YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Berbaikan dengan Bella



Seperti biasa Clarissa, mamanya dan juga Bella sholat subuh berjamaah. Setelah selesai melaksanakan sholat subuh tanpa melepas mukenah yang dipakainya, Bella langsung kembali ke kamarnya dengan sajadah di tangannya. Clarissa menatap kepergian Bella yang akhirnya hilang di balik pintu kamarnya.


Mamanya melanjutkan dengan membaca Al-qur'an sementara Clarissa sudah melipat rapi mukenah yang digunakannya dan menggulungnya di dalam sajadah. Clarissa berjalan ke kamarnya, ia sempat berhenti dan melirik pintu kamar Bella sebentar lalu masuk ke kamarnya.


Clarissa duduk di depan meja riasnya. Melihat foto yang tergantung di samping cermin riasnya. Fotonya bersama Bella saat mereka masih kecil. Bella yang terpaut dua tahun dari Clarissa. Satu-satunya saudara perempuan yang ia miliki. Karena kondisi tubuh Bella yang lemah sejak lahir membuat orang tuanya memutuskan untuk berhenti memiliki anak lagi dan fokus untuk kesehatan Bella.


Senyum muncul di wajah Clarissa saat mengingat saat ia masih kelas tiga sekolah dasar. Bella yang baru masuk sekolah dan mendapat perhatian ekstra dari orang tuanya. Membuat Clarissa dengan kepolosannya saat itu menangis di depan orang tuanya merasa cemburu dan mempertanyakan seberapa besar kasih sayang orang tuanya padanya.


Ia ingat saat itu bapaknya yang masih bekerja serabutan serta mamanya yang buruh cuci dan setrika menatapnya bersalah. Sejak kecil Clarissa harus merasakan hidup susah berbeda dengan Bella yang orang tuanya akan berusaha agar ia tak merasakan kerasnya hidup.


Clarissa melangkah keluar dari kamarnya. Ia sudah berdiri didepan pintu kamar Bella. Ragu untuk mengetuk pintu di depannya. Entah berapa kali ia sudah mengangkat tangannya ingin mengetuk pintu tapi selalu ia urungkan.


"Masuk saja, Sa." ucap mamanya lembut yang baru saja selesai melipat mukenah.


Clarissa menatap mamanya yang tersenyum padanya, ia menghirup napas panjang sebelum akhirnya mengetuk pintu kamar Bella dan membukanya perlahan. Seperti biasa kamar Bella sangat gelap. Bahkan Bella sengaja mematikan lampu tidurnya. Dengan biasan cahaya lampu dari ruang tengah, Clarissa bisa melihat Bella di bawah selimutnya. Clarissa menutup pintu pelan. Sekarang kamar ini benar-benar gelap. Clarissa menghela napasnya, ia benci dengan keadaan gelap. Untungnya masih ada bias cahaya lampu dari halaman samping rumah mereka memalui ventilasi jendela kamar Bella. Meskipun tetap tidak berpengaruh banyak.


"Bella." panggil Clarissa pelan saat sudah sampai di samping tempat tidur Bella.


Bella mengubah posisinya dari terlentang menjadi membelakangi Clarissa. Clarissa hanya menatap punggung Bella yang sebagian tertutup selimutnya.


Clarissa memilih duduk di lantai bersandar pada tempat tidur Bella. Cukup lama ia terdiam, pikirannya kemana-mana. Mereka jarang bertengkar seperti ini. Jadi, rasanya sangat aneh dan canggung untuk berbaikan.


"Bella, saat kamu masih kelas satu. Kamu ingat saat mbak nangis di depan bapak sama mama?" tak ada jawaban dari Bella tapi Clarissa tahu Bella mendengarkannya.


"Kamu masih ingat apa yang terjadi? Saat itu dengan pikiran mbak yang masih kekanak-kanakan dan rasa cemburu, mbak berharap kamu tidak pernah lahir." Clarissa mengingat kejadian saat itu, semua memorinya tentang kejadian saat itu terputar kembali dengan sangat jelas.


"Mbak ingat bagaimana bapak yang dulu masih sulit mengendalikan tempramennya meneteskan air matanya dan memeluk mbak sangat erat. Mbak masih ingat bapak yang meminta maaf. Awalnya mbak selalu berpikir bapak nggak sayang sama mbak. Tapi, hari itu mbak sadar bapak hanya tidak terbiasa menunjukkan kasih sayangnya." Senyum mengembang di wajah Clarissa namun tanpa ia sadari matanya mulai berkaca-kaca.


"Mbak tahu kamu punya niat baik tadi malam. Mbak juga tahu kamu menyukai Mukti dan ingin mbak bisa bersama dengan dia. Tapi, mbak masih butuh waktu. Bukannya mbak tidak merasakan apapun terhadap Mukti. Tapi, mbak hanya ingin memberikan waktu pada kisah mbak dan juga Indra." Clarissa memeluk kedua kakinya, ia meletakkan wajahnya di atas dengkulnya.


Tiba-tiba Bella memeluk Clarissa dari belakang lalu terdengar isak tangis yang tertahan dari Bella. Clarissa menepuk-nepuk lembut lengan Bella, menenangkan adiknya ini. Setelah tangisnya berhenti Bella melepaskan pelukannya pada Clarissa. Ia ikut duduk di samping Clarissa dengan mata yang masih basah dan sembab.


"Maafkan aku ya mbak." Ucap Bella pelan, ia tertunduk. Clarissa menatap Bella lalu memeluk bahu Bella.


"Bukannya aku nggak suka kak Indra. Tapi, mendengar bagaimana ia membentak mbak, membuatku marah. Aku tahu mas Mukti bisa membantu mbak jadi lebih baik. Tapi, sepertinya aku tidak mempertimbangkan perasaan mbak." Bella menatap mata Clarissa yang juga menatapnya lembut.


Clarissa menyalakan lampu tidur Bella, lalu kembali melihat Bella yang menatapnya nanar. Clarissa tersenyum dan kembali memeluk Bella.


"Mbak nggak bisa napas. Terlalu gelap." canda Clarissa membuat Bella memukul lengan Clarissa gemas "Mbak juga minta maaf ya." Bella mengangguk dan senyum sudah berkembang di wajahnya.


Pintu kamar Bella terbuka, mamanya sudah berdiri di sana. Tersenyum lembut melihat kedua anak gadisnya. Clarissa dan Bella mengalihkan pandangannya pada mamanya yang sudah berjalan mendekat ke arah mereka.


"Sudah berbaikan?" tanya mamanya sudah berjongkok di depan kedua putrinya yang masih berpelukan.


"Mama kok tahu kami sedang bertengkar?" tanya Clarissa, karena saat mereka pulang semalam orang tuanya sudah berada di dalam kamar.


"Feeling, nak. Ayo, bantu mama di dapur. Bella rapikan tempat tidurmu dulu." mamanya sudah berdiri dan bersiap untuk melangkah keluar kamar.


Clarissa dan Bella bangun dari duduk mereka dan segera mengerjakan perintah mama mereka. Clarissa berlari kecil mengejar mamanya yang sudah lebih dulu ke dapur dan Bella merapikan tempat tidurnya.


"Terima kasih, ma." ucap Clarissa saat sampai di dapur, mamanya menatap Clarissa bingung.


"Untuk semuanya." Clarissa melangkah mendekati mamanya dan mengambil celemek yang sedang dipegang mamanya lalu mengenakannya. Mamanya hanya tersenyum saat melihat Clarissa yang mulai menuju wastafel untuk mencuci piring. Ia senang melihat kedua anak gadisnya sudah tumbuh semakin dewasa bahkan mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri sekarang.