
Dengan penuh perjuangan Clarissa menahan agar ia tak menangis. Bahkan ia sudah menepuk-nepuk dadanya pelan berharap sesak di sana bisa menghilang. Tapi, bentakan dari Indra membuatnya terasa makin sesak rasanya oksigen tak ada yang bisa masuk ke saluran nafas Clarissa. Di kepalanya saat ini terputar memori masa kecilnya. Saat ia masih kecil, dimana bapaknya masih kerja serabutan tak menentu sementara mamanya harus menjadi buruh cuci dan setrika ke rumah-rumah. Karena kondisi ekonomi yang serba kekurangan dan bapaknya yang saat itu masih suka menghamburkan uang di meja judi membuatnya sering mengalami kekerasan baik verbal maupun fisik dari bapaknya meskipun tidak parah tapi karena tempramen bapaknya yang buruk saat itu dan di pengaruhi kondisi ekonomi membuat kenangan yang buruk di bagian terdalam dari memori Clarissa. Kini memori itu rasanya kembali ke permukaan.
Clarissa mencoba menarik nafas dengan susah payah mencoba menjawab perkataan Indra yang masih terdengar emosi di seberang sana.
"Aku... be, benar-benar nggak ta.. hu maksud.. mu apa?" tangis Clarissa kembali pecah "In.. Indra.. jangan begini" dengan terbata-bata Clarissa mencoba berbicara di sela-sela tangisnya tapi sepertinya Indra yang sudah terlanjur di kuasai cemburu dan amarah sama sekali tak terpengaruh dengan isak tangis Clarissa.
"Aku minta kamu jauhi laki-laki itu, Sa!!! " teriak Indra dari seberang sana "Aku meminta hal yang mudah Sa! Dia tidak akan menyatakan perasaannya kalau kamu nggak memberi kesempatan!! " lanjut Indra masih penuh amarah
"Indra!!" akhirnya Clarissa tak bisa menahan dirinya lagi, ia bahkan tak peduli jika suaranya harus di dengar orang "cukup!! aku sudah menjauhinya. Dia yang tiba-tiba datang, dra. Aku bahkan mengabaikan semua pesannya. Aku.. aku.. " Clarissa meremas ujung bajunya mencoba mengendalikan dirinya lagi "Aku bahkan tak memberikan jawaban, dra" ucap Clarissa pelan namun masih dapat di dengar dengan jelas oleh Indra
"Kamu bahkan tidak menolaknya, Sa?! " ucap Indra ketus bahkan Clarissa bisa mendengar Indra mendengus kasar. Clarissa merasa ini adalah sindiran untuknya. Ia makin menunduk. Air matanya tak bisa berhenti mengalir. Ia ingin menyelamatkan hubungan saat ini tapi entah kenapa Indra rasanya tak peduli dengan hubungan mereka.
"Aku tahu, dra.Aku harusnya lebih tegas saat itu.." Clarissa kembali berusaha menarik nafas panjang, ia ingin mengambil oksigen sebanyak-banyaknya kedalam paru-parunya "maaf karena aku tak melakukannya. Tapi, aku benar-benar tak pernah memberi kesempatan padanya, dra" Clarissa berusaha berbicara dengan tenang. Ia tahu jika ia emosi maka semuanya akan selesai.
Ia sudah mengenal Indra kurang lebih enam tahun sejak mereka duduk di bangku SMP. Sekitar lima tahun lebih mereka dekat sebagai sahabat dan sekarang hampir setahun hubungan mereka sebagai kekasih. Ia tak ingin masalah ini membuat mereka merusak semuanya yang sudah mereka lewatkan.
"Bagaimana dengan boneka yang di berikan Mukti, Sa? sudah kamu kembalikan?! " nada bicara Indra sudah tidak setinggi tadi tapi masih tak ada keramahan dan kelembutan disana.
Deg!!
Clarissa mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Menatap boneka panda yang sekarang berada di samping tempat tidur Izria. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Ia takut Indra tak percaya padanya.
"Sepertinya belum, cih! " mata Clarissa membulat tak percaya apa yang di dengarnya keluar dari mulut Indra sekarang.
"Maaf, dra. Aku ingin mengembalikannya tap... " belum selesai Clarissa melanjutkan kalimatnya terdengar suara tawa mengejek dari Indra dan di akhiri dengusan tak suka dari Indra.
"Hebat kamu, Sa. Ini makanya orang-orang bilang LDR itu nggak pernah berjalan baik. Aku sedang pendidikan di sini, Sa. Setiap hari aku memikirkanmu. Tapi, kamu di sana seperti tak pernah memikirkan ku. Sepertinya kamu memang ingin mendua, Sa. Ah! atau kamu memang ingin menghancurkan hubungan kita, Sa!! " Dada Clarissa rasanya sedang dililit oleh tali tambang dan di tarik sekuat tenaga. Susah sekali rasanya ia bernafas. Air matanya keluar semakin deras. Sekarang ia benar-benar tak bisa menahan tangisnya lagi.
"Sekarang kamu menyalahkanku, Sa?! Kamu di sini yang merusak hubungan kita!!" bentak Indra tak terima disalahkan
"Iya, Indra. Kamu benar aku yang salah. Harusnya aku tegas dengan Mukti. Harusnya aku tidak pernah menyapanya. Aku tahu aku salah, dra. Aku tahu!! Aku yang jahat disini, dra. Aku!! " Clarissa memukul-mukul dadanya sendiri sekuat yang ia bisa. Ia sadar ia yang salah. Ia yang membawa hubungan mereka ke jurang kehancuran.
"Maaf, Indra. Maaf. Aku.." tangis Clarissa makin kencang, suaranya makin putus asa sekarang.
"Rissa" Indra juga terdengar lirih sekarang, terdengar bahwa Indra juga menahan tangisnya.
Emosi dan kecemburuan memang sangat menguasainya tadi tapi mendengar Clarissa menyalahkan dirinya dan meminta maaf membuat Indra juga merasa bersalah. Bukan maksudnya menyalahkan Clarissa.
"Aku.. sudah tidak bisa" ucap Clarissa di antara tangisannya
"Rissa, tolong. Bukan begitu maksudku. Aku.. aku benar-benar.. " Indra mulai frustasi ia bahkan mengacak rambutnya sendiri dengan kasar.
"Lebih baik kita fokus dengan diri kita masing-masing, dra. Aku tidak ingin menganggu konsentrasimu selama pendidikan. Aku tahu ayah dan ibumu sangat senang saat kamu di terima pendidikan polisi. Aku nggak mau gara-gara aku kamu gagal, dra" berat rasanya Clarissa mengatakan semua ini tapi ia merasa ini jalan terbaik baginya dan Indra.
"Rissa, bukan begini maksudku" Indra juga terdengar putus asa bahkan isak tangis juga terdengar darinya.
Mendengar Indra yang mulai terisak membuat hati Clarissa makin sakit. Tapi sayangnya keputusan sudah bulat. Ia memejamkan matanya membiarkan air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Indra, maaf. Aku sayang banget sama kamu. Tapi, aku nggak bisa melanjutkan hubungan kita ini. Aku merasa kita akan terus begini jika memaksakan bersama. Maaf, Indra. Mari kita putus. Semoga kamu bahagia, Indra. Aku sayang kamu, Indra" tanpa mendengar kata-kata Indra lagi Clarissa memutuskan panggilan telfon.
Sekarang ia hanya bisa mundur mencari dinding untuk menyandarkan punggungnya. Memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di sana. Menangis sekencang-kencangnya. Ia benar-benar merasa sakit saat ini. Bukan karena putus dari Indra tapi karena kebodohannya hingga menghancurkan hubungan dengan Indra.