
Clarissa merasa seperti dejavu saat melihat Mukti yang sudah berdandan rapi di depannya bedanya ia tak membawa boneka panda sebesar badan Clarissa. Beberapa saat yang lalu ia menerima telepon dari Mukti yang memberitahukan kalau dia ada di depan rumah Clarissa.
Clarissa menatap Mukti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Merasa aneh dengan penampilan pria di hadapannya ini.
"Mau kemana kamu?" tanya Clarissa masih memandang Mukti dari ujung rambut sampai ujung kaki berkali-kali.
"Jalan." jawab Mukti singkat.
Wajah Clarissa masih penuh tanda tanya, merasa tidak puas dengan jawaban Mukti. Lalu Mukti menunjuk belakang Clarissa dengan dagunya. Clarissa mengalihkan pandangannya dan mendapati sosok Bella yang sudah sama rapinya.
"Kalian mau ngedate? " tanyanya datar.
"Kenapa? Nggak boleh?" Mukti terdengar antusias.
"Nggak sih. Silahkan saja." Clarissa tersenyum ramah pada Mukti menunjukkan bahwa ia tidak bermasalah dengan hal itu.
"Mbak, siap-siap sana." perintah Bella yang membuat Clarissa menatap Bella tak mengerti kenapa ia harus siap-siap.
"Kita jalan. Sana siap-siap." Bella sudah mendorong tubuh Clarissa masuk ke dalam rumah.
"Nggak ah! Males. Kalian saja sana." Clarissa berusaha menghentikan langkah Bella yang terus berusaha mendorongnya ke kamar.
"Ayo, mbak. Nanti kalau berdua saja terus ketemu teman-teman bisa di ejek aku di sekolah. Ayo nah mbak! ya? ya?" rengek Bella membuat Clarissa tidak tahan.
Clarissa akhirnya menyerah dan menyuruh Bella menunggunya ganti baju. Bella tersenyum lebar dan mengangguk dengan semangat.
Clarissa dengan malas, menarik asal baju yang pertama ia lihat. Tidak peduli apakah penampilannya norak atau tidak. Ia hanya memakai sedikit lipstik agar tidak pucat. Tidak sampai sepuluh menit Clarissa sudah siap.
Bella menggandeng lengan Clarissa dan mengajaknya berjalan bersama menuju mobil Mukti yang mana Mukti sudah menunggu mereka di dalam mobil. Bella dengan cekatan menyuruh Clarissa duduk di kursi penumpang tepat samping pengemudi dan ia dengan cepat masuk ke kursi penumpang di bagian tengah.
"Ayo kita jalan!!" ucap Bella semangat sambil menunjuk jalanan di depannya.
Mukti segera memacu mobilnya dengan kecepatan sedang memasuki jalan besar yang cukup ramai dipenuhi kendaraan yang lalu lalang. Clarissa tidak tahu mereka akan kemana, ia hanya memilih mengalihkan pandangannya ke jendela di sampingnya menatap pemandangan diluar sana.
Sepanjang perjalanan entah apa saja yang di bicarakan Mukti dan Bella. Clarissa tidak begitu menyimak, ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Sampai mereka memasuki area rumah makan yang cukup terkenal di kotanya.
Mukti menghentikan mobilnya di depan pintu masuk rumah makan agar Clarissa dan Bella bisa turun lebih dulu lalu ia berkeliling mencari tempat parkir. Setelah berhasil menemukan tempat parkir yang tentunya di bantu petugas parkir. Mukti menyusul Clarissa dan Bella yang sudah masuk lebih dulu.
Mukti langsung berjalan menuju meja yang sudah ia pesan lebih dulu. Clarissa dan Bella sudah duduk di sana sambil melihat-lihat daftar menu yang di berikan oleh pelayan.
"Pesan saja yang kamu mau, Bel." ucap Mukti yang di sambut acungan jempol dari Bella. Dengan semangat Bella melihat daftar menu. Mencari yang ingin ia makan.
"Kamu ini benar-benar memanjakan anak ini." sindir Clarissa tanpa menatap Mukti maupun Bella, matanya hanya fokus menatap daftar menu di depannya.
Senyum tipis muncul di ujung bibir Mukti, ia menatap Clarissa yang terlihat tengah membolak-balik daftar menu yang dipegangnya.
"Ada yang aneh dengan wajahku? atau penampilanku?" tanya Clarissa yang sudah mengangkat wajahnya menatap tepat di mata Mukti membuat Mukti sempat salah tingkah tapi dengan cepat ia menguasai dirinya lagi.
"Semuanya sempurna kok, Sa." Clarissa menganggukkan kepalanya paham dan kembali melihat daftar menu.
Setelah menentukan pilihannya, Bella memanggil pelayan dan mulai memesan makanan dan minuman yang ia inginkan. Ia lalu menatap Mukti dan Clarissa bergantian yang dengan cepat paham untuk menyebutkan pesanan mereka. Pelayan mengulangi pesanan mereka bertiga untuk memastikan lalu meminta mereka bertiga untuk menunggu pesanan mereka diantarkan.
Bella dan Mukti kembali membahas hal yang sama seperti saat di dalam mobil tadi. Clarissa kali ini hanya menyimak pembicaraan kedua orang dihadapannya ini. Saat tiba-tiba Hpnya bergetar tanda panggilan masuk. Clarissa memeriksa siapa yang menghubunginya. Ia sedikit terkejut saat melihat nama Indra yang tertera di layar Hpnya.
Mata Bella dan Mukti sudah tertuju pada Clarissa yang terlihat terkejut menatap layar Hpnya. Clarissa yang merasa bahwa ia sedang di tatap kedua orang tersebut ikut membalas tatapan Bella dan Mukti bergantian.
Bella sepertinya bisa menebak siapa yang menelepon, begitu juga dengan Mukti. Mereka sama-sama menatap Clarissa mengikuti ke arah Clarissa pergi untuk menjawab telepon seolah mencari tahu apa yang dibicarakan Clarissa dengan orang yang meneleponnya.
"Hallo. Assalamu'alaikum, dra." sapa Clarissa lebih dulu yang di jawab sangat ramah oleh Indra di seberang sana.
"Sibuk, Sa?" tanya Indra ragu-ragu.
"Hmm.. nggak sih, dra. Cuma lagi diluar saja. Kenapa?" Clarissa melirik Bella dan Mukti yang terlihat sama-sama mengawasinya.
"Mau ngajak ngobrol tadinya. Kamu lagi liburan ya?" jawab Indra lembut.
"Iya, dra. Tapi, bentar lagi sudah selesai. Kamu gimana pendidikannya?"
"Ini nunggu penempatan, Sa." ucap Indra pelan bahkan hampir terdengar lirih. Clarissa yang menangkap hal itu hanya bisa mengernyit, tidak bisa menebak ada apa dengan Indra.
"Indra, kamu kenapa?" tanya Clarissa akhirnya setelah rasa penasarannya muncul.
"Aku cuma rindu sama kamu, Sa." kali ini suara Indra benar-benar terdengar lirih. Clarissa hanya bisa terdiam ia tidak tahu harus berkata apa.
"Ya sudah, Sa. Lanjutkan saja kegiatanmu. Assalamu'alaikum." setelah Clarissa menjawab salam, Indra langsung memutuskan panggilan teleponnya. Clarissa menghela napasnya berat. Ia tahu tidak akan mudah bagi Indra dan dirinya kembali seperti dahulu, sebelum mereka memutuskan pacaran.
Setelah perasaannya sudah mulai tenang, Clarissa kembali ke mejanya. Ternyata pesanan mereka sudah datang. Bella dan Mukti menatap Clarissa seolah menunggu penjelasan dari Clarissa. Tapi, Clarissa memilih mengabaikan kedua orang tersebut dan menyantap makanan yang ia pesan. Melihat Clarissa yang enggan bercerita membuat Bella dan Mukti memilih diam dan menikmati makanan pesanan mereka masing-masing.
Selama makan suasana sangat hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Jadi, terasa canggung. Bahkan setelah selesai makan pun mereka sempat saling diam tak ada yang membuka pembicaraan. Sampai Bella merasa gerah dengan suasana mereka.
"Ayo, kita pulang." ajak Bella yang di sambut setuju Clarissa dan Mukti. Mukti menuju meja kasir sedangkan Clarissa dan Bella menunggu di meja mereka.
Bella menatap Clarissa sinis dan wajah cemberut. Clarissa yang melihat ekspresi wajah Bella hanya bertanya tanpa suara apa maksud ekspresi wajah Bella saat ini.
"Aku ngajak mbak sama mas Mukti makan diluar biar bisa banyak ngobrol tapi mbak malah bikin canggung." Bella terdengar kesal begitu juga dengan Clarissa yang tidak terima disalahkan.
"Dek!" ucap Clarissa serius, Bella melirik Clarissa yang sudah memanggilnya 'dek' . Bella tahu saat Clarissa memanggilnya seperti itu maka Clarissa tidak bisa di ajak bercanda "Mbak nggak minta kamu ajak." Clarissa menekankan setiap kata yang dia ucapkan membuat Bella menunduk.
Mukti sudah kembali dan melihat suasana yang tidak menyenangkan dari kedua kakak beradik ini. Sebelum suasana semakin memanas, Mukti mengajak Clarissa dan Bella untuk pulang. Bella dengan cepat berdiri dan melangkah lebih dulu. Mukti hanya menatap Bella yang sudah berjalan dengan cepat melewatinya.
"Bella kenapa?" tanya Mukti pada Clarissa yang sudah berdiri di hadapannya.
"Biarin saja dia. Biasa labil." Clarissa berjalan duluan sementara Mukti mengikuti langkah Clarissa dari belakang.
Ia tahu ada hal yang terjadi antara Clarissa dan Bella tapi ia tak ingin ikut campur urusan kedua saudara ini. Jadi, ia memilih netral dan tidak menanyakan apapun pada mereka berdua.
Suasana pulang menjadi canggung. Bella yang dari berangkat tadi paling bersemangat dan banyak bicara jadi diam seribu bahasa. Ia bahkan melakukan hal yang sama dengan Clarissa menatap keluar jendela.
Begitu sampai di depan rumah Clarissa dan Bella. Bella turun lebih dulu setelah mengucapkan terima kasih sedangkan Clarissa turun belakangan.
"Maaf, membuat suasananya canggung." ucap Clarissa terdengar tulus.
Mukti tersenyum lembut menanggapi permintaan maaf Clarissa.
"Nggak usah di pikirkan. Sekarang kamu masuk dan istirahat saja." ucap Mukti sangat lembut.
Clarissa membalasnya dengan senyuman ramah dan berpamitan lalu turun dari mobil. Clarissa memilih menunggu Mukti pergi lebih dulu lalu masuk ke dalam rumah. Saat melewati kamar Bella, Clarissa sempat menatapnya sebentar lalu segera menuju kamarnya. Ia ingin segera ganti baju dan beristirahat.