
Izria memilih menuju warung di seberang gang kosannya. Mengambil beberapa snack untuk cemilannya dan minuman dingin. Sambil menunggu belanjaannya di hitung, Izria melirik Clarissa dan Indra yang sudah berdiri didepan pintu pagar kosannya.
"Semuanya 27 ribu, mba" ibu pemilik warung menyerahkan kantong plastik berisi belanjaan Izria
"Eh, iya bu.. " Izria tersentak kaget karena ia masih fokus melihat Indra yang sudah memutar mobilnya dan terlihat Clarissa tersenyum pada Indra yang sudah ada di dalam mobil.
"mba?!" panggil ibu pemilik warung lagi.
"Iya bu, ini" Izria mengeluarkan uang 50 ribuan dari dompetnya lalu mengambil kantong plastik, menunggu uang kembalian dari ibu penjaga warung.
Mobil Indra sudah melaju keluar dari gang kosannya. Tanpa sadar ia bernapas lega membuat ibu penjaga warung di depannya heran.
Izria menerima uang kembalian dan segera kembali ke kosannya. Sejujurnya ia merasa malu harus bersembunyi dari Clarissa dan Indra. Tapi, ia akan lebih malu lagi jika salah tingkah di hadapan kedua orang itu terutama Indra.
Izria membuka pintu kamar, Clarissa ternyata sudah duduk di tempat tidurnya. Wajahnya terlihat tidak semangat. Membuat Izria tergelitik untuk bertanya.
"Baru pulang, Ra?" Clarissa melihat Izria yang sudah berjalan ke tempat tidur di hadapannya melempar belanjaannya dan menjatuhkan diri di sana.
"Iya, Sa. Baru pulang juga? " tanya Izria basa-basi, padahal jelas-jelas ia sudah melihat adegan antara Indra dan Clarissa tadi di depan kosannya.
Clarissa mengangguk. Ia melepaskan ransel yang masih di gendongnya lalu melemparnya asal ke sampingnya.
"Kenapa Sa? kok mukamu gitu? Kan habis ketemu Indra" Izria mulai melancarkan aksinya mencari informasi.
Hanya helaan nafas panjang yang terdengar dari Clarissa membuat Izria makin penasaran. Ia menunggu cukup lama sampai Clarissa membuka mulutnya.
"Semuanya gara-gara ini! " kaki Clarissa menendang kaki boneka panda besar yang tanpa dosa sedang duduk manis di samping tempat tidurnya.
Melihat hal itu Izria mengernyit. Menatap boneka panda pemberian Mukti dan Clarissa bergantian. Seolah tatapannya mengatakan apa yang salah dengan boneka panda yang manis itu.
"Bukan! " Clarissa terdengar frustasi membuat Izria semakin bingung ada apa dengan teman sekamarnya ini "Mulut ini yang salah!! " Clarissa memukul mulutnya beberapa kali dan terlihat sangat frustasi.
"Rissa, kamu baik-baik ajakan? " Izria menatap Clarissa khawatir "Ada masalah sama Indra? " tanyanya tanpa basa-basi lagi.
Lagi-lagi Clarissa menghela napas frustasi. Membuat Izria gemas, tak sabar mendapatkan jawaban.
"Aku dengan bodohnya bilang kalau Mukti ngasih aku boneka panda" akhirnya Clarissa mengatakan apa yang terjadi tadi
Izria terkejut. Ia tak menyangka Clarissa akan memberitahu Indra tentang hadiah dari Mukti ini. Clarissa dapat menangkap rasa penasaran Izria.
"Indra tadi mau belikan aku boneka panda juga. Tapi, dengan bodohnya aku malah mengatakan kalau mukti sudah memberikan aku boneka panda" Izria terlihat antusias menunggu kelanjutan cerita Clarissa tapi ia berusaha menyembunyikan agar Clarissa tidak curiga dan melanjutkan ceritanya.
"Akhirnya aku dan Indra malah hampir bertengkar hebat di mall tadi. Kalau saja Indra tidak menahan dirinya. Mungkin kami sudah jadi tontonan orang-orang." Wajah Clarissa tampak sedih hal itu membuat Izria bersimpati.
"Tapi, tetap saja. Rasanya hubungan kami tadi di ujung tanduk." Clarissa menjatuhkan tubuhnya kebelakang, berbaring dengan posisi kaki menggantung di tempat tidur. Ia meraih guling di atas kepalanya lalu membawanya dalam pelukannya.
"Aaaaahhh... " teriak Clarissa sambil menutup wajahnya dengan guling "aku benci suasana seperti ini, Ra" Clarissa memeluk guling semakin erat berharap bisa mentransfer rasa frustasinya.
Melihat hal itu tanpa Clarissa sadari senyum tipis muncul di wajah Izria. Namun segera ia tepis dan beranjak menuju tempat tidur Clarissa. Duduk di samping Clarissa yang masih terlihat memeluk guling dengan frustasi.
"Sudah. Yang penting Indra nggak marah lagikan?" Izria menepuk pundak Clarissa membantu agar temannya itu bisa segera merasa baikan.
Clarissa mengubah posisinya menjadi duduk sempurna. Menatap boneka panda besar di sampingnya. Izria juga mengikuti tatapan mata Clarissa pada boneka panda pemberian Mukti.
'Kenapa dia menatap boneka ini seperti itu? ' batin Izria saat melihat tatapan marah Clarissa pada boneka panda di sampingnya.
"Aku akan kembalikan boneka ini pada Mukti." Izria terlihat panik dengan rencana Clarissa, Ia menyentuh lengan Clarissa.
"Jangan, Sa. Kasian loh Mukti udah belikan. " Clarissa menatap Izria curiga membuat wajah Izria panik
"Kasih aku aja gimana?" Ia tersenyum canggung merasa bodoh dengan ucapannya sendiri.
"Aku balikin aja, Ra. Ini sumber masalahnya. Nanti kalau boneka ini tetap disini dan Indra tahu pasti kami akan benar-benar bertengkar hebat. Aku nggak mau mempertaruhkan hubunganku hanya untuk masalah sepele gini." Lagi-lagi Clarissa menendang kaki boneka panda dengan kesal.
"Kan Indra nggak bakal tahu, Sa. Emang dia bisa masuk ke sini." tawa canggung Izria membuat Clarissa mengernyitkan dahinya.
"Kamu kenapa sih, Ra? " Clarissa menatap teman sekamarnya penuh curiga "Jangan-jangan kamu suka sama Mukti ya?? " senyum jahil muncul di wajah Clarissa sedangkan Izria yang mendengar hal itu hanya bisa melongo merasa ada yang salah.
Bukannya ia tak tertarik dengan Mukti sang pria populer di jurusannya saat ini tapi ia tak pernah berfikir untuk punya hubungan serius dengan siapapun saat ini. Apalagi Mukti tampak tidak tertarik padanya. Ia tak ingin membuang-buang waktu untuk mengejar orang yang tak tertarik padanya. Ia hanya senang dekat dengan Mukti membuatnya bisa di kenal kakak-kakak tingkat dan menjadi punya banyak teman di angkatannya.
"Hahaha, apaan sih Sa? " tapi tak ada penolakan dari Izria, ia hanya tertawa malu-malu mendengar pertanyaan Clarissa. Membuat Clarissa makin yakin dengan tebakannya.
"Kalau kamu emang suka sama Mukti. Aku bakal bantu kamu" Clarissa tampak antusias sekarang dan sudah mengubah posisi duduknya menghadap Izria bahkan ia sudah duduk bersila.
Izria merasa terpojok sekarang dengan tatapan Clarissa yang menyelidik padanya. Membuat Izria tak berani menatap wajah Clarissa.
"Ya udah. Bonekanya buat kamu" Senyum bahagia terlihat di wajah Clarissa. Sekarang sebuah ide muncul di otaknya.
'Ini akan menyelesaikan masalahku jika aku berhasil menjodohkan Izria dengan Mukti" pikir Clarissa bangga. Ia tak sabar menjalankan idenya menjadi mak comblang antara Izria dan Mukti.
Izria merasa ada yang tidak beres dengan tatapan dan senyum Clarissa saat ini. Perasaannya bahkan tak enak. Ia hanya tak ingin membiarkan Clarissa menjalankan rencana apapun yang saat ini muncul di kepalanya.
'Jangan macam-macam, Sa. Ku mohon! Tetaplah polos seperti biasanya' batin Izria sambil menyunggingkan senyum manisnya membalas senyuman Clarissa.