
Rena mengetuk meja di depan Clarissa yang dari tadi terdiam, melamun. Ternyata makanan pesanan mereka sudah datang.
"Mikirin apa, Sa?" Anggi bertanya penasaran karena Clarissa tiba-tiba terdiam setelah pembicaraan mereka tentang Mukti.
Clarissa menggelengkan kepalanya. Lalu menarik mangkok soto di depannya dan mulai menyantapnya. Rena tak mengatakan apa-apa tapi ia tahu ada yang sudah terjadi antara Clarissa dengan Mukti.
_Kosan Clarissa, sore hari_
Clarissa kehabisan kata-kata dengan pemandangan yang ada di depannya. Mukti sudah berdiri di hadapannya membawa boneka panda besar yang tingginya bahkan hampir sama dengan Clarissa. Sementara Mukti seperti biasanya menampilkan senyum cerianya.
"Apa ini? " Clarissa akhirnya membuka suara
"Boneka, Sa" jawab Mukti ringan, senyum di wajahnya masih ada di sana
"Iya, aku tahu. Tapi, buat apa bawa boneka sebesar ini?" Clarissa menghela napas merasa bodoh dengan jawaban dari Mukti
"Buat hadiah ulang tahun" Clarissa tersentak kaget otaknya mencoba mengingat darimana Mukti tahu ia ingin dibelikan hadiah boneka panda sebesar ini
'Izria, sialan!! ' maki Clarissa di dalam pikirannya
Ia ingat sekitar sebulan yang lalu saat pergi jalan-jalan bersama Izria ke salah satu mall. Clarissa melihat boneka panda ini di jual di sana. Carissa yang sangat suka dengan panda refleks menjerit berlari ke arah jejeran boneka-boneka di pajang.
"Aku mau boneka ini, Ria!" pandangan mata Clarissa sangat antusias
"Belilah, Sa." Izria memegang telinga boneka panda dihadapannya dan memainkannya
Clarissa hanya bisa cemberut. Izria yang melihat itu hanya bisa mengernyit, bingung. Tiba-tiba senyum jahil muncul di wajahnya tapi segera ia hilangkan saat Clarissa menatapnya.
"Maunya di belikan!" Clarissa masih cemberut "buat hadiah ulang tahun." Izria berjalan meninggalkan Clarissa merasa malu bila terus ada di samping temannya yang mulai merengek padanya.
"Nggak, nggak ada uang beliin kamu boneka Sa!" Izria mencoba melepaskan kaitan tangan Clarissa lalu berjalan lebih dulu di depan Clarissa
"Bercanda, Ria. " Clarissa kembali menggandeng tangan Izria sementara Izria menatapnya kesal "Aku nggak beneran kok. Kamu masakin aku juga aku senang kok" Clarissa tersenyum lebar
"Tiap harikan aku emang masakin kamu, Sa" tawa Clarissa pecah mendapat jawaban kesal dari Izria.
'Jadi, kamu ngasih tahu Mukti, Ria! ' masih merasa kesal dengan perbuatan Izria
Mukti meletakkan boneka panda itu di depan Clarissa. Clarissa hanya menatap boneka itu, bagaimana pun ia senang. Tapi, melihat Mukti yang memberikannya membuatnya sedikit merasa tak enak.
"Bawa masuk dulu bonekanya. " Mukti memecah keheningan, Clarissa hanya mengangguk lalu mengangkat boneka panda besar itu. Karena badan Clarissa yang kecil mengangkat boneka panda yang hampir setinggi dia, membuatnya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh kalau saja Mukti tidak memeganginya.
Suara tawa tertahan dari Mukti membuat Clarissa memicingkan matanya. Tanpa bicara ia berjalan ke kamarnya. Mukti menatapnya sampai hilang masuk ke kamarnya. Ia benar-benar merasa gemas melihat Clarissa yang menggendong boneka sebesar itu.
Setelah menutup pintu kamar dengan sedikit membantingnya. Clarissa melemparkan boneka panda yang di gendongnya ke atas tempat tidurnya. Izria yang sedang duduk di atas tempat tidurnya sedang sibuk dengan laptopnya memandang Clarissa dan boneka panda yang sudah tergeletak mengenaskan di atas tempat tidur di sebelahnya akibat dilempar asal oleh Clarissa.
Bulu kuduknya berdiri, ia merinding. Lalu menatap sekeliling kamarnya dengan tatapan ngeri.
"Kau!" suara Clarissa tertahan ia tak ingin mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya
Senyum bersalah muncul di wajah Izria, Ia menutup laptopnya lalu meletakannya perlahan. Lalu beringsut mendekati Clarissa yang terlihat mulai emosi.
"Dari Mukti ya?" Ia meraih lengan Clarissa perlahan ingin menggandengnya, mata Clarissa menatapnya lekat.
Helaan napas panjang dari Clarissa menandakan bahwa ia sudah mengendalikan emosinya. Izria pun merasa tenang sekarang.
"Ya udah lah, Ria. Udah kebeli juga." Clarissa melepaskan tangan Izria yang menggandengnya.
"Jangan ngambek yaa Rissa" ucap Izria manja
"Iya, iya.. aku keluar dulu" Clarissa sudah beranjak menuju keluar kamar, ia tak enak hati membuat Mukti menunggu.
Izria yang melihat Clarissa berjalan meninggalkan kamar mengelus dadanya, lega. Setidaknya ia aman dari amukan teman satu kamarnya.
Clarissa masih menghela napas merasa tak nyaman dengan hadiah dari Mukti. Tapi, akan semakin tidak nyaman kalau ia harus mengembalikannya.
Langkah kaki Clarissa terhenti. Matanya membulat sempurna melihat Mukti yang tengah berbicara dengan seseorang yang sangat ia kenal. Indra, sudah berdiri di depan Mukti. Mereka asyik berbincang. Clarissa menggigit bibir bagian bawahnya dan tertunduk. Kepalanya mulai pusing, ia tak tahu apa yang akan ia hadapi kedepannya.
"Rissa.. " panggilan Indra membuatnya makin keras menggigit bibirnya, masih menunduk. Clarissa mencoba menyeret kakinya yang terasa berat.
"Hei, kamu liat apa di bawah, yang" Indra terdengar menekankan kata-kata 'yang', membuat Clarissa akhirnya menatap pria yang sudah berdiri di hadapannya.
Indra memeluk Clarissa erat. Melepaskan rindunya setelah hampir 5 bulan ia tak bertemu dengan Clarissa. Dengan berat Clarissa membalas pelukan Indra. Ia bisa merasakan Mukti menatap mereka saat ini.
"Kok kamu nggak cerita, Sa. Kalau kamu satu fakultas sama Mukti" Indra sudah menggandeng tangan Clarissa dan menariknya untuk duduk di kursi tepat di depan Mukti yang terlihat tersenyum ramah.
"Kan kita jarang komunikasi selama kamu pendidikan" Clarissa masih menunduk ia bingung harus menatap kemana sekarang. Sungguh ini situasi yang sangat ingin di hindari Clarissa.
"Oh iya juga ya" Indra tertawa, ia kini meletakkan tangan Clarissa yang ada di genggaman di atas pangkuannya.
"Kok kamu bisa ada di sini? " Clarissa akhirnya bertanya karena penasaran
"Kenapa? kan mau kasih kamu kejutan" Indra menatap mata Clarissa lembut "Oh bentar!" Indra berdiri dan berjalan menuju mobilnya terparkir. Clarissa mengikuti arah perginya Indra.
"Senang ya dapat kejutan dari pacar." Mukti mengatakan dengan santai tapi entah mengapa Clarissa merasa Mukti sedang menyindirnya.
Clarissa menatap Mukti yang sudah tersenyum. Senyuman yang terlihat menakutkan bagi Clarissa di situasinya sekarang.
Indra kembali dengan hadiah dan buket bunga lalu memberikannya pada Clarissa. Dengan penuh perjuangan Clarissa menerimanya dengan senyum yang semanis mungkin.
"Makasih, dra"
"Sama-sama, yang" Indra memeluk pinggang Clarissa lalu mencium puncak kepala wanita di sampingnya.
Clarissa mendapatkan perlakuan tak biasa dari Indra terlebih di depan Mukti membuatnya salah tingkah. Ia bisa melihat Mukti tersenyum atau lebih seperti seringaian di mata Clarissa.
"Eh.. kalian mau minum nggak? aku beliin yaa" Clarissa meletakkan hadiah dan buket bunga dari Indra di tempat ia duduk.
"Nggak usah, Sa. Biasa juga kamu nggak nawarin minum." ucap Mukti santai, Clarissa langsung melotot kearah pria yang sedang menyandarkan punggungnya di senderan kursi dengan santai.
Indra menatap Clarissa dan Mukti bergantian. Merasa tidak suka dengan tatapan keduanya satu sama lain. ia merasa ada yang sudah terjadi antara Clarissa dan juga Mukti.
"Kalian ngobrol aja. Lama nggak ketemu kan? Aku ke warung di depan situ aja kok" Clarissa tersenyum ke arah Indra lalu bergegas pergi dari situasi canggung. Ia ingin bernapas. Dari tadi rasanya ia kesulitan mendapatkan oksigen.
'Apa ini hukuman untukku karena mengabaikan peringatan mamak' Clarissa tiba-tiba teringat peringatan yang sering di katakan Rena. Ia benar-benar merasa ingin menggali lubang untuk kuburannya sendiri saat ini juga.