YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Cerita Tentang Mukti (1)



Parkiran motor seperti biasanya terlihat penuh sesak oleh motor-motor mahasiswa dan mahasiswi. Clarissa baru saja turun dari motornya setelah berhasil menemukan tempat parkir yang kosong.


Minggu kedua dia belajar sebagai mahasiswi jurusan pendidikan biologi disalah satu universitas negeri terbaik didaerahnya. Berjalan sendirian menuju kelasnya membuatnya bisa fokus mengamati aktivitas mahasiswa dan mahasiswi yang sedang berlalu lalang ataupun sedang duduk di gazebo taman fakultasnya entah hanya sedang duduk bercerita atau mengerjakan tugas.


"Rissa!" tepukan dipundaknya membuatnya berhenti dan melihat kearah asal suara. Nurul dan Rena yang juga baru sampai sudah berdiri dengan senyum ceria mereka di belakang Clarissa.


"Eh, Nurul, Rena. Baru nyampe juga? " sekarang mereka sudah jalan beriringan. Nurul mengaitkan tangannya pada Clarissa.


"Iya, mbak Ris" jawab Nurul ramah.


Nurul dan Rena adalah orang pertama yang menegur Clarissa saat hari pertama masuk. Nurul adalah gadis yang sangat ceria dan polos sedangkan Rena lebih terlihat jutek diawal perkenalan mereka tapi ternyata orangnya cukup ceria meskipun kalau sudah bicara sangat blak-blakan.


"Jangan panggil pake mbak dong, Rul. Kesannya aku tua. padahal kita cuma beda sebulan loh" Clarissa mencubit gemas lengan Nurul yang menggandeng tangannya.


"Hehehee, kebiasaan mbak. Nggak apa-apa ya? panggilan sayang." Nurul malah makin menggeliat manja pada Clarissa membuat Clarissa akhirnya menyerah.


"Ayo cepat jalannya! Nanti bu Linda keburu datang." Rena sudah berjalan lebih dulu di depan Clarissa dan Nurul. Membuat kedua gadis itu berlari kecil mengejar Rena yang sudah meninggalkan mereka lebih dulu.


Begitu bu Linda mengakhiri kelasnya dan keluar dari ruangan. Suara sunyi berganti dengan suara riuh yang mengisi satu ruangan. Clarissa memasukkan alat tulisnya kedalam tas ranselnya.


"Nanti kelas Bahasa inggris diruang 003 yaa teman-teman" Ketua tingkat berteriak ditengah keriuhan dan kesibukkan teman-teman sekelasnya.


"Mau makan dimana?" Anggi sudah duduk di bangku depan Clarissa.


"Iya, mau makan dimana?" Nurul ikutan bertanya.


"Di warung Jogja aja gimana?" Clarissa memberi saran. Disambut anggukan yang lain.


"Sa, kamu ikut aku aja. Nanti kita balik kampus lagi juga kan." Rena menawarkan yang dijawab dengan acungan jempol dari Clarissa yang sudah memakai tas ranselnya.


Clarissa berjalan tepat dibelakang Rena menuju tempat motornya terparkir. Saat akan sampai tempat Rena memarkir motornya mata Clarissa menangkap sosok yang ia kenal. Teman masa kecilnya. Seorang pria berjalan kearahnya bersama teman-temannya sedang asyik berbincang.


'Loh itukan Mukti. Kuliah disini juga.' Clarissa mencoba memastikan yang ia lihat memang orang yang ia kenal saat mereka berpapasan. Benar saja ternyata pria yang dilihatnya itu adalah Mukti teman kecilnya, teman sekelasnya saat masih di TK dulu. Karena Mukti hanya berlalu melewatinya, Clarissa berpikir mungkin Mukti sudah tidak ingat lagi padanya. Jadi, Clarissa memutuskan tidak menyapa. Lagipula Mukti juga sedang berjalan dengan teman-temannya.


Clarissa sudah akan naik di boncengan Rena. Sampai suara seseorang memanggilnya. Membuat Rena yang tadinya sudah mau jalan mengurungkan niatnya.


"Ada yang manggil kamu ya, Sa? " tanya Rena pada Clarissa.


"Eh, emang iya? " Clarissa mencoba mencari orang yang memanggilnya.


"Clarissa!!" suara seorang pria makin dekat. Clarissa terkejut saat menangkap sosok yang memanggilnya.


"Mukti" Clarissa turun dari boncengan Rena. Rena melihat pria yang berjalan ke arah mereka.


"Eh, maaf mau jalan yaa? aku mau pastiin aja kalau ini memang kamu, Sa" Mukti sudah berdiri didepan Clarissa yang terlihat tersenyum ramah juga pada Rena.


"Aku kira kamu lupa sama aku. Makanya nggak aku tegur" Clarissa tertawa kaku merasa canggung. Terakhir mereka bertemu saat masih SMP itu pun hanya beberapa kali.


"Minta nomor Hp mu kalau gitu, Sa. Bolehkan?" Mukti sudah menyerahkan Hpnya pada Clarissa. Mendapati Mukti yang sudah menyerahkan Hp padanya membuat Clarissa mengetikkan nomor Hpnya.


'Aduh, Rena pasti sudah lapar ini.' Clarissa merasa bersalah pada Rena.


Begitu tiba di warung Jogja, Anggi dan Nurul sudah menunggu mereka. Sudah tersedia es teh di atas meja mereka.


"Maaf yaa, tadi ada kenalanku ngajak ngobrol dulu" Clarissa merasa tidak enak pada Anggi dan Nurul apalagi pada Rena yang juga harus ikut terlambat.


"Nggak apa-apa mbak. Sudah kami pesankan. Yang kayak biasa kan? " Nurul menjawab ramah, Anggi juga mengangguk sambil menyedot es tehnya.


"Iya, Rul. Yang kayak biasa aja." Mata Clarissa menatap Rena yang sudah kembali ceria.


'pasti Rena sudah kelaparan. Untung Nurul dan Anggi sudah pesankan.' Clarissa merasa lega. Tidak lama makanan yang mereka pesan sudah datang. Tanpa menunggu lama mereka langsung menyantap makanan dihadapan mereka menyiapkan energi untuk kelas berikutnya.


"Ketemu siapa tadi, Sa? " Anggi memulai pembicaraan setelah mereka selesai makan.


"Teman waktu kecil, Nggi." Clarissa menjawab sekenanya karena menurutnya tidak ada yang istimewa.


"Cowokkah mbak? " Nurul antusias, matanya berbinar menunggu jawaban Clarissa.


"Iya, cowok" Rena yang menjawab setelah menghabiskan minumannya. Nada suaranya sedikit kesal.


"Kenapa kamu, Ren? " Tanya Anggi penasaran dengan jawaban Rena yang terdengar kesal.


"Rissa" Rena tidak menjawab pertanyaan Anggi matanya menatap Clarissa penuh selidik. Clarissa hanya mengangguk menjawab panggilan Rena.


"Hati-hati sama itu cowok!" Rena memperingatkan. Membuat semuanya bingung kenapa Rena berkata seperti itu.


"Ah, kenapa Ren? " Clarissa tidak mengerti kenapa Rena tiba-tiba memperingatkannya. Yang lain juga ikut menunggu jawaban Rena.


"Playboy kelihatannya." suara gelak tawa pecah dari Nurul dan Anggi sementara Rena hanya mengernyitkan dahinya melihat Nurul dan Anggi tertawa dengan pernyataannya "Kalian nggak lihat orangnya sih. Kalau kalian lihat pasti sama pendapatnya denganku." Rena terlihat kesal.


Clarissa pindah duduk di sebelah Rena lalu memeluk lengan Rena manja.


"Aahh, senangnya di perantauan ada yang perhatian" Clarissa meletakkan kepalanya di pundak Rena " Sekarang aku panggil Rena mamak" Clarissa berbicara dengan sangat ceria


"Iih, apaan sih Sa?" protes Rena namun dia hanya membiarkan Clarissa menggeliat manja di lengannya.


"Aku juga mau panggil Rena, mamak" Nurul ikut memeluk lengan Rena yang satunya


"Nggak, cukup Rissa aja. Kamu nggak usah ikut-ikutan" Rena protes tidak terima. Tawa kini kembali diantara mereka.


Ting.


Suara pesan masuk ke Hp Clarissa. Clarissa membuka pesan tersebut ternyata dari nomor baru.


*Rissa, ini mukti. Di simpan ya nomorku hehe*


'Kurasa Rena benar. Dia seorang playboy' Clarissa hanya menatap layar Hpnya. Ia tidak berniat merespon pesan dari Mukti. Clarissa tidak ingin terlibat dengan seseorang yang terlihat hanya suka bermain-main dengan wanita. Ditambah saat ini dia sudah memiliki pacar, Indra. Dia tidak ingin membuat masalah. Baginya Indra adalah pria yang baik jadi ia harus menjaga perasaan pacarnya. Tekadnya bulat untuk tidak terlibat dengan Mukti lebih dari ini.