YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Pendapat Mama



Bella melambai dengan semangat saat Mukti berpamitan dari atas motornya. Clarissa bahkan beberapa kali menahan tangan Bella yang terus-menerus melambai dan mengucapkan hati-hati di jalan pada Mukti.


"Pulang dulu ya, Sa. Makasih undangannya." ucap Mukti sekali lagi sebelum ia pulang, Clarissa hanya tersenyum canggung dan mengangguk.


"Sering-sering saja datang mas." jawab Bella bersemangat membuat Mukti tertawa melihat semangat Bella.


Mukti memacu motornya dengan kecepatan sedang untuk pulang ke rumah. Setelah Mukti sudah hilang dari mulut gang dan orang tua Clarissa masuk ke dalam rumah. Clarissa melirik Bella sinis, Bella yang merasakan tatapan mematikan dari Clarissa langsung ngacir masuk ke dalam rumah tidak memperdulikan Clarissa yang memanggil namanya dengan kesal.


Setelah mencuci muka dan menggosok gigi Clarissa kembali ke kamarnya bersiap untuk tidur. Hari ini sangat melelahkan untuknya. Diganggu Bella seharian dan kedatangan Mukti ke rumahnya ternyata berhasil menyedot banyak sekali energinya.


Clarissa sudah siap di atas tempat tidurnya saat pintu kamarnya di ketuk dan terdengar suara mamanya dari luar.


"Masuk saja, Ma. Nggak Rissa kunci." jawabnya lalu tak lama pintu terbuka dan mamanya berjalan menuju tempat tidurnya.


"Sudah mau tidur, Sa?" tanya mamanya lembut. Mamanya sudah duduk disampingnya.


"Belum kok, Ma. Kenapa?" Clarissa menatap mamanya yang terlihat menatapnya lembut dengan senyum hangat.


"Mama bukannya mau ikut campur urusanmu, nak. Tapi, mama bisa melihat kamu tidak nyaman tadi." mamanya sudah meraih tangan Clarissa dan menggenggam tangannya lembut.


Clarissa melihat tangannya yang digenggam mamanya. Ternyata mamanya menyadari bagaimana perasaannya tadi. Mungkin begitulah seorang ibu.


"Ma, seperti yang Rissa ceritakan pagi tadi ke mama. Rissa baru saja putus dari Indra. Rissa putus pun sedikit banyak ada kaitannya dengan Mukti. Meskipun Rissa memutuskan Indra murni keputusan Rissa bukan karena Mukti." Clarissa masih menunduk ia tak bisa menatap mata mamanya saat ini.


Mamanya menepuk-nepuk punggung tangan Clarissa, berharap rasa sayangnya pada anak gadisnya ini bisa tersampaikan.


"Rissa, jangan terus-menerus menyalahkan dirimu sendiri. Apa yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Selama kamu memang tidak melakukan kesalahan fatal. Kamu harus belajar menghadapinya. Jangan menghindar. Seperti yang kamu bilang, kamu sama Indra sudah baik-baik saja. Mungkin belum bisa kembali seperti dahulu tapi setidaknya sudah membaikkan?" Clarissa hanya mengangguk menjawab pertanyaan mamanya.


"Untuk Mukti. Dia anak baik. Tapi, ini hidupmu. Mama tidak ingin ikut campur dengan keputusanmu ini. Semuanya tergantung hatimu, Sa. Mama akan selalu ada saat kamu butuh." Clarissa memeluk mamanya erat. Ia sempat takut mamanya akan seperti bapaknya atau Bella yang terlihat sangat mendukung Mukti.


"Makasih ya ma. Rissa tadi takut, kalau mama juga kayak bapak atau Bella." ucap Clarissa pelan, mamanya menepuk punggungnya lembut dan tersenyum.


"Indra memangnya nggak sopan dan baik, ma?" tanya Clarissa tidak setuju dengan pendapat mamanya. Membuat mamanya tertawa kecil, gemas dengan sikap anak gadisnya.


"Bukan gitu. Tapi sekarang kan kita ngomongin Mukti." jawab mamanya sambil menyentuh pipi Clarissa yang memerah. Clarissa menunduk malu.


"Kalau Bella, kamu tahu sendiri kan dia memang gitu. Apalagi Mukti selalu nawarin dia mau di belikan apa kalau pulang kesini." Clarissa cemberut mengingat Bella yang sangat menyebalkan hari ini menurutnya.


"Bella tuh, ma. Yang bisa bikin Mukti salah paham." ucap Clarissa kesal.


"Apa ini namaku disebut-sebut?!" tiba-tiba suara cempreng Bella membuat Clarissa dan mamanya mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu kamar. Di sana sudah berdiri Bella dengan mata manyipit dan tangan terlipat di depan dada.


"Kok curhat-curhatan aku nggak di ajak sih!!" Bella sudah berlari dan ikut nimbrung di antara mamanya dan Clarissa.


"Apa sih dek? Sana tidur." usir Clarissa tapi Bella makin menggeliat manja di tengah-tengah Clarissa dan mamanya.


"Sudah, sudah. Ayo kita tidur." ajak mamanya saat melihat kedua anak gadisnya mulai bertengkar.


"Iiiihhh... pas aku datang kok malah mau tidur sih!" Bella cemberut membuat mamanya tersenyum melihat tingkah anak gadisnya ini.


"Ayo, Bel. Sudah malam. Waktunya tidur, nanti kamu susah bangun sholat subuh." ajak mamanya sudah berdiri di samping tempat tidur.


Bella akhirnya bangun dari duduknya dan ikut mamanya keluar dari kamar Clarissa. Clarissa hanya mengulum senyumnya melihat Bella yang cemberut dan kesal.


Setelah pintu kamar ditutup. Clarissa membaringkan badannya di atas tempat tidurnya yang nyaman. Matanya menatap langit-langit kamar mulai memikirkan perkataan mamanya.


Setidaknya ia tahu pendapat mamanya sekarang tentang Mukti dan itu membuat rasa khawatirnya lenyap. Sekarang ia bisa sedikit merasa lega dan tidak perlu lagi merasa terbebani jika Mukti datang lagi kerumahnya.


'Memangnya dia akan kesini lagi? ' pikir Clarissa yang segera di tepisnya dan mulai memejamkan matanya mencoba untuk tidur.