
Hari minggu yang berbeda dari biasanya. Sebelum sholat subuh bahkan Clarissa sudah bangun dan merapikan kamarnya. Selesai sholat subuh berjamaah dengan mama dan Bella, Clarissa memilih kembali ke kamarnya. Ia duduk di tepi tempat tidurnya dengan kaki bersila dan bantal kecil di pangkuannya. Matanya menerawang entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Clarissa hanya duduk diam, sesekali matanya melirik kalender duduk di meja riasnya. Hari ini, hari dimana ia siap menjatuhkan dirinya dan merasakan patah hati terhebatnya. Sangat luar biasa pikir Clarissa saat ini. Bagaimana ia bisa mempersiapkan segalanya bukan untuk move on tapi untuk patah hati. Padahal hampir enam bulan lebih ia tahu ini akan terjadi bukannya berhenti Clarissa justru mempersiapkan dirinya untuk patah hati.
"Rissa, kamu harusnya bisa move on kamu punya kesempatan loh untuk tidak patah hati." ucap Riana beberapa hari lalu saat mereka bertemu.
"Aku tahu, Na. Aku ingat aku cerita ke Nisa, aku ibarat orang yang tahu akan jatuh terpeleset kebelakang ke lantai semen lalu kepala bisa luka serta merasakan sakit dan aku bisa menghindari itu tapi aku memilih menaruh matras dibelakang ku. Lalu sengaja menjatuhkan diriku. Memang seperti orang bodoh. Tapi, ini salah satu cara yang aku pilih. Setidaknya sekarang kepala dan badanku akan baik-baik saja meskipun aku tetap merasa sakit." ucap Clarissa sambil tersenyum tipis matanya memandang laut yang terhampar luas di hadapannya.
Riana hanya merangkul bahu Clarissa memberi semangat pada sahabatnya itu. Ia tahu Clarissa ingin melalui ini, sesakit apapun itu.
Suara deringan telepon membuat Clarissa tersadar dari lamunannya. Ia menatap layar Hpnya tertera nama Riana di sana. Clarissa tersenyum tipis dan segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Assalamu'alaikum. Na, kenapa?" tanya Clarissa, meskipun sebenarnya ia tahu alasan Riana menelponnya.
"Rissa, ayo keluar. Jalan-jalan kemana gitu." Ajak Riana.
"Kemana?" suara Clarissa pelan tapi Riana masih bisa mendengarnya.
"Kemana saja. Aku tahu kamu nggak mau sendiri." Clarissa tersenyum ia lalu menyetujui ajakan Riana.
Setelah panggilan telepon berakhir, Clarissa langsung bersiap-siap sebelum Riana datang menjemputnya. Setelah keluar dari kamar dengan pakaian rapi, orang tua Clarissa dan Bella sudah duduk di meja makan untuk sarapan bersama.
"Mau kemana, Sa?" tanya bapaknya.
"Ini mau keluar sama Riana, pak." jawab Clarissa berjalan ke arah meja makan.
"Nggak sarapan dulu?" tawar bapaknya saat Clarissa salim untuk pamitan.
"Nanti sarapan bareng Riana kok pak." jawab Clarissa lembut, ia lalu salim kepada mamanya dan menepuk pundak Bella saat ia mencicipi nasi goreng dari piring Bella.
"Oh yasudah. Hati-hati." Clarissa mengangguk dan mengucapkan salam kepada orang rumahnya.
Tak lama setelah Clarissa keluar rumahnya, Riana muncul. Mereka memilih pergi ke sunday market untuk mencari sarapan dan melanjutkan ke tempat wisata alam sebuah danau dengan taman di sekelilingnya yang tak jauh dari tempat yang di adakan sunday market .
"Sa, Ini Nisa katanya mau kesini." kata Riana di tengah-tengah keheningan mereka.
"Nggak apa-apa katanya. Dia mau nemanin kamu juga." Clarissa merasa terharu dikelilingi orang-orang yang sangat peduli padanya.
Sekitar lima belas menit Nisa datang dan langsung memeluk Clarissa erat. Ia mengelus-elus punggung Clarissa dan memberi semangat pada sahabatnya itu. Nisa tahu apa yang dirasakan Clarissa karena ia pernah merasakannya tidak hanya sekai tapi dua kali.
Clarissa membalas pelukan Nisa. Entah kenapa ia tak bisa menangis tapi dadanya terasa sangat sesak. Mereka bertiga akhirnya memilih hanya duduk dan menikmati pemandangan yang di suguhkan di hadapan mereka. Karena masih cukup pagi tempat wisata alam ini belum banyak pengunjung hanya beberapa orang yang sepertinya sedang lari pagi dan bersiap memancing di area memancing yang di siapkan di sisi lain danau.
"Tenyata meskipun menyesakkan tapi tidak separah yang ku kira." Clarissa tiba-tiba berbicara meskipun matanya masih menatap danau di depannya yang memantulkan sinar matahari.
"Insya Allah, setelah ini Rissa bakal dapat yang terbaik dari Allah." ucap Nisa terdengar lembut sementara Riana yang duduk di samping Clarissa hanya bisa menepuk-nepuk lembut punggung Clarissa.
"Iya, meskipun aku merasa bodoh. Aku tahu, harusnya aku bisa lebih cepat menghindari sakitnya. Allah baik banget sama aku. Dari jauh-jauh hari aku sudah di peringatkan. Tapi, dasar aku yang bandel." Clarissa tersenyum kecut bahkan di dalam hati ia merutuki dirinya sendiri.
"Rissa, kamu sudah melakukannya dengan baik." Riana berusaha menghibur Clarissa.
Kini suasana kembali hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya seperti biasa Riana mulai bercerita tentang hubungannya dengan kakak kelas kami dulu saat SMA dan rencananya untuk menikah. Cerita dari Riana cukup membantu Clarissa lupa dengan apa yang terjadi hari ini. Ia bisa kembali tertawa dengan ringan tanpa terpaksa bahkan memberi saran pada Riana.
"Semalam sebenarnya Dikta DM aku. Dia minta maaf yang entah untuk apa dan ngundang aku ke acaranya hari ini." ucap Clarissa setelah Riana selesai bercerita. Mendengar pernyataan Clarissa membuat Riana dan Nisa sama-sama kaget.
"Serius kami, Sa?!" tanya Riana tak percaya.
"Serius, Na. Tapi nggak aku balas. Aku langsung hapus semua DMnya dia terus aku hidden postingan sama storynya." Riana yang mendengar perkataan Clarissa hanya bisa geleng-geleng kepala sedangkan Nisa menepuk lembut punggung tangan Clarissa.
"Bagus kalau gitu, Sa. Harusnya dari awal saat dia dekat sama yang ini, dia berhenti kasih kamu harapan. Jangan masih saja DM kamu." ucap Riana emosi yang membuat Clarissa yang balik menenangkan Riana.
"Ya sudahlah. Sekarang setidaknya Rissa sudah tahu harus bagaimana." ucap Nisa yang di sambut anggukan setuju Riana.
"Rissa, seperti yang pernah aku sampaikan waktu itu sama kamu. Kamu nggak perlu memaksa dirimu untuk segera move on karena kamu punya hak untuk prosesnya tanpa paksaan. Jadi, kamu bisa dengan lebih ikhlas melepas dia." sambung Nisa lagi. Mendengar kata-kata Nisa membuat Clarissa merasa terharu setidaknya orang-orang yang ada di samping-sampingnya ini mengerti kalimat apa yang pantas di ucapkan saat ini.
Tidak seperti sebagian besar orang di luar sana yang memaksanya untuk cepat move on atau meremehkan masalahnya. Tanpa tahu seberapa besar usahanya untuk bisa tetap bertahan dan waras hingga saat ini. Terkadang tidak semua orang harus berlari menghindari masalah di hadapannya atau mencari cara agar menghindar dari rasa sakit karena ada beberapa orang yang justru harus merasakan sendiri sakitnya seperti apa agar ia bisa move on.