YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Berbaikan



Mukti sengaja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tidak ingin terlalu terburu-buru mengingat kondisi jalanan yang berkelok dan lumayan sempit. Bahkan ada beberapa bagian jalan yang berlubang. Selain itu, ada Clarissa yang ikut dengannya. Ia tak ingin membuat Clarissa berakhir dengan mabuk darat.


Sesekali Mukti melirik Clarissa yang sudah terlihat memejamkan matanya. Suasana terasa sangat hening, hanya suara-suara kendaraan yang berpapasan atau mendahului mereka yang terdengar. Saat ia memastikan Clarissa sudah tertidur di sampingnya, Mukti memilih berkonsentrasi pada jalanan.


Sudah hampir satu setengah jam mereka berkendara, Mukti melihat jam tangannya sudah menunjukan jam setengah sebelas. Akhirnya, ia memilih berhenti disalah satu rest area tepat di seberang pom bensin. Salah satu rumah makan yang terkenal untuk singgah beristirahat bagi mereka yang sedang bepergian.


Mukti melepaskan seat belt yang dikenakannya. Ia melihat Clarissa yang tertidur pulas, senyum muncul disudut bibirnya. Mukti meletakkan kepalanya di atas tangannya yang terlipat di kemudi mobilnya. Ia memilih memandangi sejenak wajah Clarissa yang tertidur sebelum ia membangunkan Clarissa. Wajah Clarissa yang sedang tertidur terlihat sangat menggemaskan di mata Mukti. Tidak sampai lima menit, Mukti memalingkan pandangannya. Ini bukan situasi yang baik pikirnya. Jantungnya berdetak cukup kencang. Ia bahkan memilih turun dari mobil, menghirup udara segar diluar.


"Rissa.." panggil Mukti untuk membangunkan Clarissa, tapi Clarissa masih tampak tertidur pulas.


Akhirnya Mukti memberanikan diri menyentuh bahu Clarissa dan mengguncangnya pelan untuk membangunkan Clarissa. Usahanya kali ini berhasil, Clarissa mulai membuka matanya perlahan. Beberapa kali ia bahkan harus mengerjapkan matanya, beradaptasi dengan cahaya diluar sana. Masih dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, wajahnya tampak bingung. Mencari tahu dimana ia sekarang.


"Kita istirahat dulu. Makan." Mukti sudah turun dari mobil. Clarissa membuka seat belt yang dikenakannya lalu turun dari mobil mengikuti Mukti yang sudah berjalan lebih dulu.


Setelah memesan makanan, mereka memilih menuju salah satu saung bambu. Mukti langsung meregangkan tubuhnya setelah duduk meluruskan kakinya. Clarissa memilih duduk di tepi saung bambu. Mencoba mengembalikan kesadarannya. Ia tidak menyangka jika ia akan benar-benar tertidur pulas.


Mukti ikut duduk di samping Clarissa. Mengikuti arah pandangan mata Clarissa yang menatap satu keluarga yang sedang asyik makan dan bercerita. Cukup lama mereka saling diam, tak ada yang berniat memulai pembicaraan. Hanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Maaf. Jika aku keterlaluan." Mukti menatap Clarissa yang tiba-tiba meminta maaf. Clarissa masih melihat ke arah yang sama.


"Aku tahu. Aku yang kurang tegas padamu." lanjut Clarissa masih tidak menatap Mukti.


Mukti bahkan sampai mengernyit, ia takut Clarissa sedang mengigau sekarang. Karena, tiba-tiba Clarissa membahas hal yang sensitif untuknya. Ia tahu arah pembicaraan Clarissa, ia bahkan sengaja tidak ingin membahasnya sepanjang perjalanan ini.


"Kamu tidak sedang mengigaukan, Sa?" tanya Mukti hati-hati.


Clarissa hanya menggelengkan kepalanya. Ia sudah sangat sadar sekarang. Entah kenapa ia ingin membahas hal ini sekarang. Mungkin karena suasana yang terasa damai dan tenang saat ini.


"Aku hanya ingin minta maaf." Clarissa mengubah posisi duduknya menghadap Mukti. Ia bahkan sudah duduk bersila.


"Kamu pantas marah, Sa. Aku juga tidak tahu diri, tetap mendekatimu padahal kamu masih bersama Indra." Mukti menatap Clarissa lembut, ada rasa bersalah di sana dan Clarissa bisa menangkapnya.


"Hmm, kamu benar." jawab Clarissa tegas, membuat Mukti tak percaya dengan reaksi jujur Clarissa. Mukti akhirnya hanya bisa tertawa kecil, merasa kalah dengan jawaban Clarissa.


"Kamu sudah memaafkan ku?" tanya Mukti, memastikan.


"Aku memaafkan mu." Clarissa tersenyum lembut, membuat jantung Mukti kembali berdetak kencang.


Ia membuang mukanya dan memaki pelan. Tapi ternyata Clarissa bisa mendengar makian Mukti.


"Bukan, Sa. Aduh, gimana ya?" Mukti mengacak rambutnya sendiri, tampak frustasi. Ia tidak bisa menjelaskan pada Clarissa kalau jantungnya berdetak kencang akibat melihat senyuman lembut dari Clarissa.


Pelayan akhirnya datang mengantarkan makanan yang mereka pesan. Clarissa menganggukkan kepalanya lalu mengucapkan terima kasih setelah semua makanan sudah tertata rapi di atas meja. Pelayan berpamitan pada Clarissa dan Mukti dan pergi kembali ke dapur untuk mengantarkan pesanan pengunjung yang lain.


Mereka berdua kembali membisu. Memilih menikmati makanan yang sudah tersaji di depan mereka. Mengisi energi mereka kembali sebelum melanjutkan perjalanan yang masih tersisa satu setengah jam lagi.


Mukti bersikeras membayarkan makanan mereka, bahkan mereka harus berdebat kecil di depan kasir. Hingga akhirnya Clarissa menyerah, karena melihat tatapan penjaga kasir yang sepertinya salah paham dengan hubungan mereka berdua. Mukti tersenyum menang, saat Clarissa akhirnya memilih menyerah dan membiarkannya membayar.


"Pokoknya aku bakal ganti nanti." tegas Clarissa saat mereka sudah di dalan mobil.


"Berarti kamu mau keluar lagi bareng aku." Mukti tersenyum jahil, mengartikan sesukanya perkataan Clarissa.


Clarissa tampak terkejut mendengar kata-kata Mukti yang seenaknya saja mengartikan perkataan barusan.


"Bukan begitu. Maksudku nanti aku ganti uangnya." Clarissa memperjelas maksud ucapannya tadi.


"Iya, aku tahu. Berarti kamu mau kita makan bareng lagi nanti." Mukti sudah memacu mobilnya kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Clarissa hanya bisa menghela napas kasar. Ia menyerah berdebat dengan Mukti. Ia kembali ingin memakai earphone di telinganya tapi belum sempat tangannya terangkat Mukti sudah menegang tangan Clarissa menghalanginya memakai earphone.


Clarissa menatap Mukti kesal. Tidak tahu apa lagi yang di inginkan pria di sampingnya ini. Mata Mukti masih fokus melihat jalanan di depannya tapi satu tangannya masih menahan tangan Clarissa yang ingin memakai earphone.


"Kenapa?!" ucap Clarissa ketus.


"Ayo kita mengobrol." Clarissa masih menatap Mukti kesal "Cerita apa saja yang ingin kamu ceritakan. Aku bosan. Padahal aku tidak sendirian." lanjut Mukti sudah melepaskan tangan Clarissa yang ia tahan.


Clarissa mengulum bibirnya, merasa bersalah karena mengabaikan Mukti sebelumnya bahkan sampai tertidur pulas.


"Tidak ada yang ingin ku ceritakan." ucap Clarissa pelan bahkan ia membuang pandangannya ke arah lain.


"Kalau gitu aku yang cerita." Mukti melihat Clarissa sekilas dan senyum muncul di wajahnya saat melihat Clarissa yang sengaja tak melihatnya.


Akhirnya Clarissa memilih menjadi pendengar. Mukti benar-benar bercerita hampir di sepanjang jalan pulang mereka. Ia bercerita dari soal ujian di jurusannya sampai teman-temannya yang bahkan Clarissa tidak kenal.


'Apa dia memang secerewet ini? ' pikir Clarissa masih mendengarkan semua cerita Mukti yang entah kapan selesainya