YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Bertemu Izria



Hari terakhir ujian akhir semester ditutup dengan mata kuliah kewarganegaraan dan Invertebrata. Setelah berkutat dengan soal-soal kewarganegaraan yang jawabannya seperti menjawab soal bahasa Indonesia alias mengarang bebas.


Beberapa teman sekelas Clarissa bahkan sampai harus memijit pelipisnya karena pusing akibat panjangnya jawaban yang harus mereka tulis dan karang.


"Untuk ujian invertebrata kita pindah di ruang 015 ya teman-teman" teriak ketua tingkat Clarissa memecah keriuhan suara mahasiswa yang sibuk membahas ujian sebelumnya.


"Jamnya nggak berubah kan, Ram? " tanya salah seorang mahasiswi pada Rama, ketua tingkat mereka.


"Nggak, tetap jam 10 ya" jawab Rama lalu pergi meninggalkan ruang kelas dan di ikuti beberapa teman sekelas Clarissa yang lain.


"Kami mau ke kantin, Sa. Ikut nggak?" tanya Rena pada Clarissa yang sedang memasukkan alat tulis serta kartu ujiannya ke dalam ranselnya.


Clarissa tampak berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya "aku langsung ke ruang 015 aja, mak." ucap Clarissa sudah berdiri.


Akhirnya mereka memilih berjalan berempat karena arah ke kantin dan ruang 015 sama. Clarissa memisahkan diri dari teman-temannya begitu sampai di depan koridor menuju ruang kelas untuk ujian invertebrata.


"Bener nih nggak nitip apa-apa, mbak? " Nurul sekali lagi memastikan, Clarissa hanya menggeleng dan tersenyum.


Clarissa sudah duduk di bangku sesuai dengan nomor pesertanya. Kebetulan ia mendapat tempat di dekat jendela. Sudah ada beberapa temannya yang lebih dulu datang dan sedang belajar. Clarissa memilih ikut membuka buku catatannya dan berniat belajar tapi baru beberapa kalimat di bacanya, otaknya sudah menolak. Ia memutuskan memandang ke luar jendela yang tepat berseberangan dengan ruang kelas jurusan matematika.


Clarissa menyadari bahwa itu kelas Izria. Tapi, sepertinya Izria belum masuk ke kelasnya. Karena jadwal ujian sama maka mereka juga baru mulai ujian jam 10 dan itu masih sekitar 20 menit lagi. Clarissa menghela napas, sejak pindah kosan ia belum bertatap muka langsung dengan Izria. Ia bahkan belum berani menanyakan lewat pesan atau menghubungi Izria. Ia takut jawaban Izria hanya akan menyakitinya. Jujur saja ia belum siap bila hubungannya dengan Izria harus rusak. Ia hanya ingin mengingat Izria sebagai seorang teman yang baik.


Ingatan Clarissa kembali ke hari saat Anggi dan Nurul tahu bahwa ia harus pindah ke rumah Rena dengan penuh drama.


_Flashback_


Rena baru saja meletakkan paket pizza pesanan mereka saat Anggi dengan penuh emosi memukul bantal sofa yang di pelukannya membuat Rena terlonjak kaget. Baru kali ini ia bahkan Clarissa dan Nurul melihat Anggi yang paling pendiam dan sabar di antara mereka semarah itu.


"Tenang, Nggi" Clarissa menepuk tangan Anggi lembut. Ia ingat kata orang ketika orang pendiam marah itu bisa lebih mengerikan daripada orang cerewet.


Bahkan tiba-tiba bayangan Anggi yang bisa saja melabrak Izria muncul di otak Clarissa membuat Clarissa bergidik ngeri dan segera menepis semua bayangan itu.


"Kenapa sih dia jahat banget!!" Anggi masih mengepal tangannya manahan amarahnya.


Tiba-tiba terdengar suara terisak. Kompak Clarissa, Rena dan Anggi menoleh kearah asal suara. Nurul sudah terlihat menangis membuat mereka bertiga mengernyit, bingung.


"Kamu kenapa, Rul? Kok kamu yang nangis? Kan Rissa yang harusnya nangis" Rena bertanya heran melihat kondisi Nurul yang tampak lebih menyedihkan daripada Clarissa seandainya ada orang lain yang tidak tahu pasti di sangka Nurul yang punya masalah.


"Kenapa sih??!! aku tuh.. sedih. Kasian.. mbak Ris.. Rissa!!" isak tangis Nurul makin kencang membuat Anggi dan Rena kompak geleng-geleng kepala.


Clarissa menahan senyumnya melihat Nurul yang paling mellow diantara mereka berempat. Ia segera memeluk Nurul dan menepuk-nepuk lembut punggung Nurul berusaha menenangkan temannya ini.


'Hmm, susah memang menjadi orang yang empatinya tinggi' batin Clarissa yang tersenyum lembut, ia merasa sangat bersyukur memiliki teman-teman luar biasa yang bahkan baru di kenalnya 6 bulan lalu.


"Sudah, sudah, aku nggak apa-apa kok. Jangan nangis" Nurul mengangguk dan tangisnya mereda.


"Mbak jangan sedih, kita ada buat mbak kok" Nurul membalas pelukan Clarissa membuat Clarissa terharu.


_Flashback selesai_


Suara bangku ditarik mendekati bangkunya membuat Clarissa mengalihkan pandangannya. Rena dan teman-temannya sudah kembali dari kantin. Banyak jajanan yang mereka bawa untuk di makan bersama.


"Belajar, Sa?" tanya Anggi saat melihat buku catatan yang terbuka di depan Clarissa.


"Tadinya. Tapi, tiba-tiba malas" Clarissa mengambil sepotong wafer yang di tawarkan Nurul padanya.


Mata Rena tampak membulat dan emosi. Ia menunjuk keluar jendela. Clarissa dan yang lain mengikuti arah yang di tunjuk Rena. Tenyata Izria yang terlihat sedang menuju bangkunya dan tengah tertawa bersama teman-temannya.


"Ujian masih berapa menit lagi?" tanya Rena sambil menarik tangan kiri Clarissa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan Clarissa.


"Kamu mau labrak dia sekarang, Ren? " tanya Anggi yang terlihat sama antusiasnya


"Teman-teman, tenang. Oke! tenang." Clarissa mencoba menenangkan Rena dan Anggi yang sudah siap berdiri.


Nurul juga menahan tangan Anggi yang duduk di sampingnya. Berusaha menenangkan temannya yang sudah terlihat siap menjambak wanita di seberang sana.


"Kita selesaikan ujiannya dengan cepat, Nggi. Terus, kita tunggu di depan kelasnya." Rena memberi ide yang di sambut anggukan oleh Anggi.


"Kalian jangan macam-macam. Aku nggak mau kalian bermasalah dengan Izria. Biar aku yang selesaikan." Clarissa mencoba membatalkan niat Rena dan Anggi.


"Sa, kamu mau ngomong apa sama wanita itu? Jelas-jelas dia itu jahat, Sa." Rena tampak sangat geram, matanya memandang dengan tajam Izria di seberang sana. Bahkan jika ia bisa mengeluarkan sinar laser dari matanya mungkin sudah ia tembakan ke Izria sekarang.


"Dia pasti punya alasan. " Clarissa berkata lirih.


Rena menatap Clarissa yang sudah melihatnya dengan tatapan memohon. Membuat Rena menyerah. Ia akan mengikuti mau Clarissa. Tapi, ia meyakinkan Clarissa jika Izria tidak memberikan alasan yang masuk akal maka ia yang akan turun tangan. Ia tidak peduli jika harus memiliki masalah dengan wanita seperti Izria.


Clarissa selesai ujian lumayan cepat dan keluar dari kelas lebih dulu dari teman-temannya. Ia berinisiatif menunggu Izria yang masih ujian. Sebelum Rena dan Anggi yang menemui Izria, maka ia memilih menemui Izria lebih dulu. Dengan langkah ragu Clarissa menuju kelas Izria dan menunggu di kursi depan kelas Izria.


Clarissa sudah berkali-kali menggigit bibir bawahnya. Berbagai skenario ia rancang di otaknya. Beberapa mahasiswa sudah keluar kelas tapi ia belum melihat Izria keluar. Ia kembali menunduk melihat lantai keramik yang sudah tidak berwarna putih bersih lagi.


"Clarissa" suara yang sangat familiar di telinga Clarissa. Ia mengangkat kepalanya melihat Mukti yang sudah berdiri di depannya dengan senyum khasnya.


"Ngapain disini? Nunggu aku? " tampak senyum lebar menghiasi wajahnya.


"Aku mau ketemu Izria." Clarissa menjawab acuh sekarang matanya menuju pintu ruang kelas Mukti.


Bukannya pergi Mukti malah memilih duduk di samping Clarissa. Mendapati Mukti duduk tepat di sampingnya, Clarissa menggeser duduknya memberi jarak padanya dan Mukti.


Tak lama Izria keluar. Saat melihat Clarissa duduk di kursi depan kelasnya ia tampak terkejut tapi saat melihat Mukti yang juga duduk di samping Clarissa membuat Izria tersenyum sinis. Ia bahkan tidak berniat berbicara dengan Clarissa, mantan teman sekamarnya. Izria memilih acuh dan pergi menuju parkiran motor.


Clarissa berdiri dan mengejar Izria. Ia menarik tangan Izria hingga wanita itu menghentikan langkahnya dan membalik badannya ke arah Clarissa. Ia memandang tak suka pada Clarissa lalu menarik tangannya kasar.


"Izria, tolong beritahu aku kenapa kamu melakukan hal sejahat itu padaku? " tanya Clarissa tanpa basa-basi, dada Clarissa mulai terasa sesak bahkan ia belum mendengar jawaban dari Izria tapi matanya sudah panas.


"Kamu yang seharusnya ingat lagi. Apa yang sudah kamu lakukan padaku?!" jawab Izria dengan suara cukup keras, membuat beberapa mahasiswa yang lewat menatap mereka.


Mukti yang sedari tadi hanya berdiri cukup jauh dari Clarissa mulai maju dan mendekati kedua wanita yang tengah dalam situasi memanas.


"Lebih baik kalian berdua jangan bertengkar disini. Kalian hanya akan membuat diri kalian malu." Mukti mencoba mengingatkan kedua wanita yang saling pandang dengan penuh emosi dihadapannya.


"Kamu harusnya berterimakasih padaku. Kalau bukan karena aku Rissa dan Indra tidak akan pernah putus! " Izria menunjuk wajah Mukti, membuat Mukti mundur beberapa langkah.


Sementara Clarissa tampak kaget dengan ucapan Izria pada Mukti. Ia mencoba membaca situasi saat ini. Mencoba mencari tahu maksud kata-kata Izria.


"Dan kamu! " Izria kembali menatap tajam Clarissa yang masih tampak kebingungan "Sekarang kamu tahu bagaimana perasaanku dulu!" Izria meninggalkan Clarissa yang masih mematung tak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia merasa bukannya mendapat jawaban ia justru mendapatkan banyak pertanyaan di otaknya.


"Clarissa!!" Rena berlari menghampiri Clarissa diikuti Anggi dan Nurul "Kamu nggak apa-apa?" Rena kini menatap tajam Mukti yang berdiri tak jauh dari Clarissa.


Clarissa masih tidak bergeming. Pikirannya sudah kemana-mana. Melihat keadaan Clarissa yang seperti itu membuat Rena dan teman-temannya yang lain khawatir.


"Ayo, kita pulang" ajak Rena, ia merangkul bahu Clarissa mengajak temannya itu untuk pergi dari sini sebelum semakin banyak yang menontonnya yang hanya mematung setelah di bentak Izria.


Mukti hanya memandang punggung Clarissa hingga wanita itu hilang di ujung koridor. Ia tak tahu ada masalah apa antara Clarissa dan Izria. Ia merogoh kantung celananya mengambil Hpnya lalu mencari nama seseorang di sana setelah menemukan nama orang yang di carinya, ia langsung menghubungi orang tersebut.


"Hallo.... Kalau kamu tidak sibuk bisa kita bertemu hari ini?.... oke. Kita bertemu di sana saja" ia segera mematikan panggilan teleponnya dan segera menuju parkiran motor.