YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Cerita Tentang Mukti (3)



Izria terlihat berbicara dengan nada yang sedikit manja dengan Mukti. Sementara Clarissa yang duduk di seberang mereka hanya mengernyit merasa seperti tamu tak di undang. Sesekali bahkan ia merinding ketika melihat sikap Izria yang tidak biasa. Bahkan saat tertawa saja ia selalu menutup mulutnya, berusaha seanggun mungkin.


'Cih! ' decak Clarissa pelan. Ia mengalihkan pandangannya dari dua anak manusia yang entah kenapa seperti sedang pdkt.


Mukti melirik Clarissa. Seringai muncul dari bibirnya. Tapi, dia tetap melanjutkan pembicaraannya dengan Izria.


Mulai bosan karena keberadaannya bahkan tak dianggap. Clarissa berdiri dan berniat kembali ke kamarnya.


'Mending aku tidur. Daripada besok telat bangun' ucapnya dalam hati.


"Kemana, Sa? " Mukti bertanya dengan ringannya, Clarissa menatap Mukti kesal.


'menurutmu? ngapain aku disini kalau nggak dianggap' omelnya dalam hati, ia tak berani mengatakannya secara langsung. Dengan berat hati Clarissa mencoba tersenyum.


"Kalian ngobrol aja. Aku capek, habis nulis laporan dari sore. Mau tidur" Clarissa menekan hampir semua kata pada kalimatnya.


"Aku kesini mau ketemu kamu loh" Mukti masih berbicara dengan santai bahkan Izria yang duduk di sampingnya menganggukkan kepala, setuju.


Clarissa mulai menunjukkan wajah kesalnya. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar dan ia lihat.


'Ha! mereka berdua mengerjaiku ya?!' tangan Clarissa mengepal menahan kekesalannya. Dia mencoba mengatur napasnya agar amarahnya tak keluar.


"Kan udah ketemu. Ria, aku masuk ya" Clarissa sudah tidak peduli dengan panggilan Izria saat ia berjalan menuju kamarnya.


Clarissa melempar asal pakaiannya, hanya tinggal baju tidur yang sedari tadi ia kenakan.


"Apa-apaan sih mereka?! mau ngerjain aku yaa!" Clarissa menjatuhkan dirinya di atas tempat tidurnya masih terus menumpahkan kekesalannya.


Derrt. Derrt.


Clarissa mengambil Hpnya menerima panggilan telepon tanpa melihat siapa yang meneleponnya. Masih dengan emosi yang menggebu Clarissa menjawab panggilan telepon.


"Wo.. wo.. sabar, Ris" Suara pria di seberang sana membuat Clarissa melihat layar Hpnya terkejut.


"Indraaa" Clarissa masih tak menyangka telepon dari pacarnya, Indra. Suara tawa terdengar renyah dari seberang sana.


"Kangeenn!!" Indra berbicara dengan manja


"Apa sih, dra? Jangan gitu ah ngomongnya. Aku geli nah dengarnya" Clarissa menarik bantal dan menaruh dibawah kepalanya.


Tawa Indra pecah. Ia suka sekali mengerjai Clarissa, Sudah hampir setahun mereka pacaran. Sebelumnya Ia dan Clarissa akrab sejak SMP. Clarissa adalah temannya curhat tentang cewek yang disukainya atau di pacarinya semasa sekolah. Bahkan jika ia bertengkar dengan pacarnya dulu, ia bisa menelpon Clarissa hanya untuk melampiaskan kekesalannya. Sejujurnya Indra sudah menyukai Clarissa sejak awal mereka dekat di SMP tapi karena Clarissa terlihat tidak tertarik pacaran ia mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaannya dan akhirnya mereka justru bersahabat hingga SMA meskipun saat itu mereka sudah beda sekolah.


"Kamu bukannya masih pendidikan ya?" Clarissa bangun dari tempat tidur menuju meja belajarnya lalu melihat kalender meja.


"Aku lagi libur. Minggu depan lanjut lagi." Indra menjelaskan sementara Clarissa hanya mengangguk - anggukkan kepalanya seolah-olah Indra bisa melihatnya.


"Jadi, mau ngapain nih. Istirahat aja gih. Pasti cepek selama pendidikan? " Clarissa memainkan lampu belajarnya.


Clarissa tertawa merasa malu sendiri. Sementara Indra masih bingung apa yang sedang di kerjakan Clarissa.


"Hei, jangan ketawa aja" Indra penasaran karena tak mendapatkan jawaban.


"Lampu belajar, dra." Clarissa menghentikan aktivitasnya melipat tangannya di depan dada.


"Rissa.." Indra menggantung kalimatnya, Clarissa menunggu "beneran nggak kangen aku? aku kangen loh sama kamu" suara Indra terdengar serius. Clarissa tersenyum mendengar pertanyaan Indra.


"Kangen, Indraaaa" senyum muncul di wajah Indra saat mendapat jawaban dari Clarissa. Ia senang, karena tidak mudah membuat Clarissa untuk mengucapkan kata-kata tersebut.


Akhirnya malam itu Clarissa menjadi pendengar setia Indra yang menceritakan hal yang di laluinya selama pendidikan. Setelah lulus SMA Indra memilih mendaftar pendidikan polisi. Berbekal fisiknya sebagai atlet basket selama sekolah membuatnya berhasil lolos pendidikan polisi.


Clarissa mengambil tas ransel yang diletakkan di atas tempat tidurnya dengan tote bag yang berisi laporan yang sudah susah payah ditulisnya kemarin. Dengan terburu-buru ia mengambil flatshoes favoritnya memakainya dan pergi tanpa pamit dengan Izria yang masih memakai baju tidur dengan handuk melilit di kepalanya karena ia baru saja selesai mandi.


"Hati-hati, Sa" teriaknya dari depan pintu, sementara Clarissa hanya mengangkat tangan sebagai jawaban.


'aduh, mamak bisa ngamuk nih aku telat.' gumam Clarissa ditengah larinya. Langkah kakinya terhenti saat melihat Mukti yang telah santai duduk di atas motornya. Saat melihat Clarissa ia tersenyum sambil melambaikan tangannya menyambut kehadiran wanita tersebut.


Beruntungnya dengan cepat Clarissa tersadar saat mendengar bunyi klakson mobil dari depan gang kosannya. Mobil Rena sudah ada di sana bahkan kaca jendelanya pun sudah terbuka. Clarissa bisa melihat Rena menyuruhnya segera naik ke mobilnya.


"Maaf, Mukti. Aku duluan yaa" Clarissa berlari menuju mobil Rena. Ia merasa lega dan sangat berterima kasih pada Rena karena telah menyelamatkan paginya.


"Ngapain tuh cowok di depan kosan mu? " Rena terdengar tidak senang.


"Nggak tau, mak." menanggapi dengan malas


"Gitu tuh kalau playboy" Clarissa tertawa mendengar komentar ketus dari Rena "Jangan di tanggapi, Sa." lanjutnya lagi


"Oke mak" Senyum Clarissa masih tertinggal di wajahnya, ia senang punya teman yang sangat perhatian dengannya saat ia jauh dari keluarganya .


Mukti yang melihat kepergian Clarissa sepertinya tidak merasa tersinggung. Sepertinya ia malah semakin merasa tertantang. Ia menyalakan motornya dan keluar dari tempat parkir kosan Clarissa menuju kampus.


------


*Hai, semua. Terimakasih sudah mau membaca cerita ini 😊 Mungkin sejauh ini masih belum nyambung ya antara judul dengan cerita hahaa soalnya emang aku mau mulai dengan penjelasan tentang beberapa tokoh *pria* yang membuat Clarissa memutuskan untuk melajang saat memasuki usia 20an. Padahal itu justru usia-usia rawan ditanya-tanya 😂 #curhat


oh, iya di sini bakal masuk cerita tentang Indra juga karena emang Indra dan Mukti bakal saling berkaitan ceritanya. Nah, buat penjelasan tentang Indra yang sedang di pendidikan polisi di bab ini mohon dimaklumi yaa kalau ternyata ada penjelasan yang keliru. Ini berdasarkan ingatanku tentang pengalaman temanku dulu saat pendidikan polisi yang hanya sekitar 6 bulan atau lebih -aku lupa haha-


Jadi kalau kalian ada yang punya info yang benar boleh komen ya. Sekalian berbagi ilmu.


Salam,


JiRaa_song* ❤