YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Dikta (6)



*Aku jemput bentar lagi, Sa :)*


DM dari Dikta yang diterima Clarissa sekitar sepuluh menit yang lalu. Sekarang Clarissa sudah berdiri di terasnya memandangi flatshoes yang ia kenakan. Entah apa yang menarik dengan flatshoes atau keramik di terasnya. Sampai suara deru mesin mobil terdengar memasuki halaman kosong di depan rumah Clarissa, halaman yang cukup luas yang biasanya di pakai untuk memarkirkan beberapa mobil tetangganya atau digunakan sebagai tempat mengadakan hajatan tetangganya.


Clarissa mengangkat kepalanya melihat Dikta yang sudah turun dari mobilnya dengan kemeja putih yang sama seperti saat buka puasa saat itu. Hari dimana Clarissa merasa Dikta terlihat lebih tampan dari sebelumnya dari yang ia ingat.


Dikta tersenyum ke arahnya tapi Clarissa tidak membalas, pikirannya kosong. Jantungnya sudah tidak terkendali. Sekarang ia takut jika Dikta semakin dekat Dikta akan mendengar suara jantungnya. Dikta sudah memasuki pintu pagar yang dibiarkan terbuka saat Bella keluar tadi bersama Rico.


"Rissa." panggil Dikta dengan senyum manisnya.


Clarissa terpana melihat senyum Dikta, hingga akhirnya suara mamanya menyadarkannya menyapa Dikta yang sudah berjalan ke arah mamanya untuk salim.


"Saya mau ajak Rissa keluar tante. Sama temen-temen yang lain juga." ucap Dikta ramah, Clarissa bisa melihat mamanya tersenyum dan sesekali melirik Clarissa.


"Iya, tadi Rissa sudah ngasih tahu. Katanya Anton datang sama calon istrinya." Dikta mengangguk lalu melihat ke arah Clarissa yang sudah tersenyum ke arahnya.


"Ma, kita pergi dulu ya. Assalamu'alaikum." Clarissa pamit pada mamanya begitu juga Dikta.


Didalam mobil Dikta yang melaju dengan kecepatan sedang. Clarissa tak berani menatap Dikta. Bahkan saat Dikta memulai pembicaraan dengannya. Clarissa hanya sesekali menatap Dikta saat berbicara. Clarissa sadar dengan sikap anehnya tapi sepertinya tidak dengan Dikta. Ia berusaha dekat dengan Clarissa.


Sekitar lima belas menit mereka tiba di cafe yang dipilih Dikta. Salah satu cafe baru yang lumayan ramai, entah karena masih baru atau memang makanan yang disajikan menjanjikan. Cafe yang nyaman bagi mereka yang pecinta kopi. Ada bagian seperti meja bartender untuk meracik kopi yang menjadi satu dengan meja kasir. Salah satu cafe dengan nuansa baru di kota mereka.


"Kita duluan sampai sepertinya." ucap Dikta saat membukakan pintu untuk Clarissa.


Setelah mengambil daftar menu dari meja bartender dan menuju meja yang kosong. Cafe belum terlalu ramai karena masih siang, kebanyakan pengunjung datang sore atau malam hari ditambah ini bukan weekend jadi cafr ini pilihan yang tepat untuk berkumpul siang ini.


"Riana masih nunggu yang gantikan dia. Anton sama Andien sebentar lagi ke sini. Masih selesaikan urusan untuk berkas pernikahan mereka." Clarissa memberitahu Dikta saat mereka sudah sampai di meja pilihan mereka.


"Kalau gitu kita pesan duluan saja. Menunya biar aku foto dan kirin ke mereka. Jadi bisa kita pesankan." usul Dikta yang disetujui Clarissa.


Clarissa menulis pesanan mereka di kertas yang diberikan pelayan bersamaan dengan daftar menu. Setelah beberapa menit Anton membalas untuk pesanannya dan Andien.


"Riana, sudah mau kesini." ucap Dikta.


"Jadi, kita tunggu Riana sebentar." Dikta mengangguk.


Sekitar lima menit Riana sudah terlihat memasuki cafe. Ia langsung menuju meja tempat Dikta dan Clarissa duduk. Dikta langsung menyuruh Riana memilih makanan dan minuman yang ia ingin pesan. Setelah melihat-lihat daftar menu dan menentukan pilihannya dan Clarissa mencatatnya. Dikta mengambilnya dan memastikan sekali lagi pesanannya.


"Kamu yakin mau pesan yang ini, Sa. Nggak mau tukaran sama punyaku saja?" tanya Dikta sekali lagi memastikan.


"Iya, aku tetap yang itu saja." jawab Clarissa lalu Dikta segera menuju meja kasir untuk menyerahkan daftar menu dan pesanan mereka.


"Apa itu?" tanya Riana penasaran.


"Apanya?" Clarissa hanya tersenyum mencurigakan.


"Itu obrolan kalian?" Riana semakin penasaran.


"Kan ada menu baru, tadinya aku mau coba tapi nggak jadi karena Dikta juga mau coba. Jadi aku ganti menu." Riana tertawa tanpa suara, ia sesekali melihat ke arah Dikta yang masih berbicara dengan kasir.


"Dia yang minta aku berangkat sendiri." Clarissa mengernyit, bingung.


"Tadi malam kamu bilang.." Clarissa menggantung kalimatnya mengingat pembicaraannya dengan Riana.


"Aku sengaja mau ngasih tahu kamu secara langsung." Riana tampak senang dengan kemajuan yang ia buat untuk Clarissa.


"Loh, Dikta langsung kamu bayar?" Tanya Riana saat Dikta sudah kembali dari meja kasir.


"Berapa, Ta?" tanya Clarissa sudah meraih tasnya ingin mengambil dompetnya.


"Nggak usah. Aku yang traktir." ucap Dikta dengan senyum manisnya.


"Alhamdulillah!!" jawab Riana semangat.


Anton dan Andien datang bersamaan dengan minuman pesanan mereka datang.


"Maaf ya. Ada yang harus di urus dulu tadi." ucap Anton, Andien langsung duduk di samping Riana di susul Anton.


Makanan mereka akhirnya datang. Clarissa membantu menerima pesanan mereka dari pelayan dan meletakan di depan teman-temannya sesuai pesanan mereka masing-masing.


"Kamu yakin nggak mau tukar, Sa?" tanya Dikta lagi.


"Nggak, Ta. Aku makan yang ini saja." Clarissa tersenyum lembut pada Dikta yang mengangguk paham.


"Kalau nasinya kebanyakan, biarkan saja. Nanti aku yang habiskan." ucap Dikta lagi yang sudah memotong chicken katsu dihadapannya.


Riana melirik Clarissa dengan menahan senyumnya. Anton sempat terlihat mengernyit, heran dengan ucapan Dikta. Tapi tidak begitu Anton ambil pusing. Mereka menikmati makanan pesanan masing-masing sambil asyik bercerita. Setelah selesai makan, Riana yang harus balik ke tempat kerjanya mengajak mereka foto bersama lalu berpamitan untuk balik duluan.


Selanjutnya Dikta dan Anton sibuk dengan pembicaraan mereka tentang perusahaan tempat mereka bekerja masing-masing sedangkan Clarissa dan Andien sama-sama mengamati pembicaraan kedua laki-laki di samping mereka ini.


"Jam berapa kalian harus ke bandara?" tanya Dikta saat sadar sudah jam dua siang.


"Kita berangkat jam 10 malam dari sini. Pesawat kami pagi jam setengah 7." jawab Anton.


"Jadi, sekarang masih mau balik ke KUA ngantar berkas yang tadi?" Anton mengangguk menjawab pertanyaan Dikta.


Mereka akhirnya memilih untuk pulang, sekali lagi mereka berpamitan. Anton dan Andien menuju mobil mereka begitu juga Dikta dan Clarissa yang menuju mobil Dikta terparkir.


"Mau kemana lagi kita?" tanya Dikta begitu ia menyalakan mesin mobil.


"Memangnya mau kemana lagi?" Clarissa sedikit tertawa menjawab pertanyaan Dikta dengan pertanyaan. Sejujurnya ia tak menyangka Dikta akan bertanya seperti ini.


"Iya, juga ya. Kamu mau ngajar sore inikan? Kalau gitu nanti kita atur waktu buat jalan lagi. Oke?" Clarissa tertegun mendengar perkataan Dikta namun dengan cepat ia sadar.


"Oke." jawab Clarissa singkat, tapi senyumnya menunjukkan bahwa ia sangat senang begitu juga dengan Dikta.


Clarissa menyadari bahwa Dikta sedang berusaha mencoba membuat hubungan mereka lebih dekat. Itu membuat Clarissa sangat senang dan bersyukur dengan pilihan yang ia ambil. Memberitahukan Dikta tentang perasaannya. Setidaknya ini membuat kemungkinan untuknya dan Dikta terbuka.