YES, I'M SINGLE!

YES, I'M SINGLE!
Kabar Pertunangan Dikta



Seminggu sebelum bulan puasa tahun 2019 berakhir, seperti tradisi yang sebelum-sebelumnya teman-teman sekelasnya mengadakan buka puasa bersama. Tahun ini Clarissa bertekad tidak akan hadir, ia benar-benar menghindar bertemu dengan Dikta. Meskipun sesekali mereka masih berkomunikasi tapi Clarissa tahu Dikta hanya berusaha sopan padanya.


"Ayolah, Sa. Ikut?" bujuk Riana dengan suara dibuat-buat imut.


"Aku nggak mau, Na. Kamu tahu sendiri aku lagi menghindari Dikta." Clarissa masih Teguh pada pendiriannya.


"Dikta nggak datang, Sa. Barusan Dila kasih tahu aku. Katanya yang cowok pada nggak ada yang bisa." Riana masih mencoba membujuk Clarissa.


Clarissa terdiam cukup lama. Hingga akhirnya ia menyerah mendengar rengekan dari Riana di seberang sana.


"Oke, aku datang." ucap Clarissa pasrah.


"Yeeee!!! aku jemput ya!" Riana terdengar sangat senang.


"Iya!!" jawab Clarissa yang kemudian mengakhiri panggilan telepon mereka.


Clarissa dan Riana sudah tiba di tempat parkir cafe Daisy dan berjalan bersama masuk kedalam dimana sudah ada Rahma dan Gina yang sedang berbincang.


"Sudah lama?" tanya Clarissa begitu duduk di kursi yang masih kosong.


"Baru datang juga kok." jawab Rahma yang memindahkan tasnya agar Riana bisa duduk disampingnya.


"Banyak juga nih yang bisa datang?" tanya Riana saat melihat ada sekitar sepuluh kursi yang dipesan oleh Dila.


"Iya, katanya Dila beberapa yang nggak pernah bisa ikut bukber yang dulu-dulu pada bisa datang." jawab Gina yang disambut anggukan oleh Riana dan Clarissa.


"Cewek semua ya kali ini? " tanya Clarissa basa-basi, memastikan sebenarnya.


"Eh, nanti ada Dikta. Yang paling cantik sendiri nanti." Gina tertawa dengan ucapannya sendiri.


Riana langsung menatap Clarissa yang tertawa canggung. Saat matanya bertatapan dengan Clarissa, Riana seolah meminta maaf karena ia tidak tahu jika Dikta akan datang. Clarissa hanya tersenyum, ia tahu bukan salah Riana.


Satu per satu teman-temannya berdatangan begitu juga dengan makanan yang sudah di pesan saat booking tempat dilakukan. Dila datang sedikit terlambat, ia datang bersama keponakannya.


"Maaf, telat ya. Ini rewel minta ikut." ucap Dila yang menggandeng keponakan perempuannya yang berumur sekitar lima tahun.


"Sini, Dil. Duduk sebelah ku." Clarissa menunjuk tempat duduk di dekatnya. Sengaja agar tidak ada kursi kosong di sekitarnya jadi saat Dikta datang ia akan duduk di ujung sisi meja yang lain.


Dila menuju kursi yang ditunjuk Clarissa. Clarissa langsung main bersama keponakan Dila yang duduk di sampingnya. Sementara Dila langsung nimbrung ngobrol dengan Nisa dan Riana yang duduk didepan Clarissa dan keponakan Dila.


Sekitar dua puluh menit sebelum buka puasa. Dikta datang dengan senyum khasnya dan menyapa teman-temannya. Gina langsung menunjuk kursi di ujung meja dimana pesanan Dikta sudah disediakan. Dimana posisinya cukup jauh dari Clarissa. Tapi, entah karena malas atau sengaja Dikta memilih duduk di depan Dila yang mana itu cukup dekat dengan Clarissa.


"Bawa sini aja makananku." ucap Dikta sudah mengangkat piring dihadapannya untuk menukarkan dengan miliknya.


"Eh, Dikta calonmu itu kerja di perusahaan XX ya?" tanya Nisa tiba-tiba membuat Clarissa yang mengajak bermain keponakan Dila menajamkan pendengarannya.


"Iya, Nis. Kok kamu tahu?" tanya Dikta kaget.


"Lebih tua dari kitakan? teman kantorku ada yang kenal. Dia sempat tanya aku pas calonmu post foto kalian di story." Dikta mengangguk mendapat jawaban dari Nisa.


"Iya, dua tahun lebih tua dari kita." Clarissa yang mendengar perbincangan Nisa dan Dikta makin penasaran menunggu kelanjutan pembicaraan teman-temannya ini.


Tiba-tiba Dila mengambil Hp Dikta dan menyalakannya lalu menggoda Dikta saat melihat wallpaper Hp Dikta foto dari wanita yang selama ini membuat Clarissa penasaran hingga hari dimana Dikta dengan terbuka menunjukkan siapa wanita yang telah berhasil mencuri hatinya itu.


Dikta yang panik karena Dila menunjukkan wallpaper Hpnya pada teman-temannya langsung mengambil Hpnya dari tangan Dila dan tersipu malu. Saat itu Clarissa tahu Dikta sempat menatapnya seperti merasa bersalah.


"Kok bisa kenal, Ta?" tanya Dila penasaran.


"Oh itu.." Dikta terlihat melirik Clarissa sekilas memastikan ekspresi Clarissa sebelum melanjutkan kalimatnya "Aku lihat di akun instagram perusahaannya waktu dia jadi modelnya. Aku tertarik jadi kucari tahu terus aku DM." lanjut Dikta.


Deg! Clarissa merasa mulai sesak di dadanya tapi ia berusaha terlihat biasa saja. Ia tak ingin terlihat masih menyimpan harapan pada Dikta.


"Jadi, rencananya kapan lamarannya?" tanya Dila lagi makin penasaran.


Clarissa tidak ingin mendengar hal ini. Ia memalingkan pandangannya ke televisi yang menayangkan seorang anak perempuan sedang mengaji menunggu detik-detik berbuka puasa. Tapi, rasa penasaran menyelimutinya jadi meskipun matanya melihat ke arah televisi tapi telinganya menunggu jawaban dari Dikta.


"Insya Allah habis lebaran. Tapi nikahnya tahun depan soalnya dia masih ada perjanjian belum boleh menikah sampai awal tahun depan." jawab Dikta terdengar mantap. Dila dan Nisa memberikan doa terbaik untuk kelancaran rencana Dikta.


Sementara Clarissa harus berusaha sekuat tenaga agar tidak goyah dihadapan teman-temannya. Ia hanya tidak menyangka semua rasa penasarannya terjawab tanpa harus ia tanyakan langsung pada orangnya. Di satu sisi ia merasa lega karena ia tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya namun di sisi lain hatinya hancur. Ia merasa ia makin dekat dengan jurang patah hati di hadapannya.


Terlalu banyak informasi yang di peroleh Clarissa hari ini, membuat kepalanya sakit. Dalam perjalanan pulang Riana membiarkan Clarissa dengan pikirannya. Hingga mereka hampir sampai ke rumah Clarissa, Riana sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Rissa, kamu baik-baik saja kan?" tanya Riana hati-hati.


"Iya, Na. Ternyata aku baik-baik saja." jawab Clarissa berusaha ceria.


"Aku nggak tahu kalau Dikta bakal datang. Maaf ya?" ucap Riana terdengar menyesal.


"Nggak apa-apa, Na. Bukan salahmu kok." Clarissa menjawab jujur.


Begitu sampai di depan rumah Clarissa, Riana bertanya sekali lagi memastikan kondisi Clarissa. Tapi jawaban Clarissa masih sama bahkan ia berusaha tersenyum kali ini. Riana tak ingin memaksa Clarissa untuk mengatakan apa yang sesungguhnya dirasakan Clarissa. Ia tahu, Clarissa sudah berusaha sangat keras hari ini untuk terlihat seceria itu setelah informasi sebanyak itu bahkan langsung dari mulut Diktanya sendiri.


Clarissa menunggu Riana pergi lalu ia berjalan ke dalam rumahnya. Ia langsung menuju kamarnya setelah menyapa orang tuanya dan Bella yang sedang berkumpul di ruang tengah. Setelah menutup pintu kamarnya seketika itu juga Clarissa jatuh terduduk di lantai. Dadanya sidah sesak, sangat sesak sejak tadi. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia menangis tertahan. Apa yang ia takutkan terjadi, Dikta akan menikah dengan orang lain. Untuk pertama kalinya Clarissa merasakan apa itu patah hati yang sebenarnya. Patah hati karena seorang pria. Hal yang tak pernah Clarissa sangka akan ia rasakan dalam hidupnya.