YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Mukti Cemburu (?)



Suara riuh mahasiswa memenuhi ruang kelas. Baru saja beberapa menit yang lalu dosen mereka meninggalkan ruangan. Izria memalingkan pandangannya ke arah Mukti yang sedang asyik berbincang dengan teman-temannya di bangku belakang hingga mata mereka saling bertemu. Dengan cepat Izria memasukkan alat tulis dan bukunya ke dalam tasnya. Sampai terdengar suara Mukti memanggil namanya, Izria mengalihkan pandangannya ke arah suara Mukti yang semakin mendekat.


"Mau makan dimana? " Mukti bertanya begitu sampai di hadapan Izria.


"Duluan ya, Bro! " seorang teman Mukti menepuk pundaknya "Ayo, Ra. Kami duluan." ucapnya pada Izria yang di jawab anggukan oleh Izria.


"Oke, hati-hati ya" Mukti membalas tepukan di lengan temannya


"Terserah kamu aja" Izria dan Mukti berjalan beriringan keluar dari ruang kelas diikuti tatapan curiga teman-teman sekelas mereka terutama kaum hawa.


Mukti yang dari awal menjadi Maba alias Mahasiswa Baru semasa ospek sudah menjadi omongan kakak tingkat dan teman seangkatannya. Parasnya yang tampan, berkulit putih bersih, tinggi, dan badan sempurna serta label sebagai atlet sepak bola membuatnya digandrungi kaum hawa dan juga di kagumi kaum adam.


Izria sadar dengan tatapan teman-temannya dan itu membuatnya bangga. Baginya ini kesempatan mendapatkan popularitas.


Begitu sampai di parkiran mobil. Mukti dengan senyum cerianya membukakan pintu untuk Izria. Membuat wanita itu tersenyum malu-malu. Sekarang Mukti sudah menyalakan mesin mobilnya lalu memacu kendaraannya keluar area fakultasnya.


Tanpa mereka sadari. Di kejauhan seseorang menatap mereka tidak suka.


"Ren, ayo. Rapatnya mau mulai!" panggil Tina dari depan ruang kelas yang mereka pakai sebagai tempat rapat.


Rena tersenyum dan bergegas menuju ruang kelas untuk ikut rapat. Ia menuju bangku yang sudah di siapkan Anggi dan Nurul untuknya.


"Rissa nggak bisa hadir yaa? " Tanya Tina pada Rena namun Rena tak menanggapi


"Iya, Tin. Di izin." jawab Anggi menggantikan Rena, di sambut anggukan Tina yang langsung memulai rapat.


"Eh! kamu kenapa? " bisik Anggi yang menyadarkan Rena.


"Eh.. iya?" Rena langsung berusaha fokus mendengarkan Tina berbicara.


"Kenapa?? " Anggi mencubit lengan Rena karena tak mendapat jawaban membuat Rena meringis kesakitan sambil menyentuh lengannya yang di cubit Anggi cukup keras.


"Aku tadi liat si playboy jalan sama teman sekamarnya Rissa" ucap Rena pelan agar tak ada yang mendengarnya selain Anggi yang duduk di sampingnya


"Siapa, Ren? " Nurul terdengar terkejut mendengar kata-kata Rena membuat beberapa peserta rapat menoleh ke arah mereka bertiga.


Rena tersenyum canggung dan mengangguk meminta maaf atas keributan yang mereka buat.


"Pelan-pelan, Rul! " omel Rena pelan, ia tak ingin jadi tontonan lagi.


"Udah. Nanti aja kita omongin. Tina udah melotot tuh" Anggi menyenggol tangan Rena mengingatkan. Mereka bertiga akhirnya berhenti membahas apa yang dilihat Rena tadi dan memilih membahasnya nanti.


_Tempat makan di salah satu mall_


Izria dan Mukti sedang menunggu makanan pesanan mereka. Sesekali Izria melirik Mukti yang sedang asyik dengan Hpnya. Hingga helaan napas terdengar dari Izria membuat Mukti mengalihkan pandangannya menatap wanita di hadapannya yang terlihat mulai bosan dan kesal.


"Maaf, Ra. Gimana.. gimana? " Mukti meletakkan Hpnya di sampingnya dan kembali pada tujuannya pergi dengan Izria.


"Apanya yang gimana?" Izria terdengar kesal.


"Yang mau kamu ceritakan?" Mukti tidak peduli dengan wajah kesal yang di tunjukkan Izria saat ini.


'Harus ya langsung ke intinya?! ' batin Izria kesal.


"Semalam.. " Izria menghentikan kalimatnya karena pelayan datang mengantarkan pesanan mereka, setelah pelayan pergi Izria melanjutkan kalimatnya "Semalam aku nggak sengaja dengar Indra sama Rissa bertengkar" mata Mukti terlihat antusias mendengarkan Izria.


"Terus.. terus.. " Ia makin tak sabar dengan kelanjutannya.


"Ya udah gitu aja. Aku nggak tau mereka baikan apa nggak" Izria berbohong, sebenarnya semalam ia tahu bahwa Clarissa dan Indra sudah berbaikan bahkan pagi ini Indra mengantar Clarissa.


Mukti terlihat kecewa. Ia mengambil sendok dan mulai menyantap makanan di hadapan mereka. Izria tahu Mukti kecewa. Tapi, dia pun tak bisa berbuat apa-apa karena hanya itu yang bisa ia beritahu pada Mukti.


Dalam perjalanan pulang kembali ke kosannya bahkan Mukti tak berbicara sama sekali. Izria mendengus kesal melihat Mukti seperti ini. Ia membuang pandangannya ke jalanan.


Saat berbelok di mulut gang.Mukti menghentikan mobilnya. Izria bingung kenapa Mukti berhenti tidak di depan kosannya.


'Segitu kesalnya kamu?' Izria menatap Mukti penuh emosi tapi saat dilihatnya Mukti sedang fokus melihat ke depan maka ia mengikuti arah pandangan Mukti.


Ada sebuah mobil yang berhenti di depan kosannya. Dengan cepat Izria mengenali mobil itu. Mobil milik Indra. Izria mengalihkan pandangannya kepada Mukti yang terlihat mencengkram kuat kemudi.


"Mukti" panggil Izria ragu tapi tak ada jawaban dari Mukti. Izria membuka seat belt yang di pakainya "Mukti, aku turun disini aja."


"Hmm" Mukti tak mengalihkan pandangannya sama sekali ke arah Izria.


Melihat respon Mukti yang seperti itu membuat Izria segera turun dari mobil Mukti dan sedikit membanting keras pintunya. Namun, sepertinya Mukti tak perduli dan segera memundurkan mobilnya dan memacunya dengan kecepatan tinggi.


Izria melihat itu hanya bergidik ngeri. Tapi, ia segera berjalan menuju kosannya. Saat itu di lihatnya Clarissa turun dari mobil. Membuat Izria memilih berbalik dan mencari tempat sembunyi. Meskipun ia merasa bodoh melakukannya.Tapi entah kenapa ia tak ingin Clarissa dan Indra melihatnya saat ini.