YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Bertemu dengan Dikta



Butuh waktu hampir sebulan untuk Clarissa bisa kembali ceria. Selama itu Clarissa sering mengurung dirinya di kamar. Sesekali Bella bisa mendengar suara isak tangis Clarissa secara samar dari kamarnya. Bahkan saat di tempat kerjanya pun Clarissa tidak seceria biasanya.


"Mbak Rissa, ayo makan siang?" ajak Citra


"Eh, sudah waktunya makan siang ya?" Clarissa melirik jam tangannya.


"Di ajakin makan sama Bu Ning bareng-bareng katanya dia bawa banyak lauk." Citra sudah berdiri dari kursinya dan meregangkan badannya setelah duduk berjam-jam.


"Oke. Aku selesaikan ini dulu ya. Dikit lagi selesai." Clarissa kembali menatap layar laptopnya sedangkan tangannya sibuk kembali mengetik.


"Di dalam ruang arsip ya mbak." ucap Citra yang di sambut acungan jempol dari Clarissa.


Clarissa mengetuk pintu ruang arsip lalu membukanya. Di dalam ruang arsip ada ruangan kecil yang di rubah oleh ibu-ibu di kantornya menjadi tempat istirahat atau makan siang bersama alasannya agar tidak ada yang memakai ruang laktasi yang ada di samping ruang arsip.


"Sini, dek!" panggil mbak Risya


Clarissa melangkah mendekati mbak Risya dan duduk di samping mbak Risya yang langsung menyerahkan piring kosong padanya.


"Dimakan, mbak Rissa. Saya yabg masak loh ini." ucap bu Ning ramah.


"Hehehe.. iya, bu." Clarissa langsung menyendok nasi ke piringnya dan mengambil beberapa lauk dan sayur di hadapannya.


Sebenarnya Clarissa tidak begitu suka ketika ibu Ning, salah satu atasan di kantornya, mengajak untuk makan siang bersama. Karena Clarissa sudah tahu akan selalu ada obrolan yang paling dihindarinya. Seperti saat ini, ibu Ning sudah mulai menawarkan akan mengenalkan anak buah suaminya yang seorang polisi kepada Tiwi, salah satu anak buahnya yang belum menikah.


Clarissa berusaha tidak ikut dalam pembicaraan tersebut. Ia hanya sibuk dengan makanan di piringnya hingga mendengar namanya mulai disinggung.


"Ini nah bu si Rissa. Lebih butuh di kenalkan kayaknya. Kan lebih tua Rissa dari Tiwi." ucap mbak Indah terdengar lebih seperti menggoda Clarissa yang hanya diam dari tadi.


"Aduh, kalau Rissa sidah punya pacar." jawab ibu Ning terdengar sedih yang di buat-buat.


Mendengar hal itu Clarissa menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh dan melihat sekelilingnya yang menunggu jawabannya.


"Ah... nggak ada bu." jawab Clarissa gugup.


"Loh yang kata bapakmu datang waktu kamu wisuda terus nemanin kamu waktu bapakmu masuk rumah sakit?" tanya ibu Ning, ia terlihat mengernyit.


'Ah, Mukti?' batin Clarissa.


"Nggak ada, bu. Sudah lama putus kalau sama yang itu." jawab Clarissa saat mengetahui siapa yang di maksud ibu Ning.


"Terus, kenapa masih sendiri saja?" tanya ibu Ning yang membuat Clarissa hanya bisa tertawa canggung.


"Jangan terlalu pilih-pilih, Sa." lanjutnya lagi.


'Jangan pilih-pilih? Untuk hal sederhana seperti makanan apa yang mau kita makan saja harus di pilih. Masa urusan jodoh, asal pilih.' batin Clarissa, seandainya ia punya keberanian ia ingin mengucapkan kalimat tersebut. Tapi, ia memilih hanya tersenyum meskipun moodnya yang susah payah ia perbaiki selama berminggu-minggu ini dalam sekejap menjadi rusak.


Clarissa meletakkan piringnya yang masih berisi setengah makanannya. Ia sudah kehilangan nafsu makan. Mbak Risya yang duduk di sampingnya bisa menanggap suasana hati Clarissa yang sedang tidak baik. Mbak Risya mencari kesempatan disaat orang-orang mulai sibuk ngobrol lagi dan berbisik pada Clarissa untu menghabiskan makanannya.


Dengan terpaksa Clarissa melanjutkan makannya meski dengan susah payah menelan makanannya. Setelah semuanya selesai makan, seperti biasa yang masih muda yang mencucikan piringnya. Sebenarnya cukup Tiwi dan Citra tapi Clarissa tak ingin terjebak lebih lama jadi ia ikut membantu Tiwi dan Citra membawa piring-piring kotor dan tempat sayur serta lauk yang sudah habis.


"Mbak Rissa, kalau mau sholat bisa sholat saja. Kita tahu kok, mbak mau kabur." kata Citra begitu sampai di tempat cuci piring.


Clarissa tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Tiwi dan Citra lalu pergi ke toilet untuk mengambil air wudhu.


Dalam perjalan pulang yang menumpang mobil mbak Risya hanya Clarissa dan Tiwi. Sepanjang perjalanan Clarissa hanya diam memandangi jalanan dari jendela mobil. Mbak Rissa yang sedang mengemudi disampingnya akhirnya membuka pembicaraan setelah hampir setengah perjalanan mereka hanya di temani lagu yang di putar di radio.


"Dek, jangan di masukin ke hati kata-katanya bu Ning." ucap mbak Rissa terdengar hati-hati namun tulus.


"Iya, mbak Rissa. Aku sih hampir tiap hari di omongin gitu." Tiwi menyahut dari kursi belakang.


"Nggaklah, dek. Mbak saja nikah umur 26 tahun. Jangan dipikirkan. Omongan orang-orang nggak akan berhenti hanya karena kita menikah." Clarissa menatap mbak Risya, ia merasa sedikit terhibur dengan kata-kata mbak Risya.


Clarissa meminta diantar sampai depan gang rumahnya saja karena ia ingin berjalan kaki sampai ke rumah. Lagi pula rumahnya tidak begitu jauh dari mulut gang.


"Makasih, mbak Risya." ucap Clarissa sebelum turun dari mobil mbak Risya.


"Iya, dek." Clarissa lalu turun dari mobil mbak Risya dan menunggu sampai mobil mbak Risya pergi ia baru berjalan menuju rumahnya.


Begitu memasuki area halaman di depan rumahnya, Clarissa melihat ada mobil yang tak asing tengah terparkir di sana. Ia mempercepat langkah kakinya dan benar saja begitu ia sampai di depan pintu rumahnya. Mukti sedang duduk di ruang tamu bersama bapaknya sedang asyik mengobrol.


"Assalamu'alaikum." ucap Clarissa yang langsung di jawab bapaknya dan Mukti bersamaan.


"Rissa." sapa Mukti dengan senyum khasnya.


"Mbak, sudah pulang? " ucap Bella yang baru muncul dari ruang tengah bersama Rico.


"Kamu rapi banget, Bel? " Clarissa heran melihat penampilan Bella yang sepertinya akan pergi keluar bersama Rico.


"Cepat siap-siap, mbak!!" Bella sudah berlari menghampiri Clarissa yang mematung lalu menggandeng tangan Clarissa dan menariknya menuju kamar.


"Apa sih, Bel? Mbak capek. Mau mandi terus istirahat." protes Clarissa tapi Bella tidak peduli.


"Mbak mandi. Terus siap-siap. Yang cepat yaa!! kita tunggu." Bella meninggalkan Clarissa yang sudah berada didalam kamarnya.


Dengan malas Clarissa mengikuti perintah Bella sekitar kurang dari tiga puluh menit Clarissa sudah siap. Setelah berpamitan dengan orang tuanya Clarissa dan yang lainnya pergi yang tujuannya tidak Clarissa ketahui.


Ternyata tujuan mereka adalah taman mangrove yang baru saja dibuka beberapa minggu lalu. Bella terlihat sangat bersemangat atau bisa dibilang lebih bersemangat daripada yang lain sementara Clarissa terlihat malas begitu membayangkan harus berjalan mengelilingi hutan mangrove.


"Aku beli minum dulu ya!" ucap Clarissa yang kemudian sudah berjalan menuju kafetaria yang ada di depan taman mangrove.


"Aku temanin. " Mukti langsung mengejar Clarissa yang sudah masuk ke dalam area kafetaria.


Clarissa tidak begitu peduli, bagaimanapun moodnya sedang tidak baik sejak siang tadi. Ia hanya berniat mengabaikan Mukti untuk kali ini.


"Clarissa!" panggil seseorang saat Clarissa memasuki kafetaria, suara yang Clarissa kenal meskipun saat ini ia berharap ia salah.


Clarissa menoleh kearah suara itu berasal dan saat itu juga lututnya serasa lemas. Orang yang sangat ingin ia hindari saat ini tengah tersenyum padanya duduk disalah satu meja dekat pintu masuk kafetaria bersama tunangannya.


"Dikta?!" ucap Clarissa terkejut, ia mau tak mau melangkah mendekati meja tempat Dikta dan tunangannya duduk.


"Yang, ini teman SMA ku. Clarissa." ucap Dikta mengenalkan Clarissa pada wanita di sampingnya yang tersenyum sangat manis pada Clarissa dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


Clarissa berusaha membalas senyuman tersebut dan menyambut tangan tunangan Dikta.


"Hai, aku Laudya." ucapnya ramah.


"Clarissa." balas Clarissa sama ramahnya.


"Berdua saja, Sa?" tanya Dikta saat melihat Mukti yang berdiri di belakang Clarissa.


"Nggak, bareng adikku sama pacarnya. Aku duluan ya, mau beli minum. Lagi di tungguin di luar." Clarissa berpamitan secepatnya sebelum Dikta lebih banyak mengajaknya berbicara.


Clarissa dengan cepat memberi empat botol air mineral tanggung dan bergegas keluar kafetaria setelah sekali lagi berpamitan dengan Dikta dan tunangannya, Laudya.


Clarissa benar-benar tidak mengerti sesial apa ia hari ini. Kerena ada dua kejadian yang membuat moodnya benar-benar buruk hari ini.