YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Pernyataan



Sudah dua bulan lebih semester genap berjalan. Sama seperti semester lalu sebagian besar tugas mereka adalah mengerjakan laporan praktikum. Total ada tiga mata kuliah yang melakukan praktikum yaitu biologi, fisika dan kimia. Ketiganya saling kejar-kejaran untuk di kumpulkan. Sampai-sampai Clarissa pernah mendengar salah satu teman sekelasnya mengeluh seandainya bisa, mereka akan bawa koper saja ke kampus yang isinya laporan praktikum yang bejibun.


Semuanya sama-sama harus ditulis tangan dan tidak boleh ada tipe-x sehingga menyita banyak waktu. Hal yang paling menjengkelkan adalah saat laporan sudah ditulis hampir satu halaman dan diujungnya melakukan kesalahan. Rasanya semua makian sudah ditumpahkan untuk diri sendiri.


Bergadang bahkan tidak tidur sudah menjadi rutinitas mereka. Pernah satu hari Feni yang sudah berkali-kali keluar dari kamarnya untuk duduk-duduk santai di depan televisi, pergi ke dapur atau kamar mandi tidak sama sekali bertemu dengan Clarissa dan juga Rena. Sangking khawatirnya Feni sampai mengecek keadaan kedua orang tersebut di dalam kamar masing-masing. Dan yang dilihat Feni adalah keduanya sama-sama sibuk dengan lembaran kertas hvs dan pulpen mereka. Bahkan lembaran kertas hvs yang lain terlihat bertebaran memenuhi lantai kamar.


Sama seperti hari ini, weekend yang seharusnya dipakai bersantai. Clarissa dan Rena lagi-lagi harus berkutat dengan laporan praktikum dan beberapa tugas makalah. Feni yang baru selesai memasak memilih memanggil Clarissa dan Rena untuk makan bersama. Dengan paksaan akhirnya Clarissa dan Rena mengikuti perintah Feni untuk makan bersama.


"Kalian ini nggak kelaparan apa?" omel Feni lagi saat mereka sudah duduk bertiga di depan televisi dengan piring berisi makanan masing-masing.


"Sudah nggak ingat lapar, Fen." jawab Rena yang sibuk memindahkan saluran televisi mencari yang menarik.


"Ngerjain tugas sih boleh saja ya, tapi ingat-ingat kesehatan juga." Feni masih mengomel, sementara Clarissa sudah fokus dengan makanan dipiringnya.


"Alhamdulillah." ucap Clarissa saat selesai makan, ia memegangi perutnya yang sudah kenyang "Makasih Feni." Clarissa tersenyum lebar membuat Feni hanya mengangguk.


"Nggak kebayang aku kalau tinggal di kosan sendirian. Males keluar cari makan. Mungkin aku ditemukan pingsan karena kelaparan. Atau mati kelaparan ya." Clarissa menerawang, membuat skenario di otaknya dan merasa ngeri sendiri.


"Makanya tinggal disini saja. Nggak usah mikir-mikir mau pindah." sahut Rena yang matanya masih fokus menonton film di televisi.


"Tapi, aku nggak enak mak. Berasa nyusahin." Clarissa menunduk mengingat keinginannya untuk mencari kosan tapi Rena dan teman-temannya selalu melarangnya.


"Nggak nyusahin. Kamu kan juga bantu bayar listrik dan air. Lagian daripada kamar itu kosong." Rena sudah menatap Clarissa yang menunduk, Feni bahkan menepuk-nepuk lembut punggung Clarissa menyetujui ucapan Rena.


"Makasih ya, mak, Fen." ucap Clarissa dengan wajah terharu.


Setelah semua selesai makan. Feni menyuruh Clarissa dan Rena melanjutkan mengerjakan tugas mereka dan dia yang mencuci piring kotor. Setelah Feni sedikit memaksa akhirnya Clarissa dan Rena menyerah untuk membantu dan kembali masuk ke kamar masing-masing kembali berkutat dengan kertas-kertas hvs.


tok. tok. tok.


Pintu kamar Rena di ketuk lalu saat kepala Rena mendongak ia melihat Feni yang sudah berdiri di depan pintunya yang terbuka setengah.


"Kenapa, Fen?" tanya Rena.


"Aku mau keluar bentar ke kosan teman. Nanti pulang aku sekalian mampir beli lauk, soalnya cuma ada nasi." jawab Feni lalu Rena hanya menjawab dengan anggukan dan Feni kembali menutup pintu Rena.


Clarissa keluar dari kamarnya untuk mandi dan bersiap sholat magrib. Saat berpapasan dengan Rena yang baru selesai mandi juga.


"Feni nggak ada mak?" tanya Clarissa yang tak melihat keberadaan Feni dan kamarnya terlihat gelap.


"Iya, ke kosan temannya katanya." Clarissa hanya membulatkan mulutnya, paham. Ia pun langsung melangkah masuk ke kamar mandi.


Mandi sangat membantunya untuk kembali merasa rileks. Mengerjakan laporan praktikum yang entah kapan habisnya itu membuatnya cukup stress. Bagaimana tidak sebagian waktunya setelah pulang kuliah adalah menghadapi laporan praktikum dan tugas lainnya dari dosen.


Setelah selesai sholat magrib. Clarissa keluar dari kamarnya ternyata Feni sudah pulang. Ia juga keluar dari kamar dan tersenyum ramah ke arah Clarissa.


"Baru pulang, Fen?" tanya Clarissa yang mengikuti langkah Feni menuju dapur.


"Pas sholat magrib tadi, Sa. Eh, tolong buka itu ya. Taruh di piring lebar." Feni menunjuk kantong plastik di atas meja dapur.


Aroma ikan bakar langsung menyapa indera penciuman Clarissa. Membuat Clarissa sangat bersemangat menyiapkan ikan bakar yang dibeli Feni untuk makan malam mereka sesuai perintah Feni tadi.


"Wih, makan enak nih!" Rena yang tiba-tiba muncul ke dapur langsung melangkah mendekati Clarissa yang sudah meletakkan ikan bakar di atas piring lebar.


Mereka menata ikan bakar dan kawan-kawannya diruang tengah yang juga berfungsi sebagai ruang makan. Karena dapur memang ukurannya cukup kecil dan hanya bisa untuk memasak. Setelah semua tertata rapi mereka siap menyantap makan malam mereka.


"Habis ini masih lanjut ngerjain laporan?" tanya Feni yang sudah selesai makan.


"Aku sudah menyerah. Aku mau tidur dulu malam ini, tinggal sedikit saja sih besok subuh saja aku lanjutkan." jawab Clarissa yang menunjukkan wajah lelah.


"Aku juga. Badanku sudah nggak sanggup." Rena bahkan melambaikan tangannya tanda ia juga menyerah. Feni yang melihat hal itu hanya bisa tertawa namun juga kasihan.


Kali ini Clarissa yang memaksa mencuci piring kotor di bantu Rena. Feni menerimanya dengan senang hati dan ia memilih keluar untuk membeli beberapa cemilan di toko dekat rumah.


Clarissa sudah selesai mencuci piring sementara Rena sudah sibuk menyusun piring di rak piring samping wastafel tempat untuk meniriskan piring yang baru di cuci.


Saat berbalik didepan pintu dapur Feni sudah berdiri tanpa peringatan membuat Clarissa dan Rena terperanjat kaget.


"Kenapa Fen?" tanya Rena yang sudah berhasil menguasai dirinya.


"Itu ada.. " ucap Feni menggantung membuat Clarissa dan Rena menatapnya penuh tanda tanya "ada Mukti di depan." lanjutnya lebih pelan dari sebelumnya.


"Ah, ngapain dia kesini?" Clarissa melangkah menuju kamarnya untuk menggunakan jilbab.


"Memang nggak ada ngasih tahu kamu?" tanya Rena saat Clarissa sudah keluar dari kamarnya lengkap dengan jaket, rok dan jilbabnya.


"Nggak ada tuh. Tumben nggak ngabarin." Clarissa berjalan menuju pintu depan, mengintip dulu lewat jendela. Benar saja ada mobil Mukti.


Clarissa membuka pintu dan menggunakan sandalnya. Pintu pagar sudah terbuka sepertinya karena Feni tadi yang baru pulang dari belanja. Clarissa sudah berada di dekat mobil Mukti saat Mukti menurunkan kaca mobilnya. Senyum ramah Mukti langsung menyapa Clarissa.


"Masuk, Sa." Clarissa mengernyit, bingung. Tapi, Clarissa hanya mengikuti kata-kata Mukti. Ia membuka pintu mobil dan duduk disamping Mukti.


"Tumben nggak ngabarin? Terus bawa mobil?" tanya Clarissa penasaran.


"Sengaja. Biar enak saja ngobrolnya." Clarissa masih menatap tidak mengerti. Hampir dua minggu ia tak bertemu Mukti, tidak benar-benar sama sekali tidak bertemu. Mereka masih berpapasan di kampus tapi tidak pernah mengobrol.


Sesekali Mukti menghubunginya tapi karena kesibukan mereka dengan laporan praktikum membuat Mukti hanya sekedar tanya kabar.


"Rissa, kamu masih ingat sama pertanyaanku dulu?" tanya Mukti yang membuat Clarissa bingung.


"Pertanyaan yang mana?" Clarissa bertanya balik, benar-benar tidak tahu arah pembacaraan Mukti.


"Waktu aku ngantar kamu pulang. Awal-awal semester." Clarissa mencoba mengingat, semua tugas kuliahnya sangat berpengaruh terhadap daya ingat Clarissa untuk kehidupan pribadinya.


Cukup lama Clarissa berpikir sampai ia menepuk tangannya mengingat kejadian yang di maksud Mukti.


"Iya, sudah ingat. Kenapa?" tanya Clarissa menatap Mukti penasaran kenapa Mukti tiba-tiba menanyakan hal itu.


"Kamu.." ucap Mukti ragu membuat Clarissa menatapnya menunggu ucapan Mukti selanjutnya.


"Kamu nggak mau nyoba pacaran sama aku?" tanya Mukti akhirnya membuat Clarissa kaget.


"Kamu mau aku jawab?" Clarissa menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya.


"Iyalah, Sa. Aku memang pernah menyatakan perasaanku dulu tapi kali ini aku menggunakan tanda tanya dibelakangnya. Jadi aku perlu jawaban." Clarissa sudah manggut-manggut mengerti "Tapi, aku nggak maksa kamu jawab sekarang. Aku bisa ngasih kamu waktu sampai kamu siap menjawab. Tapi, ya nggak lama-lama juga sih, Sa. Asal kamu tahu yang mau sama aku banyak." lanjut Mukti diakhiri dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi.


Clarissa yang mendengar hal itu langsung tertawa membuat Mukti menatap Clarissa yang bahkan sampai memalingkan wajahnya untuk tertawa.


"Kok kamu malah tertawa?" tanya Mukti tidak terima dengan reaksi Clarissa "aku serius loh, Sa." Mukti menatap tajam Clarissa yang sudah berhenti tertawa dan mengatur napasnya.


"Aku tahu, Mukti. Kamu serius. Pacaran sama aku banyak aturannya loh." Wajah Clarissa sudah berubah serius.


"Aku tahu kok, Sa." Mukti menjawab santai.


"Dari Bella ya?" tebak Clarissa yang tidak dijawab Mukti, tapi tanpa dijawab Clarissa sudah tahu kalau tebakannya benar.


Clarissa menghela napas panjang. Menatap keluar jendela mobil didepannya. Mencoba berpikir. Cukup lama hening menyelimuti mereka sampai akhirnya Clarissa buka suara.


"Kamu ngasih aku waktukan?" tanya Clarissa tanpa menatap Mukti.


"Iya, Sa." Clarissa mengangguk lalu memilih turun dari mobil. Sebelum menutup pintu mobil Clarissa menatap Mukti yang juga menatapnya. Senyum lembut Clarissa muncul.


"Hati-hati dijalan." ucap Clarissa lalu menutup pintu mobil. Ia mundur beberapa langkah menjauh dari mobil Mukti dan menunggu Mukti pergi. Cukup lama Mukti tidak juga memacu mobilnya. Entah apa yang dia pikirkan hingga akhirnya Clarissa mengetuk kaca mobil Mukti. Mukti segera menurunkan kaca mobilnya.


Dengan senyum lembutnya Clarissa berkata "Mukti, nggak akan mudah pacaran sama aku. Dari semua aturanku dalam berpacaran semuanya ada alasannya yang akan aku ceritakan padamu. Karena tidak semua Bella tahu alasannya." Mukti menatap Clarissa bingung maksud dari ucapan Clarissa.


"Aku nggak tahu pilihanku ini sudah tepat atau tidak untuk saat ini. Tapi, mari kita coba." Senyum mengembang di wajah Mukti, ia sudah ingin turun dari mobilnya namun Clarissa melarang.


"Nggak perlu turun. Pulanglah. Aku mau istirahat." Mukti menganggukkan kepalanya semangat. Bahkan senyum tak lepas dari bibirnya. Setelah berpamitan lagi dengan Clarissa, dengan perasaan yang bahagia Mukti memacu mobilnya menuju jalanan besar. Malam ini bahkan terlihat sangat indah bagi Mukti.


Clarissa masuk kedalam rumah. Rena dan Feni masih asyik menonton didepan televisi. Rena menatap Clarissa yang langsung duduk disampingnya ikut menonton tanpa sepatah katapun. Rena akhirnya memilih kembali menonton film saat Clarissa tiba-tiba memberitahukan sesuatu padanya dan Feni.


"Aku menerima Mukti." ucapnya datar membuat Rena dan Feni menatapnya kaget. Tapi, tidak ada tanggapan apapun dari keduanya mereka hanya memandang Clarissa untuk beberapa saat lalu kembali menatap layar televisi di depan mereka. Sampai suara adzan isya berkumandang dan mereka memilih sholat dikamar masing-masing.