YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Dikta (1)



Malam ini Bella memutuskan tidur bersama Clarissa. Ia ingin menemani Clarissa. Meskipun Clarissa susah berkali-kali menolak tapi Bella tetap saja bersikeras dan akhirnya kini Bella sudah berbaring di sebelah Clarissa sama-sama menatap langit-langit kamar Clarissa.


Tiba-tiba Clarissa bangun dan berjalan ke arah saklar lampu dan mematikan lampu kamarnya meninggalkan lampu tidur di samping tempat tidurnya yang menyala.


"Kenapa dimatikan, mbak?" tanya Bella saat Clarissa sudah kembali berbaring di sampingnya.


"Biar adil, dek." jawab Clarissa pelan. Bella hanya mengernyit, tidak paham.


Bella menatap wajah Clarissa berusaha membaca emosi apa yang tergambar di sana. Clarissa masih menatap langit-langit kamarnya. Ingatannya kembali ke masa-masa yang paling ingin ia lupakan. Meskipun mustahil ia lupakan, setidaknya ia ingin berdamai dengan masa-masa itu.


_ Flashback _


Setelah acara buka puasa bersama beberapa teman-teman Clarissa memilih melanjutkan acara nongkrong mereka ke cafe Daisy yang tak jauh dari rumah makan. Mereka memutuskan sholat tarawih terlebih dahulu lalu pergi ke cafe Daisy.


Setelah sholat tarawih, mereka bersama-sama pergi ke cafe Daisy. Dila yang duluan sampai dengan Riana langsung memesan tempat untuk delapan orang dan pelayan langsung menunjukkan tempat kepada mereka serta membantu menggabungkan beberapa meja dan kursi.


Clarissa tiba bersama dengan Gina dan Rahma disusul Anton dan Gian yang langsung menuju meja mereka dimana sudah ada Dila dan Riana.


"Mana Dikta sama Tian?" tanya Dila saat Anton dan Gian sudah duduk di kursi mereka.


"Tadi sih barengan tapi... " Gian melihat pintu masuk cafe "Nggak tahu belok kemana?" Terlihat Dila menatap tajam Gian yang menunjukkan senyum polosnya.


"Pesan saja dulu. Nanti juga mereka datang." saran Clarissa sambil memanggil pelayan cafe dan meminta daftar menu.


Saat mereka sudah memesan pesanan masing-masing dan pelayan pergi untuk menyiapkan pesanan mereka. Dikta dan Tian baru terlihat memasuki cafe dan terlihat sedang asyik bercerita.


"Wiiihh.. apa nih kok kayaknya seru?" tanya Gina penasaran saat Dikta dan Tian baru sampai di meja mereka.


"Belum juga kita duduk, Gin." protes Dikta yang memilih duduk di samping Clarissa sementara Tian duduk di samping Gian.


"Hmm.. Dikta tahu saja milih tempat." goda Dila sambil tersenyum jahil "Ini mau mewujudkan yang kita bicarakan pas bukber tadi nih!" Dikta hanya tertawa sementara Clarissa hanya bisa tersenyum canggung.


Saat buka puasa tadi entah bagaimana teman-temannya jadi menjodoh-jodohkan Clarissa dengan Dikta. Membuat Clarissa menjadi salah tingkah setiap kali teman-temannya mulai menggodanya.


"Teman-teman, ini Disa minta kita ngadain bukber lagi hari kamis soalnya tadi dia nggak bisa ikut." ucap Rahma ditengah-tengah pembicaraan teman-temannya yang sibuk menggoda Clarissa dan Dikta.Clarissa menghela napas lega saat Rahma mengganti topik pembicaraan mereka.


"Ya ampun. Gimana pada mau nggak?" kata Gina sedikit kesal.


Bukan tanpa alasan karena Disa yang seharusnya tadi hadir tapi saat mendekati waktu buka puasa Disa baru mengatakan ia tak bisa datang sementara makanannya sudah di pesan. Bukan hanya Disa sebenarnya ada beberapa temannya yang melakukan hal yang sama termasuk Izria. Untuk Izria sejujurnya Clarissa dan Riana tahu alasanya.


"Aku sih nggak ada masalah." Dikta menjawab yang di setuju yang lain.


"Oke. Tapi dimana? Sekarang susah booking tempat karena semakin dekat lebaran. Pasti banyak yang ngadain bukber." Gina tampak berpikir.


Dila langsung sibuk dengan Hpnya, mengetik sesuatu. Sementara teman-temannya sibuk memberi saran tempat.


"Oh itu cafe baru ya?" tanya Riana saat membaca nama cafenya dan Dila tersenyum mengiyakan.


"Untuk 15 orang saja." saran Gina "Rahma kasih tahu grup ya." perintah Gina yang langsung dilakukan Gina.


"Yang lain komen ya di grup. Biar yang lain pada komen juga." Sambung Dila yang langsung mengirim daftar list di grup bagi yang bisa ikut buka puasa bersama hari kamis nanti.


Tanpa terasa sudah waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh bahkan beberapa pengunjung cafe sudah pulang dan hanya tinggal mereka dan dua meja lainnya. Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Dikta dan Tian menyuruh yang lain duluan saja keluar karena mereka yang akan membayar sebagai permintaan maaf karena telat datang atau lebih tepatnya di paksa mentraktir oleh Dila dan Gina.


"Anton nanti kamu antar Rissa ya." ucap Riana pada Anton.


"Nggak apa-apa, Na. Aku bisa sendiri kok. Rumahku kan dekat dari sini." tolak Clarissa tak ingin menyusahkan Anton.


"Nggak apa-apa, Sa. Kita searah juga kan." Clarissa akhirnya setuju setelah dipaksa Riana dan juga Dila.


"Eh, Rissa sendirian ya?" tanya Dikta yang baru keluar dari cafe. Clarissa langsung mengangguk.


"Aku ikutan nanti dari belakang. Bahaya pulang malam gini sendirian." ucap Dikta membuat jantung Clarissa berdetak lebih cepat.


"Ciieee.. pendekatan nih." goda Dila sambil mencubit lengan Dikta. Dikta hanya bisa mengaduh dan memegang lengannya yang terasa sakit.


"Anton yang bakal ngikutin Rissa." ucap Riana sambil tersenyum jahil.


"Ya nggak apa-apa. Makin banyak yang nemenin kan makin bagus." Dikta sudah menuju motornya diikuti yang lain namun tidak membuat teman-temannya berhenti menggoda.


Akhirnya Clarissa pulang di antar Anton dan juga Dikta. Saat sampai di depan rumah Clarissa Anton dan Dikta langsung pamit. Clarissa masuk kedalam rumahnya dengan perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Ia menuju kamarnya dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Tapi, ia masih tidak mengakui apa yang ia rasakan. Ia masih belum yakin. Menurutnya bisa saja ini pengaruh dari teman-temannya yang menggodanya.


Saat ini Clarissa tidak pernah menyangka hal ini akan menjadi awal dari langkahnya menuju rasa yang tidak pernah ia rasakan selama ini. Patah hati yang terhebat. Perasaan yang tak pernah ia pikirkan akan ia pahami dengan pemikiran ideologisnya. Hal klise yang tak ia pahami tentang kesedihan karena ditinggal menikah oleh orang yang dicintai.


...----...


*Hai, teman-teman pembaca semua.


Untuk beberapa episode tentang patah hati Clarissa ini masih berisi flashback dari ingatan-ingatan Clarissa.


Terima kasih yang masih setia membaca sampai sejauh ini. Ceritanya sudah menuju pertengahan. Akan ada beberapa kejutan kedepannya. Jadi, selamat menikmati ceritanya yaa~


Terima kasih juga untuk yang selalu mendukung. Maaf untuk teman-teman author 🙏 aku belum bisa mampir ke ceritanya 😔 Tapi, pelan-pelan aku bacain semua cerita teman-teman author yang sudah komen dan mendukung. Mari terus saling mendukung yaa~


salam,


JiRaa_song ❤️*