YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Kecemburuan Indra



Pesan singkat dari Indra membuat Clarissa buru-buru mengenakan tas ranselnya. Sebelum keluar kamar ia melihat ke tempat tidur Izria. Wanita itu masih terlihat pulas dibawah selimutnya yang menutupi tubuhnya sampai leher. Clarissa masih kepikiran dengan reaksi Izria semalam saat menanyakan kedatangan Indra.


Hpnya bergetar. Tertera nama Indra di layar Hpnya. Clarissa langsung tersadar dan menutup pintu kamarnya pelan, ia tak ingin membangunkan Izria. Dengan sigap Clarissa meraih flatshoes andalannya lalu memakainya sambil setengah berlari.


"Selamat pagi" senyum Indra rasanya akan mengalahkan cerahnya matahari pagi ini.


Clarissa hanya tertawa tertahan, merasa aneh dengan sambutan Indra. Indra yang melihat Clarissa, bukannya menjawab sapaan malah tertawa hanya mengernyitkan dahinya.


Begitu Clarissa sampai di depan kekasihnya itu ia menepuk lengan Indra. Clarissa tampak terkejut.


"Wow.. kamu pasti banyak berolahraga yaa" Clarissa mengangguk-anggukkan kepalanya merasa takjub dengan lengan Indra sekarang.


Sementara Indra hanya tersenyum bangga mendapat pujian dari Clarissa. Ia segera membukakan pintu mobil untuk Clarissa. Mempersilakan wanita itu masuk.


"Apaan sih, dra? " tawa ceria Clarissa menerima perlakuan dari Indra. Ia segera masuk dan duduk di kursi penumpang di samping kursi pengemudi.


Setelah Clarissa duduk dengan nyaman. Indra menutup pintu mobilnya dan memutar menuju kursi pengemudi.


"Oke. Kita berangkat." Ucap Indra lalu memacu kendaraannya menuju kampus Clarissa.


_kosan_


Izria membuka matanya saat pintu kamarnya sudah tertutup sempurna. Ia meraih Hpnya yang di letakkannya di samping bantalnya. Mulai mengetik pesan singkat pada seseorang.


Tak menunggu waktu lama. Balasan pesannya sudah masuk. Senyum muncul di wajahnya saat membaca balasan pesan yang di dapatnya.


Ia meletakkan kembali Hpnya di tempat semula. Meregangkan badannya masih dalam posisi berbaring.


"Ini akan menyenangkan" ia tertawa pelan lalu mengubah posisinya untuk duduk. Melihat jam yang menempel didinding kamarnya. Hari ini ia baru berangkat ke kampus jam 9 pagi. Masih ada waktu untuknya menyelesaikan tugasnya sebelum berangkat ke kampus.


_Kampus_


Indra sudah berhenti dengan sempurna di depan fakultas Clarissa. Clarissa akan membuka seat belt tapi ia kalah cepat dengan Indra yang lebih dulu membukakan untuknya. Clarissa akhirnya memundurkan badannya hingga menempel di sandaran kursi membiarkan Indra membantunya.


"Makasih" ucapnya tanpa memandang Indra dan mengenakan tas ranselnya yang sedari tadi di taruh di pangkuannya.


"Iya, sama-sama." Indra merasa gemas melihat wajah malu Clarissa.


"Oh, iya. Kamu nunggu dimana? masih 2 jam loh" Clarissa teringat bahwa Indra ingin menunggunya sampai selesai kuliah agar mereka bisa langsung pergi jalan-jalan.


"Tenang aja. Aku udah janjian sama teman SMA ku yang kuliah di sini juga. Katanya dia kuliah di jurusan akuntansi. Aku mau ke fakultasnya sambil nunggu kamu." Clarissa mengangguk paham lalu pamitan dan segera turun dari mobil Indra.


Indra sudah menurunkan kaca mobilnya dan melambai pada Clarissa lalu memacu mobilnya menuju fakultas ekonomi tempat ia dan temannya janjian.


"Rissa.." panggil Rena yang baru memarkirkan motornya.


"Eh, mak" Clarissa berlari menghampiri Rena


"Sama siapa? " Rena melingkarkan tangannya di lengan Clarissa, penasaran.


"Hahaa, apa sih mak? itu Indra" Clarissa menjawab malu-malu


"Hm, malu-malu dia" tawa mereka pecah


"Apa ini? Ketawain apa?? " Nurul yang tiba-tiba menyusup di antara Clarissa dan Rena.


"Ih, mau tau aja" Rena menjawab ketus seperti biasa


"Mba Rissaaaa, apaan yang di ketawain?? " rengek Nurul tepat di telinga Clarissa membuat Clarissa menutup telinganya dan berjalan lebih dulu diikuti Rena.


Melihat hal itu Nurul memasang wajah cemberut lalu kembali menyusup di antara Clarissa dan Rena serta merangkul tangan kedua sahabatnya itu dan melanjutkan rengekannya.


"Baiklah. Pelajari materi sesuai dengan power point yang saya berikan. Tugas akan di kumpul saat hari kalian UAS mata kuliah saya. Ingat! tugas itu tiket kalian mengikuti UAS." setelah bu Linda keluar dari ruang kelas. Keluhan mulai terdengar dari mahasiswa karena banyaknya tugas yang harus mereka selesaikan sebelum UAS tak terkecuali dari Nurul yang duduk di depan Clarissa.


Nurul sudah memutar badannya menghadap Clarissa dan Rena yang duduk bersebelahan. Wajahnya cemberut.


"Kenapa lagi kamu? " Anggi yang kini sudah duduk di samping Nurul, karena datang belakangan Anggi harus duduk agak jauh dari teman-temannya ini.


"Aku bingung kerjain tugas yang mana dulu" Nurul terdengar frustasi


"Loh, kamu ngapain aja selama ini?? perasaan setiap habis kuliah kita ajak nongkrong kamu selalu bilang mau kerjain tugas" Rena menjawab ketus tidak percaya bahwa Nurul yang selalu beralasan mengerjakan tugas untuk tidak ikut kita nongkrong justru yang paling tidak ada progres.


"Aku ketiduran hiks..hiks.. " Nurul mulai merengek membuat teman-temannya hanya bisa menghela napas panjang dan geleng-geleng kepala.


"Kebiasaan sih" Anggi mencubit lengan Nurul yang membuatnya mengaduh kesakitan.


Deerrtt.. Deerrtt..


Sebuah panggilan masuk ke Hp Clarissa. Ia segera meraih Hpnya dan buru-buru bangun dari duduknya membuat teman-temannya menatapnya penuh curiga.


"Aku duluan yaa.. " Clarissa sudah mengendong tas ranselnya "maaf nggak bisa ikut makan bareng kalian. Dadaaahh" tanpa menunggu jawaban teman-temannya Clarissa sudah berlari.


"Hallo, dra.. udah di depan? aku ke sana yaa" Clarissa mematikan panggilan teleponnya dan mempercepat larinya.


"Ya Allah mba, mba.. tenang aja pacarnya aman di sini" ledek pak satpam yang ternyata sejak tadi berbincang dengan Indra.


"Apa sih pak Ipul ini?" ucap Clarissa saat sudah bisa bernapas dengan baik.


"Hahaha.. Lumayan jauh loh mba lari dari ruang kelas kesini"


"Iiihh, bapak.. udah ah pak. Kami pergi dulu yaa pak Ipul" Clarissa merasa malu jika terus-terusan di sini jadi ia mendorong Indra untuk segera menuju mobilnya.


"Mari pak. Kami pergi dulu" pamitnya ramah pada pak Ipul.


"Iya mas, mba, hati-hati " pak Ipul tersenyum melihat kedua anak muda yang tengah di mabuk cinta itu berlalu menuju mobil mereka "aduh, jadi kangen istri aku" ia tersenyum malu-malu lalu meraih Hpnya di kantong celana dan menelpon istrinya.


Indra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan sudah tampak ramai. Tapi karena baru jam 9 belum ada mall yang buka. Jadi, mereka akhirnya memutuskan berkeliling kota menunggu jam 10 pagi saat mall-mall mulai buka.


Sepanjang perjalanan Clarissa dengan setia mendengarkan cerita Indra selama pelatihan. Terkadang mereka tertawa saat Indra menceritakan momen lucu yang terjadi dan juga sama-sama kesal saat Indra menceritakan hal yang menjengkelkan.


"Kamu nggak lapar, Sa?" sekarang mereka sudah ada di salah satu mall. Clarissa menyentuh perutnya dan baru menyadari kalau ia belum ada makan dari tadi pagi.


"Makan di food court aja gimana?" tawar Clarissa


"Boleh" Indra sudah menggenggam tangan Clarissa dan berjalan menuju eskalator untuk ke lantai paling atas tempat food court berada.


Setelah selesai makan. Mereka kembali berjalan-jalan mengelilingi mall. Dari jauh Indra melihat toko boneka yang menjual boneka panda besar. Ia tahu Clarissa suka panda jadi dengan semangat ia menarik tangan Clarissa yang tak lepas dari gandengannya itu untuk mengikutinya.


Clarissa mengernyit. Penasaran kemana Indra membawanya. Sampai mereka berhenti didepan toko boneka. Indra mengajak Clarissa masuk dan berhenti didepan jejeran boneka panda.


"Mau? " Indra menunjuk boneka panda yang paling besar. Clarissa kaget dengan tawaran Indra karena boneka yang di tunjuk Indra jauh lebih besar dari yang di berikan Mukti padanya.


"Rissa, gimana mau? " tanya Indra lagi karena tak mendapat jawaban dari Clarissa.


"Hah? " Clarissa bingung harus menjawab apa.


'Kalau aku bilang iya terus dibeliin yang ada kamarku penuh dengan boneka panda. Bisa-bisa Ria menendang ku keluar dari kamar. " batin Clarissa ia bahkan bergidik ngeri membayangkan di usir dari kamarnya.


"Hei, kamu kenapa sih? kok malah nggak jawab? " Indra menyenggol bahu Clarissa dengan lengannya membuat Clarissa tersadar.


"Mukti udah ngasih aku boneka panda gede juga, dra" Clarissa menutup mulutnya menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya.


Indra melepas gandengan tangannya pada Clarissa. Kini pria itu sudah menghadap Clarissa menatap wanita di depannya dengan pandangan yang membuat Clarissa rasanya ingin menciut.


'Bodoh. Bodoh. Kenapa mulut ini begitu bodoh!! ' maki Clarissa akan kebodohannya yang tak tertolong.


"Jadi, tadi malam Mukti ngasih kamu hadiah ini? " Suara Indra terdengar kesal bahkan Clarissa tahu bahwa Indra menahan amarahnya.


Clarissa mencoba meraih tangan Indra berniat membawa pria ini keluar dari toko boneka sebelum mereka menjadi tontonan orang-orang. Tapi, Indra menepis tangan Clarissa dan berjalan lebih dulu meninggalkannya sendirian.


Clarissa mengangguk pamit pada penjaga yang ada di depan toko lalu berlari menghampiri Indra yang sudah berjalan sangat cepat dengan kaki panjangnya itu.


Dengan susah payah Clarissa menyusul Indra hingga di dekat eskalator. Baru saja ia ingin meraih lengan Indra agar berhenti ternyata pria itu berbalik tiba-tiba dan membuat Clarissa menabrak dada bidang Indra.


"Aduh! " Clarissa mundur selangkah dan memegang dahinya.


Indra menatap kasihan pada Clarissa tapi rasa cemburu mengalahkan semuanya. Cukup lama mereka berdiri di tempat yang sama. Tak ada yang berbicara. Clarissa hanya menunduk sedangkan Indra masih menatapnya dengan tatapan cemburunya.


"Kembalikan boneka itu, Sa" Clarissa mengangkat kepalanya menatap Indra. Ia tahu itu bukan permintaan tapi perintah.


Clarissa mengangguk mengiyakan perintah Indra. Ia tak ingin membuat masalah lebih panjang lagi. Ia tak pernah melihat Indra cemburu. Ia tak ingin hal yang tak di inginkan terjadi karena kebodohannya lagi.


Berbeda dengan suasana hangat saat mereka pergi tadi. Clarissa merasakan suasana yang mencekam di dalam mobil. Indra tidak mengatakan apa-apa dari tadi. Ia hanya fokus pada jalanan di depannya.


Clarissa bahkan tak berani mengajak Indra bicara apapun sekarang. Ia takut jika Indra emosi, nyawa jadi taruhannya. Ia tak ingin mati muda. Masih banyak yang ingin ia lakukan.


Mobil sudah berhenti di depan kosan Clarissa. Sudah hampir 15 menit mereka berdiam diri di dalam mobil. Sampai akhirnya Clarissa memutuskan melepaskan seat belt yang di pakainya.


"Rissa" suara Indra sudah terdengar lebih tenang dari sebelumnya membuat tangan Clarissa berhenti tak jadi membuka seat belt nya.


"Tolong, tepati janjimu semalam. Jauhi Mukti." Indra sudah menatap Clarissa nanar, Clarissa bisa melihat ada ketakutan di sana.


Clarissa meraih tangan Indra yang masih memegang kemudi dan menepuk-nepuk punggung tangan pria itu lembut.


"Iya, aku janji." Clarissa tersenyum lembut membuat Indra merasa nyaman.


"Maafkan aku tadi ya?" Indra sudah menggenggam tangan Clarissa "Harusnya aku nggak kayak gitu" Indra menunduk, menyesal.


"Kamu nggak salah, dra. Sudah jangan kita bahas lagi ya." Indra mengangguk setuju "Ya udah, sebaiknya kamu kembali ke hotel. Kamu berangkat jam 4 kan? " Clarissa sudah melepas seat belt nya, begitu pula dengan Indra.


Indra mengantar Clarissa sampai ke depan pagar kosannya. Setelah berpamitan Indra segera naik ke mobilnya dan menyalakan mesin mobilnya sebelum ia berangkat sekali lagi ia melihat Clarissa dan melambai pada wanita yang tengah tersenyum manis kepadanya.


"Hati-hati" Indra pun memacu mobilnya hingga hilang di mulut gang.


Helaan napas panjang lolos dari bibir Clarissa. Ia merasa baru saja selamat dari bencana. Ia bertekad mengembalikan boneka pemberian Mukti nanti. Ia tak ingin masalah ini membuat hubungannya dengan Indra jadi terganggu.