YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
(Akhirnya) Putus



Entah sudah berapa kali Izria memegang gagang pintu kamarnya tapi selalu ia urungkan. Dari dalam kamar ia bisa mendengar suara isak tangis Clarissa yang teredam. Ada rasa bersalah yang tumbuh di hatinya. Tapi, hanya sebentar lalu ia tepis. Akhirnya dengan penuh keyakinan Izria membuka pintu kamarnya. Ia bisa melihat Clarissa yang duduk meringkuk. Izria melangkah pelan mendekati Clarissa lalu duduk di ujung tempat tidur Clarissa.


Ia sengaja tidak berkata apa-apa. Hanya duduk memperhatikan Clarissa yang masih menangis. Saat tangisan Clarissa mulai mereda, Izria menepuk-nepuk lembut tangan teman sekamarnya itu yang masih memeluk kedua kakinya. Bahkan kepala Clarissa masih terbenam diantaranya.


Cukup lama Izria menepuk-nepuk tangan Clarissa berharap bisa membantu temannya itu lebih tenang hingga Clarissa akhirnya mengangkat kepalanya. Izria bisa melihat betapa bengkaknya mata Clarissa, hidungnya yang memerah, pipinya yang basah karena air mata. Terdengar helaan napas dari Izria yang melihat keadaan Clarissa. Ia merasa khawatir tapi juga kasihan.


Air mata Clarissa susah mulai berhenti tapi ia masih terlihat sesenggukan. Izria akhirnya ikut duduk di samping Clarissa mencoba merangkul bahu Clarissa untuk membantu teman sekamarnya lebih tenang.


Suara panggilan masuk di Hp Clarissa membuat mereka berdua langsung menatap layar Hp Clarissa. Ada nama Indra disana. Terlihat air mata Clarissa kembali mengalir dan isak tangisnya kembali pecah.


"Udah, Sa. Biarin saja dulu." Izria menepuk-nepuk bahu Clarissa,Clarissa menganggukkan kepalanya namun tangannya meraih Hpnya dan memilih menonaktifkannya.


"Aku.. ta.. hu.. Ra.. A... a.. ku yang sa... lah" Clarissa mencoba berbicara di sela-sela tangisannya


"Huussstt... udah Sa. Kamu nggak perlu ngomong apa-apa dulu. Aku tahu saat ini kamu hanya ingin menangis. Jadi menangislah sepuasnya. Jangan pedulikan apapun dulu. Sampai kamu lega dan ingin bercerita maka aku akan mendengarkan" Izria mengelus lembut punggung Clarissa.


Mendengar kata-kata Izria membuat tangis Clarissa pecah lagi. Izria membiarkan teman sekamarnya ini puas menangis. Agar ia segera merasa lega.


Hampir satu jam mereka duduk dengan posisi yang sama. Izria bahkan tak pernah beranjak sedikit pun dari sisi Clarissa. Hingga Clarissa sudah lebih tenang.


"Aku tahu, Ra. Aku yang tidak tegas." Clarissa mulai bercerita sedangkan Izria mulai menatap Clarissa yang sedang menerawang entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang.


"Kebodohan ku yang menghancurkan kepercayaan Indra. Makanya akhirnya jadi begini. Tapi, aku malah ingin menyalahkan Indra" lanjut Clarissa bahkan air matanya mengalir begitu saja dari matanya.


Izria hanya mendengarkan apa yang ingin dikatakan Clarissa. Ia tak ingin menyela apapun yang di katakan Clarissa. Ia hanya membiarkan Clarissa mengatakan isi hatinya yang mengganjal. Membantunya agar cepat merasa lega.


"Ini salahku, Ra" tangis Clarissa kembali pecah meskipun tidak seperti sebelumnya


"Bukan salahmu, Sa. Indra juga harusnya bisa mengerti. Maaf kalau tadi aku jadi mendengar pembicaraanmu" ucap Izria sambil menunduk


Izria menatap Clarissa dengan tatapan polos dan mengangguk lalu tertawa berharap Clarissa akan ikut tertawa. Ternyata usahanya berhasil Clarissa ikut tertawa meskipun nampak kaku.


"Gitu dong ketawa" puji Izria dengan antusias.


"Sudah. Ayo, semangat! percayalah ini keputusan yang terbaik, Sa. Jadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Oke! " Izria menunjukkan gerakan tangan oke yang di jawab anggukan kepala Clarissa.


Izria kembali ke tempat tidurnya. Ia memilih melanjutkan belajar. Tapi, sebelum membuka buku catatannya, Ia melirik Clarissa lagi yang sudah berbaring dengan posisi memunggunginya saat ini. Sejujurnya Izria merasa simpati dengan keadaan Clarissa saat ini. Tapi, ia merasa sudah cukup ikut campur urusan Clarissa.


Ia segera membuka lembaran buku catatannya yang akan masuk sebagai materi ujiannya nanti. Sedangkan Clarissa masih menangis namun tanpa suara. ia tak ingin membuat Izria khawatir lagi. Jadi, ia memilih pura-pura tidur meskipun air mata terus-menerus keluar tanpa di minta.


°°°°°°


**Halo semuanya 😊 maaf kalau tulisannya lebih pendek dari biasanya. Soalnya kondisi hari ini lagi nggak enak badan, ini pun ditulis sebisa mungkin karena otak nggak bisa berpikir hehee


Maafkan jika ada typo atau kata-kata yang masih belum sesuai kbbi. Nanti saat sudah selesai ceritanya bakal di cek-cek untuk di revisi.


Terima kasih yang masih Setia membaca, yang sudah like dan komen. Itu membuatku semangat untuk menulis.


Maaf juga buat teman-teman penulis (author) yang udah mampir dan mendukung cerita ini tapi aku belum sempat mampir di karyanya. Tapi, saat sudah lebih sehat aku bakal mampir baca hehee


Semangat teman-teman penulis! mari kita saling mendukung yaa~


Tentunya terima kasih para pembaca sudah bersedia membaca cerita ini ❤️❤️


Salam,


JiRaa_song 🥰**