YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Firasat Mukti



Minggu paling melelahkan bagi mahasiswa akhirnya telah selesai. Begitu minggu ujian akhir semester terlewati maka saatnya menyambut liburan semester ganjil. Beberapa mahasiswa yang sudah tidak ada kegiatan atau utang tugas di kampus akan memilih pulang ke kampung halaman masing-masing atau beberapa lagi memilih liburan.


Sementara Clarissa dan teman-temannya memilih menunggu sedikit lebih lama untuk menikmati liburan karena harus menyelesaikan beberapa urusan di kampusnya. Agar bisa lebih tenang menikmati waktu liburan nanti.


Clarissa berlari dengan terburu-buru menaiki anak tangga karena ia baru saja menerima pesan dari asisten praktikumnya untuk mengambil laporan akhir kelompoknya. Setelah sampai di depan pintu laboratorium fisika ia berhenti sejenak mengatur napasnya yang tidak beraturan akibat berlari menaiki tangga. Begitu napasnya sudah kembali normal, ia ingin meraih gagang pintu untuk membukanya. Tapi belum sempat ia menyentuh gagang pintu tersebut, pintu sudah terbuka duluan. Hal itu membuat Clarissa tersentak kaget. Begitu juga dengan pria yang sudah berdiri di hadapannya.


Pria tersebut lalu tertawa melihat wajah kaget Clarissa karena kejadian barusan. Membuat Clarissa memasang wajah cemberut. Bahkan tangannya masih memegang dada sebelah kirinya mencoba menenangkan jantungnya.


"Ngapain kamu berdiri di sini, Sa?" ia masih tertawa membuat Clarissa memasang wajah bingung.


"Mau masuk kak. Tapi, kakak keburu buka pintunya duluan. Jadi, saya kaget." ucap Clarissa sedikit kesal.


"Ya sudah. Kamu tunggu saya di dalam saja ya. Saya mau ketemu dosen dulu." perintahnya sambil memperbaiki posisi kacamatanya.


Clarissa melipir kepinggir, membuka jalan pada pria dihadapannya. Pria yang menjadi asisten praktikum sekaligus pembimbing kelompoknya selama satu semester ini. Clarissa menatap punggung pria yang sudah berjalan menuju tangga dan mengingat pertama kali pria mengenalkan diri saat pembekalan persiapan praktikum fisika.


Kesan sombong dan arogan yang di dapat Clarissa saat itu. Membuatnya berkata pada teman-temannya bahwa ia tak akan pernah mau mendapat pembimbing praktikum semester ini, pria sombong dan arogan tersebut.


Tapi, bagaikan karma bagi Clarissa. Saat pengumuman pembagian kelompok ia harus menerima lebih dari satu kesialan. Yang pertama ia di tunjuk sebagai ketua kelompok dan yang kedua pembimbing praktikumnya adalah pria sombong dan arogan tersebut.


Clarissa berjalan masuk ke dalam laboratorium. Ia beberapa kali mengangguk dan menyapa dengan hormat kepala laboran dan asisten praktikum yang lain. Ia berjalan menuju meja praktikum yang berada di ujung paling belakang. Diseberang mejanya ada kelompok mahasiswa jurusan matematika dan setelah di amati Clarissa itu sepertinya teman sekelas Mukti. Tapi, untungnya tidak ada Mukti. Mungkin bukan kelompok Mukti begitu pikir Clarissa.


Ia menarik kursi bulat yang biasa di gunakan di ruang praktikum. Meletakkan ranselnya di atas meja. Pandangannya menatap keluar jendela, melihat lantai dua gedung kelas yang bisa terlihat lumayan jelas dari laboratorium fisika. Sekitar sepuluh menit ia menunggu hingga terdengar suara berat pintu terbuka. Refleks Clarissa mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Sosok yang tak ingin ia temui sudah berjalan masuk. Mata mereka bahkan sempat saling bertatapan namun dengan cepat Clarissa mengalihkan pandangannya kembali keluar jendela. Tapi tidak dengan sosok yang sudah berjalan ke meja tempat teman-temannya berada.


Bahkan sesekali ia melirik Clarissa yang masih memandang keluar jendela. Ia hanya bisa menghela napas. Sampai seorang pria yang duduk di sampingnya menyenggol bahunya.


"Eh, Mukti! Lihatin siapa sih, Bro ?" temannya sudah tersenyum jahil dan mengikuti pandangan Mukti.


"Bukan apa-apa." ia mengajak temannya kembali fokus pada penjelasan asisten praktikum mereka.


Bruk!


Suara laporan akhir yang di letakkan di atas meja oleh asisten praktikum Clarissa. Membuat Clarissa lagi-lagi terperanjat kaget dan menatap pria yang sudah menarik kursi dan duduk di sampingnya.


Clarissa bahkan masih tidak habis pikir. Kenapa orang ini seperti hantu saja. Tidak ada suara atau aba-aba tahu-tahu sudah meletakkan tumpukan laporan akhir di atas meja.


"Kak Sukma ini. Kayak hantu saja loh!" protes Clarissa yang sudah dua kali di buat kaget oleh orang yang sama hari ini.


Sukma hanya tersenyum menanggapi kata-kata Clarissa. Tidak merasa tersinggung. Sepertinya ia sudah sering mendengar hal seperti itu atau lebih kasar dari itu.


"Ini kamu cek dulu. Apakah ada yang terlewat di tanda tangani saya atau bang Rian?" perintah Sukma sambil mendorong tumpukan laporan ke depan Clarissa.


"Semuanya sudah aman. Tidak ada revisi lagi." lanjutnya sementara Clarissa masih memeriksa satu per satu laporan akhir milik kelompoknya.


"Ini saja kak. Punya Indri yang belum di tanda tangani kak Rian." Clarissa menyerahkan laporan Indri, anggota kelompoknya.


Sukma menerima laporan tersebut dan berjalan ke meja kepala laboran yang tengah sibuk menandatangani laporan akhir praktikan.


"Kayaknya tanda tanganku harus dibuat stempel deh, Ma" ucapnya lemas, ia terlihat kewalahan dengan banyaknya laporan akhir yang harus di tanda tangani olehnya "seandainya aku Amoeba aku pasti sudah membelah diri. " keluhnya lagi, sepertinya ia mendapat ide menjadi Amoeba setelah melihat cover laporan yang di berikan Sukma. Tertulis jurusan praktikan dari pendidikan biologi.


"Bang, Amoeba nggak ada yang sebesar abang." goda Sukma yang membuat Rian ingin melempar laporan tebal di hadapannya ke pria kurang ajar di hadapannya ini.


Sukma tampak tersenyum senang berhasil menjahili Rian. Clarissa yang melihat dari tempat ia duduk hanya geleng-geleng kepala dan ikut tersenyum tipis.


Mukti yang menangkap senyuman di wajah Clarissa tampak kesal. Ia menatap tajam ke arah Sukma yang sudah duduk di samping Clarissa.


"Oke! semuanya aman?" tanya Sukma lagi memastikan. Clarissa hanya mengangguk mengiyakan.


"Kamu yakin bisa bawa ini sendiri?" tanya Sukma saat menyadari Clarissa tidak membawa tas yang lebih besar ataupun tote bag.


Clarissa menatap laporan akhir dihadapannya. Ada tujuh laporan yang lumayan tebal. Ia mencoba berpikir bagaimana cara membawa laporan-laporan ini setidaknya sampai ke laboratorium biologi di lantai bawah.


"Kamu mau bawa ini kemana?" tanya Sukma lagi saat menangkap wajah Clarissa yang kebingungan.


"Ke lab biologi aja, kak." jawab Clarissa masih mencari cara membawa laporan-laporan ini.


"Biar aku bantu, Sa." Mukti menawarkan diri, ia sudah berdiri di sisi lain meja praktikum yang di tempati Clarissa dan Sukma.


Clarissa tampak tak nyaman dan tak ingin menerima bantuan Mukti. Sukma yang melihat ekspresi wajah Clarissa akhirnya memilih membantu Clarissa. Ia sudah membawa empat laporan di tangannya.


Clarissa terkejut melihat Sukma melakukan hal itu dan ingin melarang Sukma membantunya. Ia merasa tidak sopan, bagaimana pun Sukma adalah pembimbing praktikumnya.


"Ayo, bawa itu." Sukma tidak menggubris larangan Clarissa dan sudah melangkah lebih dulu. Clarissa dengan terburu-buru memakai ranselnya lalu mengambil laporan yang masih ada di atas meja dan berlari mengejar Sukma yang sudah sampai di depan pintu lebih dulu.


Saat melewati Mukti, Clarissa sempat melirik Mukti yang terlihat tidak suka pada Sukma. Tapi, Clarissa tidak begitu mempedulikannya dan berlalu mengejar Sukma.


Saat menuruni anak tangga, Sukma sudah memperlambat langkahnya agar Clarissa tidak kewalahan mengikutinya.Saat mereka sudah melewati belokan tangga yang menghubungkan anak tangga di lantai satu dengan lantai dua. Tapi, tiba-tiba Sukma berhenti dan membalikkan badannya menghadap Clarissa yang ikut berhenti dua anak tangga di atasnya.


Clarissa bisa menatap mata Sukma dari balik kacamatanya. Karena Sukma cukup tinggi sehingga jarang Clarissa bisa melihat dengan jelas mata Sukma. Pada saat praktikum, ia tak pernah berani menatap Sukma langsung ke matanya. Karena ia takut tidak sopan.


"Sa, maaf ya. Saya lancang. Saya tadi melihat kamu tidak nyaman dengan tawaran cowok tadi. Makanya saya inisiatif membantumu. Semoga tidak terjadi kesalahan pahaman ya?" ucapnya terdengar hati-hati.


Clarissa merasa tidak enak pada Sukma. Ternyata ekspresi tidak nyamannya dengan kehadiran Mukti di tangkap oleh Sukma.


"Iya, nggak apa-apa kak. Saya yang minta maaf sudah merepotkan." Clarissa menunduk masih merasa bersalah dengan Sukma.


Sukma tersenyum lembut lalu kembali melangkah menuruni anak tangga dan di ikuti Clarissa yang masih menunduk.


Tanpa mereka sadari. Dari lantai dua Mukti yang sudah berada di luar laboratorium fisika dan berada di sisi lain tangga bagian atas dapat melihat dan mendengar pembicaraan antara Sukma dan Clarissa.


Tangan Mukti sudah mengepal di samping tubuhnya. Ia merasa tidak suka dengan Sukma. Meskipun Sukma hanya bersikap baik kepada Clarissa tapi Mukti tak ingin menurunkan kewaspadaan pada Sukma. Baginya walaupun Sukma belum menunjukkan niat sebenarnya pada Clarissa tapi entah kenapa firasatnya mengatakan ia harus berhati-hati pada Sukma. Seolah ada alarm peringatan yang berbunyi di kepalanya yang mengingatkannya untuk segera bertindak sebelum Sukma menjadi saingannya.