
Setahun lebih Clarissa menyimpan perasaan kepada Dikta. Ia tak ingin merusak hubungan pertemanannya dengan Dikta. Meskipun mereka tidak berteman akrab. Tapi, sesekali mereka akan berkumpul bersama tentunya dengan teman-teman sekelas mereka dulu. Clarissa tidak ingin membuat hubungan mereka menjadi canggung terlebih lagi Clarissa tahu siapa-siapa saja wanita yang sedang di dekati Dikta.
Seperti saat Anton yang bekerja diluar kota mengambil cuti dan pulang kampung. Mereka akhirnya membuat janji untuk kumpul-kumpul.
Clarissa sudah duduk diruang tamunya dengan pakaian rapi. Ia menunggu Riana yang akan menjemputnya.
"Mbak, rapi banget?" Bella sudah berdiri bersandar di pintu penghubung ruang tamu dan ruang tengah.
"Kenapa?" tanya Clarissa tidak melepaskan pandangannya dari layar Hpnya.
"Mau kemana?" Bella sudah duduk di samping Clarissa sesekali melirik layar Hp Clarissa.
Clarissa menyadari apa yang di lakukan Bella. Ia langsung menaruh Hpnya di sampingnya dan menatap Bella yang sudah tersenyum polos menatapnya.
"Mau ke cafe Elise." Bella menganggukkan kepalanya, mengerti.
"Ada temennya mbak dong. Kak Dikta?" Clarissa menatap tajam Bella yang tersenyum mencurigakan.
"Bel, mbak nggak ada hubungan apa-apa sama Dikta. Kamu tahukan dia lagi pdkt sama.." Clarissa mencoba mengingat nama wanita yang sedang dekat dengan Dikta saat ini "Oh.. Elsa." lanjut Clarissa saat berhasil mengingat nama wanita yang ia maksud.
"Iya, mbak. Aku tahu. Tapi, mbak nggak pernah nyoba buat bilang kan?" Bella menatap Clarissa, menunggu jawaban dari Clarissa yang sudah menghindari tatapannya.
Tidak lama terlihat Riana yang sudah sudah sampai di depan rumah Clarissa. Clarissa langsung berdiri dan pamit kepada kedua orang tuanya yang sedang di ruang tengah. Setelah pamit dengan orang tuanya, Clarissa hanya berlalu melewati Bella yang menatapnya sinis karena tak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
"Hallo, Bella!" sapa Riana, Clarissa langsung menengok ke belakangnya dan Bella sudah berdiri di depan pintu rumahnya tersenyum ke arah Riana.
"Hallo, mbak Riana~" jawab Bella ceria seperti biasanya.
Clarissa meminta Riana segera mengendarai motornya dan Riana langsung mengikuti permintaan Clarissa tanpa bertanya. Diperjalanan menuju cafe Clarissa tidak banyak bicara, ia hanya mendengarkan Riana yang bercerita.
"Rissa, tumben kamu diam saja?" tanya Riana saat mereka sudah sampai di cafe Elise.
"Belum ada yang datang, Na?" Clarissa tidak menjawab pertanyaan Riana.
"Anton paling bentar lagi, Sa." Riana menatap curiga pada Clarissa yang menghindari pertanyaannya " Rissa!!" Riana menarik Clarissa yang hampir terjatuh karena tidak lantai yang tidak rata di depannya.
Clarissa tampak terkejut dan mengikuti langkah Riana yang berjalan di depannya. Begitu sampai di meja yang kosong. Clarissa masih terlihat terkejut, seandainya Riana tidak menariknya tadi ia pasti sudah terjatuh dan malu.
"Kamu kenapa sih, Sa?" tanya Riana lagi.
"Aku nggak apa-apa, Na." jawab Clarissa.
"Bohong. Cerita saja, Sa. Kamu kenapa?" Clarissa menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia masih tidak menjawab.
Hingga Anton dan Tian tiba bersamaan dan langsung duduk bersama mereka. Setelah saling bertanya kabar Tian memanggil pelayan cafe dan meminta daftar menu. Setelah menyebutkan pesanan mereka masing-masing. Mereka kembali berbincang hingga Dikta akhirnya datang.
"Langsung pesan saja, Ta. Biar datangnya nggak lama dari pesanan kita." ucap Riana, Dikta langsung menuju meja kasir dan meminta daftar menu dan memesan lalu kembali ke bergabung dengan teman-temannya.
"Alhamdulillah, baik Ta. Kamu apa kabar?" ucap Anton.
"Baik juga. Katanya mau nikah?" goda Dikta pada Anton yang membuat Anton tertawa malu.
"Iya nih, Anton. Tahu-tahu sudah upload foto tunangan." sambung Riana yang ikut menggoda.
"Kamu kan sudah tahu, Na." Anton menjawab malu-malu membuat teman-temannya tertawa "Doakan ya" lanjut Anton
"Dikta, gimana Elsa?" goda Tian dengan senyum jahilnya, Clarissa yang mendengar pertanyaan Tian langsung menatap Dikta menunggu jawaban.
"Yah, gitu-gitu aja. Belum ada peningkatan. Anaknya jauh juga, lagi kuliah. Jadi, aku agak ragu untuk maju." ucap Dikta, Clarissa bisa melihat wajah Dikta yang terlihat sedikit kecewa.
"Kenapa ragu?" tanya Clarissa tiba-tiba.
"Karena dia masih kuliah. Sementara kalian tahukan usia kita ini mencari yang mau serius." tiba-tiba kaki Clarissa di senggol Riana membuat Clarissa langsung menatap Riana yang bersikap seolah-olah tidak melakukan apapun.
"Sudah kamu tanya dia maunya jalanin hubungan seperti apa sama kamu?" tanya Clarissa lagi. Riana langsung mengalihkan pandangannya kepada Clarissa dengan tatapan tidak percaya mendengar apa yang di katakan Clarissa pada Dikta.
"Belum sih. Apa aku harus tanya ya?" Dikta terlihat antusias berbicara dengan Clarissa.
"Tergantung. Kalau kamu memang punya niat serius sama dia ya kamu harus tanya supaya kamu tahu harus gimana." saran Clarissa. Dikta mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan senyum terlihat menghiasi wajahnya.
Dalam perjalanan pulang Riana hanya diam tidak seperti biasanya. Clarissa tidak terlalu mempermasalahkannya. Hingga mereka sampai didepan rumah Clarissa.
"Rissa, aku pikir kami serius suka sama Dikta?" ucap Riana saat Clarissa baru turun dari motornya.
"Aku serius, Na." jawab Clarissa penuh keyakinan. Riana terlihat mengernyit.
"Terus tadi kamu ngapain? Ngasih saran ke Dikta seperti itu?" Riana mematikan mesin motornya.
"Refleks." Clarissa menjawab dengan hati-hati.
"Rissa!!!!" Riana terdengar frustasi dengan sikap Clarissa.
"Na, aku juga nggak paham. Tapi, aku merasa aku harus melakukan itu. Aku tahu itu bodoh. Kamu tahu setiap aku sholat dan berdoa tentang Dikta, aku selalu nangis, Na. Aku merasa insecure." kini Riana menatap Clarissa sedih "Jangan lihat aku seperti itu, Na." Clarissa mencoba tersenyum, meskipun terlihat canggung.
"Rissa, ingat ya. Kalau kamu perlu bantuan ku, aku bakal bantu kamu. Jadi, beritahu aku kapan pun." Riana bisa melihat tatapan sedih dimata Clarissa.
"Iya, Na. Pasti." Riana akhirnya pamit pada Clarissa lalu mengendarai motornya meninggalkan Clarissa yang masih berdiri di tempat yang sama hingga Riana menghilang dari mulut gang.
Clarissa langsung menjatuhkan dirinya di atas tempat tidurnya begitu masuk ke kamarnya. Matanya menatap langit-langit kamar. Ia merasa bodoh memberikan saran pada Dikta tadi. Semua kemungkinan yang bisa membuatnya patah hati muncul di otaknya. Ia lalu mengambil Hpnya dari dalam tasnya dan langsung membuka aplikasi instagram.
Ia langsung mengetikkan nama akun instagram milik Elsa. Untungnya instagram milik Elsa tidak pernah di private karena bisa di bilang ia seorang selebgram. Clarissa langsung melihat foto-foto terbaru yang di post Elsa di feed instagram miliknya. Seperti biasa Clarissa membuka komentar dan mencari nama Dikta di sana. Hal bodoh yang selalu ia lakukan karena ia selalu menangis setelahnya karena cemburu dari Cinta sepihaknya.