
Rena baru saja memarkirkan mobilnya. Hari ini mereka ada rapat besar terakhir sebelum liburan semester ganjil untuk persiapan olimpiade biologi dua bulan lagi. Even tahunan terbesar yang di adakan jurusannya untuk siswa-siswi tingkat SMP dan SMA. Memang tidak untuk kapasitas tingkat nasional hanya sebatas tingkat provinsi karena ini baru tahun ketiga mereka. Tapi, bagi mereka ini sudah suatu kebanggaan.
Clarissa turun lebih dulu dari mobil. Dari lantai dua, tepat di depan kelas yang akan di jadikan tempat rapat mereka sudah ada Nurul yang melambaikan tangannya dengan semangat.
"Lihat!" Rena yang sudah berdiri di samping Clarissa menunjuk Nurul dengan mulutnya "Kalau tangannya bisa lepas pasti sudah lepas." ucap Rena saat melihat Nurul yang melambaikan tangan dengan sangat bersemangat sambil meneriakkan nama Clarissa dan Rena.
Clarissa hanya tersenyum melihat tingkah Nurul yang menurutnya menggemaskan. Mereka akhirnya berjalan bersama menuju tangga. Saat nama Clarissa di panggil oleh seseorang. Rena yang melihat lebih dulu siapa yang memanggil Clarissa hanya bisa memutar bola matanya, tidak suka. Clarissa ikut melihat ke arah datangnya suara dan langsung memasang wajah yang sama dengan Rena.
Mukti sedikit berlari menuju Clarissa yang sudah naik beberapa anak tangga. Rena menyuruh Clarissa untuk terus melangkah tapi akhirnya Clarissa menghentikan langkahnya. Ia meminta Rena duluan dan mengambilkan bangku untuknya. Dengan berat hati Rena menuruti permintaan Clarissa. Tapi, sepanjang menaiki anak tangga Rena beberapa kali melirik Clarissa dan Mukti yang sudah berdiri dihadapan Clarissa.
"Rissa, aku tahu kamu masih marah." Mukti langsung berbicara begitu sampai di hadapan Clarissa sementara Clarissa hanya memandang Mukti datar.
"Aku benar-benar minta maaf, Sa. Aku tahu secara tidak langsung, secara tidak sadar, aku ikut andil dalam hancurnya hubunganmu dengan Indra." Mukti terdengar mulai putus asa tapi ia tidak ingin menyerah.
"Aku ada rapat. Kurasa sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan." Clarissa berbalik kembali menaiki anak tangga.
"Clarissa! aku tidak akan berhenti sampai kamu memaafkan ku!" teriak Mukti namun Clarissa tidak menggubris, ia hanya mempercepat langkahnya menaiki anak tangga.
Mukti menatap nanar punggung Clarissa yang menaiki anak tangga. Tapi, ia sudah bertekad tidak akan menyerah. Ia tahu sifat Clarissa. Clarissa tidak akan membiarkannya memohon terlalu lama.
Rena menunggu Clarissa di depan ruang kelas. Terdengar suara riuh dari dalam kelas, sepertinya peserta rapat yang datang sudah cukup banyak. Clarissa mempercepat langkahnya dan ikut masuk ke dalam ruang kelas bersama Rena. Sudah ada Nurul dan Anggi yang menyiapkan bangku untuk mereka.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Rena setelah mereka duduk, Clarissa hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Rena.
Rena menepuk lembut punggung Clarissa. Memberikan semangat pada temannya ini. Tidak lama kemudian ketua panitia dan beberapa panitia inti masuk dan memulai rapat mereka.
Hampir dua jam rapat besar berlangsung. Pembahasan kali ini lebih berfokus pada divisi acara dan seputar pendaftaran peserta olimpiade serta divisi olimpiade yang menyiapkan soal-soal olimpiade nantinya. Setelah beberapa perdebatan alot akhirnya rapat di akhiri dengan cukup baik.
"Jadi kapan kalian pulang kampung?" tanya Anggi, diantara mereka berempat hanya Anggi yang bukan perantau.
"Aku besok, Ngi." Jawab Nurul terdengar bersemangat.
"Aku dua atau tiga hari lagi. Nunggu Feni selesai dengan beberapa urusan kuliahnya." Jawab Rena
"Aku juga kemungkinan besok siang." Clarissa terdengar tidak begitu antusias.
"Kok nggak semangat sih, mbak?" Nurul menyenggol pelan bahu Clarissa.
"Masih kepikiran soal Mukti, Sa?" tebak Rena
"Aku merasa keterlaluan sama Mukti. Apa aku maafkan dia saja ya?" ucap Clarissa pelan tapi masih bisa didengar Rena dan teman-temannya "Dia tidak sepenuhnya salah. Aku juga salah. Aku tidak bisa tegas padanya. Hubunganku sama Indra ya murni berakhir karena kesalahan ku." kini Clarissa terdengar lirih.
Rena dan teman-temannya hanya bisa menatap simpati pada Clarissa. Mereka juga tidak ingin terlalu ikut campur urusan Clarissa.
"Gini, Sa. Memaafkan Mukti sekarang atau nanti itu keputusanmu. Lakukan yang menurutmu keputusan paling baik dan paling nyaman buatmu." nasihat Anggi, ia tak berniat menggurui Clarissa tapi ia hanya ingin memberikan Clarissa pendapat yang mungkin bisa membantunya.
Clarissa tersenyum lembut pada teman-temannya. Lagi-lagi ia merasa sangat bersyukur memiliki orang-orang baik di sekitarnya. Terlepas dari masalah yang baru saja ia hadapi.
Ucapan Anggi membuat Clarissa berpikir. Sepanjang perjalanan pulang, ia hanya melempar pandangannya ke jalanan yang cukup ramai dengan berbagai aktivitas manusia. Rena sengaja tidak mengajak Clarissa berbicara selama perjalanan pulang. Ia memberi Clarissa waktu untuk berpikir dan mencari solusi untuk masalahnya saat ini.
Clarissa menuju pintu rumah mengambil kunci dari dalam tas ranselnya sementara Rena memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Baru saja pintu terbuka dan Clarissa ingin melangkah masuk, suara dering Hpnya membuatnya menghentikan langkahnya dan merogoh kembali ke dalam tas ranselnya mengambil Hpnya.
Tertera nama Indra di layar Hpnya. Rena yang baru turun dari mobilnya melihat Clarissa yang hanya berdiri di depan pintu yang sudah terbuka menatap layar Hpnya. Tampak mengernyit, bertanya-tanya mengapa Clarissa hanya berdiri di depan pintu.
"Rissa!" panggil Rena, menyadarkan Clarissa dari lamunannya dan menatap Rena yang sudah berjalan ke arahnya.
Panggilan telepon berhenti saat Rena berada di depan Clarissa. Wajah Rena seolah menanyakan apa yang sedang di lakukan Clarissa. Lalu kembali Hp Clarissa berbunyi tanda panggilan telepon masuk lagi. Masih nama Indra yang tertera di layarnya.
"Angkat saja. Kalian harus selesaikan ini dengan baik-baik." Rena dapat melihat nama yang tertera di layar Hp Clarissa, ia pun tersenyum lembut pada Clarissa lalu masuk ke dalam rumah. Clarissa akhirnya mengangkat panggilan telepon dari Indra.
"Hallo, Assalamu'alaikum." jawab Clarissa berusaha seramah mungkin.
"Wa'alaikumussalam. Clarissa." suara Indra terdengar lembut namun lirih.
"Apa kabar?" tanya Clarissa lebih dulu, ia sudah berjalan masuk ke dalam rumah, lalu duduk di sofa ruang tamu.
"Baik, Sa. Kamu gimana?" suara Indra masih sama, Clarissa merasakan sedih kembali menguasai dirinya namun ia berusaha menahannya.
"Baik juga, dra." jawab Clarissa berusaha tegar.
Suasana menjadi hening. Hanya suara napas yang sesekali terdengar dari mereka berdua. Cukup lama sampai rasanya seperti tidak ada lagi orang di seberang sana. Entah telepon masih tersambung atau tidak. Mereka sama-sama tidak memeriksa hanya terus menaruhnya di telinga mereka.
"Aku minta maaf." Clarissa akhirnya memecahkan keheningan.
"Aku yang minta maaf, Sa." kali ini suara Indra terdengar bergetar menahan sedih yang membuncah dari dalam dadanya "Aku tidak seharusnya membentak mu saat itu. Aku benar-benar sudah dibutakan oleh rasa cemburu, Sa. Saat aku baca pesan darimu bahwa Mukti menyatakan perasaannya padamu. Harusnya aku anggap itu sebagai kejujuran mu, Sa. Bukannya malah cemburu buta seperti itu." lanjut Indra ia sudah mulai terdengar menahan isak tangisnya.
Clarissa tahu bukan dia yang mengirim pesan itu. Ia memang tak punya bukti, tapi entah kenapa Clarissa yakin sekarang kalau Izria yang melakukannya. Clarissa tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya terdiam dan menundukkan kepalanya menatap lantai keramik di ruang tamu Rena. Ia juga tidak berniat menyangkal atau memberitahu Indra yang sebenarnya.
"Rissa, kamu masih mendengarkan ku? " Indra mencoba memastikan karena tak mendengar jawaban dari Clarissa.
"Hmm, aku mendengarkan." ucap Clarissa pelan.
"Rissa, aku benar-benar merindukan mu. Aku ingin kita mencoba lagi. Aku akan memperlakukan mu lebih baik dari sebelumnya, Sa." sekarang suara Indra terdengar putus asa.
"Indra, kamu tidak perlu berusaha lebih baik sekarang. Mari kita perbaiki persahabatan kita. Aku lebih nyaman dengan itu." tegas Clarissa, ia merasa sudah cukup dengan hubungan sebelumnya dengan Indra. Ia hanya ingin menyelamatkan yang benar-benar pantas untuk di selamatkan.
Helaan napas terdengar dari Indra. Jawaban Clarissa bagi Indra seperti sudah final. Tidak ada yang bisa berubah. Jika ia bersikeras ingin kembali sebagai pasangan kekasih dengan Clarissa maka itu hanya akan membuat hubungannya dengan Clarissa akan semakin menjauh. Ia tahu maksud Clarissa yang memilih menyelamatkan persahabatan mereka. Sekarang saatnya Indra menerima hal itu.
"Aku tahu kamu akan seperti ini. Tapi, aku tetap ingin berusaha. Aku menyayangi mu, Sa. Aku menghargai keinginanmu, Sa. Mungkin aku akan butuh waktu tapi aku akan berusaha." Indra memilih mengikuti keinginan Clarissa meskipun akan berat baginya dan entah butuh waktu berapa lama untuk bisa kembali terbiasa dengan perasaannya pada Clarissa.
"Terima kasih, dra. Karena mau mengerti. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku benar-benar berharap kamu bahagia." Clarissa tersenyum lembut meskipun Indra tak bisa melihatnya tapi ia tahu Indra pasti menerima perasaan tulusnya yang ingin kembali bersahabat dengannya.
"Aku juga berharap kamu bahagia, Sa." Indra juga sama tulusnya berdoa untuk kebahagiaan Clarissa. Setidaknya sekarang ia bisa mengakhiri hubungannya dengan Clarissa secara baik-baik dan memulai kembali sebagai seorang sahabat.
Clarissa berjalan menuju kamarnya saat Rena baru keluar dari dapur membawa semangkuk mie rebus. Rena tersenyum melihat Clarissa dan menawarkan mie yang di bawanya. Ia tak ingin bertanya apapun tentang pembicaraan Clarissa dengan Indra. Melihat wajah Clarissa yang lebih ceria, Rena bisa menebak bahwa Clarissa melakukannya dengan baik.