
Hujan sedari subuh tak juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Clarissa sudah siap dengan ransel di sampingnya sedang duduk di kursi yang sengaja di letakkan oleh bapak kos mereka di teras depan kosan. Matanya menatap langit dimana awan kelabu masih setia menggantung menumpahkan isinya.
"Rissa, mau bareng aja? aku di jemput pakai mobil sama May" Izria teman semasa SMA yang juga menjadi teman sekamar Clarissa sekarang.
Clarissa memindahkan tasnya agar Izria bisa duduk disampingnya. Izria sekarang kuliah di fakultas yang sama dengan Clarissa hanya berbeda jurusan. Mereka bertemu saat pendaftaran ulang masuk kampus dan akhirnya memutuskan mencari kosan bersama.
"Bakal lama loh ini hujannya. Daripada telat." Izria ikut menatap langit dimana hujan masih terlihat sama lebatnya dengan subuh tadi.
"Boleh deh." Clarissa melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 7 pagi. Kalau dia tetap menunggu reda yang ada dia akan terlambat masuk kelas pak Rusman. Dia sudah merinding membayangkan dia akan diusir bahkan sebelum menginjakkan kakinya di dalam ruang kelas.
May sudah memarkirkan mobilnya. Dia terlihat senang mendapatkan tempat parkir yang strategis. Karena mereka tidak perlu merasa khawatir kehujanan saat menuju ruang kelas berkat May yang berhasil mendapatkan parkiran di bawah kanopi.
"Makasih yaa, May. Udah dibolehin nebeng. " Clarissa mengucapkan terima kasihnya berkat May dia tidak perlu takut terlambat masuk kelas invertebrata milik pak Rusman.
"Iyaa, Sa. Nanti pulang ikut aja lagi." May menawarkan dengan senyum ramahnya.
"Eh, boleh? Kalian selesai kelas jam berapa? " Kini mereka bertiga sudah jalan beriringan menuju gedung tempat kelas-kelas mereka berada.
"Paling kita siang sebelum dzuhur juga sudah selesai. Iyakan, Ria?" Izria yang sibuk dengan Hpnya memalingkan pandangannya melihat May dan Clarissa yang sudah berjalan di depannya.
"Iya. Kita cuma sampai jam 11.15 kok." Izria sudah menyamakan langkahnya dengan May dan Clarissa.
"Oke. Nanti hubungin aku aja yaa kalau kalian sudah mau pulang. Kelasku juga cuma sampai 11.15" Clarissa memisahkan diri dari May dan Izria karena kelasnya ada di lantai dua gedung sedangkan May dan Izria di lantai satu.
"Oke, Sa" Izria melambaikan tangannya ke arah Clarissa yang sudah menaiki tangga sambil tersenyum membalas lambaian tangannya.
Di depan kelasnya sudah berdiri beberapa teman-temannya yang asyik bercerita sambil memandangi hujan yang turun masih sama derasnya tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
'Bakal sampai siang kayaknya ini.' Clarissa melemparkan pandangannya ke arah langit mendung.
"Mbaaaak Rissa" suara ceria yang di kenal Clarissa mendekat ke arahnya. Nurul berlari ke arahnya yang baru saja melangkahkan kaki ke dalam ruang kelas "Itu sudah kami ambilkan bangku" menunjuk ke arah barisan bangku dekat jendela. Sudah ada Rena dan Anggi di sana tersenyum ke arahnya.
"Kenapa nggak minta aku jemput, Sa? " Rena membuka pembicaraan begitu Clarissa menjatuhkan dirinya di bangku.
"Loh, kamu bawa mobil mak? " Clarissa terkejut kalau ia tahu Rena bakal bawa mobil ia akan ikut Rena saja tadi pagi.
"Kamu loh aku kirim pesan trus aku telpon juga tapi nggak aktif" Rena memukul lengan Clarissa lembut.
"Iyakah?" Clarissa membuka ranselnya dan merogoh kedalam sampai ia menemukan Hpnya "ya Allah mak, belum aku hidupkan hahaha" hanya bisa cengengesan saat mendapati tatapan kesal Rena.
Begitu Hp Clarissa menyala. Beberapa pesan masuk ke Hpnya. Clarissa tersenyum malu. Mata Rena menatapnya seolah mengatakan 'kebiasaan' dan Clarissa hanya bisa mengulum bibirnya dengan senyum tertahan.
Belum sempat ia melihat siapa saja yang mengiriminya pesan. Pak Rusman, dosen mata kuliah invertebratanya masuk. Kelas yang tadinya riuh menjadi sepi hanya suara hujan di luar yang memenuhi ruangan.
"Kumpulkan tugasnya seminggu sebelum UAS. Jangan hanya copas dari internet tapi baca buku dan jurnal yang sudah saya berikan. Ini akan jadi syarat kalian untuk bisa ikut ujian saya nanti." pak Rusman menutup kuliahnya dan keluar dari ruangan.
Clarissa memasukkan semua alat tulis serta bukunya ke dalam ransel dan mengambil Hp dari kantung depan ranselnya. Membuka pesan yang tadi sudah masuk dan belum sempat ia baca tentunya selain pesan dari Rena.
*Sa, mau aku antar ke kampus? hujan deras loh ini* satu pesan dari Mukti membuat Rissa menghela nafasnya.
"Nanti aku bagi ya materi yang kita cari apa aja" Anggi menyeruput teh hangat dihadapannya. Hujan sudah mulai reda tapi tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
"Kamu kenapa lagi, Sa? Liatin Hp mulu. Siapa sih yang kirim pesan emangnya??" Rena penasaran bahkan Nurul yang duduk di sebelah Clarissa mencoba melirik Hp Clarissa.
"Ciieee, mbaaak Rissa" Nurul menepuk punggung Clarissa hingga membuatnya terkejut.
"Apaan sih, Rul!" Clarissa menaruh Hpnya di atas meja.
Mata Rena dan Anggi menatap penuh curiga. Tapi sepertinya mereka tahu apa yang di sembunyikan Clarissa.
"Ingat Indra, Sa." Rena berbicara sedikit ketus, mengingatkan sepertinya. Clarissa terbatuk mendengar kata-kata Rena seperti ketangkap basah melakukan kejahatan.
"Mukti ya? " Anggi menebak, meskipun tanpa perlu di tebak juga ia sudah yakin.
Clarissa hanya tersenyum dan mengangguk ragu. Ia sendiri tidak tahu mulai kapan ia jadi terlibat dengan Mukti. Padahal di awal ia sudah bertekad untuk menjauh dari pria ini.
"Berteman boleh, Sa. Tapi, kamu harus hati-hati sama dia. Aku kan udah bilang dari awal. Dia itu playboy . Lihat aja tuh cewek-cewek seangkatannya udah buat si Mukti itu kayak pangeran aja" Rena memutar bola matanya merasa jengah dengan pria sejenis ini.
Clarissa hanya tersenyum. Ingatannya kembali ke beberapa bulan lalu tepat seminggu setelah pesan yang di kirim Mukti padanya namun tak ia gubris.
Saat sedang menikmati waktu santainya dengan berbaring di tempat tidurnya yang nyaman setelah menulis laporan biologi yang membuat tangannya benar-benar sakit begitu juga dengan punggung dan pinggangnya karena harus duduk berjam-jam. Hpnya bergetar tanda sebuah pesan masuk. Dengan malas Clarissa meraih Hpnya. Matanya masih terpejam saat ia membuka pesan di Hpnya.
*Rissa, aku di depan kosanmu* pesan dari nomor yang tak di simpannya tapi ia bisa tahu siapa pengirimnya.
Clarissa sudah pada posisi duduk sempurna di atas tempat tidurnya. Ia mencoba membaca sekali lagi pesan yang masuk.
'kok dia tahu kosanku?' Clarissa berjalan menuju lemarinya mengambil asal rok dan jilbabnya lalu berjalan menuju pintu kamar yang di belakangnya sudah bergantung jaket miliknya dan juga milik Izria.
"Ria, kamu ngasih tau Mukti kosan kita? " Izria yang sedang menonton televisi mengalihkan pandangannya pada Clarissa yang sudah berdiri di depannya dengan pakaian lengkap seperti ingin jalan keluar.
"ya Allah, Sa. Lupa aku. " Izria menepuk jidatnya lalu ikut berdiri "Iya, dia nanya aku kemarin. Karena dia lihat kita berangkat bareng. Jadi aku kasih tau kita satu kosan. Kenapa? Mukti kesini? " Izria langsung berlari ke kamar dan mengambil jilbabnya.
"Mau ngapain kamu? " Clarissa menatap Izria bingung sekarang gadis itu tersenyum didepannya sudah mengenakan jilbabnya.
"Nemenin kamu. Nemuin Mukti." Izria menggandeng tangan Clarissa dan berjalan dengan ceria membuat Clarissa tergopoh mengikuti langkah Izria.
Di teras kosan tempat biasa tamu laki-laki menunggu ataupun bertamu tidak ada siapapun. Clarissa bernapas lega ternyata Mukti hanya mengerjainya pikirnya. Sementara Izria sudah melepaskan gandengan tangannya pada Clarissa dan berjalan menuju parkiran khusus tamu di samping kosan.
"Mukti" suara ceria Izria menyapa Mukti yang ternyata sedang asyik duduk di atas motornya "kenapa nunggu disitu sih? sini masuk" Clarissa membeku di tempat saat Mukti muncul di depan pintu pagar kosannya. Izria menyambutnya dengan antusias.
'Apaan sih Ria ini? Suka yaa sama Mukti.' Clarissa masih berdiri di tempatnya kehilangan kata-kata untuk menyambut pria yang sekarang sudah berjalan ke arahnya dengan senyuman khasnya.
"Hai, Sa. Kok pesanku nggak pernah di balas?" senyuman di bibirnya justru membuat Clarissa merinding seolah ada makna tersembunyi di baliknya. Mata Clarissa melirik Izria yang sudah duduk di kursi dengan senyum cerianya.
'Apa-apaan senyum mereka ini?' Clarissa kembali memandang Mukti yang masih tersenyum di depannya menunggu jawaban dari Clarissa.