
Gedung balai bahasa milik kampus tempat Mukti kuliah berada di luar area kampus. Butuh perjalanan 15 sampai 30 menit dari kampus tergantung keadaan jalanan yang macet atau tidak. Mukti sudah memarkirkan motornya di area parkir yang di keliling beberapa gedung kelas dan satu gedung utama yang berada di bagian depan area gedung balai bahasa.
Ia kembali mengecek Hpnya, membaca pesan yang sudah masuk dari orang yang dihubunginya tadi. Ia melangkah menuju gedung utama melalui pintu samping gedung. Menuju lantai tiga dan mencari ruang A1. Setelah menemukannya, ia memilih duduk di kursi yang ada di samping ruangan.
Mukti segera mengetik pesan lalu mengirimkannya. Sekitar lima menit ia menunggu hingga terdengar suara pintu ruangan terbuka dan seorang wanita keluar bersama beberapa temannya. Ia terlihat berbicara sebentar dengan teman-temannya lalu saling melambaikan tangan. Wanita itu melangkah menuju tempat Mukti duduk, ia tersenyum ramah dan melambai pada Mukti yang di sambut senyuman ramah dari Mukti.
"Maaf, lama ya. Tadi masih ada yang di bahas." ucapnya saat duduk di samping mukti. Ia melepaskan tas ranselnya dan kamus yang cukup besar di tangannya lalu meletakkannya di sampingnya "Jadi, ada apa kamu nemui aku?" tanyanya ramah.
"Maaf, Riana. Aku mendadak menghubungimu. Ada yang mau aku tanyakan" Mukti memulai tanpa basa-basi.
"Soal apa? " Riana mengernyit, mencoba mencari tahu apa yang ingin di ketahui Mukti. Ia yakin ada hal penting yang membuat pria dihadapannya ini menghubunginya. Riana dan Mukti adalah teman kecil. Mereka tumbuh di lingkungan yang sama sehingga membuat mereka menjadi akrab. Namun, sejak masuk SMP mereka mulai sibuk dengan kehidupan masing-masing.
"Soal Clarissa sama Izria." wajah Riana tampak terkejut dengan pertanyaan Mukti. Mukti yang menangkap wajah terkejut Riana merasa yakin Riana tahu apa yang terjadi pada Clarissa, sahabatnya.
"Soal mereka sudah nggak satu kos lagi?" Riana mencoba memastikan apa yang ingin di ketahui Mukti.
Kali ini wajah Mukti yang terkejut. Ia tidak tahu kalau Clarissa dan Izria sudah tidak satu kos lagi. Sejak terakhir ia menyatakan perasaannya pada Clarissa ia sengaja tidak menemui atau menghubungi Clarissa lagi. Ia hanya berkomunikasi dengan Izria dan Izria tidak pernah mengatakan apapun tentang pindah kos.
"Sepertinya kamu baru tahu." Mukti mengangguk mengiyakan kata-kata Riana.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Na?" Mukti mulai semakin penasaran.
Ingatan Riana kembali ke hari ia datang ke kosan Clarissa untuk membantunya pindahan. Tepatnya sabtu minggu lalu.
_ Flashback _
Suasana kosan Clarissa tampak sepi. Mungkin karena sedang minggu tenang, minggu yang biasanya di manfaatkan para mahasiswa untuk menenangkan diri mereka sebelum ujian akhir semester yaitu pergi liburan entah pulang kampung atau ke luar kota. Meskipun sebagian lagi tidak mengenal apa itu minggu tenang karena di penuhi deadline tugas-tugas kuliah.
Riana sudah berada di teras depan kosan Clarissa melihat bagian kamar yang di tempati Clarissa sudah penuh dengan pasir dan semen serta beberapa tukang yang tengah bekerja. Merasa bingung Riana mencoba menghubungi Clarissa. Tapi, tidak diangkat oleh Clarissa. Sekali lagi ia mencoba menghubungi Clarissa, setelah beberapa kali terdengar nada sambungan telepon akhirnya Clarissa menjawab panggilan telepon Riana.
"Hallo, Assalamualaikum. Maaf, Na. Hpku silent . Kenapa Na?" jawab Clarissa
"Wa'alaikumussalam. Kamu sudah pindah? Aku di kosanmu ini, Sa. " Riana berjalan menuju parkiran motor, nada suaranya terdengar kesal.
"ya Allah, Riana. Aku lupa, maaf, maaf, soalnya mendadak pindahnya. Kamu ke rumah Rena aja ya sekarang. Aku kirimkan alamatnya." Riana mematikan telponnya lalu mengenakan helm dan bersiap di atas motornya yang sudah menyala.
Sebuah pesan masuk dari Clarissa berisikan alamat rumah Rena. Riana segera mengendarai motornya menuju rumah Rena. Butuh waktu sekitar 10 menit dari kosan lama Clarissa ke rumah Rena. Setelah sampai di area perumahan, Riana memperlambat laju kendaraannya melihat nomor rumah satu per satu hingga ia menemukan nomor rumah yang sesuai dengan alamat yang di berikan Clarissa.
Pagar rumah tertutup, tapi di pekarangan rumah ia bisa melihat ada sebuah mobil terparkir dan beberapa sepeda motor. Salah satunya adalah milik Clarissa. Setelah yakin ia berada di rumah yang tepat, Riana mengambil Hpnya dari dalam tas selempang miliknya dan menelpon Clarissa. Tidak lama setelah telepon dimatikan suara pintu terbuka dan Clarissa terlihat melambai ceria melihat Riana. Ia berlari dan membuka pintu pagar lalu mempersilakan Riana masuk.
"Bawa aja motornya ke dalam, Na" Riana mengikuti kata-kata Clarissa ia memasukkan motornya ke pekarangan rumah Rena. Memarkirkannya di tempat yang sama dengan motor-motor yang lain.
"Apa maksudnya mendadak? katanya hari ini! " ucap Riana kesal.
"Maaf, Na." Clarissa masih tersenyum seperti sebelumnya membuat Riana makin gemas melihat sahabatnya ini.
"Jangan bilang maaf aja, alasannya apa?" Clarissa merangkul lengan Riana dan mulai menceritakan secara singkat apa yang terjadi malam itu.
"Ya Allah, Sa. " Riana berubah mellow, ia bahkan memeluk Clarissa dan menepuk-nepuk punggung Clarissa "Aku sudah bilang kan saat kamu mau satu kos sama anak itu. Terus, sekamar lagi. Aku selalu bertanya apakah kamu yakin, kamu punya masalah dengan anak itu Sa. Aku mengingatkan berkali-kali, Sa." Clarissa ingin menyangkal kata-kata Riana namun Riana lebih dulu melanjutkan kalimatnya.
"Iya, aku tahu kamu nggak punya masalah sama dia. Tapi, dia belum tentu Sa. Kamu tahu sendiri dia gimana. Manis didepan tapi di belakang nusuk. Kamu sudah pernah dikhianati sama dia tapi masih aja sepolos ini. Kamu nggak ingat gimana dia memperlakukan kamu dulu?" Riana terus saja mengungkapkan isi hatinya tidak memberi kesempatan Clarissa berbicara.
Riana melepaskan pelukannya pada Clarissa tapi tangannya masih memegang bahu Clarissa "Setidaknya kamu ingat apa yang dia lakukan sama aku, Sa. Gimana dia bahkan ibunya ngomong kemana-mana kalau aku itu cewek gak bener. Suka gonta-ganti cowok. Padahal aku nggak tahu juga mereka dapat berita darimana. Hanya karena aku mudah akrab dengan orang begitu juga ke cowok. Aku yakin tiap hari kamu di cuci otak sama dia buat benci sama aku. Kamu tahu sendirikan dia nggak pernah suka lihat persahabatan orang lain, Sa. " Clarissa hanya bisa menundukkan kepalanya merasa omongan Riana semuanya benar.
"Iya, Na. Aku tahu." ucap Clarissa lirih.
"Sekarang lihat, apa yang dia lakukan. Keluar dari kos itu bahkan nggak ngasih tahu kamu. Jangan-jangan kamu putus sama Indra juga dia yang jadi dalangnya." Clarissa menatap Riana terkejut, ia tak pernah berpikir bahwa bisa saja Izria yang merencanakan semuanya bahkan rusaknya hubungannya dengan Indra.
"Riana, kita nggak bisa nuduh Izria begitu. Kita nggak punya bukti." Clarissa masih mencoba berpikiran positif.
Riana hanya bisa menghela napas, mulai menyerah dengan sikap polos dan keras kepala Clarissa.
_ Flashback selesai _
Riana menceritakan semua yang ia tahu. Bagaimana Izria yang pindah dari kosan tanpa memberitahu Clarissa hingga Clarissa harus pindah dengan terburu-buru dan penuh drama.
Mukti terlihat menahan amarahnya. Tangannya bahkan sudah mengepal kuat. Riana yang melihat itu bisa tahu bahwa pria di hadapannya ini memang benar-benar jatuh cinta pada sahabatnya, Clarissa.
"Makasih, Na." ucap Mukti, namun ia tak melihat wajah Riana sama sekali. Ia sepertinya mencoba tidak memperlihatkan kemarahannya pada Riana.
"Kamu mau pulang?" Riana hanya menggangguk
"Mau ku antar?" tanya Mukti lagi.
"Nggak perlu. Aku bisa sendiri kok" Riana tersenyum ramah, ia mengunakan tas ranselnya lagi dan meraih kamus yang di bawanya tadi.
Akhirnya mereka berjalan bersama menuju parkiran motor dan berpisah setelah saling berpamitan.
Mukti mengambil Hpnya dari kantung celananya dan mencari nama Clarissa di sana. Awalnya ia ingin menelpon Clarissa tapi diurungkannya niat tersebut dan hanya mengirimkan pesan singkat pada Clarissa.
'Bagaimanapun aku harus meluruskan kesalahpahaman ini. Clarissa harus tahu aku tidak tahu-menahu tentang putusnya ia dengan Indra.' batin Mukti. Lalu ia mulai mengendarai motornya keluar dari area gedung balai bahasa menembus ramainya jalanan kota.