
Tidak seperti akhir pekan yang tenang biasanya. Akhir pekan kali ini rumah Clarissa tampak lebih gaduh daripada biasanya. Pernikahan Bella yang tinggal sebulan lagi membuat rumah Clarissa mulai penuh dengan barang-barang seserahan milik Bella, souvenir yang akan di berikan ke tamu nanti karena Bella ingin membungkus souvenirnya sendiri tentunya di bantu Clarissa dan beberapa teman dekatnya, serta undangan yang akan di bagikan.
Entah sudah berapa kali Clarissa meregangkan tubuhnya karena duduk berjam-jam dengan posisi menunduk untuk membungkus souvenir satu per satu. Memang ia tidak sendiri ada beberapa teman Bella dan juga Riana yang ikut membantu. Sementara sang calon pengantin wanita tengah pergi bersama calon pengantin pria untuk fitting baju pengantin.
"Aaaahh.. kapan ini selesai?!" keluh Carissa yang sudah terkulai lemas bersandar pada dinding di belakangnya.
"Sabar, Sa. Sepertinya ini butuh lebih dari sehari untuk selesai." Riana tersenyum melihat Clarissa yang sudah ingin menyerah.
"Padahal masih sebulan lagi. Kenapa harus dikerjakan dari sekarang." Clarissa menunjukkan wajah cemberutnya.
"Justru karena masih sebulan lagi. Jadi bisa santai ngerjainnya." Suara mamanya yang memberikan cemilan untuk Clarissa, Riana dan teman-teman Bella.
"Kalau aku nikah. Aku nggak mau repot-repot seperti ini." Clarissa menerawang merancang acara pernikahannya yang entah kapan.
"Di situ bedanya kamu sama Bella, Sa." goda Riana yang membuat khayalan Clarissa buyar.
Setelah merasa tubuhnya sudah bisa kembali bekerja, Clarissa melanjutkan tugasnya membungkus souvenir yang jumlahnya tidak terlihat berkurang dari tadi.
Hingga terdengar suara pintu mobil dibanting dan disusul suara Bella yang terdengar kesal. Clarissa dan Riana saling berpandangan. Hingga Bella melewati mereka di ruang tengah yang di susul Rico. Namun, belum sempat Rico sampai di depan pintu kamar Bella dengan cepat Bella sudah menutup pintunya hingga membuat suara yang sangat keras.
Clarissa bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Rico. Clarissa menepuk pelan bahu Rico hingga membuat pria itu terkejut.
"Eh, mbak?" ucap Rico saat melihat Clarissa yang berdiri di sampingnya.
"Ada apa lagi?" tanya Clarissa.
"Ada baju yang Bella mau di salon yang selalu di sebut-sebut itu, mbak. Dia sudah sempat ngobrol lewat whatsapp dengan pemiliknya katanya nanti bajunya akan di sewakan untuk dia. Tapi, sepertinya pemilik salonnya lupa atau ada kesalahpahaman ternyata ada yang booking baju itu buat tanggal yang sama seminggu yang lalu." Rico menjelaskan.
"Terus dia marah sama kamu?" tanya Clarissa tidak habis pikir.
"Aku minta dia pilih baju yang lain atau coba cari salon yang lain yang mungkin punya baju yang mirip. Dia setuju tapi sepertinya moodnya sudah jelek jadi.." Rico menghela napasnya, melihat reaksi Rico Clarissa bisa menebak bahwa tidak ada yang kena di hati Bella.
'Kurasa memang seperti itu mood wanita yang akan menikah. Semuanya sensitif untuknya.' batin Clarissa ia bahkan mengangguk-anggukkan kepalanya seolah bisa menjawab pertanyaannya sendiri.
Clarissa menepuk bahu Rico memberi semangat pada calon adik iparnya tersebut. Untuk saat ini akan lebih baik membiarkan Bella menenangkan diri jika Rico mau selamat sampai hari H pernikahannya.
"Bagaimana kalau kamu urusin undangannya saja? Cek nama-nama yang belum masuk." saran Clarissa yang di jawab anggukan oleh Rico.
Clarissa menatap pintu kamar Bella, merasa ragu untuk masuk tapi pada akhirnya ia memutuskan untuk masuk dan berbicara dengan Bella.
Setelah mengetuk pintu Bella beberapa kali namun tidak mendapat jawaban dari sang pemilik kamar Clarissa memutuskan untuk masuk setelah mengatakan bahwa ia akan masuk meskipun tanpa izin Bella.
"Bella." panggil Clarissa lembut begitu ia membuka pintu kamar Bella.
Bella sedang duduk di atas tempat tidurnya dengan mata sembab dan sesenggukan. Clarissa tersenyum kecil lalu masuk ke kamar Bella setelah menutup pintunya. Ia ikut duduk di samping Bella yang mulai menangis lagi.
"Dek, mbak tahu apapun yang mbak katakan mungkin akan sangat mengganggu buatmu karena mbak belum berpengalaman dengan semua ini." ucap Clarissa memulai pembicaraan.
"Mbak tahu kamu pasti sedang di perasaan yang sangat sensitif. Hal-hal kecil akan membuatmu kesal apalagi terkait pernikahan. Tapi.." Clarissa menatap Bella yang tidak bergeming dengan posisinya tapi Clarissa tahu bahwa Bella mendengarkannya "Tapi, usahakan untuk jangan melampiaskan ke Rico ya?" Clarissa berusaha mengatakannya sehati-hati mungkin.
"Aku tahu, mbak. Tapi, rasanya setiap kali aku kesal karena urusan pernikahan ini dan Rico mencoba menenangkan aku atau mencari solusi aku pasti melampiaskan kemarahanku padanya." ucap Bella di tengah-tengah tangisannya.
Clarissa memeluk Bella dari samping. Ia tahu Bella tidak bermaksud kasar pada Rico tapi apa yang dihadapinya sekarang adalah hal yang sangat penting untuknya dan juga Rico sehingga ia merasa nyaman melampiaskannya pada Rico.
"Ya sudah, tenangkan dirimu dulu. Lalu bantu Rico ngurus undangan kalian ya?" Clarissa beranjak dari tempat tidur Bella dan membiarkan Bella menenangkan dirinya.
Saat Clarissa keluar dari kamar Bella Rico langsung menghampiri Clarissa karena merasa khawatir.
"Sudah lanjutkan saja ngurus undangan kalian. Nanti Bella keluar bantuin." ucap Clarissa tersenyum menyakinkan Rico bahwa semuanya baik-baik saja.
Rico terlihat lega dan kembali dengan daftar tamu undangan. Riana mengacungkan jempolnya pada Clarissa untuk memuji apa yang di lakukan Clarissa.
Sekitar setengah jam Bella akhirnya keluar dari kamarnya dan duduk bersama Rico. Mereka berdua tidak saling berbicara terutama membahas apa yang terjadi tadi meraka fokus dengan daftar tamu undangan yang mereka susun.
"Aku tidak sabar melihat bagaimana kamu mempersiapkan pernikahanmu, Sa." bisik Riana menggoda Clarissa.
"Yang pasti tidak akan seribet ini. Sepertinya kamu yang akan sama ribetnya dengan Bella." Clarissa menggoda Riana yang membuat Riana mencubit pinggang Clarissa.
"Kan kamu sudah ada calon, Na. Aku belum kelihatan hilalnya." Clarissa tertawa kecil membuat Riana kembali mencubit pinggangnya hingga membuat Clarissa mengaduh.
Clarissa menatap Bella dan Rico yang terlihat sangat serasi di matanya. Ia bahkan tersenyum kecil melihat bagaimana Bella dan Rico berinteraksi setelah bertengkar seperti tadi. Tapi, kemudian matanya menatap tumpukan souvenir yang bahkan beberapa masih tersimpan rapi di dalam box membuat Clarissa kembali menghela napas dan harus menyiapkan pinggang dan lehernya untuk beberapa hari ke depan.