
Suara alarm memenuhi kamar tidur yang telah terang benderang. Sang pemilik kamar sudah bangun lebih dulu sebelum alarmnya berbunyi. Jadi, ketika alarm berbunyi ia segera mematikannya dan beranjak dari tempat tidurnya menuju keluar kamar untuk ke kamar mandi.
"Rissa, coba bangunkan Bella." Perintah wanita paruh baya yang sudah memakai mukena bersiap untuk solat subuh.
Clarissa tidak menjawab hanya mengangkat jempolnya dan tersenyum kecil pada mamanya. lalu berbalik dan berjalan menuju kamar Bella, adiknya.
tok. tok. tok.
Clarissa mengetuk pintu kamar Bella.
"Bel, mbak masuk yaa" ucapnya agak keras lalu membuka pintu kamar adiknya yang tak pernah di kunci.
Bella masih terlihat nyaman di atas tempat tidurnya. Clarissa berjalan mendekat lalu menepuk tubuh Bella. Bella hanya menggeliat lalu membalik badannya. Tidur lagi.
"Bel, bangun." Clarissa menepuk tubuh Bella lebih keras "Bel, ayo bangun. Mama udah siap mau solat subuh tuh" Bella hanya bergumam kesal karena tidurnya terganggu.
Clarissa menghela nafasnya, kesal. Ia menarik handuk di pundaknya lalu memukulkan ke tubuh Bella.
"Aduh! sakit mbak." kini Bella membuka matanya. Ditatapnya kesal kepada kakak perempuannya.
"Makanya kalau dibangunkan itu langsung bangun" Clarissa membalas sama kesalnya.
Bella langsung bangun dari tidurnya. Masih menatap kakaknya dengan kesal.
"Sana ambil wudhu trus datangin mama. Mbak mau mandi nanti telat kerja" Clarissa berjalan keluar dari kamar Bella yang kini telah berdiri dan meregangkan badannya.
Jam 06.35 pagi
'ya ampun harus cepat ini' ucap Clarissa pada dirinya sendiri. Ia bergegas keluar kamarnya. mengambil sepatunya dari rak sepatu dan memakainya di kursi yang ada di teras rumahnya.
"Sudah dijemput, Sa?" tanya mamanya yang ikut keluar rumah.
"Belum, ma. Bentar lagi kayaknya." Clarissa meraih tangan mamanya untuk salim "Bapak mana, ma?" mata Clarissa mencari kedalam rumah.
"Tadi ke kamar mandi" Clarissa mengangguk mengerti.
"Rissa berangkat ya, ma. Assalamu'alaikum." Clarissa pamitan
"Iya, hati-hati. Wa'alaikumussalam." Clarissa sudah berlari kecil menuju depan gang tempat biasa ia dijemput teman kantornya.
Didalam mobil seperti biasa penuh dengan cerita dan tawa dari teman-temannya. Banyak hal yang mereka bahas, ya maklum namanya juga perempuan kalau berkumpul ada saja bahan ceritanya.
"Eh, Sa. Ada nih teman suamiku yang oke. Mau aku kenalkan nggak?" Tanya mbak Risya. Clarissa hanya menjawab dengan tawa.
'hm, mulai lagi' pikir Clarissa
"Iya loh, Sa. Coba deh kenalan dulu. Siapa tau cocok" Mbak Indah menimpali dan disambut setuju yang lain.
"Hahahaa, aduh mbak. Nanti dulu lah" Clarissa cengengesan.
Hal yang sudah biasa dihadapi Clarissa disaat usianya mulai memasuki -detik-detik- 25 tahun. Rasanya orang-orang makin gencar menyerbu dengan pertanyaan klise "kapan nikah?" dan kawan-kawan. Hingga kini usia 25 tahun telah ia lewati. Setelah genap berusia 26 tahun dan pertanyaan serta tuntutan dari orang-orang luar -selain keluarga kandungnya- untuk segera mengakhiri masa sendirinya makin gencar ia dapatkan. Ditambah di tempat ia bekerja tidak sampai 10 orang yang belum menikah dan tentunya hanya dia yang terlihat betah tanpa pasangan karena yang lain entah telah punya pacar atau sudah berganti-ganti pacar.