
Sepanjang perjalanan pulang, Clarissa hanya diam. Matanya memandang keluar jendela padahal tak ada pemandangan yang dinikmatinya. Pikirannya dipenuhi ingatan tentang Sukma.
Helaan napas panjang lolos dari bibirnya yang tanpa sadar membuat teman-temannya yang satu mobil dengannya meliriknya.
"Kenapa, Sa? tumben biasanya kamu ikutan cerita. Kok sekarang diam gini? " Mbak Ana akhirnya menegur karena penasaran.
Clarissa memandang teman-temannya yang fokus menunggu jawabannya. Clarissa menunjukan senyumnya mencoba menunjukkan dia baik-baik saja.
"Hehe.. Nggak apa-apa mba. Cuma capek aja." Pandangan mata teman-temannya makin mengintimidasi seolah tidak percaya.
"Beneran mbak, aku kecapekan aja loh. Seharian harus ngurusin revisi laporannya peserta pelatihan. " Clarissa mencoba meyakinkan.
"Kalau ada apa-apa cerita aja, Sa." Mbak Indah menepuk punggung tangan Clarissa diikuti ucapan setuju yang lain.
"Siyaaap mbak! " Clarissa melakukan gerakan hormat dan tertawa. Teman-teman Clarissa pun ikut tertawa merasa lega kalau salah satu adik kecil mereka -karena Clarissa salah satu yang paling muda di kantor dan masih *ehem* jomblo- baik-baik saja.
Clarissa menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur setelah ia selesai mandi. Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Helaan napas kembali keluar dari bibirnya.
"Mbak! " Panggil Bella yang sudah berdiri didekat Clarissa membuat Clarissa terperanjat kaget.
"ya Allah Bella! kaget mbak. Ketok dulu kenapa? " Clarissa marah-marah bahkan jantungnya masih berdetak cukup kencang.
"Salahnya mbak Rissa sih. Sudah aku ketok loh tapi nggak jawab ya aku masuk tahunya lagi baring-baring sambil melamun" Bella sudah duduk di tempat tidur Clarissa.
"Mau ngapain kamu ke kamar mbak? " Clarissa menatap Bella curiga. Jarang-jarang Bella main ke kamarnya.
"Mbak, tapi mbak jangan marah yaa" Bella kini menggenggam tangan Clarissa yang masih berbaring di depannya. Clarissa makin curiga.
"Apa?!" Bella kini tersenyum.
" Mbak, hari sabtu ini Rico mau ke rumah." Clarissa mengernyitkan dahinya meraba kemana arah pembicaraan adiknya "Nah, katanya dia mau.. " senyum malu-malu muncul di wajah Bella
"Mau izin sama bapak dan mama gitu, mau lamar kamu" Clarissa kesal menunggu Bella berbicara. Ia sudah pada posisi duduk dengan tangannya masih di genggam Bella. Bella tersenyum lebar dan mengangguk "Ooh, ya udah kenapa mbak harus marah" Clarissa tersenyum lembut pada Bella. Kini Bella memasang wajah cemberut.
"Soalnya nanti pasti mbak jadi di omongin sama om dan tante lagi." deg! Clarissa terdiam, diantara saudara dan sepupunya dia termasuk yang paling tua dan belum menunjukkan tanda - tanda akan mengakhiri masa lajangnya. Sementara beberapa adik sepupunya sudah menikah atau sudah punya pacar.
Clarissa tertawa hambar mendengar kata-kata Bella. Melihat Clarissa tertawa, Bella mencubit lengan mbaknya itu.
"Aaww! Sakit dek! " Clarissa membalas memukul lengan Bella
"Lagi gini aja aku di panggil adek" Bella kesal
"Sudah, kamu nggak perlu mikirin mbak. Mbak juga sudah kebal. Selama bapak atau mama nggak ada yang ributin masalah itu ke mbak sekarang, yaa mbak sih santai aja" Clarissa berjalan menuju meja riasnya. Menggambil sisir dan menyisir rambutnya.
"Mbak, kak Sukma ada hubungin aku. Minta nomor mbak." Bella menatap Clarissa was-was takut dengan reaksi mbaknya
Clarissa masih menyisir rambutnya. Belum merespon kata-kata Bella. Sekarang dia tahu darimana Sukma dapat nomornya.
"Mbak" panggil Bella ragu. Clarissa kini menatapnya tanpa ekspresi. Bella tahu harusnya dia tidak membahas Sukma di depan Clarissa.
Bella menunduk. Merasa bersalah pada Clarissa. Melihat hal itu Clarissa berjalan dan menepuk pundak adiknya. Saat Bella menatapnya, Clarissa tersenyum lembut.
"Mbak, nggak apa-apa kok Bel" Bella berdiri dan memeluk Clarissa. Ia tahu ada luka lama yang terbuka kembali.
_Hari sabtu_
Clarissa sedang membantu mamanya menyusun beberapa kue di atas piring untuk menyambut keluarga Rico yang akan datang nanti malam. Sesekali Clarissa memakan kue yang akan disusunnya.
"Jangan di makan terus kuenya, Sa" Clarissa hanya tertawa saat tangannya dipukul lembut oleh mamanya.
"Enak ma. hehehe" Clarissa malah mengambil sepotong brownies kecil dan memasukkannya ke mulutnya.
"Rissa!! " tegur mamanya lagi yang justru mendapat tawa dari Clarissa.
Karena masing-masing keluarga inti tidak ingin membuat acara lamaran yang besar. Jadi diputuskan hanya temu keluarga inti saja malam ini. Hal ini membuat lega Clarissa, ia sudah bisa membayangkan kalau om dan tantenya juga ikut andil. Dia tak akan bisa bernapas dengan tenang. Karena harus siap mental dan pikiran untuk menjawab serta menghadapi pertanyaan dan cibiran dari om dan tantenya. Oh, jangan lupakan sepupu-sepupu yang rese pun banyak.
Kadang Clarissa suka bingung apakah hidupnya yang masih melajang hingga usia 26 tahun ini adalah aib di keluarga besarnya. Padahal menurutnya dia masih sangat muda.
Senyum Bella dan Rico tak bisa disembunyikan. Mereka terlihat sangat bahagia terutama Rico yang terlihat lebih lega daripada saat dia baru datang tadi. Setelah mendapat jawaban bahwa lamaran diterima, Rico baru bisa tersenyum.
Clarissa membantu mengambil foto Bella dan Rico yang sibuk memamerkan cincin yang mereka pakai. Entah berapa foto yang sudah di ambil Clarissa. Meskipun lelah ia hanya mengiyakan apa yang di minta adik semata wayangnya ini. Karena ini adalah hari bahagia Bella.
"Aku mau lihat, mbak!" Bella berlari kecil ke arah Clarissa dan melihat hasil foto yang di ambil Clarissa dengan antusias "Aaahh.. mbak Rissa memang paling jago kalau urusan ngambil foto. Bagus semua!" Bella menggeser-geser hasil foto lalu menunjukkan pada Rico.
"Assalamu'alaikum" suara seorang pria dari depan pintu.
Clarissa tampak terkejut melihat seseorang yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Bella yang melihat langsung menggandeng tangan Clarissa.
"Mbak" Bella berbicara pelan di samping Clarissa.
"Wa'alaikumussalam, ya Allah nak Mukti. Masuk, masuk" Suara ramah mamanya membuat Clarissa tersadar. Pria itu, Mukti, sudah berjalan masuk menyalami orang tuanya dan juga orang tua Rico. Lalu berjalan ke arah Clarissa berdiri dengan senyum khasnya.
"Eh, Bro. Selamat yaa" Mukti menyalami dan memeluk Rico, sahabatnya.
"Makasih, Bro. Baru nyampe ya? " Rico menepuk lengan Mukti, senang karena sahabatnya ini datang.
"Hehehe, iya. Baru sore tadi." mata Mukti menatap Clarissa yang hanya membisu melihat kedatangannya "Selamat yaa Bella." Kini Mukti berjalan ke arah Clarissa dan Bella.
"Hehee, Makasih mas. " Bella melepas gandengan tangannya pada Clarissa lalu berjalan mendatangi Rico.
"Lama nggak ketemu ya, Sa. Apa kabar? " Mukti telah berdiri dihadapan Clarissa yang masih terdiam menatapnya.
"Iya, Aku baik. Kamu apa kabar? " setelah Clarissa berhasil menguasai dirinya akhirnya dengan senyum cerah ia bisa menjawab pertanyaan Mukti. Melihat hal itu membuat Mukti juga tersenyum.
"Baik, Sa. Rindu nggak sama aku?" Clarissa terbatuk mendengar kata-kata Mukti.
'kamu gila ya?! ' makinya dalam hati. Mukti kini tertawa melihat reaksi Clarissa. Dia selalu senang membuat wanita di hadapannya ini kehabisan kata-kata.