
Beberapa hari ini semakin mendekati hari sabtu entah kenapa Clarissa menjadi sangat sensitif. Seperti hari ini, hari jum'at harusnya jadi hari yang paling menyenangkan untuk bekerja karena hanya setengah hari dan menyambut weekend. Terkadang pun dikantor Clarissa hari jum'at dipakai untuk acara syukuran yang naik pangkat atau kenaikan gaji berkala atau hanya untuk makan-makan mengakrabkan diri.
Jadi, bisa ditebak waktu setengah hari yang sebenarnya juga tidak sampai setengah hari karena sebelum jam setengah duabelas pasti semua sudah pulang terutama untuk yang laki-laki karena bersiap sholat jum'at akan habis dipakai untuk makan-makan dan tentunya ngerumpi.
Hari jum'at kali ini Clarissa hanya duduk di depan laptopnya yang sudah menyala dari tadi tapi hanya memperlihatkan tampilan dekstop tidak berubah sama sekali. Tidak seperti biasanya juga Clarissa akan dengan semangat mengikuti senam yang diadakan oleh kantor Dinkes pagi ini, saat diajak pun Clarissa tidak menjawab hanya tersenyum dan menggeleng.
"Sa, tumben nggak ikut senam?" suara atasan Clarissa menyadarkannya, Clarissa mendongakkan kepalanya dan mendapati atasannya sudah berdiri didepan mejanya.
"Hehehe.. iya bu.. ini.." Clarissa tergagap, membuat atasannya tertawa melihat Clarissa yang salah tingkah.
"Saya cuma bilang tumben nggak ikut senam. Jangan salting gitu. Yang dilihat juga cuma layar dekstop kan bukan yang aneh-aneh." canda atasan Clarissa yang membuat Clarissa tersenyum canggung.
Clarissa akhirnya memilih merapikan beberapa berkas dari roll o pack yang dikeluarkan beberapa hari lalu. Sampai akhirnya teman-teman seruangannya baru kembali dari senam dengan membawa cemilan sehat alias rebusan pisang dan ubi serta kacang di tangan mereka.
"Rajin banget, Sa. Jum'at loh ini." canda salah satu mbak kantornya yang satu ruangan dengannya.
"Nggak tahu mau ngapain lagi, mbak." jawab Clarissa asal.
"Mbak Rissa, ayo makan ini dulu." ajak Citra yang sudah meletakkan cemilan sehat di atas mejanya. Clarissa akhirnya meninggalkan berkas yang dari tadi ia rapikan dan menarik kursinya ke meja Citra.
Seperti biasanya saat berkumpul seperti ini, waktunya bergosip dimulai. Clarissa sengaja diam sepanjang obrolan. Ia tak ingin ada yang menyinggung perihal lamaran Bella. Meskipun ia sudah berusaha merahasiakan tapi ia lupa beberapa teman kantornya berteman dengan Bella di instagram.
"Citra nih sudah ada pacarnya. Jangan kelamaan, dek. Nanti kalau ternyata jaga jodoh orang gimana?" ucap mbak Dinar terdengar bercanda tapi berhasil membuat Citra panik. Ia segera memukul meja kayu didekatnya seolah membuang sial.
"Aduuhh, mbak. Jangan ngomong gitu." Citra masih mengetuk-ngetukkan tangannya diatas meja kayu "Doain yaa mbak, Insya Allah tahun depan." terdengar jawaban Aamiin yang serempak dari semua yang berkumpul disini. Clarissa sudah berusaha menghilangkan aura keberadaannya saat merasa pembahasan mulai tidak kondusif. Otaknya berpikir cara untuk kabur.
"Rissa..." panggil mbak Indah yang membuat Clarissa terperanjat kaget dan langsung menatap teman-teman kantornya yang sudah menatapnya, Clarissa tahu panggilan itu alarm tanda bahaya begitu juga dengan tatapan mereka.
"Iya mbak?" Clarissa menjawab pelan
"Diduluin Bella nih ceritanya?" deg!! Clarissa benar-benar ingin menghilang sekarang. Ia sebelumnya bisa dengan santai dan menanggapi sambil bercanda tapi entah kenapa kali ini ia sedikit lebih sensitif dari biasanya.
Clarissa menunjukan senyumnya, tidak tahu harus bereaksi seperti apa yang natural dan aman. Mata-mata dihadapannya seolah menuntut jawaban dari Clarissa yang sebenarnya tidak perlu ia jawab karena mereka sudah tahu jawabannya.
"Doain mbak ya lancar persiapannya Bella sampai hari akad nanti." Clarissa sangat bersyukur otaknya masih waras dan bisa berpikir dengan cerdas.
"Kamu kapan nikahnya?" timpal mbak Ana.
Kali ini Clarissa hanya bisa cengengesan saja. Tidak menjawab karena memang ini bukan pertanyaan yang ia bisa jawab dan tahu secara pasti jawabannya. Bukannya jodoh itu rahasianya Allah, bagaimana ia bisa tahu rahasia sebesar itu.
Melihat Clarissa yang tidak menjawab dan hanya cengengesan membuat teman-teman kantornya memilih berhenti melanjutkan pembicaraan mereka ditambah karena memang sudah waktunya mereka kembali ke meja kerja masing-masing.
_ Rumah Clarissa _
Setelah selesai menunaikan sholat dzuhur berjama'ah dengan mama dan Bella. Clarissa memilih kembali ke kamarnya dan hendak tidur siang. Entah kenapa kepalanya benar-benar sakit. Bella hanya melihat Clarissa yang melangkah gontai masuk kedalam kamarnya.
Bella membantu mamanya bersih-bersih didapur. Menyiapkan beberapa gelas dan mangkok untuk acara besok. Saat terdengar suara bapaknya yang baru pulang dari masjid.
Bella yang sudah selesai meletakkan mangkok di atas meja dapur langsung menyusul mamanya dan bapaknya yang sekarang sudah ada di ruang tengah.
"Mbak Rika, sendirian saja?" tanya Bella yang sudah ikut duduk lesehan disamping mamanya yang tengah bermain bersama Silva, anak Rika.
"Nanti mas Tara nyusul, dek. Tadi ngantarin kesini terus balik kerumah dulu. Mau ganti baju katanya." jawab Rika, matanya melirik pintu kamar Clarissa "Rissa mana kok nggak kelihatan?" Bella yang mendengar pertanyaan Rika mulai merasa jengah.
"Mbak Rissa lagi sakit kepala katanya." Bella masih berusaha ramah sebenarnya ia sudah mulai tidak suka dengan arah pembicaraan sepupunya satu ini.
Rika adalah sepupu Clarissa dan Bella yang berbeda tiga tahun dari Clarissa. Sebenarnya ia termasuk menikah muda sekitar usia 22 tahun. Karena ia merasa masih belum siap punya anak maka dari itu ia sempat menunda sampai usianya 25 tahun dan baru memiliki anak. Saat ia memutuskan menunda memiliki anak dan dicerca dengan banyak pertanyaan serta sindiran tidak jarang ia akan melawan dengan penuh emosi dan tentunya kata-kata bijak. Tapi, tanpa dia sadar ia adalah orang yang paling senang mengusik kehidupan Clarissa yang belum menikah hingga kini.
"Sakit kepala? Kepikiran paling dia itu. Kan mau di duluin kamu nikahnya." Bella bisa melihat seringai tipis di ujung bibir Rika.
'Ini pasti masih pemanasan!' pikir Bella mulai kesal.
"Tante.." Rika memanggil tantenya yang tengah asyik bermain dengan Silva, tantenya pun langsung mengalihkan pandangannya pada Rika "Tante, nggak mau jodohin Rissa saja apa? Teman-temannya Tara banyak loh tante yang oke. Ganteng, mapan, aduuuhh pokoknya kayak Tara gitu deh nasib karirnya." Bella sudah menghela napas panjang dan kasar seandainya ia bisa pasti sudah ia jahit mulut wanita dihadapannya ini.
Rika masih terus mengoceh tentang teman-teman Tara, suaminya. Menyebutkan nama-nama yang entah siapa itu. Mamanya hanya tersenyum tidak menjawab perkataan Rika.
"Apa sih, Ka? kok kamu repot betul ngurusin hidupnya Clarissa." bapak Clarissa yang dari tadi hanya diam dan mengajak bermain Silva akhirnya mulai gerah juga.
"Bukan gitu, om. Kasian loh Rissa bentar lagi 30. Nanti jadi perawan tua gimana?" belum sempat bapaknya menjawab terdengar suara pintu sedikit terbanting. Semua yang duduk di ruang tengah menoleh ke arah asal suara. Clarissa sudah berdiri didepan pintu kamarnya.
"Rissa, katanya kamu sakit?" tanya Rika tanpa rasa bersalah.
Clarissa melangkah ketempat keluarganya berkumpul. Ia duduk didekat Bella lalu memanggil Silva yang segera berlari girang ke arahnya.
"Iya, mbak. Tapi, sudah baikan." Clarissa memangku Silva yang memamerkan boneka barunya pada Clarissa.
"Kamu kepikiran itu, Sa!" Rika menyipitkan matanya seolah menyampaikan hasil penyelidikannya dengan dramatis.
"Kepikiran apa, mbak?" tanya Clarissa sok polos.
"Itu.. Bella yang mau nikah." Rika menunjukkan senyum manisnya tapi Clarissa tahu ada sindiran disana.
Clarissa tertawa. Membuat senyuman Rika perlahan menghilang. Orang tuanya dan Bella bahkan ikut menatapnya bingung bercampur khawatir.
"Ngapain aku yang kepikiran, mbak. Kan Bella yang nikah. Aku pusing karena kerjaan kantor mbak. Mbak pasti nggak paham ya? soalnya mbakkan nggak pernah kerja kantoran." Clarissa menekankan setiap kalimatnya, membuat Rika terlihat menahan emosinya.
Untungnya belum sempat Rika membalas terdengar suara Tara yang baru datang. Silva yang mendengar suara Tara langsung berlari menghampiri pria yang baru saja berjalan masuk menuju ruang tengah.
Bella terlihat menahan senyumnya. Tangan kirinya bahkan menepuk lembut punggung Clarissa seolah memuji apa yang Clarissa lakukan tadi. Clarissa juga tersenyum tipis. Ia bukannya tidak mendengar apa yang diocehkan Rika dari tadi. Ia mendengar semuanya karena suara Rika yang sengaja dibuat sekencang-kencangnya tadi agar ia mendengar dari dalam kamar.
Clarissa tahu besok ia harus lebih siap mental menghadapi lebih banyak mulut-mulut tajam dan seenaknya. Hari ini seperti pemanasan baginya sebelum terjun ke perang yang sesungguhnya.
'Kuatkan hatiku ya Allah' doa Clarissa dalam hati untuk dirinya besok.