menulis. Disaat seperti itu Clarissa ingin lari merasakan fenomena aneh tersebut.


Clarissa meregangkan tubuhnya di teras kosan bersiap untuk pergi ke gor kampusnya ingin lari pagi. Izria yang tadinya ingin ikut tapi mendadak membatalkannya karena keram perut yang dialaminya.


"Apa aku lari aja yaa dari kosan ke gor? " Clarissa bertanya pada dirinya sendiri mendadak malas mengendarai motornya.


Clarissa meraih tas pinggang yang di letakkan di kursi dan mengenakan dengan cepat. Ia tak ingin kesiangan saat sampai di gor.


Suara mesin motor berhenti di depan kosan Clarissa. Clarissa yang sedang menunduk memasang tas pinggangnya mendongakkan kepalanya melihat siapa yang bertamu pagi-pagi.


Clarissa mengerjapkan matanya beberapa kali tak percaya dengan pandangannya. Mukti sudah lengkap dengan pakaian olahraga sedang melambaikan tangannya ke arah Clarissa. Tentu saja tak lupa senyum cerianya menghiasi wajahnya.


"Sudah siap? Ayo! " Mukti memutar arah motornya menuju keluar gang. Clarissa terpaku masih di tempatnya mencoba mencerna apa yang terjadi. Banyak pertanyaan muncul di kepalanya. Ia melihat ke arah kamarnya. Kini ia tahu siapa yang merencanakan ini. Izria berdiri di depan pintu kamar mereka tersenyum lebar. Clarissa menghela napas kasar. Melihat wajah Clarissa yang kesal, Izria menangkup kedua tangannya di depan wajahnya meminta maaf.


"Rissa, ayo! keburu siang" Mukti memanggil membuat Clarissa dengan berat hati menyeret kakinya dan naik di boncengan motor Mukti.


Clarissa berusaha mengatur napasnya. Kesal menguasainya. Sementara Mukti sedang tersenyum penuh kemenangan.


Begitu Mukti memarkir motornya dengan cepat Clarissa turun dan langsung melengos pergi begitu saja. Ia tahu ia sudah tak sopan tapi ia benar-benar ingin menghindari Mukti sebisa mungkin.


Clarissa sudah berlari dengan tempo teratur. Dengan earphone di telinganya, Clarissa sangat menikmati lari paginya. Ia bahkan sudah tak peduli dengan pria yang berlari dibelakangnya mengikuti setiap langkahnya. Mengatur tempo larinya agar tak lebih cepat dari Clarissa.


Mukti menatap punggung Clarissa. Wanita itu sepertinya benar-benar mengabaikan keberadaan. Tapi, ia tak merasa masalah dengan hal itu. Selama Clarissa ada dalam pandangannya untuk saat ini itu sudah cukup.


Hampir tiga puluh menit mereka mengelilingi gor dan entah sudah berapa putaran yang mereka lakukan. Clarissa menghentikan larinya perlahan kini ia sudah berjalan santai menuju bangku yang di sediakan di sekitar gor. Menjatuhkan dirinya di bangku masih berusaha mengatur napasnya. Ia mengedarkan pandangannya tak menemukan sosok Mukti yang dari tadi hanya berlari di belakangnya.


"Kemana dia? " Clarissa bergumam masih mencari tapi tetap tak menemukannya dimana pun. Ia mengangkat bahunya dan meletakkan kepalanya di sandaran bangku. Matanya terpejam menikmati matahari pagi.


Sentuhan dingin di pipinya membuatnya terkejut dan membuka matanya. Mukti sudah berdiri di sampingnya dengan dua botol air mineral di tangannya.


"Kok air dingin sih. Habis olahraga loh ini." Clarissa protes tapi tangannya tetap menerima botol air mineral yang di berikan Mukti. Mukti mengambil kembali air mineral yang di pegang Clarissa membuat Clarissa melongo tak percaya.


"Ini buatmu." Mukti menukarnya dengan yang tidak dingin dan meletakkannya ditangan Clarissa. Ia membuka air mineral dingin tadi dan meneguknya sampai sisa setengah.


"Ria yang nyuruh kamu ikut olahraga bareng aku ya? " Clarissa meneguk air mineral setelah Mukti membukakan tutup botolnya.


"Aku yang minta" Mukti berkata tanpa memandang Clarissa. Matanya melihat orang-orang yang masih berlari mengelilingi gor.


"Ris, kamu bisa masakkan? " Mukti sekarang mengubah pandangan ke Clarissa yang masih memandangnya membuat mata mereka bertemu. Tapi, cepat-cepat Mukti membuang pandangannya.


"Kenapa memangnya? " Clarissa melihat ke arah yang sama dengan Mukti.


"Masakan aku!" Clarissa tak percaya dengan yang di dengarnya. Refleks ia memukul punggung Mukti. Mukti hanya mengaduh mendapat pukulan dari Clarissa yang sebenarnya tak terlalu kuat. Bukannya marah ia malah tertawa "Kenapa mukul aku sih? " Mukti masih berbicara tanpa melihat Clarissa.


"Buat apa aku masakin kamu? Males ah.. masak buat aku sendiri aja males. Apalagi buat orang lain. " Clarissa tak percaya dengan permintaan Mukti.


"Kalau kamu gak mau aku bakal nunggu di depan kosan mu tiap hari" Mukti sudah berdiri lalu melihat Clarissa yang melihatnya dengan tatapan kesal.


"Terserah" Clarissa bangun dari duduknya berjalan lebih dulu menuju tempat parkir motor.


"Benar yaa? Aku bakal nunggu tiap hari loh" Mukti sudah menyamakan langkahnya dengan Clarissa.


Clarissa yakin Mukti hanya mengancamnya. Itu sebabnya Clarissa tidak menanggapi dengan serius.


Tapi, ternyata setelah hari itu. Clarissa benar-benar tak percaya Mukti benar-benar menunggu setiap hari di kosannya. Kalau ia tidak terlihat pagi hari maka ia akan datang malam hari. Itu berlangsung seminggu lebih. Awalnya Clarissa tak ingin menggubris keberadaan Mukti tapi lama kelamaan Clarissa mulai menyerah.


"Sudahlah, Sa. Mukti itu gigih. Masakin aja sekali biar dia nggak kayak gitu terus." Kata-kata Izria yang akhirnya meruntuhkan pertahanan Clarissa.


Mukti sibuk dengan Hp nya. Entah ia sedang berkirim pesan dengan siapa. Terlihat asyik sekali, Clarissa mendekat dan meletakkan tempat makan yang bertumpuk tiga di depan Mukti.


Mukti mendongak melihat Clarissa yang sudah berdiri di sampingnya. Senyumnya mengembang karena mendapatkan apa yang ia mau.


"Puas!" Clarissa merasa kesal melihat senyum Mukti. Ia merasa semakin masuk dalam permainan pria di hadapannya.


Mukti menarik tangan Clarissa hingga wanita itu duduk di samping dia.


"Leherku sakit liat kamu berdiri" Mukti menatap tempat makan di hadapannya "Makasih, Sa" ucap Mukti lembut.


Clarissa menarik tangannya dari genggaman tangan Mukti. Ia mulai salah tingkah saat mendengar ucapan terimakasih dari Mukti. Clarissa berusaha mengingatkan dirinya bahwa saat ini ia memiliki seorang kekasih. Tapi, entah kenapa jantungnya berdetak kencang.


'Sadar Clarissa!!' ucapnya dalam hati mengingatkan dirinya. Mukti yang menangkap sikap canggung dari Clarissa membuatnya tersenyum tipis.


'Aku baru mulai, Sa.' Mukti meraih tempat makan yang di berikan Clarissa tadi lalu pamit pulang. Clarissa bahkan tak menatapnya sama sekali saat ia berpamitan. Melihat Clarissa salah tingkah membuat Mukti gemas. Ingin rasanya ia mencubit pipi tembam milik Clarissa tapi ia harus menahan diri sampai saat itu tiba.