YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Dikta (5)



Setelah kabar dari Riana tentang tanggapan positif Dikta soal perasaan Clarissa padanya ternyata tetap tidak ada yang berubah. Riana beberapa kali mengatur waktu untuk bisa bertemu tapi selalu batal karena alasan pekerjaan Dikta. Hingga akhirnya Clarissa menyerah, ia tidak ingin berharap lebih dari ini.


"Sudahlah, Na. Aku capek nangis terus setiap habis sholat malam bahkan hampir setiap malam. Aku masih ingat bagaimana ibunya tidak tertarik berbicara denganku. Ingat waktu kita kerumahnya saat idul adha. Ibunya memang bertanya padaku tentang kerjaan ku tapi waktu aku jawab aku ngajar di tempat bimbel, ibunya lebih tertarik berbicara soal bisnis dengan Rahma. Dari situ aku sudah merasa aku mungkin tidak pantas bersama Dikta." Clarissa memeluk guling milik Riana.


Riana yang duduk di depan Clarissa hanya bisa menatap sahabatnya itu. Riana merasa bersalah karena tak bisa membantu banyak.


"Hanya belum waktunya, Sa. Tapi, kamu bilang kalian sering balas-balasan DM di Instagram? Itu kemajuan, Sa." Riana mencoba melihat hal-hal positif dari hubungan Clarissa dan Dikta saat ini.


"Kamu tidak lihat instastory yang di postnya kemarin?" Riana mengangguk pelan, ia tahu ucapan terima kasih untuk Elsa yang memberikan hadiah ulang tahun untuk ibunya.


"Dia cuma bilang terima kasih ke Elsa, Sa. Bukan berarti mereka ada hubungan." Riana masih berusaha.


"Kamu datang ke acara nikahannya Via besok?" Clarissa mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya, datang. Oh iya, Anton lagi disini. Cuti mau ngurus persiapan nikahannya, katanya bareng dia saja kenikahannya Via." Clarissa mengangguk setuju.


Hujan turun tidak terlalu deras. Clarissa sudah siap dengan gamis dan sepatu haknya yang hanya di gunakan saat ada acara tertentu. Dengan dandanan tipis diwajahnya, Clarissa sudah siap menunggu Anton dan Riana datang menjemput. Sekitar lima belas menit setelah ia siap terdengar suara klakson mobil dan suara cempreng Bella memanggil Clarissa.


Dengan berlari kecil Clarissa menuju mobil Anton. Ternyata tidak hanya mereka bertiga ada Andien juga calon istri Anton.


"Rissa, ini Andien. Andien, ini Rissa salah satu sahabatku." ucap Anton mengenalkan Clarissa dengan Andien.


Clarissa dan Andien berjabat tangan dan saling menyebutkan nama mereka. Suasana cukup hangat di antara mereka setidaknya pasangan Anton kali ini lebih ramah dari yang sebelumnya. Bahkan ia cepat akrab dengan Clarissa dan juga Riana dan itu membuat Anton senang.


Begitu sampai di gedung tempat pernikahan Via mereka langsung bergegas masuk dan ikut mengantri untuk memberi selamat pada Via dan suaminya. Setelah memberi selamat pada Via dan berfoto bersama mereka berempat turun dari panggung dan menuju meja makanan. Clarissa memilih memakan buah begitu juga dengan Riana. Mereka tidak terlalu suka makan diacara nikahan, bahkan terkadang mereka hanya datang memberikan selamat lalu pulang dan makan diluar.


Begitu menemukan tempat yang kosong mereka langsung duduk. Sementara Anton dan Andien terlihat tengah terjebak dengan beberapa teman mereka yang mungkin penasaran dengan persiapan pernikahan Anton dan Andien. Sampai mata Clarissa melihat Dikta yang baru datang bersama beberapa teman-temannya. Dengan cepat Clarissa mengalihkan pandangannya. Melihat tingkah aneh Clarissa membuat Riana penasaran dan ia melihat kearah yang sama dengan Clarissa sebelumnya lalu melihat Dikta yang juga melihat kearahnya sambil melambaikan tangannya.


"Rissa, maaf." ucap Riana setengah berbisik saat melihat Dikta berjalan kearahnya bersama Anton dan juga Andien.


"Kalian sudah kasih selamat ke Via?" tanya Dikta begitu sampai ditempat Clarissa dan Diana duduk.


"Sudah. Kamu nggak mau kasih selamat dulu ke Via. Mumpung agak sepi tuh." ucap Riana ramah, sedangkan Clarissa hanya tersenyum canggung.


Dikta akhirnya menuju panggung pelaminan bersama teman-temannya yang datang bersamanya tadi untuk memberikan selamat pada Via dan suaminya. Anton dan Andien tampak menikmati waktu mereka. Clarissa yang mulai gelisah menatap Riana yang asyik menyantap buah yang ia ambil.


"Gimana nih, Na? aku nggak tahu harus bersikap seperti apa?" Clarissa terlihat panik saat Dikta sudah turun dari panggung dan berjalan kearah mereka lagi.


"Apa kabar, Ton? Akhirnya dibawa juga nih calonnya." Dikta langsung menyapa Anton lalu berkenalan dengan Andien.


"Besok siang pada sibuk nggak nih? Aku mau ngajak ngumpul." tanya Anton.


"Aku kerja sih, tapi kalau siang pas istirahat makan siang aku bisa datang." jawab Riana.


"Aku ngajar jam 5 sore jadi bisa ikut." jawab Clarissa. Sesekali Clarissa melirik Dikta, ada harapan didalam dirinya agar Dikta bisa ikut besok.


"Aku bisa. Aku masuk malam." ucap Dikta yang membuat Clarissa tersenyum kecil namun segera ia tepis.


"Oke. Besok ya." Anton terlihat senang.


Anton mengantar Clarissa pulang, turun dari mobil Anton dan masuk ke rumah entah kenapa senyum terus menghiasi wajahnya. Bella yang sedang di ruang tamu tengah melakukan panggilan video dengan Rico langsung mengakhiri panggilan videonya. Ia langsung berlari menghampiri Clarissa yang tengah membuka tali sepatu haknya.


"Senyumnya nggak hilang-hilang nih?" goda Bella.


"Apa sih, Bel?!" ucap Bella masih dengan senyum yang sama.


"Ketemu kak Dikta yaa? Cerita nah, mbak?!" kini Bella sudah merangkul lengan Clarissa dan merengek di sana meminta agar Clarissa menceritakan apa yang terjadi.


Clarissa akhirnya menyerah dan menceritakan apa yang terjadi tadi. Bella langsung memeluk Clarissa ikut bahagia.


"Padahal ini hal yang sederhana, Bel. Tidak ada yang istimewa." ucap Clarissa pelan.


"Mbak, apapun yang membuat mbak senang dan tersenyum berarti istimewa. Ini istimewa, mbak. Mungkin bisa jadi pembuka jalan." Clarissa mengangguk. Ia setuju dengan ucapan Bella. Setidaknya setelah beberapa kali rencana untuk bertemu meskipun tidak hanya berdua selalu gagal kali ini tidak.


Clarissa sudah duduk di atas tempat tidurnya bersiap untuk tidur saat pesan whatsapp dari Riana masuk. Mata Clarissa membulat sempurna saat membaca pesan dari Riana. Clarissa langsung menghubungi Riana setelah membaca pesan tersebut.


"Na, kamu serius?" tanya Clarissa tanpa menjawab salam dari Riana.


"Iya, Sa. Besok aku ceritakan lengkapnya. Pokoknya besok yang jemput kamu Dikta." panggilan telepon berakhir dan Clarissa masih tertegun dengan Hp yang masih menempel di telinganya. Jantung Clarissa berdetak kencang dan senyum tak mau hilang dari wajahnya. Clarissa merasa ia akan mimpi Indah malam ini.


Ia menarik selimut hingga menutupi lehernya, senyumnya masih setia di sana. Di otaknya muncul berbagai kemungkinan yang akan ia bicarakan besok saat berdua saja menuju tempat mereka janjian dengan yang lain. Harapan jelas makin besar tumbuh di dalam hati Clarissa. Ia tidak ingin menghindarinya lagi, seperti kata Bella ini bisa jadi pembuka jalan untuknya. Mungkin ini waktu yang tepat untuk perasaannya menjadi nyata setelah setahun lebih ia menyimpannya sendiri.