
Sehari setelah Bella dilamar, hari minggu yang sama seperti hari minggu yang lain. Clarissa bersama dengan Bella dan mamanya sedang duduk bersama di meja makan menikmati cemilan siang. Saat Hp mamanya berbunyi tanda pesan dari whatsapp masuk. Mamanya membuka ternyata dari grup keluarga khusus untuk ibu-ibu yang mana isinya adalah mamanya dan tante-tantenya.
"Kenapa ma?" tanya Clarissa saat melihat raut wajah mamanya yang berubah.
"Ini, Sa.." mamanya terdengar ragu, ia menatap kedua anak gadisnya yang duduk didepannya. Sedang menikmati pisang keju yang mereka buat bersama tadi.
"Tante Ita mu bilang kan lamaran Bella mereka nggak diundang. Jadi, acara arisan keluarga bulan ini diganti dirumah kita." mendengar penjelasan mamanya membuat Bella menatap Clarissa yang menunjukan wajah datar.
"Mbak?!" panggil Bella pelan, Clarissa mengalihkan pandangannya kearah Bella dengan wajah penuh tanda tanya.
"Mama sama Bella kenapa? kok lihatin aku gitu?" tanya Clarissa polos.
"Apa mama tolak saja? Kan dua bulan lalu sudah dirumah kita." tanya mama terlihat mencari alasan.
Clarissa tersenyum lembut menatap mamanya dan Bella bergantian. Ia tahu apa yang dikhawatirkan oleh mamanya dan juga Bella.
"Nggak apa-apa, ma. Kalau pada mau dirumah kita ya dirumah kita saja." jawab Clarissa masih dengan senyum diwajahnya.
"Mbak, yakin mau dirumah kita?" tanya Bella lagi meyakinkan.
"Bel, mbak tahu apa yang kamu sama mama khawatirkan. Tenang saja, mbak sudah kebal. Selama bukan dari kalian yang mendesak mbak nggak akan terpengaruh. Yaahh, tapi kalau dibilang bete ya bete sih." Clarissa tertawa berusaha mencairkan suasana.
Dengan sedikit paksaan dari Clarissa untuk menerima tawaran tante Ita yang sudah di dukung oleh saudara-saudaranya yang lain di grup maka mamanya akhirnya mengiyakan tawaran tante Ita.
Clarissa akhirnya pamit untuk kembali ke kamarnya duluan. Kini hanya tinggal mamanya dan Bella yang terlihat tidak enak dengan Clarissa. Begitu menutup pintu kamar, Clarissa melangkah menuju tempat tidurnya dan menjatuhkan tubuhnya disana dengan kaki yang masih menjuntai kelantai.
Clarissa menatap langit-langit kamarnya yang putih polos. Pikirannya menerawang entah kemana. Dengan tangan kanannya ia meraih bantal kecil berbentuk kepala panda lalu menutup mukanya dengan batal tersebut. Clarissa berusaha berteriak sekuat tenaga namun tanpa suara sampai ia merasa puas.
Setelah puas dan mulai merasa kehabisan napas, Clarissa memeluk bantal tersebut didadanya. Semakin lama semakin erat. Ia masih menahannya. Berusaha tidak mengeluarkan gejolak dihatinya. Tapi, ternyata tanpa ia minta air mata mengalir makin lama makin deras.
'ya Allah. Apa salah masih sendiri sampai sekarang? Apa aib masih belum menikah sampai usia 26 tahun.' batin Clarissa. Ia mulai menangis tertahan tak ingin Bella dan mamanya mendengar.
Bella dan mamanya masih sama-sama diam larut dalam keheningan. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya Bella menatap mamanya.
"Ma, apa Bella tunda saja ya acara Bella?" mamanya terkejut mendengar ucapan Bella. Tapi, mamanya tahu Bella tidak asal bicara wajahnya dengan jelas terlihat bahwa ia serius.
"Bella, kok kamu ngomong gitu nak?" mamanya kini beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kursi di samping Bella.
"Bella, cuma mau nunda aja ma. Mungkin sampai... " Bella menunduk ia sendiri tak tahu harus sampai kapan menundanya.
"Bella, dengarkan mama. Jodoh, rezeki dan maut itu sudah ditentukan oleh Allah nak. Saat ini mungkin memang waktumu yang terlihat lebih dekat dengan jodohnya meskipun kitapun belum bisa memastikan apapun sebelum akad terucap. Begitu juga dengan mbakmu, dia punya waktunya yang tepat menurut Allah. Gini ya Bel, acaramu masih dua bulan lagi. Kita nggak tahu besok atau seminggu lagi atau sebulan lagi bisa saja jodoh mbakmu datang dan dia malah nikah duluan. Atau kalian jadi bersamaan. Kita nggak ada yang tahu nak. Mbakmu juga nggak mau kamu dilema seperti ini karena dia. Kamu harus menghargai keputusan mbakmu juga yang dengan ikhlas merestui niat baikmu." nasihat mamanya, Bella menitikkan air matanya tanpa sadar.
Dari awal ia tahu Rico punya rencana untuk melamarnya, Bella selalu meminta Rico untuk menundanya. Ia merasa tidak enak dengan Clarissa. Meskipun ia tahu Clarissa bukan seorang kakak yang akan melarangnya menikah lebih dulu dari dia. Bella bahkan tahu semua pengorbanan Clarissa untuk dia. Bagaimana Clarissa selalu mengalah untuk kebahagiaannya.
"Karena itu Bel, kita harus menghargai mbakmu yang sudah berjuang sejauh ini. Mama senang sekarang bisa melihat senyum mbakmu lagi. Jadi, jangan sampai kamu menunda rencana baikmu dan membuat mbakmu merasa bersalah." kini mamanya menggenggam erat tangan Bella.
Bella mengangguk mengerti, ia tidak ingin membuat luka dihati Clarissa yang sudah susah payah Clarissa obati kembali lagi. Melihat Clarissa yang sudah ceria dan bisa sembuh dari patah hati terhebatnya saat ini sudah membuat Bella sangat bersyukur.
Clarissa dikamarnya masih menatap langit-langit kamarnya tapi kali ini pikirannya kembali ke momen enam bulan yang lalu. Ia menghela napas panjang ternyata sesak didadanya masih ada. Ia pikir ia sudah lebih baik tapi sepertinya ia belum sepenuhnya membaik.
Bapak Clarissa baru keluar dari kamarnya, sehabis pulang sholat dzuhur bapaknya langsung memilih tidur siang. Tidak perlu lama, hanya sekitar tiga puluh menit. Saat melangkah untuk menuju ke dapur, ia melihat istri dan anak bungsunya sedang duduk di meja makan.
"Loh, kok cuma berdua?" Bella langsung mendongakkan kepalanya melihat bapaknya yang sudah berdiri di tengah ruang tengah.
"Mbak tidur siang kyknya, pak." jawab Bella asal, mamanya pun berdiri dan tersenyum pada suaminya yang berjalan menuju meja makan.
"Pisang keju, pak. Buatan anak-anak gadismu." mamanya menunjuk pisang keju diatas meja.
"Wih, enak ini. Ma, tolong bikinkan bapak teh hangat ya?" ucap bapaknya lembut. Mamanya sudah melangkah ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk suaminya.
"Tumben mbakmu tidur, Bel. Sejak kapan dia tidur siang?" tanya bapaknya sambil menyantap pisang keju.
"Capek anakmu, pak." jawab mamanya yang sudah datang dengan segelas teh hangat dan meletakkan di depan suaminya.
"Ngapain saja memangnya dia sampai kecapean?" kini mata bapaknya menatap pintu kamar anak sulungnya yang tertutup rapat.
"Pak, sabtu ini arisan keluarga dirumah kita." mamanya akhirnya memberitahu tentang permintaan tante Ita di grup whatsapp tadi.
"Loh, kan sudah dua bulan lalu. Kok rumah kita lagi?" ucap bapaknya kaget bahkan sampai mengerutkan keningnya.
"Alasannya karena nggak kita libatkan acara lamaran semalam, pak." jawab Bella kesal.
"Aduuuhh, alasan saja mereka itu. Bilang saja mau ghibah atau mau nyindir anak gadisku lagi." ucap bapaknya sama kesalnya.
"Jangan suudzon gitu, pak. Mungkin mereka memang mau kumpul-kumpul disini saja." ucap mamanya mengingatkan.
"Bukan suudzon, ma. Memang begitu kenyataannya. Acara lamaranku kan sudah lewat memang mereka mau ngapain lagi." timpal Bella yang di setujui bapaknya.
"Sudah, sudah, mereka itu tetap keluarga kita loh." ucapan pamungkas dari mamanya saat perdebatan tentang keluarga besar dimulai. Bukannya mamanya tidak tahu maksud dari saudara-saudaranya yang ingin berkumpul dirumahnya nanti. Tapi, bagaimana pun suatu saat mereka akan saling membutuhkan.
Clarissa berdiri dengan tangan diatas gagang pintu. Tadinya ia berniat keluar kamar. Tapi mendengar pembicaraan keluarganya diluar membuat Clarissa akhirnya mengurungkan niatnya. Entah sudah berapa kali ia menghela napas. Kini Clarissa sudah terduduk dilantai sambil bersandar dipintu kamarnya yang masih tertutup. Matanya menyapu seluruh bagian kamarnya sebelum akhirnya ia memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya disana. Kembali menangis dalam diam.
'Apa memang harus seperti ini jalan yang aku lalui bahkan setelah patah hati terhebat yang aku alami?' tanya Clarissa entah pada siapa, ia hanya membiarkan air matanya keluar agar ia bisa kembali tersenyum di depan orang tuanya dan juga Bella.