YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Kejutan Sepulang Kerja



Bella masuk ke rumah dengan terburu-buru di tangannya penuh dengan belanjaan bahan-bahan?makanan untuk rapat panitia persiapan pernikahannya. Mamanya akan membuatkan makanan beratnya sedangkan keluarga Rico akan membuat kue dan juga minuman. Setelah meletakkan belanjaannya di dapur ia kembai pamit pada orang tuanya.


"Nanti aku balik lagi sore ya, ma. Ini mau ngantar bahan-bahan kue ke rumah Rico habis itu kami mau ngecek beberapa salon sama tempat dekorasi." ucap Bella setelah salim pada mamanya.


"Iya, hati-hati." Bella berlari kecil ke teras rumahnya dimana Rico sedang berbincang dengan bapaknya.


"Ayo." Bella menepuk bahu Rico pelan.


"Sudah. Pak, kita pamit lagi ya." ucap Rico lalu salim pada bapak Bella yang di ikuti Bella.


"Pak, Bella pergi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati ya kalian." ucap bapaknya sambil memperhatikan anak gadisnya dan calon menantunya menuju mobil.


Setelah mobil Rico menghilang dari mulut gang, bapak Bella masuk kembali ke rumah. Menghampiri istrinya yang sudah sibuk dengan bahan-bahan masakan.


"Gimana mau bapak bantu nggak, ma?" tanya bapak Bella pada istrinya yang terlihat tersenyum manis menanggapi tawaran suaminya.


"Nggak perlu, pak. Ini nggak banyak. Aku cuma nyiapin bahan-bahannya nanti pas Rissa pulang dia yang ikut bantu masak." Jawab mama Bella lembut.


_Di Kantor Clarissa_


Clarissa baru saja mengakhiri panggilan teleponnya dengan Bella. Ia menghela napas panjang sesaat setelah menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya yang membuat teman-teman satu ruangannya melihat ke arahnya.


"Kenapa, Sa?" tanya mbak Dinar penasaran.


"Ini adikku mbak. Dia yang mau nikah tapi aku yang pusing." jawab Clarissa terdengar frustasi ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.


"Kenapa kok bisa gitu, mbak?" tanya Citra ikut penasaran.


"Dia tadi ngirimin aku referensi dekorasi untuk pernikahan. Terus nanya yang bagus yang mana. Tapi, setiap orang dekorasi ngasih masukan ide lain dia bingung dan ya kayak gini nelponin aku." Clarissa memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.


"Wah, ini yang siap nikah kamu sepertinya Sa?" goda mbak Dinar yang membuat Clarissa hanya tersenyum canggung.


"Setidaknya sekarang mba Rissa sudah tahu apa saja yang disiapakan nanti pas mau nikahan." ucap Citra berusaha mencairkan suasana.


"Iya, benar juga sih Cit." Clarissa bisa menangkap niat Citra yang ingin menyelamatkannya dari pembicaraan yang sangat ingin ia hindari.


Setelah pembicaraan singkat tersebut akhirnya mereka kembali fokus ke pekerjaan masing-masing hingga menjelang istirahat siang.


Mbak Risya datang ke ruangan Clarissa dan duduk di depan meja kerja Clarissa. Clarissa menghentikan kegiatannya dan melihat mbak Risya yang tersenyum ke arahnya.


"Kenapa, mbak?" tanya Clarissa.


"Ayo, ikut makan siang. Kita mau makan mie ayam. " ajak mbak Risya.


"Hm, oke deh mbak. Sekarang?" ucap Clarissa akhirnya setuju hampir beberapa hari belakangan ini Clarissa emang jarang ikut makan siang dengan mbak Risya, Tiwi dan Citra.


"Bentar lagi. Tunggu Tiwi dari ruang pak kepala." Clarissa mengangguk ia lalu memilih melanjutkan sedikit lagi pekerjaan.


"Mbak Rissa, ayo." ajak Citra yang sudah baru saja membaca chat dari Tiwi.


"Oh, oke." Clarissa menyimpan pekerjaannya sebelum ia tinggal untuk makan siang.


Setelah ia dan Citra pamit dengan atasan mereka dan mbak Dinar mereka langsung bergegas menuju ruangan mbak Risya dimana sudah ada Tiwi dengan wajah cemberut yang bisa di tebak karena kelaparan.


"Lama juga tadi di ruangan pak kepala kamu, Wi?" sapa Clarissa saat melihat Tiwi yabg memamerkan wajah cemberutnya.


"Ya sudah. Ayo, kita makan." mbak Risya langsung mengajak Clarissa dan yang lainnya barangkat setelah ia berpamitan dengan atasannya.


"Ayoooo!!!" ucap Tiwi penuh semangat yang membuat Clarissa dan Citra tertawa melihat tingkah Tiwi.


_Jam Pulang Kantor_


Clarissa sudah mematikan laptopnya lalu menyimpannya di loker yang di sediakan untuk pegawai di ruangannya menyimpan barang-barang mereka. Setelah mengunci loker dan menyimpan kuncinya di lacinya, Hp Clarissa berdering. Ia mengeluarkan Hpnya dari kantong bajunya dan melihat nama yang tertera di layar.


"Siapa mbak? kok nggak di angkat?" tanya Citra yang melihat Clarissa hanya memandangi layar Hpnya


"Temanku, Cit." Clarissa akhirnya mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Assalamu'alaikum." jawabnya pelan sambil berjalan keluar ruangannya.


"Wa'alaikumussalam. Aku kira nggak bakal kamu angkat, Sa. Aku sudah mau masuk kantormu aja." mendengar ucapan lawan bicaranya di seberang sana membuat Clarissa mengernyit.


"Kamu di kantorku?" tanya Clarissa yang bergegas keluar gedung kantornya.


Benar saja di tempat parkir sudah ada sosok yang sangat Clarissa kenali berdiri di samping mobilnya dengan tangan melambai padanya.


"Wiihh, siapa itu mbak?" Tiwi yang muncul dari belakang Clarissa dan menyenggol bahunya membuat Clarissa tersadar.


"Ngapain kamu disini?" tanya Clarissa datar.


"Bella suruh jemput kamu." sosok tersebut mulai berjalan menuju tempat Clarissa berdiri yang membuat Clarissa mulai panik karena orang-orang kantornya mulai keluar.


Dengan cepat Clarissa memutuskan panggilan telepon dan berpamitan dengan Tiwi lalu berlari kecil berharap sosok tersebut berhenti.


"Mukti, stop!!" Clarissa berbicara tanpa suara memberi isyarat agar Mukti tidak melanjutkan langkahnya.


Mukti yang mengerti akhirnya berhenti sampai Clarissa berdiri di hadapannya lalu menariknya ke mobil. Tanpa menunggu Clarissa langsung masuk ke mobil berharap tak banyak orang-orang kantornya yang melihatnya meskipun sebagian besar sudah melihatnya.


Mukti sudah duduk di belakang kemudi dan memakai seat belt . Ia melirik Clarissa yang sama sekali tidak menatapnya membuat senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Melihat Clarissa sudah siap untuk pulang akhirnya Mukti memacu mobilnya keluar dari lapangan parkir kantor Clarissa.


"Ngapain Bella nyuruh kamu jemput aku?" akhirnya rasa penasaran membuat Clarissa membuka pembicaraan.


"Nanti malam ada rapat panitia kan? Bella minta tolong di ambilkan beberapa barang. Jadi, dia minta aku jemput kamu biar kamu bisa mampir." Clarissa menghela napasnya pelan ia tahu rencana yang di siapkan Bella.


Ia teringat pembicaraannya dengan Bella beberapa hari yang lalu. Bella memang tak ingin memaksanya untuk segera melupakan Dikta tapi setelah kejadian yang terakhir kali dengan pertemuan tidak di sengaja di cafe Daisy membuat Bella bertekad membantu Clarissa mempercepat proses move on. Dan Clarissa bisa menebak bahwa Bella ingin Clarissa mencoba berhubungan lagi dengan Mukti.


"Padahal nggak perlu kamu jemput. Tadi aku sudah minta mbak Risya buat mampir bentar buat ngambil barang-barangnya." Mukti tersenyum ia tahu Clarissa masih berusaha menghindarinya melihat bagaimana Clarissa tidak menatapnya sepanjang perjalanan ini.


"Aku mau kok. Jadi, kamu nggak perlu ngerasa nggak enak." Mukti tertawa kecil di akhir kalimatnya membuat Clarissa akhirnya menatapnya meskipun dengan tatapan kesal karena mendengar tawanya.


"Rissa, kamu harus terbiasa. Aku bakal lebih sering muncul di hadapanmu sekarang." Mukti tidak menatap Clarissa tapi dari nada bicaranya Clarissa yang sudah mengenal Mukti cukup lama dengan hubungan mereka yang sepertinya tak pernah benar-benar berakhir tahu bahwa Mukti tidak sedang bercanda.


Entah kenapa mendengar kalimat tersebut membuat Clarissa bergidik. Saat ini ia hanya berpikir untuk mempersiapkan dirinya. Mukti tidak pernah bisa tertebak. Ciri khas playboy sejati kalau kata Rena dulu bahkan sampai sekarang pendapat Rena masih sama.


Clarissa membuang pandangannya keluar jendela. Menatap setiap bangunan dan orang-orang yang lalu lalang yang ia lewati di pinggir jalan. Di otaknya saat ini terputar kembali ucapan Mukti saat mereka kembali bertemu setelah sekian lama mereka putus dan Clarissa sekitar dua bulan putus dari Sukma.


"Aku tahu apa yang kamu lakukan, Sa. Kamu dekat dengan Sukma sejak kita masih pacaran. Meskipun hubungan kalian baru resmi setelah kita putus. Aku marah, Sa. Sangat. Tapi, aku tidak pernah membencimu. Tidak bisa. Aku akan jujur selama kita putus bukannya aku tidak pernah berhubungan dengan wanita lain. Ada teman sekelasku. Meskipun aku tidak pernah meresmikan hubungan kami. Tapi, kurasa orang-orang di jurusanku sudah membicarakan kami bahwa kami pacaran." Clarissa masih ingat dengan jelas kalimat Mukti saat itu. Kalimat yang membuatnya meskipun berapa kali pun ia ingin lari dari Mukti pada akhirnya mereka akan kembali berhubungan meskipun entah apa nama hubungan tersebut


Clarissa melirik Mukti yang sedang berkonsentrasi mengemudikan mobil. Ia tahu betapa baiknya pria di sampingnya ini. Tapi, entah kenapa ada beberapa sifat Mukti yang tidak pernah bisa berkompromi dengan diri Clarissa. Posesif, keras kepala dan manja semua sifat yang Clarissa hindari dari siapa pun yang ingin menjadi pasangannya. Bukannya tidak ada sama sekali tapi di kasus Mukti rasanya sudah membuat Clarissa sesak dan selalu berhasil membuatnya kehilangan semua perasaannya pada Mukti.