YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Awal Mula Patah Hati



Sepertinya semesta memang belum merestui keinginan Clarissa. Sejak pembicaraan terakhir kali tentang rencananya untuk pergi berdua dengan Dikta selalu saja ada hal yang membuat rencana mereka gagal. Mulai dari jadwal mengajar Clarissa yang tidak pernah bersahabat atau jadwal Dikta yang tiba-tiba ada rapat atau dinas ke luar kota. Tapi, positifnya mereka jadi sering saling berkirim pesan via instagram. Clarissa sendiri juga tidak mengerti kenapa mereka sampai detik ini tidak saling menanyakan nomor Hp untuk berkomunikasi via whatsapp.


Meskipun komunikasi antara Clarissa dan Dikta cukup intens namun tetap saja Clarissa masih mengecek akun instagram milik Elsa. Tidak jarang Clarissa melihat komen dari Dikta atau saling menandai di instastory. Tentunya hal itu membuat Clarissa berakhir cemburu dan insecure.


"Sudahlah, mbak. Jangan dicek terus!" protes Bella saat memergoki Clarissa yang tengah melihat akun instagram Elsa.


"Maunya gitu, Bel. Tapi, tanpa sadar sudah ngeliat aja akunnya." ucap Clarissa dengan wajah cemberut, ia menarik bantal dan menaruh kepalanya di sana menatap langit-langit kamarnya.


"Tapi, mbak masih sering komunikasi sama kak Dikta kan?" tanya Bella yang sudah ikut berbaring di samping Clarissa.


"Jarang. Terakhir.. " Clarissa mencoba mengingat "Semingguan yang lalu." ucap Clarissa lemas.


"Kenapa sih kalian nggak tukaran nomor Hp aja?" Bella menatap Clarissa yang menghela napas panjang di sampingnya.


"Nggak ngerti juga, Bel." Clarissa terdengar putus asa "Sepertinya memang nggak ada kesempatannya, Bel."


"Mbak, seminggu yang lalu? berarti pas ulang tahun mbak?" tanya Bella, Clarissa mengangguk.


"Cieee, di ucapin ulang tahun dong?" Bella terdengar antusias.


"Nggak. Dia malah nyuruh mbak semangat. Diakan nggak tahu mbak ulang tahun hari itu. Mbak cuma buat tulisan aja di instastory yang nggak ada hubungannya dengan mbak ulang tahun, itu yang dia komen." Clarissa kembali menghela napas panjang.


Bella hanya bisa memberikan pelukan pada Clarissa untuk menyemangati Clarissa. Berharap Clarissa tidak sedih lagi.


Setelah pembicaraannya dengan Bella tersebut, Bella tidak pernah lagi menyinggung tentang Dikta. Sampai pada suatu siang, ketika Clarissa sedang libur kerja. Clarissa sedang duduk di meja makan, menikmati bolu kukus yang di buat mamanya pagi tadi sambil sibuk memainkan Hpnya dan membuka beberapa sosial media yang ia punya secara bergantian. Melihat instastory yang di post teman-temannya sampai ia tiba-tiba berhenti mengunyah. Entah kenapa matanya menjadi panas dan air matanya mengalir.


Dilayar Hpnya tertera story milik Dikta yang sengaja di tahan oleh Clarissa. Foto seorang wanita yang tengah membelakangi sang fotografer memandangi pantai yang terlihat Indah dengan pantulan langit biru cerah. Jantung Clarissa berdetak berbeda dari biasanya. Detaknya entah kenapa membuat dada Clarissa sesak. Otaknya mencoba berpikir positif tapi entah kenapa tidak bisa. Ini bukan foto Elsa karena Elsa tidak memakai jilbab sementara wanita di foto ini menggunakan jilbab. Clarissa langsung meletakkan Hpnya di meja begitu ia keluar dari aplikasi instagram.


Saat Hpnya bergetar tanda ada pesan whatsapp masuk. Dengan berat Clarissa meraih Hpnya dan membuka chat dari Riana.


*Rissa, kamu sudah lihat storynya Dikta?* tanya Riana, cukup lama Clarissa hanya memandang layar Hpnya sampai ia akhirnya mulai membalas.


*Belum, Na. Kenapa? Ntar aku lihat.* balas Clarissa, berbohong.


*Rissa... * balas Riana, Clarissa mencoba menenangkan dirinya sebelum membalas chat dari Riana.


*Oh, aku sudah lihat. Aku baik-baik saja, Na :)* Clarissa kembali berbohong meskipun ia tahu Riana tidak bisa dibohongi.


Bukannya Clarissa tidak memikirkan kemungkinan itu, ia memikirnya tapi entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa itu bukan sepupunya. Kerena foto itu sepertinya sesuatu yang berarti bagi Dikta hingga ia mengunggahnya di story miliknya.


Setelah kejadian itu, benar saja sekitar seminggu Dikta kembali mengunggah instastory yang kembali membuat Clarissa parah hati. Kali ini firasat Clarissa makin kuat. Foto seorang wanita yang duduk berhadapan dengannya di cafe Daisy namun tidak memperlihatkan wajahnya secara jelas karena foto yang di unggah hanya sebatas badan, tangan dan sampai mulut. Bahkan wanita itu memperlihatkan senyumnya yang indah dan tangannya tengah memegang gelas berisi es krim.


Dada Clarissa benar-benar sesak, tiba-tiba ia merasa sulit bernapas. Tangisnya pecah, ia mencoba merendamnya dengan bantalnya. Clarissa tak ingin orang rumahnya mendengar tangisannya. Clarissa resmi patah hati, patah hati pertamanya.


Bahkan setelah itu berkali-kali Dikta mengunggah instastory tentang wanita yang sama namun tidak ada satupun yang memperlihatkan wajah wanita yang berhasil mencuri hatinya itu. Meskipun begitu beberapa kali Dikta masih mengirim pesan melalui DM instagram entah mengomentari apa yang diunggah Clarissa atau sekedar basa-basi biasa. Anehnya setiap kali Dikta mengirimnya DM, Clarissa selalu merasa bahagia sejenak ia lupa bahwa Dikta secara perlahan sudah mengumumkan bahwa ia tidak lagi sendiri.


"Mbak, mbak itu harus berhenti. Jangan dihiraukan lagi, mbak. Nanti mbak makin berharap." Bella terdengar kesal "Mbak yang akhirnya nyakitin diri sendiri kalau begini." Clarissa hanya menunduk, ia sadar ia sedang berjalan menuju jurang yang bahkan terlihat dengan jelas dengan tulisan yang amat besar.


"Sa, Bella benar. Aku tahu bakal susah. Tapi, setidaknya kalian kan belum ada hubungan apa-apa. Rissa yang ku kenal nggak seperti ini kalau berhubungan dengan laki-laki." ucap Riana terdengar khawatir.


Clarissa memandang Bella dan Riana bergantian. Ia tahu ia tampak bodoh saat ini. Bahkan Clarissa sendiri saja sudah lelah mengingatkan dirinya untuk berhenti. Bagaimanapun ia tahu akhirnya seperti apa. Tapi, entah kenapa ini lebih sulit dari yang ia bayangkan. Dulu ia tak pernah seperti ini saat menyukai seseorang ia seperti memiliki kontrol untuk dirinya sendiri agar tak tersakiti. Itu makanya ia tak pernah merasakan patah hati seperti saat ini. Bahkan menurutnya ini baru awal.


"Aku tahu. Aku juga capek nangis terus setiap habis sholat atau habis lihat storynya Dikta. Aku juga sudah sering mengingatkan diriku sendiri untuk berhenti. Tapi, entah kenapa sulit sekali." Bella dan Riana menatap Clarissa yang terlihat putus asa.


Mereka bertiga akhirnya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing suasana hening menyelimuti ketiganya. Riana dan Clarissa sibuk dengan Hpnya sedangkan Bella sibuk dengan novelnya. Hingga Riana yang sedang duduk dilantai sambil bersandar pada tempat tidur Clarissa merubah posisinya jadi duduk dengan tegak. Ia melihat Clarissa yang duduk di sampingnya membalas pesan whatsapp dari teman kantornya.


Riana memegang lengan Clarissa yang membuat Clarissa mengalihkan pandangannya pada Riana. Bella yang sedang berbaring di tempat tidur Clarissa dapat melihat tingkah aneh Riana, ia langsung melihat ke layar Hp Riana. Ia dengan cepat menutup mulutnya karena kaget dengan apa yang ia lihat.


"Apa? Kenapa?" Clarissa bertanya dengan bingung melihat ekspresi Riana dan Bella.


Riana memperlihatkan layar Hpnya pada Clarissa dengan hati-hati. Clarissa melihat apa yang ingin ditunjukkan Riana hingga membuat ekspresi terkejut di wajah Riana dan juga Bella. Instastory milik Dikta ada foto dirinya dengan seorang wanita duduk bersebelahan sedang makan di sebuah restoran ayam cepat saji. Kali ini Clarissa bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang selama ini sangat terkesan misterius di unggahan story milik Dikta.


Hal yang aneh terjadi, Clarissa tidak menangis ia tersenyum. Tapi hal ini justru membuat Riana dan Bella lebih khawatir.


"Oh!" kata yang keluar dari bibir Clarissa membuat Riana dan Bella saling berpandangan.


"Mbak, nggak apa-apa?" tanya Bella hati-hati.


"Apa sih, Bel? Mbak nggak apa-apa. Kan sudah sering mbak lihat dia post foto cewek ini. Cuma bedanya sekarang mukanya kelihatan jelas." Clarissa kembali chat whatsapp dari teman kantornya bahkan sesekali ia tertawa membaca chat dari teman kantornya.


Riana menatap Bella seolah bertanya apa Clarissa benar-benar baik-baik saja. Bella hanya mengangkat bahunya lalu menatap Clarissa lagi.


Setelah sholat isya, Clarissa memilih kembali ke kamarnya. Alasannya ia ingin tidur cepat. Kini ia sudah berada di atas tempat tidurnya dengan selimut menutupi hingga ke leher. Dadanya mulai sesak bahkan air mata sudah mengalir sangat deras dari matanya. Ia menangis tanpa suara. Saat melihat apa yang ditunjukkan Riana, Clarissa tidak berbohong saat menjawab pertanyaan Bella. Ia baik-baik saja saat itu. Tapi, entah kenapa setelah sholat isya tadi rasa sedih menyelimutinya. Ia ingin berhenti setidaknya begitu otaknya meminta tapi hatinya masih egois. Entah akan separah apa patah hati yang ia akan rasakan kedepannya. Clarissa hanya bisa memaksa hatinya untuk menyerah meskipun rasanya akan sia-sia.