YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Bertemu



Suara ketukan di meja Clarissa berhasil mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya. Citra yang meja kerjanya di samping Clarissa sudah tersenyum padanya.


"Ayo makan siang, mbak. " ajak Citra


"hah? Jam berapa ini?" Clarissa menatap jam dinding yang tergantung di tembok ruangannya ternyata sudah jam 11.36 siang.


"Ya Allah pantes sudah berasa lapar." lanjut Clarissa sambil memegangi perutnya yang mulai bunyi.


"Habis mbak fokus banget. " canda Citra.


"Soalnya harus selesai hari ini laporannya jadi sudah nggak ingat yang lain." jawab Clarissa sambil nyengir.


"Tapi harus tetep ingat kebutuhan perut mbak hehe" Citra sudah mengambil dompet dari dalam tasnya. "Ayo mbak, sudah di tunggu mbak Risya." ucap Citra sudah berdiri.


"Oke. Aku simpan datanya dulu ya. Bisa bahaya kalau hilang. Bilang saja nanti aku susul ke parkiran." ucap Clarissa yang sudah menatap layar laptopnya lagi dan tangannya sudah sibuk menggerakkan kursor.


"Oke, mbak. Aku duluan keluar ya." Citra pamit ke atasan mereka yang masih berkutat dengan beberapa berkas di ruangannya lalu beranjak keluar menemui mbak Risya dan Tiwi.


Setelah menyimpan data yang sudah ia kerjakan, Clarissa langsung mengambil dompetnya dari dalam tas lalu berpamitan pada atasannya dan teman-teman satu ruangannya yang masih sibuk dengan kerjaan masing-masing.


Ia setengah berlari menuju parkiran mobil. Begitu sampai Clarissa langsung mengenali mobil mbak Rissa. Dengan berlari Clarissa menuju mobil mbak Risya dan membuka pintu mobil bagian tengah.


Setelah Clarissa masuk mbak Risya langsung memacu mobilnya keluar dari tempat parkir. Mereka akan makan di warung makan yang tidak terlalu jauh dari kantor. Alasan mereka pergi lebih awal adalah agar kebagian tempat. Jika mereka datang lewat dari jam 12 siang sedikit saja biasanya warung tersebut sudah ramai oleh para pegawai yang juga makan siang.


Tidak lama mbak Risya sudah memarkirkan mobilnya didepan warung makan. Padahal belum jam 12 siang tapi warung makan ini sudah cukup ramai. Hampir setengah meja yang disediakan sudah terisi. Sepertinya semua yang datang berpikiran sama. Clarissa dan mbak Rissa menuju tempat memesan makanan sedangkan Citra dan Tiwi mencari tempat duduk.


"Ibu, ayam lalapannya dua ya. Yang satu bagian dada, satu lagi bagian punggung, satu ayam bakar komplit, satu lele lalapan. Minumnya es teh tiga, es jeruk satu." ucap mbak Rissa dibantu Clarissa yang mengingat pesanan Citra dan Tiwi.


"Iya, mbak. Ditunggu ya." jawab ibu pemilik warung yang langsung memberi tahu bagian dapur pesanan mereka.


Clarissa dan mbak Rissa berjalan menuju Citra dan Tiwi yang sudah duduk di salah satu meja di bagian lesehan. Saat akan dekat dengan meja mereka Hp Clarissa berbunyi tanda panggilan masuk. Clarissa berhenti sejenak menatap nama yang tertera di layar Hpnya.


"Aku titip dompet ya. Mau angkat telepon dulu." Clarissa meletakkan dompetnya di atas meja lalu berjalan keluar bagian warung.


"Hallo. Assalamu'alaikum. Kenapa Mukti?" tanya Clarissa tanpa basa-basi.


"Wa'alaikumussalam. Rissa, sore atau malam ini sibuk?" tanya Mukti lembut.


"Sore ini habis pulang kerja atau nanti malam aku tidak sibuk. Ada apa?" ucap Clarissa jujur, ia tidak tidak berniat menghindari Mukti.


"Sore berarti bisa bertemu? " tanya Mukti terdengar antusias padahal ia belum mendapat jawaban dari Clarissa.


"Bisa. Kita bertemu di cafe Daisy dekat rumahku saja. Gimana?" saran Clarissa.


"Oke. Kita bertemu di sana." suara Mukti terdengar lebih antusias dari sebelumnya.


Clarissa pun mengakhiri panggilan teleponnya dengan Mukti. Ia lalu kembali kedalam warung makan dan segera menuju meja tempat teman-teman kantornya duduk. Tidak lama pesanan mereka datang satu per satu. Mereka berempat langsung menikmati makan siang diselingi dengan obrolan-obrolan seru yang membuat mereka sesekali tertawa.


_ Di Rumah Clarissa_


"Hallo. Assalamu'alaikum, Sa. Aku jemput saja ya? " ucap Mukti sebelum Clarissa menjawab panggilan teleponnya.


"Nggak usah. Ini aku sendiri saja. Kita bertemu di sana." jawab Clarissa tegas. Mukti yang mendengar jawaban Clarissa hanya bisa menyetujui keinginan Clarissa. Menurutnya Clarissa bersedia bertemu dengannya saja sudah lebih dari cukup.


Clarissa pamit dengan orang tuanya lalu dengan mengendarai motornya ia menuju tempat janjiannya dengan Mukti. Tidak lama Clarissa sudah sampai ditempat parkir cafe Daisy. Dengan dibantu tukang parkir Clarissa memarkirkan motornya dengan mulus. Ia melepaskan helmnya dan meletakkannya di atas jok motornya. Saat Clarissa berbalik tiba-tiba tubuhnya kaku. Matanya tertuju pada seorang pria yang baru keluar dari cafe yang ternyata juga melihatnya.


Pria tersebut berjalan mendekati Clarissa dengan senyum khasnya. Senyum yang selalu Clarissa ingat. Senyum yang dulu sempat membuatnya bahagia tapi kini senyum itu justru membuat lukanya kembali terbuka.


"Hei, Sa." sapanya saat tiba di dekat Clarissa yang masih mematung.


"Eh?! Iya.." ucap Clarissa dengan senyum canggung, salah tingkah.


"Baru datang?" tanyanya masih ramah seperti dulu.


"Hm?!" otak Clarissa tidak bisa bekerja dengan baik "Eh, iya.. Ini.. Baru parkir motor." jawab Clarissa kacau.


"Aku baru selesai." ucapnya dengan senyum ramah.


"Sendirian saja?" Clarissa melihat sekelilingnya tampaknya pria dihadapannya ini hanya sendirian.


"Tadi ramean. Sama teman kerja. Tapi pada pulang duluan. Aku beliin titipan istri dulu." ucapnya sambil mengangkat titipan istrinya.


Jantung Clarissa berdetak kencang. Dadanya mulai sesak mendengar ucapan pria di hadapannya ini barusan.


"Oh.. Salam ya buat istrimu." Clarissa ingin mengakhiri pembicaraan yang tidak nyaman ini.


"Oke. Nanti aku sampaikan. Aku pulang duluan ya, Sa." pamit pria tersebut masih ramah dan senyum di wajahnya.


"Hati-hati, Dikta." Clarissa berusaha tersenyum. Matanya mengikuti pria tersebut, Dikta. Teman semasa SMA Clarissa dan pria pertama yang membuatnya mengalami patah hati terhebatnya enam bulan yang lalu.


Begitu mobil yang dikendarai Dikta sudah hilang Clarissa yang sedari tadi berusaha menahan tubuhnya akhirnya jatuh terduduk di tempat yang sama. Kakinya sudah tidak mampu menahan berat tubuhnya lagi.


Mukti memasuki tempat parkir cafe saat ia melihat Clarissa yang tengah terduduk di sebelah motornya sendiri dengan pandangan kosong membuat Mukti langsung menghentikan motornya asal dan langsung turun menghampiri Clarissa.


"Rissa, kamu kenapa?" Mukti sudah berlutut didepan Clarissa masih terduduk.


Clarissa tidak menjawab ia mengambil Hp dari dalam tasnya dengan panggilan cepat ia menelepon Bella. Tidak lama setelah nada sambung berbunyi Bella mengangkat panggilan telepon Clarissa.


"Bel, bisa jemput mbak di cafe Daisy." Bella yang mendengar suara Clarissa yang terdengar begitu lemah membuatnya langsung meminta Rico segera menuju cafe Daisy. Tanpa bertanya Rico yang sudah memasuki gang rumah Bella langsung memutar dan menuju tempat yang disebutkan Bella.


Bella sangat khawatir setelah mendengar suara Clarissa yang sangat lemah. Ia tahu ada yang tidak beres. Entah kenapa Bella bisa menebak apa yang terjadi. Karena hanya ada satu hal yang bisa membuat Clarissa seperti ini.


'Apa mbak Rissa ketemu sama kak Dikta?' batin Bella semakin khawatir. Ia takut apa yang sudah Clarissa lakukan untuk bisa bangkit seperti sekarang akan sia-sia.


Bella tahu betapa besar usaha Clarissa untuk menghindari Dikta bahkan setelah tahu bahwa Dikta berniat melamar istrinya saat itu. Rico yang melihat wajah khawatir Bella hanya bisa menggenggam tangan Bella dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih memegang kemudi. Bella menatap Rico yang tersenyum lembut padanya berusaha menenangkannya. Bella membalas senyum Rico meskipun terlihat kaku.