
Tanpa mengetuk Bella membuka pintu kamar Clarissa yang baru selesai memasang jilbabnya. Clarissa yang melihat bayangan Bella dari cermin di depannya langsung membalikkan badannya menatap Bella sedikit kesal.
"Ketuk pintu dulu, Bella!" ucap Clarissa namun Bella hanya tersenyum menunjukkan giginya.
"Mbak, mau kemana?" tanya Bella setelah ia menutup pintu kamar Clarissa.
"Bukber." jawab Clarissa singkat.
"Iihh, lagi?!!" pekik Bella tak percaya "Rajin banget teman-temannya mbak ini." Bella geleng-geleng kepala.
"Kamu ngapain masuk ke kamar mbak kayak gitu?" tanya Clarissa sambil mengenakan tas ransel mini andalannya.
"Eh, iya. Mau ngasih tahu mbak. Ada mas Mukti datang." Clarissa tempak terkejut mendengar perkataan Bella.
Seketika mood Clarissa berubah. Clarissa duduk di kursi riasnya sedangkan Bella sudah duduk di atas tempat tidur Clarissa.
"Kenapa, mbak?" tanya Bella hati-hati.
Clarissa tidak menjawab, otaknya sibuk berpikir. Ia tidak ingin bertemu dengan Mukti tapi kalau dia keluar sekarang orang tuanya pasti menyuruhnya menemui Mukti.
'Riana nggak bisa ku minta jemputin aku. Gimana caranya biar aku bisa keluar tanpa ngobrol dengan Mukti?' pikir Clarissa, helaan napas lolos dari bibirnya.
"Mbak?!" panggil Bella agak keras membuat Clarissa tersadar.
"Mukti dimana, Bel?" Clarissa sudah berdiri dari duduknya.
"Tadi sih di ruang tamu sama bapak. Oh!!.." Bella menepuk kedua tangannya di depan dada saat mengingat sesuatu " Bapak tadi ngajak mas Mukti buka puasa di rumah." Clarissa benar-benar terkejut mendengar informasi dari Bella.
Clarissa langsung mengambil Hpnya yang sudah ia masukkan ke dalam tas. Melihat jam yang tertera di layar Hpnya menunjukkan pukul 5 lebih 10 menit sore. Ia mencoba berpikir sejenak hingga satu nama muncul di otaknya, Dila. Clarissa segera mencari nama Dila di daftar kontaknya. Begitu ketemu Clarissa langsung menelepon Dila. Tidak lama dari setelah nada sambungan berbunyi terdengar suara Dila yang menjawab dari seberang sana.
"Assalamu'alaikum. Kenapa, Sa? " tanya Dila ramah.
"Dil, sudah dimana?" tanya Clarissa tanpa menjawab pertanyaan Dila.
"Ini masih di rumah baru mau berangkat, Sa."
"Bisa jemput aku nggak?" tanya Clarissa agak ragu.
"Bisa, Sa. Ini aku sudah mau berangkat ya."
"Oke. Makasih ya, Dil." Clarissa pun mengakhiri panggilan teleponnya.
"Kok minta dijemput, mbak? Bukannya mau bawa motor sendiri?" tanya Bella bingung karena melihat kunci motor di atas meja rias Clarissa.
"Nggak jadi." jawab Clarissa sedikit ketus. Mendengar jawaban Clarissa Bella langsung paham.
Sekitar sepuluh menit menunggu akhirnya terdengar suara Bella dari luar kamarnya memberitahu bahwa Dila sudah datang. Clarissa segera keluar dari kamarnya, ia bisa melihat Mukti yang sedang duduk di depan televisi bersama bapaknya. Sedangkan mamanya terlihat sibuk di dapur. Clarissa berjalan cepat menuju dapur dan pamit kepada mamanya. Lalu kembali ke ruang tengah menghampiri bapaknya untuk Salim dan pamit.
"Mau kemana, Sa?" tanya bapaknya saat ia pamit.
"Ada acara bukber, pak." jawab Clarissa ia sengaja tak melihat Mukti.
"Lagi?!" ucap bapaknya terkejut.
"Kan Rissa sudah ngasih tahu tadi pagi." Bapaknya hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Clarissa sudah mau pergi saat bapaknya memanggilnya lagi, Clarissa menghentikan langkahnya dan menatap bapaknya yang memberikan isyarat untuk menyapa Mukti. Clarissa menghela napas, ia melihat Mukti yang sudah tersenyum ke arah. Tiba-tiba muncul rasa bersalah dari dalam hati Clarissa tapi dengan cepat ia tepis.
Clarissa hanya menyapa Mukti sekedarnya lalu bergegas keluar rumahnya dimana Dia sudah menunggu. Mereka langsung berangkat ke cafe tempat mereka akan buka puasa bersama hari ini. Saat sampai di halaman parkir cafe terlihat sudah ada Gina, Rahma, Riana dan juga Afifah yang buka puasa dua hari yang lalu tidak bisa ikut karena ada acara keluarga.
Dila dan Clarissa langsung menuju meja tempat teman-temannya sudah berkumpul. Dila menatap sekitarnya lalu duduk di samping Gina.
"Mana ini yang cowok-cowok pada belum datang?!" ucap Dila kesal.
"Anton sama Gian lagi otw katanya. Tian sudah datang tapi lagi ke toilet." Riana menjelaskan. Tak lama Tian kembali dari toilet bersama dengan Rian.
"Loh, kok kamu bareng Rian?" tanya Gina bingung.
"Tadi ketemu pas dia masuk." ucap Tian setelah duduk di kursinya.
Akhirnya satu per satu teman-temannya datang. Hanya tinggal Dikta, Disa dan Izria yang belum datang. Dila dan Gina sudah tampak kesal ditambah jam buka puasa tinggal lima belas menit lagi.
"Mana ini yang minta kita ngadain bukber lagi hari ini?" ucap Gina terdengar kesal.
"Nggak tahu. Nggak ada kabar. Di grup cuma ada Dikta bilang telat, katanya lima menit sebelum buka dia pasti sudah sampai." ucap Rahma saat membaca pesan Dikta yang baru masuk di grup.
Benar saja kurang dari lima menit sebelum adzan maghrib berkumandang Dikta sudah datang masih dengan kemeja warna putihnya. Clarissa yang melihat hal itu tanpa sadar tersenyum samar.
Dikta melihat kemejanya lalu tertawa saat menyadari apa yang di katakan Dila. Sementara teman-temannya tampak bingung melihat Dikta tertawa.
"Aku baru sadar, Dil. Tiap ngumpul sama kalian aku sering pakai baju warna putih." ucap Dikta dengan senyum lebarnya.
Suara adzan maghrib berkumandang tanda waktu buka puasa sudah tiba. Setelah meminum air putih dan makan kue yang di berikan gratis oleh cafe sebagai paket buka puasa mereka memilih sholat maghrib berjamaah di mushola cafe yang lumayan besar meskipun mereka tetap harus bergantian dengan pengunjung cafe yang lain.
Selesai sholat makanan yang mereka pesan sudah datang semua sembari menikmati makanan mereka sibuk bercerita dan bercanda hingga suara adzan isya berkumandang. Mereka memilih pindah tempat untuk melanjutkan perbincangan mereka berbeda dengan acara buka puasa bersama mereka sebelumnya. Hanya yang cowok-cowok yang memilih ikut sholat tarawih sementara yang cewek-cewek hanya sholat isya lalu segera ke cafe selanjutnya. Cafe yang mereka pilih hanya cafe sederhana yang menu utamanya adalah roti bakar. Namun dengan pemandangan kota yang bagus karena letaknya yang agak tinggi dan suasana outdoor yang lebih santai dari cafe sebelumnya.
Karena Dila yang diminta pulang oleh ibunya karena ada keperluan mendadak akhirnya Clarissa ikut bersama Gina. Begitu sampai di cafe dan menemukan tempat untuk mereka, pelayan datang dan memberikan daftar menu setelah memesan mereka melanjutkan perbincangan mereka tadi sambil menunggu teman-teman mereka yang cowok selesai sholat tarawih.
Sekitar setengah sembilan malam, Dikta dan yang lain sudah datang. Gina memanggil Dikta agar duduk disampingnya yang mana tepat di depan Clarissa. Pembicaraan mereka masih seputar cerita-cerita masa SMA mereka, saat kuliah dan pekerjaan mereka. Sampai tanpa terasa sudah jam sepuluh malam. Clarissa baru ingat rumah Gina berlawanan arah dengan rumahnya.
"Anton, aku pulang sama kamu ya? baru ingat Gina beda arah sama aku." ucap Clarissa setengah berbisik pada Anton yang duduk di sampingnya.
"Aman, Sa." jawab Anton.
"Eh, Anton antarin aku pulang ya? Kasihan Ifah kalau yang antar aku. Dia bisa lewat jalan tembus kalau dari sini. Nanti kalau ngantar aku dulu jadi makin jauh." ucap Riana yang baru sadar ia harus mencari tumpangan lain.
"Aku sudah sama Rissa, Na." jawab Anton.
"Sama aku saja, Na." Dikta menawarkan.
"Eh, tapi motor Dikta ninja. Kasihan Riana nanti susah naiknya." ucap Gina saat ingat keadaan Riana yang baru saja jatuh dari motor sekitar seminggu yang lalu.
"Kalau gitu Rissa biar sama aku saja. Gimana, Sa?" tanya Dikta yang membuat jantung Clarissa berdetak kencang.
"Pelan-pelan kamu bawanya, Ta. Rissa pakai rok itu." ucap Riana mengingatkan.
"Aman." jawab Dikta santai.
Setelah membayar pesanan mereka, Clarissa mengambil helmnya dari motor Gina. Gina terlihat menahan senyum membuat Clarissa curiga.
"Pintarkan aku, Sa." ucap Gina menggoda Clarissa.
"Apa sih, Gin?" Clarissa berusaha menahan ekspresi gugupnya.
Gina tertawa lalu menyuruh Clarissa segera menemui Dikta yang sudah menunggunya. Clarissa langsung berjalan menuju tempat Dikta berdiri bersama Anton dan Riana.
"Sudah?" tanya Dikta saat melihat Clarissa yang menghampirinya, Clarissa hanya mengangguk "Ayo, motorku di sana." tunjuk Dikta ke tempat parkir di depan ruko tepat di samping cafe. Karena saat datang tadi parkiran cafe yang lumayan kecil ini sudah penuh. Mereka berempat jalan bersama menuju tempat motor mereka terparkir. Dikta mengeluarkan kunci motornya dan memakai helmnya. Anton dan Riana pamit lebih dulu, setelah Dikta duduk di motornya ia membantu Clarissa untuk naik ke boncengan motornya yang cukup tinggi untuk Clarissa.
"Sudah aman?" tanya Dikta saat Clarissa sudah berhasil duduk di boncengan motornya.
"Sudah." jawab Clarissa.
"Hati-hati rokmu ya." ucap Dikta lembut.
"Iya, aman." Setelah memastikan semuanya aman Dikta mulai memacu motornya dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan pulang Dikta mengajak Clarissa mengobrol bahkan sesekali mereka tertawa. Hingga tanpa terasa mereka sampai di depan rumah Clarissa. Sekali lagi Dikta membantu Clarissa turun dari motornya.
"Makasih ya, Ta." ucap Clarissa dengan senyum lembutnya.
"Iya, Sa. Sama-sama. Lebaran masak apa?" tanya Dikta tiba-tiba membuat Clarissa terkejut.
"Paling seperti lebaran sebelumnya." jawab Clarissa mencoba berpikir.
"Soto banjar ya?" tanya Dikta antusias. Clarissa mengangguk mengiyakan "Oke. Lebaran aku ke rumah ya? minta makan hahaha" lanjut Dikta sambil tertawa.
"Iya, ke rumah saja. Lagian kamu sendirian kan?" Dikta mengangguk.
"Kapan keluargamu berangkat?" tanya Clarissa.
"Besok. Insya Allah." jawab Dikta "Ya sudah. Aku pamit ya." Dikta menyalakan motornya.
"Iya, makasih ya. Hati-hati." ucap Clarissa yang di balas lambaian tangan Dikta.
Clarissa melihat Dikta sampai hilang dari mulut gang. Ia masuk ke rumahnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Saat membuka pintu rumah Bella yang masih duduk di ruang tamu sedang menelepon seseorang terlihat mengernyit melihat Clarissa yang masuk ke rumah dengan senyum lebar.
"Cieee.. kenapa nih senyum-senyum?" goda Bella sudah menjauhkan Hpnya dari telinganya.
"Apa sih? kamu ini pacaran terus sudah malam." ucap Clarissa terdengar ketus tapi senyumnya masih ada di sana.
Bella bisa melihat suasana hati Clarissa yang sedang bahagia. Clarissa hanya melewati Bella yang menatapnya penuh selidik. Bella bertekad mencari tahu apa yang terjadi besok pagi karena sudah lama Bella tak melihat Clarissa tersenyum seperti itu.