YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Perasaan Mukti (1)



Seorang pria paruh baya yang tak lain adalah pemilik kosan Clarissa baru saja melewati pintu pagar dangan santai dan tanpa rasa bersalah meninggalkan wajah kalut dan bingung beberapa penghuni kos. Tanpa terkecuali Clarissa dan juga Izria. Bersama penghuni kamar sebelah, mereka berkumpul di depan kamar Clarissa dan Izria. Sama-sama mencari solusi untuk berita yang baru saja di sampaikan bapak kos mereka tanpa basa-basi. Sementara yang lain memilih kembali ke kamar masing-masing untuk mencari solusi.


- Flashback -


"Rencananya bulan depan, bagian kos yang kalian tempati ini mau saya renovasi. Jadi, mungkin kalian bisa segera mencari kosan." kata-kata tanpa belas kasihan dari bapak kos mereka seperti petir di siang bolong.


"Secepat itu pak?" tanya Lisa salah satu mbak kos yang tinggal di sebelah kamar Clarissa yang hanya di jawab anggukan kepala bapak kos.


"Kok mendadak pak di beritahunya?!" protes Susan, teman sekamar Lisa yang juga merupakan adik kandungnya.


"Kan masih bulan depan. Kalau besok saya suruh kalian pindah baru mendadak namanya" jawab bapak kos acuh "Sudah ya yang penting saya sudah kasih tau kalian. Jadi kalian bisa mulai mencari sekarang" bapak kos mereka pun langsung pergi begitu saja tidak ingin mendengar protes dari penyewa kosannya lagi.


- Flashback selesai -


"Mbak Lisa gimana? Mau nyari langsung hari ini?" Izria bertanya pada Lisa yang terlihat menenangkan Susan yang masih terlihat sangat marah.


"Kayaknya bakal mulai nyari hari ini atau besok, Ra. Kalian berdua gimana?" Lisa menatap Izria tetapi tangannya masih menepuk-nepuk bahu Susan yang berdiri di sampingnya.


"Aku kayaknya mulai nyari besok." jawab Izria matanya melirik Clarissa yang terlihat masih shock "tapi nggak tau dengan Rissa" Clarissa terlihat sedang berfikir.


"Loh, kalian mau pisah kah?" Lisa terkejut mendengar jawaban Izria, mengalihkan pandangannya pada Clarissa yang masih terlihat sibuk berfikir sendiri.


"Rissa!! " panggil Susan yang sudah bisa menguasai emosinya.


"Eh.. iya.. aku juga kayaknya nyari besok" Clarissa tersentak kaget.


"Kalian mau pisah berarti? " Lisa mengulangi pertanyaannya yang belum terjawab.


"Eh.. " Clarissa menatap Izria tak tahu harus menjawab apa "Kita.. " belum sempat berbicara Izria susah memotong kalimat Clarissa


"Lihat nanti sih mbak. Kalau dapat kamar yang bisa berdua seperti yang ini mungkin kami akan bareng lagi" Clarissa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui apa yang di katakan Izria.


Setelah masuk ke kamar. Clarissa menjatuhkan dirinya di tempat tidur masih kepikiran kabar mengejutkan yang di sampaikan oleh bapak kosnya tadi.


Izria memilih melanjutkan mengerjakan tugasnya. Helaan nafas berat terdengar dari Clarissa membuat Izria memutar posisi duduknya menghadap tempat tidur Clarissa.


"Kenapa Sa?" Izria melihat wajah sedih dan khawatir Clarissa.


"Aku kepikiran orang tuaku, Ra. Kalau mereka tau pasti ikutan kepikiran. Mana susah lagi untuk dapat kosan yang bagus dan harganya terjangkau seperti di sini."


"Sudah, Sa. Jangan di pikirkan. Nanti kita sama-sama nyari. Kalau aku dapat duluan aku bakal kabarin kamu" Clarissa bangun dari posisi berbaring dan duduk di pinggir tempat tidur.


"Makasih, Ra. Nanti kalau aku dapat kosan yang bagus dan harganya terjangkau aku kabari kamu juga ya" Izria mengangguk mengiyakan perkataan Clarissa.


Suara panggilan telepon masuk membuyarkan konsentrasi Izria. Ia meraih Hpnya dengan kesal karena merasa kaget dan terganggu tapi wajahnya tampak terkejut saat melihat nama yang tertera di layar Hpnya.


Dengan cepat Izria berlari keluar kamar untuk menerima panggilan telepon tersebut membuat Clarissa yang sedang berkutat dengan tugas makalahnya di atas tempat tidur merasa heran. Tapi, melihat Izria yang sudah hilang di balik pintu kamar, Clarissa hanya mengangkat bahu dan kembali fokus mengerjakan makalahnya.


Sekitar 10 menit, Izria sudah kembali ke kamar. Saat masuk Izria sempat melirik Clarissa yang terlihat fokus dengan laptop di depannya. Membuatnya bernafas lega.


Clarissa meregangkan otot-ototnya setelah hampir 2 jam ia duduk menghadapi laptopnya mengerjakan tugas makalah yang menjadi tiketnya untuk ikut UAS.


"Ra, aku sore ini mau pergi bareng teman-teman kuliah ku. Kamu ada rencana keluar juga? " Izria menggeleng menjawab pertanyaan Clarissa


"Oke, kalau gitu aku mau mandi dulu ya" Clarissa pergi keluar kamar menuju kamar mandi.


Clarissa sudah selesai memakai jilbabnya. Menatap dirinya di cermin dan memastikan penampilannya sudah oke. Ia mengambil kaus kaki dari lemari bajunya dan duduk di kursi belajar untuk memakainya.


Sebuah pesan masuk ke Hp Clarissa saat ia sudah selesai memakai kaus kakinya. Pesan dari Rena yang sudah menunggunya di depan kosannya. Dengan sigap Clarissa meraih tas selempang dan memakainya.


"Ra, aku pergi dulu yaa" pamitnya pada Izria yang sudah duduk di depan televisi.


"Hati-hati Sa" teriak Izria karena Clarissa sudah terburu-buru berlari, ia tak ingin membuat Rena menunggu terlalu lama.


Dari dalam mobil Rena yang kacanya terbuka sudah ada Nurul yang melambaikan tangannya dengan semangat. Clarissa segera masuk ke dalam mobil memakai seat belt dengan nafas terengah-engah karena berlari.


Rena segera memacu mobilnya keluar gang kosan Clarissa. Sepanjang perjalanan Clarissa tidak banyak terlibat dalam pembicaraan. Membuat teman-temannya heran.


"Kenapa, Sa? diam aja. Tumben." Anggi akhirnya bertanya.


"Kapan di suruh pindahnya?" Rena yang dari tadi fokus menyetir akhirnya memalingkan pandangannya pada Clarissa yang duduk di sampingnya tapi segera kembali fokus melihat jalan di depannya.


"Bulan depan" ucapnya lirih, sekali lagi terdengar nada terkejut dari teman-temannya secara serempak membuat Clarissa tersentak kaget dan tertawa gemas pada reaksi teman-temannya ini


"Trus, gimana mbak? Mau kami bantu carikan?" Nurul sudah memajukan badannya hingga kepalanya berada di samping Clarissa membuat Clarissa kaget.


"Ya Allah, Rul. Hampir copot jantungku. " Clarissa memegang dada sebelah kirinya "Besok aku mau coba cari-cari. Mudah-mudahan bisa segera dapat yang sesuai." Clarissa mencoba tersenyum karena melihat tatapan khawatir teman-temannya.


"Sudah, Sa. Tinggal di rumahku aja dulu. Masih ada satu kamar kosong. Feni juga nggak keberatan kok. Bulan depan kita sudah masuk UAS loh. Kamu fokus belajar buat UAS aja dulu baru pelan-pelan cari kosan." Rena memberi saran.


Rena memang tinggal di rumah orang tuanya yang ada di kota rantauan mereka ini. Karena saat masih kecil Rena dan keluarganya sering liburan di kota ini dan juga punya keluarga yang cukup banyak. Hingga akhirnya orang tuanya memutuskan membeli rumah liburan disini daripada harus membayar hotel atau merepotkan keluarga.


"Iya, Sa. Tinggal tempat Rena aja dulu." Anggi menimpali, Clarissa menggeleng ia tak ingin menyusahkan teman-temannya.


"Aku coba cari-cari dulu ya. Nanti kalau sampai batas waktunya belum ketemu aku bakal terima tawaran mamak" melihat Clarissa yang menunjukkan senyum lembutnya membuat teman-temannya menyerah.


Akhirnya mereka sampai di salah satu mall. Rencana mereka hari ini adalah menonton film. Setelah membeli tiket, mereka memilih pergi makan karena film yang akan mereka tonton masih 2 jam lagi.


Diperjalanan pulang seperti kebanyakan orang yang habis menonton film. Mereka sangat antusias membahas adegan-adegan yang ada di dalam film yang barusan mereka tonton.


Mobil yang di kendarai Rena sudah berhenti di depan kosan Clarissa. Setelah berpamitan, Clarissa turun dari mobil dan menunggu mobil Rena sampai hilang dari mulut gang.


Clarissa berjalan pelan memasuki pintu pagar kosannya pikirannya kembali lagi pada kejadian tadi pagi tadi saat mendapat kabar mengejutkan dari bapak kosnya. Tapi tiba-tiba suara seseorang yang dikenalnya memanggil namanya. Refleks Clarissa memalingkan pandangannya ke arah asal suara.


Mukti sudah berdiri tak jauh darinya. Terlihat ia datang dari arah parkiran motor di samping kosan Clarissa.


Dari wajahnya tampak sekali kalau ia kaget dan bertanya-tanya mengapa Mukti ada di kosannya sekarang. Tapi, Ia langsung teringat Izria.


'Oh, mau ketemu Izria ya dia' batin Clarissa


"Baru pulang? " Tanya Mukti semakin dekat dengan tempat Clarissa berdiri


"Iya, mau ketemu Izria? " Clarissa bertanya tanpa basa-basi "Izria ada di kamar kayaknya. Aku panggilkan ya? " Clarissa sudah berjalan masuk ke teras kosannya, ia benar-benar ingin menghindar dari hadapan Mukti secepatnya.


"Mau kemana? Aku nggak bilang mau ketemu Izria." Mukti sudah berada di belakang Clarissa membuat wanita itu membalik badannya menghadap Mukti dengan cepat tapi karena itu ia jadi kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh.


Dengan sigap Mukti menangkap lengan Clarissa dan membantunya berdiri dengan benar. Mukti tak bisa menahan tawanya melihat wajah Clarissa yang kaget.


"Aku nunggu kamu tau!" mata Clarissa makin membulat sementara Mukti sudah tersenyum gemas melihat wajah Clarissa yang mulai memerah.


Clarissa memundurkan tubuhnya dari Mukti memberi jarak di antara mereka. Matanya melihat wajah Mukti yang masih tersenyum berharap mendapatkan jawaban di sana.


"Mau apa? " akhirnya ia menyerah karena tak bisa mendapatkan jawabannya sendiri.


"Mau lihat kamu."


'Apaan sih dia? dasar playboy !' maki Clarissa dalam hati


"Rissa.." ucapan Mukti menggantung, membuat Clarissa hanya mengernyitkan dahinya.


"Ris.." ucapnya lagi dengan wajah yang lebih serius.


Melihat wajah serius Mukti membuat Clarissa merasa ada hal buruk yang akan terjadi.


'Apa ini? mau apa dia?' Clarissa mulai panik


Sementara dari depan kamarnya, ada Izria yang sedang memperhatikan mereka berdua tanpa suara. Senyum tipis bahkan sudah muncul di bibirnya.


"Rissa, aku nggak tahu bagaimana hubunganmu sekarang dengan Indra. Jika kalian baik-baik saja aku merasa senang karena kamu pasti merasa bahagia tapi jika hubungan kalian tidak baik-baik saja..." Mukti menggantung kalimatnya lagi membuat Clarissa frustasi sekaligus panik menunggu apa yang akan di katakan Mukti.


"Aku tidak akan diam. Aku pasti akan ada untuk kamu." Mukti memperlihatkan senyum khasnya membuat wajahnya semakin terlihat tampan.


"Kamu ngomong apa sih?" tawa canggung terdengar dari Clarissa.


"Ku rasa Indra sudah bilang ke kamu" terlihat seringai di bibir Mukti


Deg! Clarissa paham maksud Mukti. Hal itu membuatnya merinding. Entah kenapa ia merasa sekarang adalah saat yang tepat baginya menggali lubang untuk mengubur dirinya sendiri.